Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pura-pura jaim


__ADS_3

Selang beberapa waktu kemudian, mobil taksi yang Arya dan keluarga tumpangi berhenti di area hotel.


Arya gegas membawa Rania yang bergeming itu. Tidur sangat nyenyak.


"Rania kebiasaan deh, suka tidur di perjalanan." Kata Fatma sambil mengikuti langkahnya Arya yang menggendong Rania.


Setibanya di dalam kamar, Arya langsung membaringkan Rania dia tas tempat tidur.


"Iya, nih. Rania bikin Papa berat saja." Gumamnya Arya sambil mengibaskan tangan yang terasa sangat pegal itu.


"Sini, aku pijat." Fatma menarik tangan Arya di ajaknya ke sofa.


Arya mengikuti Fatma duduk di sofa, lantas Fatma memijat tangan Arya dengan lembut.


"Em ... enak juga pijitan sayang," Arya tersenyum ke arah sang istri. "Makasih ya?" cuph! mengecup pipi Fatma dengan mesra.


"Sama-sama sayang. Aku gerah banget nih, aku mau mandi dulu." Fatma berdiri, namun tangannya di tarik Arya sehingga terjembab ke pangkuan Arya.


"Eeh ..." sontak Fatma melingkarkan kedua tangan ke leher Arya.


Tangan Arya langsung lingkar di pinggang Fatma yang masing ramping. Fatma duduk di atas paha Arya sambil matanya celingukan ke arah tempat tidur, takut Rania terbangun.


"Scurity kecil itu, tidak akan bangun segera sayang. Dia sangat nyenyak," bisik Arya lalu menempelkan bibirnya di pipi Fatma yang putih halus tersebut.


"Iya sih," gamamya Fatma pelan. Semakin mengeratkan rangkulan tangan di pundaknya Arya.


"Boleh dong, kalau ... kita bermain dulu hem?" tanya Arya pelan. "Capek gak? kalau capek sih gak pa-pa," ungkap Arya, tapi seolah merajuk berharap bisa mendapatkan yang dia mau.


"Hem ... kan tadi sore sudah, masa pengen lagi?" suara Fatma sangat pelan sambil menggerakkan tangannya mengusap pipi lalu turun ke leher.


"Tau, kan kalau soal itu gak ada bosannya? lagian buat bekal sayang. Beberapa hari kita gak akan bertemu, dan besok, Aa. Akan pulang ke indo," Arya lirih sambil membelai pipi Fatma dengan punggung jarinya.


"Aku capek sayang ... rasanya pengen bobo cepat, setelah mandi langsung tidur, pasti nyenyak." Tambah Fatma sambil menyisir rambu Arya dengan jari-jari nya. Membelai mesra penuh rasa yang sulit di artikan.


Wajah Arya berubah muram. "Baiklah kalau begitu? aku tidak akan menganggu mu Berarti aku harus tidur nyenyak malam ini," ucapnya sambil menjelajah lekuk tubuh indah istrinya.


Fatma memejamkan kedua matanya ketika tangannya Arya menyentuh luaran yang tepat pada suatu tempat sensitif untuknya.


Arya tersenyum melihat sang istri terpejam dan menggigit bibir bawahnya, ketika area sensitif bagian atas nya tersentuh oleh telapak tangnya.. Dan dengan jahilnya tangan Arya malah melanjutkan bermain dan menelusuri dengan sangat lembut.


Fatma semakin terbakar hasratnya, mendongak lalu mendekati wajah Arya yang sedang menatap sayu. Lalu perlahan mereka bercumbu memadu kasih, Tangan Arya semakin gencar dan menyelusup ke dalam.

__ADS_1


Keduanya saling beradu mulut, saling menye-sap dan bertukar saliva yang semakin naikan gelora rasa, tubuh keduanya mulai memanas, bergetar penuh gairah. Ketika mereka sudah semakin terhanyut terbawa suasana. Ingin melakukan lebih menuju puncak mahligai.


Dengan santainya Arya menghentikan aksinya itu, menyingkirkan tubuh Fatma dari pangkuannya, lalu beranjak merapikan diri seraya berkata. "Baiklah, katanya sayang mau mandi? terus kita bobo!"


Fatma mendongak, menatap kecewa pada Arya yang begitu santainya hentikan semuanya. "Yang ..." tatapannya kian sendu.


"Hem, apa sayang?" Arya menoleh begitu saja.


Fatma berdiri mendekati Arya, berdiri di depannya sejajar dengan sang suami, menatap lekat dengan tatapan yang diselimuti kabut hasrat. "Apa kau tidak menginginkan ku?"


"Em ... iya, tapi ... itu tadi, sekarang egak! bukankah sayang mau mandi?" elak Arya sambil membalas tatapan sang istri. Dengan tatap tanpa ekspresi.


Degh!


"Benarkah tidak, kau tidak menginginkan ku?" kini tatapan Fatma mengarah ke bagian bawah Arya. Di sana ketara ada yang tegang menanti nelayan.


Fatma yakin kalau Arya juga menahan sesuatu, cuman Pura-pura jaim. Dengan nakal tangan Fatma meremas sesuatu yang bikin ngilu pemiliknya. Arya mendongak dan memejamkan kedua mata.


Saat itu juga Fatma berhenti dan meninggalkan Arya ke kamar mandi. Dengan pintu terbuka dan dengan sengaja pula Fatma membuka semua pakaiannya di pintu, membuat semuanya terekspos oleh Arya yang membuka netra nya.


