
"Makasih Mama, kok Mama ada di sini sih? bukannya tadi si kamar hotel?" Rania masih terheran-heran. Melihat sang bunda ada di sana.
"Iya, sayang ... kan surprise buat Rania dan papa." Fatma melirik ke arah Arya yang juga masih kebingungan.
"Ooh," anak itu membulatkan bibirnya.
Fatma peluk kembali. "Semoga Rania menjadi anak yang Sholehah yang menyayangi orang tua. Hormat dan berbakti."
Rania mengangguk dan mengucap Aamiin. Begitupun orang-orang yang di sana dan tentunya mengerti dengan bahasanya Fatma.
Fatma berdiri dan mengambil kue yang berada di tangan kawannya. Langkah Fatma mendekati sang suami yang tertegun.
"Selamat ulang tahun sayang? semoga panjang umur, sehat. Mudah rejeki dan dilancarkan di setiap urusan. Serta menjadi suami yang baik, yang terus menyayangi ku dan anak-anak kita." Harap Fatma menatap lekat pada sang suami.
Arya akhirnya tersenyum manis. "Perasaan masih beberapa hari lagi deh! kok sudah dapat kejutan gini?" ucapnya sambil mematikan lilin dengan tangannya.
"Tidak apa-apa, dua hari lagi kok. Semoga panjang umur dan sayang istri selamnya," harap Fatma.
"Terima kasih sayang. Atas doa nya? insya Allah aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik, yang bertanggung jawab, sayang istri dan anak." Akunya Arya sambil memeluk sang istri sangat erat, tidak lupa mencium keningnya.
Dan Fatma mengecup pipi Arya kanan dan kiri. "Sama-sama."
"Sebentar-sebentar. Urusan ku belum selesai dengan orang tadi." Arya melepas pelukannya, menghadap pedagang yang tadi.
"Urusan kita gimana nih?" tanya Arya menatap orang tersebut.
"Prank ... anda sudah bayar kok. Ini cuma prank doang." Katanya pedagang tersebut.
"Jadi?" Arya mengernyitkan keningnya, menatap heran pada orang tersebut.
"Iya, anda sudah bayar dan anda di orang atas permintaan istri anda." tambahnya meyakinkan.
"Jadi ini perbuatan sayang nih? awas ya? akan ada balasannya. Aku hampir saja menyerang dia." Kata Arya pada sang istri dan melirik ke arah pria itu seraya tersenyum.
"Hi hi hi ... iya. Itu rangkaian dari kejutan ini. Oya sekarang siapa yang mau potong kue duluan?" tanya Fatma mengedarkan pandangan pada suami dan putrinya.
"Aku! aku duluan Mam." Rania mengacungkan jarinya sambil lebih mendekatkan diri ke kue ultahnya.
"Boleh. Eh Rania punya doa apa dulu nih?" Fatma menatap lembut dan bertanya doa yang ingin dipanjatkan oleh putrinya itu.
"Em ... Rania mau kita semua saling menyayangi terus dan bahagia terus seperti sekarang ini. Dan semoga baby yang masih di dalam perut Mama itu baby laki-laki. Yang lucu, ganteng seperti Papa juga," Rania menoleh pada Arya sekilas.
"Aamiin. Ya sudah potong kuenya lalu dibagikan kepada semua yang ada di sini oke?" Fatma mengusap wajahnya. Lalu mengambil pisau kuenya.
Rania memberikan potongan pertama kue nya ada itu pada sang bunda dan papanya.
__ADS_1
"Makasih sayang?" Arya dan Fatma berbarengan.
Dan kue tar milik Arya, potongan pertamanya buat sang istri tercinta. Kemudian semuanya dibagi-bagikan pada semua orang yang berada dia sana.
Lalu ketiganya menikmati malam di depan danau dengan penuh rasa bahagia. Sungguh kebahagian Arya dan Fatma berasa lengkap.
Rania bermain lari-larian dengan anak-anak di sana. Anak itu mudah kenal dan mudah bersosialisasi dengan orang-orang baru.
Arya memeluk sang istri dari samping. "Aku bahagia mendapat kejutan yang hampir, Aa. Frustasi dengan nyolot nya orang itu, jelas-jelas, Aa. Sudah bayar kok." Kata Arya sambil menempelkan dagunya di atas bahu Fatma .
"Hem ... emang enak? hi hi hi ..." tangan Fatma mengusap pipi Arya lembut. "Aku pun sangat mempunyai suami seperti mu." Netra nya bergerak menatap mata Arya yang juga menatapnya.
Sementara waktu keduanya saling pandang dengan tataan mesra dari keduanya. Seakan ingin menyelami dalamnya hati masing-masing. Tangan pun saling genggam dengan erat. Sesekali Arya mencium punggung tangan Fatma penuh kasih.
Perasaan kedua saat ini sungguh sulit di ungkapkan dengan kata-kata atau gambaran betapa bahagia mereka saat ini.
"Sayang ... jangan lari-lari terus, capek. Nanti jatuh lho." Pekik Fatma dalam pelukan sang suami.
