Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Laki orang


__ADS_3

"Ya ... gak masuk akal, sebuah pertanyaan yang aneh." Akunya Fatma. Matanya mendelik.


Arya terus menarik dua sudut bibirnya melengkung indah dengan posisi yang sama terlentang menghadap langit-langit dengan tangan dilipat. Berbantalkan bantal sofa. "Cemburu juga gak pa-pa, bebas kok."


"Heehhhh! ... enak saja, gak ada cemburu-cemburu, emang kamu siapa?" kepala Fatma menggeleng lalu beranjak membawa laptopnya meninggalkan Arya.


Arya terus tersenyum melihat reaksi Fatma, kemudian Arya memejamkan matanya kembali.


Langkah Fatma yang setengah berlari menjadikannya lebih cepat sampai di dalam kamar. Menyimpan laptop di meja, dia sendiri merangkak naik ke atas tempat tidur yang masih rapi.


"Apaan? buat apa aku cemburu sama dia? apa-apa juga bukan! mau nikah kek, mau jalan kek. Terserah!" gumamnya Fatma sambil menarik guling ke dalam pelukannya.


"Huam ... ngantuk." Menutup mulutnya dengan tangan kanan. Tapi ketika mau terpejam kepikiran Arya yang baringan di sofa. "Pindah gak ya tidurnya?"


Fatma mengibaskan selimutnya lalu turun menapakkan kaki di lantai berjalan mendekati lemari, mengambil selimut kemudian dibawanya ke bawah.


Tap, tap, tap, langkah Fatma terdengar pelan memecah keheningan disaat hari dah larut malam ini. Fatma berdiri di ujung tangga anak tangga memperhatikan sebuah kali yang berada di sofa.


"Hem, masih gak pindah juga nih orang." Fatma mendekati sofa yang berada Arya di sana.


Fatma membatu di dekat kepala Arya yang tertidur begitu lelap, menatap sangat lekat sosok pria itu begitu intens. "Hei. Bangun, pindah ke kamar?" ia merasa tidak tega melihat Arya tertidur di sofa. Meskipun Sofanya juga empuk namun demikian tetap saja tempat terbuka.


Beberapa menit Fatma menunggu, namun Arya jangankan bangun ataupun pindah. Bergerak aja nggak.


"Kasian banget ya laki orang kecapean, seharusnya istirahat di rumahnya. Gara-gara Rania nih dia bela-belain datang ke sini." Fatma bermonolog sendiri kemudian membuka selimutnya ia bentangkan menutupi tubuh Arya.


"Selamat malam laki orang!" gumam Fatma, kedua mata Fatma sayu mengantuk, menatap Arya yang terlelap.


Kemudian Fatma bergegas meninggalkan tempat tersebut. Setibanya di kamar langsung rebahan dan berselimutkan selimut tebal. Memejamkan mata untuk menjemput mimpi.


Arya yang ditinggal bibirnya mengguratkan sebuah senyuman bahagia. "Selamat malam calon istri siapapun." Rupanya Arya tidak benar-benar tertidur kedua telinganya masih bisa mendengar gerak Fatma di dekatnya.

__ADS_1


Malam berlalu begitu saja dengan mimpi indahnya masing-masing. Terdengar alunan suara adzan yang begitu indah membuat Arya terbangun. perlahan membuka matanya yang masih terasa ngantuk. Bergeliat nikmat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Huaa!" sejenak duduk tengok kanan dan kiri mengumpulkan kesadarannya. Suasana masih terasa sepi dan lampu pun cuma temaram.


Melipat selimut tebal yang ia pake semalam. "Hem, kapan ya? aku merasakan selimut yang bisa bergerak ha ha ha ..." tertawa sendiri.


Kemudian Arya membawa langkahnya menuju kamar tamu yang biasa ia pake. Mengusap wajahnya. "Alhamdulillah ... Allah masih memberku kesempatan untuk bisa bernapas dan menghirup udara di pagi ini."


Saat ini Fatma pun sudah bangun dan terduduk di tempat tidur, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan. Diikat nya di atas menyerupai buntut kuda.


Turunkan kakinya ke lantai, teringat pada sosok orang yang tidur di sofa. Bibirnya senyum tipis. "Sudah bangun belum ya calon laki orang?"


