
"Eeh, yang ..." kedua tangan Fatma merangkul leher Arya, was-was takut terjatuh.
"Kangen sayang!" bisik Arya seraya menelusuri daun kuping Fatma.
"Aku juga kangen." Balas Fatma suaranya nyaris tak terdengar.
Beberapa kali kecupan hangat mendarat di kening sang istri, dan Fatma pun tak ayal membalasnya dengan kecupan mesra di pipi kanan dan kiri Arya.
Lalu keduanya berpelukan sangat erat, detik kemudian Arya menuntun langkah Fatma ke sofa tanpa melepas pelukannya yang sangat erat tersebut.
Mereka kini duduk di sofa, dengan tatapan yang lekat. Jemari tangan Arya membelai mesra rambut Fatma dengan lembut, lalu membelai pipinya yang putih dan halus itu.
Begitupun dengan Fatma, dia pun membalas belaian sang suami. Jemarinya yang lentik membelai rambut Arya serta tatapan yang lembut, tidak ada kata yang terucap dari bibir, melainkan tatapan mesra sebagai ungkapan perasaan hati.
Jari tangan Arya turun ke tempat favorit lainnya, diiringi dengan kecupan kecil dan lembut yang berpindah-pindah jengkal demi jengkal dari leher ke samping kiri sampai ke samping kanan lalu turun ke bagian lain yang bikin Arya betah bermain di sana.
Membuat Fatma mendongak, memejamkan mata. Merasakan geli dan juga keenakan dengan sentuhan Arya yang terus menggoda. Jari-jarinya Fatma meremas rambut Arya.
Disaat asik seperti itu, terdengar suara alunan adzan Maghrib dari ponsel Fatma yang berada di dalam tas. Seketika menghentikan kegiatan Arya yang sedang menaikan sesuatu.
"Mungkin belum waktunya untuk kita bercinta saat ini. Di tahan dulu deh ..." ucap Arya sambil tersenyum.
Fatma pun mengangguk.
Sejenak saling pandang. Lalu sama-sama tertawa tipis, merasa lucu dengan yang mereka lakukan ini. Baru menjelajah di bagian atas harus terjeda, dengan panggilan dari sang maha pencipta. Jadi merasa malu.
"Hi hi hi ... iya, Aa. Kita berjemaah dulu ya?" ajak Fatma sambil beranjak dan merapikan diri.
Arya langsung mengiyakan, dan juga berdiri merapikan kaos dan rambut. Kemudian membawa langkahnya ke kamar mandi bergantian dengan Fatma.
Beberapa saat kemudian. Mereka melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Sekitar lima menit kemudian berjamaah pun selesai.
Sebelum Rania bangun, Arya berniat harus merasakan gol dulu walau satu kali pikirnya. Namun Ketika mau memulai kembali, si gadis kecil bangun.
"Mama? Mam? Papa?" panggil Rania dengan pandangan nya mengitari setiap sudut ruangan tersebut.
Arya dan Fatma bersitatap dengan hati sedikit kecewa. Namun bibir berusaha tersenyum menahan gejolak rasa yang hampir saja ingin membludak.
"Sabar ..." gumamnya Arya, seraya mengusap dadanya sendiri.
Fatma pun mengulas senyumnya sambil mencium pipi Arya yang kanan. Dan sang empu meminta yang yang satu lagi. Fatma segera mengindahkan permintaan itu dengan senang hati. Setelah itu barulah berdiri.
Dengan mata masih ngantuk dan sepet, maniknya Rania menemukan sang mama muncul dari sofa yang memunggungi tempat tidur.
Fatma Menghampiri Rania. "Apa sayang? putri Mama sudah bangun ya?"
"Mama dari mana sih?" tanya Rania dengan suara yang serak.
"Mama ada di sofa." Fatma menunjuk ke arah sofa.
__ADS_1
"Papa mana?" tanya lagi Rania yang tidak melihat papanya.
"Ada di sofa sana." Lagi-lagi Fatma menunjuk ke arah sofa.
"Mama sama papa lagi ngapain di sofa?" selidik Rania mengerutkan keningnya penasaran.
"Em ... Mama-Mama sedang menonton televisi. Sama papa sambil tiduran." Fatma agak gelagapan menjawabnya.
Sementara Arya hanya mendengarkan perbincangan mereka berdua dengan bibir sedikit menyungging.
"Ooh," anak itu seolah berpikir sambil melihat ke arah televisi.
"Aa, sudah pesan makan belum? aku lapar nih, Rania lapar gak hem?" tanya Fatma sambil mengusap rambut Rania yang berantakan karena habis tidur.
"Iya, ini lagi di pesankan sayang." Balas Arya dari balik sofa.
"Mau," anak itu mengangguk. Lalu netra mata Rania tertuju pada kancing baju mamanya yang terbuka. "Mam itu kancing baju Mama terbuka, tutup? nanti di lihat orang! malu."
Netra nya Fatma mengikuti yang Rania tunjuk. "Oh, iya. Mama lupa kancing kan tadi." alasan Fatma. Padahal ada yang membukanya, siapa lagi kalau bukan tangan nakal Arya.
"Jangan lupa dong, Mama ... malu nanti dilihat orang. Apalagi sama laki-laki, Rania takut!" ucap anak itu mendadak sedih.
