Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Masuk angin


__ADS_3

"Mandi? malam-malam begini? nanti masuk angin, Mam." Rania malah heran dengan jawaban dari mamanya.


"I-iya, Mama lupa. Bobo sayang? sudah malam." Fatma mengusap rambut Rania lembut.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rania sudah kembali terlelap dan Fatma dengan perlahan bangun dan turun tak ingin mengganggu tidur Rania.


Jalannya pun mengendap-ngendap sangat hati-hati. Keluar dari kamar tersebut, dengan pelan menutup pintu dan Fatma berdiri bersandar ke daun pintu.


"Huuh ..." hembusan napas kasar dari mulut Fatma. "Bisa-bisanya anak itu menanyakan sesuatu yang sulit aku jawab."


Fatma mendengus kesal, lalu mengendus bau di tubuhnya yang benar saja. Bau parfum Arya begitu melekat di tubuhnya. "Hem ... wanginya ..." Fatma memejamkan mata dan menikmati bau wanginya parfum sang suami di tubuhnya sendiri.


Arya yang menunggu di kamar gedebag-gedebug tak enak baring. Miring salah, terlentang gak nyaman dan telungkup apalagi. Sungguh tidak mengenakan. Di bawa tidur tak pejam, akhirnya Arya bangun dan hendak turun dari tempat tidurnya.


Namun terdengar derap langkah kaki yang mendekati pintu kamarnya. Sorot mata Arya tertuju pada daun pintu yang detik kemudian terbuka.


Fatma terburu-buru masuk dengan dada yang turun naik. Berjalan menghampiri Arya yang masih duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa sayang, Rania nya, nggak pa-pa kan? aku mau ke sana tapi takut di tanya-tanya, lagian aku pikir cuma mimpi buruk, kan?" Arya menatap sang istri yang langsung duduk di sampingnya.


"Hem, cuma mimpi. Sudah bobo lagi sekarang," mata Fatma menatap intens ke arah sang suami dan tak sedikitpun luput dari pandangannya. Arya sudah menggunakan celana pendek, lalu Fatma mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai.


"Ooh," suara yang keluar dari mulut Arya, singkat.


"Aku di curigai lho," gumamnya Fatma sambil duduk kembali di dekat Arya.


"Apa?" Arya menoleh dan menunggu jawaban.


"Ini, gara-gara tubuhku bau wangi parfum kamu," ucap garam sembari mengendus kembali bau tubuhnya.


"Oh, ya gak pa-pa, yang penting gak lihat saja kita lag--" Arya menggantung kalimatnya sambil senyum menawan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Fatma menoleh ke arah tempat tidur yang berantakan.


"Belum, menunggu Ibu Negara ku." Lagi-lagi Arya mesem pada sang istri yang langsung menyambut dengan senyuman.

__ADS_1


Fatma berdiri di depan Arya, tangannya menyentuh pundak pria itu. Lalu duduk di atas paha Arya dengan semakin melingkarkan tangannya di pundak Arya.


Tangan Arya merangkul pinggang Fatma dan sedikit menariknya. Tangan yang satunya mengarah ke leher Fatma lantas di tariknya mendekati bibir yang merah merekah dan selalu menjadi candu untuk terus mengecupnya.


Hasrat yang tadi selesai kini dengan mudahnya terbakar lagi kembali berkobar, darahnya bergolak panas naik membakar tubuhnya mendorong tuk melakukan atau melanjutkan peristiwa tadi yang menjadi candu buat setiap insan yang normal.


Bibir Arya bergerak jalan-jalan lembut yang menimbulkan sensasi aneh. Tubuh keduanya bagai tersengat aliran listrik sehingga aliran darah pun berhenti sejenak.


Jantung berdegup sangat kencang. Dag-dig-dug tak menentu, bergemuruh bagai suara deburan ombak yang membentur Karan.


Fatma semakin melingkarkan tangan di leher Arya. Membalas ciuman yang Arya lakukan.


Kemudian Arya memindahkan tangannya ke kaki bagian atas Fatma mengelus lembut dan bergerak maju. Bibirnya bergerak traveling.


"Hemmmh!"


Mengecup seluruh bagian leher. Turun-turun dan membuka jubah yang menutup dada dengan bibir Arya, lalu


berhenti di suatu titik yang selalu menantang dan menggoda. Membuat yang ada dihadapan nya merasa tidak tahan untuk menikmati.


