
"Nggak, mobil Rania ada kok. Gak di jual." Elak Rania.
Arya yang sedari tadi memperhatikan obrolan Rania dan tamannya, akhirnya mengeluarkan suara juga. "Ehem. Mobil Rania ada kok, cuma sesekali aja di antar pake motor ya! sebentar lagi masuk jam pelajaran. Anak manis siap-siap masuk ya!"
"Oya, Om siap." Anak itu memberi hormat pada Arya.
"Eeh, Rania-Rania. Dia papa Rania ya? ganteng seperti papa aku lho."
"Oya papa aku juga ganteng seperti papa Rania ini," ucap teman-teman Rania yang lainnya.
"Ayo anak-anak. Masuk ya waktunya masuk." Perintah ibu guru Rania.
"Sayang, masuk gih. Nanti om jemput lagi, jam sepuluh ya pulangnya?"
"Iya, pukul sepuluh keluar, Pak," sahut ibu guru yang masih muda dan cantik.
"Oh, iya. Nitip dulu ya ibu Sonia, sebelum saya jemput Rania ke sini." Arya yang mengangguk hormat pada ibu guru yang bernama Sonia itu.
Sementara Rania sudah masuk duluan setelah mencium tangan Arya sebelumnya. Arya melukiskan senyum di wajahnya melihat punggung Rania yang berlarian bersama teman-teman.
Arya mengenakan helm dan kembali mengendarai kendaraan roda dua nya. Meluncur dengan tujuan ke Mension, Mau bebersih sebentar sambil nunggu Rania nanti pulang sekolah.
Sedang anteng-antengnya mengendarai si roda duanya. Arya kepincut dengan yang jualan kelapa bakar. Sehingga dia menghentikan motornya sebentar untuk membelinya tenggorokan terasa kering sekali.
Namun setelah mendapatkan yang dia inginkan dan membayarnya. Arya kembali melajukan motornya berlari melanjutkan tujuannya untuk pulang.
__ADS_1
Menulusuri jalan raya yang ramai dengan pengendara roda dua, empat maupun enam, dari mobil kecil sampai mobil besar. Berlalu lalang dan hilir mudik silih berganti.
Sehingga sampai beberapa puluh menit kemudian sampai di kawasan gedung apartemen mewah di kawasan kota tersebut.
Arya berjalan santai memasuki gedung tersebut. Menjinjing kantong kelapa bakar yang belum sempat ia minum sama sekali. Kini Arya berada di dalam lift menuju unitnya pribadinya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Alangkah terkejutnya Arya saat itu, ketika melihat Renata berada di area tersebut, berdiri tidak jauh dari pintu unitnya Arya. Lalu berjalan mondar-mandir seperti ada yang di tunggu, Arya berdiri sejenak memperhatikan Renata yang mondar-mandir seperti setrikaan saja.
Perlahan tapi pasti, Arya mengayunkan langkah ya menuju unit miliknya dan sekaligus Renata yang berada di sana.
"Arya?" panggil Renata yang terlihat kaget dengan kehadiran Arya di sana.
"Iya, kenapa dan apa kabar?" Arya mengulurkan tangannya yang kanan.
"Ada apa? sama siapa, Oya Doni nya mana? tidak bersama dia ke sini nya? aku dengar kalian akan segera menikah?" rentetan pertanyaan yang Arya ajukan.
"Em, aku sendiri. I-iya, apa aku gak dipersilakan masuk gitu? ada yang ingin aku bicarakan!" Renata menatap dengan tatapan nanar. Sekarang sikap dari Arya sudah banyak berubah.
Arya membalas tatapan Renata dengan tatapan dingin. "Kita bisa bicara di sini saja, atau di cafe depan gimana?"
"Ya sudah, di cafe saja." Pada akhirnya Renata memilih ngobrol di cafe. Tentunya cafe yang ada di gedung tersebut.
Keduanya berjalan beriringan namun sebelumnya Arya menyimpan kantong yang dia bawa di depan pintu.
__ADS_1
Setibanya di cafe, langsung memesan minuman ringan dan cemilannya.
Arya duduk berhadapan dengan Renata. "Bicaralah? aku gak ada waktu."
"Aku, minta maaf. Aku sadar kalau aku salah," ucap Renata sembari menunduk.
"Sudah aku maafkan," sahut Arya sambil menyedot minumnya.
Sebenarnya aku gak ada niat untuk melakukan itu, aku terjebak dengan waktu yang terlalu sering bersama dia dan jarangnya pertemuan kita," ungkap Renata penuh sesal. "Tapi meskipun begitu aku gak ada niat sama sekali untuk meninggalkan mu." Renata menggeleng.
"Sudahlah, gak perlu bahas itu lagi lupakan saja semuanya!" ucapnya Arya sambil memandangi gelasnya dengan tatapan kosong.
"Arya, coba lihat aku? kamu masih sayang kan sama aku?" lirih Renata sembari menelan saliva nya.
Kepala Arya mendongak dan menatap ke arah Renata. "Iya, tapi itu dulu--"
"Kerena sekarang kamu sudah menemukan pengganti aku, kan? wanita itu yang kamu bilang dulu kakak angkat mu?" Renata memotong kalimat dari Arya.
Arya bengong, kenapa juga Renata harus membahas soal Fatma? tau dari mana juga Renata kalau saat ini dirinya dekat dengan Fatma? Arya menghela napas panjang seraya berkata. "Buat apa kamu bahas dia?"
"Atau mungkin, memang dari dulu kamu ada hubungan khusus dengan wanita itu?" sambung Renata dengan sinis dan tatapan nanar.
"Kamu salah, dan ... kamu gak perlu melimpahkan kesalahan pada orang lain." Jelas Arya menatap tajam ke arah Renata ....
****
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote nya. Sebelumnya terima kasih.