Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Petir menyambar


__ADS_3

Rania sudah kembali dari kamar mandi dengan handuk menutup tubuhnya. Bengong melihat mama dan papanya yang sangat intim itu.


"Pah, Mam? Rania sudah selesai mandinya," ucap Rania pelan. Namun cukup mereka dengar sehingga keduanya langsung beranjak bangun dan Fatma menghampiri.


"Oh, iya sayang. Mama dandani dulu ya?" Fatma langsung mendandani Rania.


Arya mengecek semua barang-barang dan mengecek semua data yang akan diperlukan. Begitupun data-data Rania dan tasnya. Arya dekatkan dengan tasnya.


Setelah Rania siap. Meraka pun turun ke lobby dan gegas masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu itu.


Di dalam mobil, Arya memeluk Fatma, sementara Fatma memeluk Rania Sesekali Arya mencium pucuk kepala Fatma dengan mesra.


Mobil terus melaju membelah jalan yang masih sepi dan suasana masih gelap gulita itu.


Namun sebelum ke bandara, mereka berhenti di depan setoran yang sudah buka pagi gini. Tidak lupa mengajak supir taksi untuk makan.


Mereka sarapan bersama dan meminum, minuman yang sekiranya menghangatkan tubuh.


Rania yang tadi mengeluh masih ngantuk pun sekarang terlihat ceria. Setelah menikmati sarapan. Semuanya kembali ke taksi, namun sebelum masuk mobil tersebut. Ada seorang anak laki-laki sedang memungut barang bekas di samping jalan raya.


Dan ketika melihat ke arah Rania dan keluarga. Anak itu menunjukan senyuman manisnya. Lalu menghampiri dengan seikat bunga dengan tulisan.


Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan


Dia berikan pada Rania. Rania terima dengan ramahnya serta ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Lantas Arya meminta tolong supaya sang supir membelikan makan buat anak itu.


Sang supir langsung menuruti dengan senang hati dan dengan cepat membelikannya.


Arya meminta anak itu menunggu sebentar sampai supir taksi datang membawakan sarapan.


"Kau mau ikut dengan ku? ke Indonesia? tanya Arya sambil memberi isyarat dengan tangannya.


Anak itu menggeleng seraya bergumam. " No!"


Rania memandangi Murad yang sesungguhnya anak itu bersih dan tampan, hidung mancung.


"Pah, Pah? tanyakan di mana rumahnya? dan kenapa masih pagi buta begini sudah kelayapan." Tanya Rania pada papanya yang di tujukan untuk anak laki-laki tersebut.


Kemudian Arya menanyakan yang Rania tanyakan. Dan Murad bilang kalau dia membantu membersihkan kota dari sampah dan juga untuk mendapatkan uang.


"Nah ... sayang. Murad ini sudah belajar mencari uang lho, dimana yang lain taunya minta sama orang tua. Dia mencari sendiri." Fatma melirik putrinya.


Rania mengangguk-anggukan kepalanya. Dan sesekali melihat ke arah anak itu dengan malu-malu.


Supir datang membawa makanan yang Arya pinta dan langsung Arya memberikan itu pada Murad yang mulanya tidak mau menerima. Namun pada akhirnya Murad mau juga menerima.


Karena takut terlambat. Arya meminta supir untuk segera pergi dan melambaikan tangan pada Murad yang melambaikan tangan pada Rania.

__ADS_1


"Cie ... Rania ada penggemarnya nih?" goda Arya pada Rania yang melihat ke belakang.


Fatma ikut tersenyum pada Rania yang menoleh ke belakang.


"Murad hebat ya Mam, Pah. Masih kecil sudah pandai mencari uang." Rania melihat pada papa dan mamanya.


"Iya sayang. Itu namanya calon pengusaha sukses, sebab dia tipe pekerja keras." Fatma mengangguk sambil mengusap kepala Rania.


"Itu benar. Dia pasti kelak menjadi orang yang berhasil dan sukses." Tambah Arya.


Tidak terasa taksi sudah tiba di bandara. Arya langsung cek-in setelah itu berpamitan pada Fatma.


"Aa, pulang dulu ya?" ucap Arya sambil memeluk sang istri serta memberikan kecupan di pipi.


"Iya hati-hati ya." Fatma menyembunyikan wajahnya di pelukan sang suami yang penuh kehangatan.


Kemudian Fatma memudarkan pelukannya pada Arya, mencium pipi kanan dan kiri Arya penuh perasaan.


Lantas Fatma berjongkok mengsejajarkan dirinya dengan Rania. "Rania sayang, menurutnya sama papa. Jangan nakal ya?" pesan Fatma pada Rania.


"Siap, Mam." Rania mengangguk pelan.


"Oya yang rajin sekolahnya ya? biar pintar dan menjadi orang yang rajin dan sukses pula." Harap Fatma terhadap Rania.


Tangan Fatma memeluk erat tubuh mungil tersebut penuh rasa kasih dan sayang.


Arya Terus berjalan menuntun Rania menuju pesawat. Sesekali manik mata Rania melihat ke belakang untuk melihat sang mama yang berdiri melambaikan tangan.