"Lho, takut kenapa sayang?" Fatma heran.
"Rania takut kalau Mama kena pukul lagi seperti dulu." Kenang Rania sambil menyandarkan kepala di dadanya Fatma.
Fatma mengerti dengan kekhawatiran Rania. "Nggak sayang ..."
Rania hanya mengangguk. Dalam pikirannya terbayang ketika sang bunda teraniaya oleh papanya, Aldian. Namun terngiang di ingatan Rania juga apa yang di pesankan Arya padanya.
Jangan pernah membenci papa Aldian, sebab bagaimana pun dia papanya Rania. Itu yang Arya bilang padanya.
Arya berdiri dan menghampiri ke tempat tidur dan memeluk istri dan putrinya. "Kenapa nih? kok sedih sih? happy dong ..."
"Pah, ini dah malam ya? kok Rania gak di bangukan untuk berjamaah sama kalian sih?" Rania beranjak dari pelukan sang mama.
"Oh, iya. Sebentar lagi kan isya, kita bisa berjamaah sayang ... ya?" Arya mengusap pucuk kepala Rania.
"Oke. Mau Rania mau ambil wudu dulu ya?" anak itu keluar dari selimutnya lalu turun dari tempat tidur di bantu oleh Arya.
"Hati-hati sayang ... jangan tergesa-gesa ya?" ucap Arya seiring Rania masuk ke kamar mandi.
Fatma menghela napas panjang. Melihat punggung Rania sampai hilang di balik pintu, Fatma mengedarkan pandangan pada Arya namun detik kemudian kembali melihat ke arah kamar mandi. Dimana Rania muncul kembali.
"Mam, Rania mau mandi lagi ya gerah nih, lengket. Bau asem." Rania berdiri di pintu.
"Oh, iya. Boleh sayang, boleh." Fatma mengangguk.
Setelah mendapat ijin dari sang bunda. Rania masuk kembali ke kamar mandi.
__ADS_1
Netra mata Arya yang memastikan Rania sudah masuk kembali ke kamar mandi dan pintunya di tutup. Mengambil ujung selimut dan meringkupkan ke tubuh dirinya dan Fatma. Membuat suasana gelap
"Aa, apaan sih?" Fatma berusaha keluar, namun Arya mencegahnya.
"Sett ... jangan berisik." Arya menempelkan jarinya di bibir Fatma.
Kemudian mendekatkan wajahnya untuk dapat meraih yang Arya inginkan sedari tadi. Setelah menemukan tempat yang dia inginkan, lantas memberi kecupan kecil yang mulanya biasa saja. Namun lama-lama menyapu seluruh permukaannya.
Fatma terdiam dan menikmati sentuhan sensual dari suaminya itu, kedua mata Fatma terpejam dibuatnya.
Tangan kanannya merangkul leher Arya dan satunya mencengkram bagian punggung pria itu lembut.
Arya menurunkan kecupannya ke bagian-bagian lain yang sekiranya akan membuat Fatma terlena dan sangat bergairah.
Benar saja. Gairah Fatma pun naik dan dengan agresif nya membalas aksi-aksi Arya yang terus membuat ia semakin bergairah.
Lagi-lagi Arya menjamah sesuatu yang berada di balik baju bagian dalam Fatma.
Dari kamar mandi terdengar suara air yang mengguyur. Pertanda Rania masih di sana. Semakin membuat Arya merasa leluasa mencumbu sang istri.
Namun aktifitas itu terpaksa harus di tahan dulu sampai waktunya yang tepat nanti. Arya menyudahi aksinya itu, dengan napas yang memburu.
Keduanya berusaha mengontrol napas yang naik turun tidak teratur. Dada Fatma berdebar sangat cepat, membuang napas berulang-ulang dari mulutnya.
Fatma menggigit bibir bawahnya, rasanya ingin terus saja. Dan jangan di jeda-jeda. Bikin kepala mengepul panas saja.
Apalagi Arya, dia berusaha keras untuk mengontrol emosinya. Emosi untuk menikmati mangsanya itu, rasanya pengen saat ini juga menyantap hidangan yang teramat sangat lezat itu.
Namun takut dan itu pasti. Kalau dilakukan sekarang, tentunya ada Rania. Masa disaksikan anak itu, jadi dengan terpaksa harus menunggu dia tidur kembali.
Heningh!
Tangan Arya mengarah pada dada Fatma untuk merapikan bajunya di bagian itu yang terbuka dan membuatnya tergoda.
"Sudah mau ya?" goda Arya seraya berbisik tepat di telinga Fatma, ketika melihat banyak tanda-tanda yang aneh dari sang istri.
Fatma tersipu malu. "Aa, juga." menunduk dalam.
"Iya sama sayang, sabar ya? tunggu scurity kecil kita bobo lagi." Suara Arya pelan dengan napas masih terdengar berat.
Pintu kamar mandi terbuka. Dan muncullah Rania dengan memakai handuk. Fatma langsung menyiapkan pakaian untuk Rania.
Dan Arya membuka pintu, kebetulan pesanan makan malam sudah datang.
Manik mata Rania menatap intens pada sang bunda yang terlihat aneh, terlihat gelisah salah tingkah ....
.
.
__ADS_1
Ayo, aku ingatkan lagi ulung juga "Gadis Satu Milyar Ku"