
Bu Wati dan Fatma menjerit-jerit dan langsung menghalangi Aldian yang terus memburu dan menghajar pak Wijaya. Hingga tumbang tak berdaya sampai datangnya scurity dan para asisten yang berhamburan datang melerai dan menarik Aldian supaya menjauh dari tubuh pak Wijaya yang tergeletak di lantai.
"Dasar laki-laki tua. Seenak nya saja menyerang ku dan rasain lho ... heh laki-laki tua, sudah tua juga sok mau menghajar ku, mampus-mampus kau!" umpat Aldian yang meronta dalam pegangan scurity dan supir.
Fatma melihat Sang ayah seperti itu, menoleh pada Aldian lalu berdiri dan menunjuk-nunjuk ke arah hidung Aldian seraya memekik dengan keras. "Kamu. kamu kurang ajar, kamu tau dia itu ayah ku. Mertua kamu, opa dari putrimu. Tega-teganya kamu menyakitinya, dimana hati nurani mu ha? dimana?"
"Siapa suruh dia menyerang ku? dasar orang tua sialan--" Aldian menggantungkan umpatannya.
"Kau yang gila, tak tau diri dan tak tau di untung. Kalau sampai Ayah ku ke napa-napa aku tak akan pernah memaafkan mu dan ... aku akan laporkan kamu ke pihak yang berwajib. Camkan itu!" ancam Fatma, lalu mengikuti sang ayah yang di bawa ke kamar pribadinya.
"Lepaskan?" Aldian menoleh kanan dan kiri hingga akhirnya tubuhnya dilepaskan. Kemudian berlalu sambil mengusap wajahnya.
Kini Pak Wijaya dibaringkan di atas tempat tidurnya. Tampak lemah dan di sekujur tubuhnya luka lebam akibat tendangan yang tak beraturan dari kaki Aldian.
Sampai-sampai harus mendatangkan dokter pribadi untuk memeriksakan nya. Bu Wati duduk bersimpuh di sisi sang suami yang terkulai lemah dan terus merintih kesakitan.
Rania berdiri di sisi pintu dengan derai air mata yang terus berjatuhan. Rania shock melihat kelakuan papanya terhadap sang opa hingga mengakibatkan sang opa seperti sekarang ini.
"Gimana kondisi ayah dok?" tanya Fatma wajahnya tampak cemas menatap dokter Andre yang baru selesai memeriksa sang ayah.
"Tuan Wijaya sudah saya beri obat penenang. Nanti kasih obat yang ada di resep." Dokter memberikan sebuah resep yang harus di tebus.
"Oh, makasih dok," ucap Fatma sambil mengambil resep tersebut lalu menyuruh asisten untuk menebusnya segera.
Setelah itu dokter berpamitan, pergi dengan Mia yang mengantarnya sampai depan. Fatma menghela napas panjang lalu netra matanya menemukan Rania mengintip di balik pintu.
"Sayang ..." Fatma berjongkok dan merentangkan tangan. Rania pun berjalan cepat untuk berada di dalam pelukan sang bunda.
"Rania takut Mam," memeluk erat. "Papa jahat."
__ADS_1
"Sayang ... doa kan saja supaya opa cepat sembuh ya?" cuph! mencium pucuk kepala dan kedua pipi anak itu penuh kasih sayang.
Rania memberi jarak antara dirinya dengan sang bunda. "Kenapa papa jahat sama opa dan Mama? apa papa gak sayang sama opa dan Mama ya Mam?"
Fatma hanya merespon dengan pelukan yang sangat erat pada tubuh Rania, Fatma terdiam sambil mengusap punggungnya lembut. Hatinya sedih dan pilu.
Fatma menuntun Rania mendekati pak Wijaya lalu di dudukan di dekatnya. Pak Wijaya yang terus merintih namun namun suaranya pelan dan matanya terpejam.
"Ayah istirahat ya," jangan banyak gerak dulu." Suara Fatma lirih, kemudian menggerakkan netra matanya pada sang bunda yang terus menguras air mata.
Bu Wati tampak sedih dan kecewa pada Aldian. Sudah istrinya kini mertuanya juga yang kena sasaran. Benar-benar Aldian orang yang gak punya hati. "Suami mu benar-benar tidak punya hati Fatma."
"Bu ..." lirih Fatma sembari melirik pada Renata. Fatma tidak mau Rania mendengar ucapan-ucapan yang kurang baik, maklum Rania masih kecil dan memorinya masih bagus mudah mencerna dan mudah menempel.
Seusai diberikan obat. Pak Wijaya tertidur, Bu Wati menatap sedih melihat sang suami yang terbaring lemah dan luka lebam pun banyak menghiasi tubuhnya. Dengan pelan. Mengompres nya dengan es batu supaya tak membiru.