"Semoga kita semua dapat berkumpul lagi segera ya sayang?" ucap Arya sembari terus berjalan memasuki pesawat bersama yang lainnya.


Rania duduk dekat jendela bersama Arya yang terus menjaganya.


"Sayang, nanti bila Papa bertugas. Rania sama aunty ya?" Arya mengusap pucuk kepala Rania lembut.


"Iya, Pah ..." lagi-lagi Rania menggeleng.


Pesawat yang di tumpangi Arya dan Rania mulai lepas landas. Meninggalkan lapangan tersebut.


"Pah, berati Mama sendiri lagi sana ya Pah!" Rania menoleh ke arah Arya yang duduk bersandar.


"Em ... iya. Tapi gak sendirian kok, banyak teman yang menyayangi mama." Arya menoleh sekejap lalu memejamkan kedua matanya.


"Oya, Rania juga mau di sayang banyak orang, banyak teman. Oya Pah. Murad itu orangtuanya di mana ya?" tanya Rania lagi.


"Nggak tau sayang ... lain kali lah Papa cari infonya. Murad anak yang baik dan harus menjadi contoh buat Rania, kalau hidup itu penuh perjuangan dan tidak semua bisa menikmati hidup enak, atau dimanjakan orang tua. Karena orang tua juga tidak semua hidupnya senang," ujar Arya sambil memejamkan matanya.


Rania menatap lekat pada sang papa. Lalu menggunakan batal lehernya, terus memejamkan matanya mengikuti papanya itu.


"Pesawat bawalah Rania pulang ke indo, dengan selamat dan pertemukan Rania dengan orang-orang yang menyayangi ku, pertemukan dengan mama lagi." Gumamnya Rania sambil terpejam.

__ADS_1


Arya membuka matanya. Melihat ke arah Rania sejenak Rania terdiam memperhatikan anak itu.


Terdengar suara merdu pramugari yang memberikan. panduan keselamatan atau arahan pada para penumpang.


Arya mengulas senyuman pada para pramugari tersebut yang merasa dikenalnya. Serta anggukan hormat Arya pada semuanya yang membalas senyuman darinya.


Si kuda besi terus menembus awan mengejar ketinggian, meninggalkan jalan tanpa jejak. Perjalan panjang yang membawa para awak menuju tempat tujuannya masing-masing.


Tiba-tiba cuaca buruk, langit gelap dan petir beberapa kali menyambar. Hujan pun turun dengan derasnya.


Auto membuat semua panik, cemas. Takut menjadi kendala buat perjalanan ini, dan para awak berusaha menenangkan para penumpangnya.


"Ya Allah ... lancarkan lah perjalanan ini! selamatkan kami semua, hindarkan semua segala kendala yang akan menghadang. Aamiin." Arya mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


Petir dan kilat terus terdengar dan seolah menyambar-menyambar. Bikin ngeri yang melihat, Arya melihat ke arah Rania yang tertidur sangat lelap.


"Anak ini anteng banget bobo, padahal suara petir terus menggelegar. Menakutkan." Arya tersenyum ke arah Rania. Tangannya mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.


Perjalanan yang panjang, yang menyita waktu sekitar kurang lebih sebelas jam itupun akhirnya membuat lega para peneliti penumpangnya. Sebab pesawat sebentar lagi akan mendarat.


Pesawat akan landing di landasan terminal internasional yang berada di Indonesia.


Semua bernapas lega, berasa lepas dari jeratan bahaya yang mengintai. Semua turun dengan teratur dan Arya memilih belakangan sesekali bertegur sapa dengan para pramugari.


"Sayang, bangun? sudah sampai nih." Arya membangunkan Rania yang selama perjalanan tertidur dan hanya bangun untuk makan saja.


"Hem ...sudah sampai ya Pah?" Rania membuka kedua matanya lalu menggeliat nikmat. Melihat orang-orang sudah berangsur keluar.


"Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya seorang pramugari dengan ramahnya.


"Tidak. Oh terima kasih." Arya tersenyum ke arahnya.


"Aunty, eh Papa! Rania mau cuci muka dulu." Gumamnya Rania dengan masih dengan suara parau.


Arya memberikan Rania minuman mineral dan tisu basah. "Pake ini saja. Yu kita pulang?"


Rania meneguk dan mengusap wajahnya dengan tisu basah, berdiri mengikuti langkah Arya yang menuntunnya.


Di area tempat menjemput, ada Sultan dan Dewi tengah menunggu kedatangan Arya dan Rania, dan wajah kedua tampak cemas karena mendengar kalau cuaca sedang buruk.


Namun seketika raut wajahnya berubah menjadi cerah kembali setelah mendengar kalau pesawat yang mereka tunggu sudah mendarat dengan selamat.


"Abang, berarti auto panik gini ya? kalau sedang menghadapi cuaca buruk, sementara pesawat sedang melayang ke udara?" tanya Dewi melirik ke arah Sultan.


Sultan menatapnya lekat gadis yang mengenakan kerudung abu-abu itu ....


.


Mohon dukungannya ya like komen dan vote nya🙏

__ADS_1


__ADS_2