Manik Arya bergerak melihat ke arah Fatma dan ke arah Rania yang tertidur. Khawatir dia terbangun dan melihat Fatma yang begitu polos. Buru-buru Arya meraih selimut yang satu lagi lantas dibawanya menghampiri Fatma yang membelakangi


Fatma terkejut, namun tidak berkutik sedikitpun ia pasrah dengan apa yang Arya akan lakukan padanya.


"Katanya tidak tertarik padaku? kenapa sekarang malah mencumbu ku?" goda Fatma sambil memeluk selimutnya di dada.


"Akh, jangan gitu sayang. Aku cuma bercanda tadi," suara Arya berat dan napas kembali memburu.


Arya menarik selimut Fatma sampai terbuka semuanya, namun Arya kembali memakainya namun kali ini untuk berdua. Mereka memadu kasih di dalam selimut tebal yang menutup rapat tubuh keduanya.


Meskipun mereka sangat menikmati permainannya itu, namun tetap berhati-hati bila kah Rania bangun dan melihat mereka berdua.


Tatapi kendati Rania selalu kekenyangan. Menjadikan tidurnya sangat nyenyak sekali tiap tertidur. Membuat mereka tenang sampai menuju puncaknya.


Dini hari, Arya sudah terbangun lantas bersih-bersih, Bersiap untuk terbang kembali ke indo.


Saat ini Arya dan Fatma tengah duduk di sofa yang sudah rapi kembali jauh dari kata beranatakan seperti semalam yang bantalnya entah tebang kemana?


Fatma memeluk Arya penuh kegusaran. "Yang, masih kangen."


Cuph! kecupan sayang, Arya lepaskan di keningnya dan pipi Fatma. "Aa, juga masih kangen."

__ADS_1


"Hati-hati ya di perjalanan? kalau aku masih di sini dan, Aa. Ada waktu. Kunjungi lagi aku di sini." Pinta Fatma sambil menempelkan dagunya di pundak Arya.


"Iya, sayang. Itu pasti, jaga diri baik-baik ya jaga kesehatan juga." Arya melepas pelukannya dan memberikan jarak di antara mereka sehingga Arya dapat menyentuh perut Fatma. "Jaga calon baby kita?"


Fatma menatap dengan senyuman di bibir. Lantas mengangguk pelan, memegang tangan Arya yang mengelus perutnya itu.


"Kita bangunkan dulu Rania, Tidak lama lagi kita berangkat ke bandara." Arya menoleh pada jam tangannya.


Fatma membangunkan Rania supaya bersiap untuk pulang ke indo. "Sayang ... Rania bangun? mau pulang gak?"


Beberapa kali Fatma memberikan kecupan lembut di keningnya Rania yang mulai bergerak.


"Em ... huam ... masih ngantuk Mama, Rania masih mau bobo ah!" Gumamnya sembari memeluk guling dan memejamkan matanya kembali.


Arya mendekat. "Rania sayang ... Papa mau pulang. Apa Rania gak mau pulang? apa mau tinggal di sini sama mama. Tapi ketika mama kerja! tidak ada kawan."


"Hem ... mau!" gumamnya lagi tanpa membuka matanya.


"Maunya? mau apa? mau ikut Papa atau tinggal sama mama? yang jelas dong?" tanya Arya kembali.


"Mau ikut Papa, pulang. Sudah lama Rania bolos sekolah. Dan kalau di sini Rania mau sama siapa? kalau mama kerja?" Gumamnya lagi dengan masih juga dengan mata terpejam.


"Is oke. Sekarang bangun bersih-bersih, kita harus bersiap pergi nih." Kata Arya lagi yang dipeluk sang istri.


"Bentar lagi Papa ... Rania masih ngantuk." Tambah Rania lagi.


"Nanti di mobil atau pesawat kita bisa bobo sayang, ayolah ... bangun sayang! masa mau punya adek masih manja gini ah. Gak baik buat adek nya, nggak pantas di tiru nih." Bujuk Arya.


"Sudah lah, Pah. Jangan ngurusin kakak Rania lagi. Mending urus Mama aja. Peluk aja Mama, Pah." Suara Fatma sengaja untuk memanas-manasi Rania, biasanya dia suka marah kalau melihat mama papanya nempel kaya perangko.


Rania Langsung membuka matanya lebar-lebar. Menolah mama dan papanya yang sedang berpelukan. "Huaam ... ngantuk Mama ... masih ngantuk, Rania mau mandi dulu ya?" anak itu turun dari tempat tidur.


Bergegas ke kamar mandi. Biasanya kalau melihat Arya dan Fatma nempel itu suka kritis. Namun kali ini tidak peduli, mungkin dia mengerti kalau mereka akan berpisah. Makanya membiarkan kedua mesra-an.


Arya dan Fatma saling bersitatap sambil tersenyum. Kemudian mereka saling berpelukan serta mengeratkan pelukannya, sesekali Arya mengecup pipi sang istri dengan sangat lembut.


"Aa, Akan merindukan mu sayang." bisik nya Arya tepat di depan telinga Fatma.


Suasana begitu hening. Membawa suasana yang melo untuk keduanya menumpahkan rasa rindu ....


.

__ADS_1


.


Mana nih vote nya. Like dan komentar nya🙏


__ADS_2