Arya tersenyum puas melihat Fatma begitu menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Yang terpenting bagi Arya saat ini adalah membuat Fatma bahagia dan merasa dihargai serta menjadi istri seutuhnya.


Arya menggendong tubuh Fatma naik ke tempat tidur. Ia baringkan dan langsung mengunci pergerakannya.


Arya mengungkung tubuh Fatma di tatapnya dengan tatapan sendu merayu. Sebelumnya mematikan terlebih dahulu lampu yang menyala, terang benderang tersebut.


Sejenak suasana hening! tak ada suara ataupun pergerakan. Namun pada akhirnya tangan Arya merayap-rayap, meraba apa yang ada dihadapannya. Menyatukan kembali bibir mereka dan saling meraup lembut. Dan pelan, namun sangat amat menggairahkan.


Di dalam kegelapan yang disengaja, mereka melanjutkan rutinitas malamnya dengan sangat tenang sehingga berlangsung begitu lama, dan entah sudah beberapa ronde. Menjadikan kedua nya bermandikan keringat yang bercucuran.


Ritual panas yang menguras peluh. Membuat lengket kulit mereka yang bercampur itu.


Malam semakin larut, hawa dingin mulai menyapa berdesir menusuk kulit. Rasa lelah pun menyeruak membuat terhentinya penyatuan di antara keduanya.


"Akh ..." suara Fatma yang terdengar merdu ditelinga Arya tersebut.

__ADS_1


"Hemmmh! aku lelah." Gumamnya Arya seraya menyudahi penyatuannya.


Arya menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh sang istri, memberi kecupan singkat sebagai tanda terima kasih. Bibirnya komat-kamit membaca doa.


Fatma tersenyum puas. Kalau saja bisa dilihat, senyuman Fatma tak henti-hentinya mengembang. Hatinya amat berbunga dan bahagia. Sudah melewati sebuah hubungan intim yang sangat mengasyikan.


Sehingga mengesankan sesuatu yang teramat sangat indah dan sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Ingin dan ingin lagi, beda dengan dulu yang kebalikannya.


Fatma menghembuskan napas panjang nya. Menarik selimut dan meringsut ke pelukan sang suami, tidur di dada bidang yang bikin nyaman setiap istri.


Pagi-pagi. Fatma sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan, setelah membuatkan minuman hangat buat sang suami.


Arya tengah duduk menikmati secangkir minuman hangat buatan sang istri sambil melihat Fatma masak. Kebetulan tugasnya bersih-bersih sudah selsai tinggal bersantai dan menunggu sarapan siap.


"Jujur, aku menyesal menikah sekarang." Gumamnya Arya sembari menyesap minumnya lalu menelusuri permukaan cangkir dengan jari.


Degh!


Fatma seketika menoleh pada Arya. Ia tatap Arya tanpa ekspresi, manik matanya tampak sedih tiba-tiba mendengar perkataan Arya seperti itu. Menyesal sudah menikahinya.


Arya menoleh dengan senyuman, kemudian berdiri dan mendekati. Arya peluk tubuh Fatma dari belakang, tentunya Fatma memberi penolakan serta menepis tangan Arya yang malah mengunci.


Membuat bibir Arya semakin mengembang. "Aku sangat menyesal! saat ini sudah menikah."


"Lepas ah." Fatma berontak dan ingin lepas dari rangkulan Arya.


"Sayang tahu? menyesal kenapa?" Arya semakin mengeratkan pelukannya dan menempelkan dagu di sebelah leher Fatma mencium wangi tubuhnya yang semerbak.


Tak ada respon dari Fatma yang fokus mengorak-ngarik masakannya. Mendadak rasa sesak di dadanya kembali menyerang, kedua netra nya mulai berembun. Baru saja ia mengecap manisnya dan bahagia menjadi istri sepenuhnya.


Kini harus mendengar perkataan yang tidak mengenakan, yang keluar dari mulut Arya langsung. Sebuah ucapan yang bikin ia shock, tidak percaya namun jelas adanya.


"Tega kamu!" gumamnya Fatma dalam hati, bibirnya bergetar menahan rasa yang bergejolak dan tak mampu ia ungkapkan ....


****

__ADS_1


Tidak akan bosan aku ucapkan banyak-banyak terima kasih atas dukungan kalian pada setiap karya ku🙏


__ADS_2