Lalu Fatma memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di pagi ini sang fajar sudah mulai bersinar memberi kehangatan pada setiap mahluk yang berada muka bumi. Udara sejuk masih bersih dari polusi kendaraan yang kebanyakan masih berada pada tempatnya.


Di bawah kedua orang tua Arya sudah berkumpul dengan orang tua Fatma. Abah berpamitan untuk pulang segera, sebab nanti siang mau balik ke Bandung.


"Lho ... masih pagi, kok buru-buru santai aja." Bu Wati sedikit mencegah. "Kita sarapan dulu."


"Iya, tapi nanti kalau sudah sarapan ya? pulangnya." Bu Wati kekeh.


Terlihat Arya menghampiri sambil memasang jam tangan di pergelangan tangan yang berbulu halus itu. "Kita pulang sekarang Umi, aku mau pamit dulu sama rania." Tanpa menunggu jawaban Arya langsung naik ke lantai atas menuju kamar Rania.


Sebelum sampai di kamar Rania, di jalan bertemu dengan Fatma yang sudah rapi penampilan nya modis dan formal. Setelan celana panjang dan blazer biru Dongker.


langkah Arya terhenti dan memperhatikan ke arah Fatma. Sementara Fatma melihat penampilannya yang mungkin saja ada yang salah sehingga pandangan Arya begitu intens.


"Lihat apaan sih? gitu amat lihatnya?" tanya Fatma sambil mengibaskan tangan di depan wajah Arya.


"Ha?" Arya terhentak lalu menghentikan senyumnya. "Argh, nggak, cuma lihat bidadari yang pagi-pagi sudah muncul." Menggeleng.

__ADS_1


"Mana?" manik mata Fatma tengok ke arah belakang tubuhnya yang tidak ada siapa pun.


"Ada, lah, ini dihadapan ku. Calon istri siapapun." goda Arya sambil kembali menunjukan senyumnya.


"Gombal, simpan saja gombalan mu itu, buat calon istri mu. Gitu amat lihatnya! kaya baru lihat saja." Gumam Fatma sekilas tersipu malu.


"Ya ... nggak pa-pa gombal sedikit gak rugi juga." Menyeringai senang.


"Iddih ... nggak pa-pa sih tapi gak enak bila di dengar calon istri mu," sambung Fatma.


"Ngomong calon istri mulu? cemburu ya?" Arya sambil membawa langkahnya maju untuk ke kamar Rania.


"Enak aja cemburu? cemburu itu harus pada tempat nya kali." Fatma melangkah mendahului Arya dan menghalangi langkah Arya yang mau membuka pintu kamar Rania.


"Emang harus gimana? yang gimana pada tempatnya itu maksudnya?" tanya Arya yang berdiri di belakang Fatma, hendak masuk kamar sang putrinya.


Hidung Arya tertusuk bau wanginya parfum Fatma yang menyeruak di tempat tersebut. Ia menghirup wanginya dan menelan saliva nya. Menatap tubuh Fatma dari belakang dari mulai kepala sampai kaki yang beralas sendal yang semalam Arya belikan.


Fatma mengayunkan langkahnya. Masuk lalu menekan saklar supaya lampu menjadi terang. Nampak Rania masih terlelap di tempatnya.


"Sayang, bangun ... sudah siang lho." Fatma naik merangkak dan membelai kepalanya.


Anak itu cuma bergumam. "Hem."


"Bangun sayang? Mama mau kerja, yu mandi dulu!" Menarik tangan Rania sehingga menjadikannya duduk.


Gadis kecil tersebut bangun, namun matanya tetap tertutup. "Mam ... Om sudah pulang ya? Rania boleh ya ikut ke Bandung?" tanpa membuka mata sedikitpun.


Fatma menoleh ke arah Arya yang berdiri di tepi tempat tidur milik Rania.


Arya tersenyum melihat anak itu yang masih enggan membuka matanya. "Om, masih di sini. Boleh, nanti ikut!" suara Arya yang masih terdengar berat ....

__ADS_1


****


Haduh ... gara-gara semalam review nya telat. Jadi malas nulis tuk hari ini 🙏 mohon dukungannya saja dari reader ku"


__ADS_2