Saat ini Fatma di ruang kerja sedang berbincang dengan pengacaranya, tuan Muklis. Mereka sangat serius mengobrol kan sesuatu perihal pengajuan cerai Fatma yang tidak ingin di tunda lagi mengingat semakin ke sini Aldian semakin banyak tingkah. Membuat Fatma merasa muak kelakuan buruknya sudah terang-terangan di mata keluarganya. Tak seperti dulu yang di tutu-tutupi yang setidaknya hanya dia yang tahu.
"Ini beberapa gambar yang bisa dijadikan sebagai barang bukti. Kalau dia pria yang tak setia dan tak puas dengan satu wanita. Itu terbukti hampir tiap hari berganti wanita," jelas Fatma. Menatap lekat pada tuan Muklis.
"Apa sudah Nyonya pikirkan dengan matang?" tanya tuan Muklis membalas tatapan Fatma.
"Saya yakin, seyakin-yakinnya. Tak ada alasan lagi buat saya untuk mengurungkan niat ini dan ... saya harap Tuan Muklis bisa mengurusnya secepat mungkin." Harap Fatma. "Oya, diminum dulu kopinya. Nanti keburu dingin."
"Iya, makasih Nyonya." Balas pengacaranya seraya membuka lembar demi lembar berkas yang ada di tangannya.
Tuan Muklis menyesap kopinya, lalu menggerakkan netra matanya pada Fatma yang kalau diperhatikan banyak juga luka lebam yang diantaranya di wajah dan tangan juga leher bekas tamparan dan cekikan. Dan mungkin masih banyak lagi yang mungkin tertutup oleh pakaian yang dia kenakan.
"Apa ada juga gambar luka-luka di tubuhmu yang akan dijadikan barang bukti penganiayaan dalam rumah tangga?" selidik pria bongsor itu menatap ke arah Fatma.
__ADS_1
"Ada, tentu. Tapi ... itu nanti saja kalau bukti-bukti yang ada itu masih kurang. Saya maunya, kalau bisa gambar itu tak perlu terpublikasi. Biar itu jadi rahasia pribadi saja," tegas Fatma kembali.
Keduanya terlihat menghela napas dalam-dalam. Apalagi Fatma sangat panjang tuk membuang semua beban yang ada di dadanya.
"Kisah penganiayaan saya biar menjadi sejarah pribadi dan cuma orang-orang tertentu saja yang tau," lirik Fatma yang lagi-lagi membuang napas dan kali ini melalui mulutnya.
Tuan Muklis mengangguk pelan tanda mengerti akan maksud klien nya. Kemudian setelah cukup dengan obrolannya, tuan Muklis meminta ijin untuk menjenguk pak Wijaya.
Keduanya berjalan beriringan menuju kamar pak Wijaya dan bu Wati. Fatma masuk duluan dan menyalahkan tamunya masuk.
"Saya ikut prihatin dengan yang menimpa pak Wijaya. Semoga cepat sembuh," ungkap tuan Muklis setelah duduk di sofa yang tidak jauh dari pak Wijaya terbaring.
"Terima kasih Tuan Muklis. Dan semoga menjadi referensi buat berjalannya kasus perceraian saya!" jelas Fatma kembali. Matanya bergerak pada sang ayah dan juga tamunya bergantian.
"Oke, saya pamit dulu dan semoga kasus ini berjalan lancar." Tuan Muklis mengulurkan tangan pada Fatma.
"Iya, Aamiin." Fatma menerima jabatan tangan tersebut. Kemudian tuan Muklis membawa langkahnya keluar kamar pak wijaya untuk pulang.
Fatma mencari keberadaan sang bunda yang tak ada di sana. Kemudian menyeret langkahnya keluar mencari keberadaan sang bunda dan juga Rania yang lama tak ia lihat.
"Bu? Rania! kalian di mana?" Fatma mempercepat langkahnya ketika di tempat biasa gak ada yang ia cari.
"Apa Fatma?" lirih Bu Wati yang baru muncul dari belakang. Bersama Rania yang memegang tangan Omanya.
"Kalian dari mana? aku cari di atas tidak ada di bawah juga tak ada?" tanya Fatma berdiri sambil memegangi ponselnya.
"Ibu. Tadi ke toilet sebentar, terus Rania mengajak ke taman. Apa ayah bangun?" tanya Bu Wati.
Derap langkah seseorang mendekati pintu utama yang belum terlihat siapa ....
__ADS_1
****
Terima kasih pada reader ku yang menyukai karya ku ini. Makasih juga atas dukungannya sehingga membuat aku semangat terus๐ช๐๐