Terdengar suara tawa renyah anak itu yang bermain riang dengan anak-anak yang lain.
"Biarkan mereka bermain, asal jangan celaka saja." Protes Arya sambil mengelus punggung Fatma.
"Iya sih." Gumamnya Fatma sambil menenggelamkan wajahnya di dada sang suami yang bidang itu.
"Lihatlah bulan begitu indah menerangi gelapnya malam ini. Bintang pun menjadi saksi betapa bahagia nya kita berdua.
Air danau yang tenang. Sesekali bergoyang Dan berkilau terkena pantulan cahaya dari sang rembulan yang bersinar terang.
"Sudah malam, Aa ... aku besok sibuk lho. Pulang yu? dah jam berapa nih?" melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 23 lewat.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, kita pulang sekarang!" menggenggam tangan sang istri dan lalu menoleh pada Rania yang tampak asik bermain.
"Rania? sudah malam, pulang yu? lain kali kita ke sini lagi." Panggil Arya.
"Iih, Papa! masih betah bermain juga. Nanti saja pulang nya?" Rania merasa terganggu dengan panggilan dari Arya.
"Sayang, yang lain juga sama mau pulang, sudah malam kan? Coba tanya mereka?" ucap Fatma sambil merangkul tangan Arya.
Anak itu cemberut. Dia masih betah bermain.
"Do you guys want to go home too? The night is late," Fatma bertanya pada anak-anak yang bermain dengan Rania.
Lantas anak-anak tersebut mengangguk.
"Good ... Next time we can play." Fatma bertanya kembali.
__ADS_1
Lagi-lagi anak itu mengangguk pertanda setuju.
"Yes. Thank you?" ucap Fatma kembali.
Kemudian mereka pun bubar menghampiri keluarga nya masing-masing.
"Kan, mereka juga pulang. Sebab sudah malam. Yu pulang? besok Mama harus ngantor sayang." Bujuk Fatma sambil mengusap rambut Rania.
"Yu, pulang? lain kali kita ke sini lagi, sore ke sini nya--"
"Janji Pah? besok ke sini lagi sore-sore?" Rania memotong perkataan sang papa.
"Iya, boleh. Papa janji! besok sore-sore ke sini lagi." Jawab Arya meyakinkan.
"Hore ... asyik besok ke sini lagi. Beneran ya Pah?" Rania menatap ragu.
"Iya, kapan sih Papa bohong?" Arya menaikan alisnya.
"Oke, besok sini lagi. Yu pulang?" Ajak Rania.
Kemudian mereka pun berjalan meninggalkan tempat tersebut mencari taksi untuk pulang ke hotel.
Kini mereka sudah duduk santai di dalam taksi. Dan Rania duduk bersandar ke pangkuan Arya dengan kedipan mata yang tinggal tiga wat.
"Rania ngantuk!" sembari memejamkan matanya.
"Hem ... tadi gak mau pulang. Sekarang, belum juga sampai. Sudah ngantuk begitu? Hem ... bocil-bocil." Fatma menggeleng.
"Namanya juga anak-anak sayang. Maklum saja." Kata Arya sambil merangkul bahu sang istri.
Taksi melaju dengan sangat cepat. Membelah jalanan yang masih tampak ramai, dan selang beberapa puluh menit taksi berhenti di depan hotel.
Arya dan Fatma turun dan Arya menggendong Rania yang tidur lelap. Keduanya berjalan memasuki lobby mendekati lift. Sesekali mengangguk dan tersenyum bila berpapasan dengan penghuni hotel.
Saat ini Arya menidurkan Rania di atas tempat tidur, tidak lupa di selimuti. Sementara Fatma ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Arya membuka jaketnya. Lantas mendekati pintu kamar mandi, ketika di buka! Fatma sedang berganti pakaian membuat Arya melongo netra nya tidak berkedip melihat ke arah sang istri.
Fatma tersenyum. Lalu berjalan melintasi Arya yang berdiri di sisi pintu sambil menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Namun segera melanjutkan niatnya untuk membuang hajat. Lantas menutup pintunya itu.
Beberapa saat kemudian Arya keluar dengan merasa lega. Mengarahkan pandangan ke arah sang istri yang tampak sudah pulas,
Hati Arya mendadak lesu. Tadinya mau minta hadiah ulang tahun dari sang istri namun sepertinya sang istri kecapean, Arya menghela napas panjang lalu merangkak naik lantas berbaring di samping istri tercinta. Di tatapnya sangat lekat nan mesra.
__ADS_1
Tangan Arya bergerak mengarah ke perut sang istri. Menyelusup ke dalam, sampai menyentuh kulitnya. Di usap dengan cara lembut.
"Sayang, calon baby Papa. Jangan bikin repot mama ya? lusa Papa mau pulang ke indo. Dikarenakan harus tugas, yang tenang dan jagain mama ya selama di sini?" cuph! Arya mengecup lembut perut Fatma. Sejenak menempelkan bibirnya lama di sana ....