Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Insiden


__ADS_3

Arya barulah beranjak pergi setelah mobil yang membawa gadis kecil itu sudah tiada. Ia membawa sepeda motornya ke sebuah tempat ya itu apartemen nya tuk siap-siap kembali bekerja. Setibanya di lobby apartemen. Arya bertemu Sofi yang membawa makanan yang katanya untuk dirinya.


"Wah, jangan repot-repot lah, jadi gak enak aku nya." Tangan Arya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Nggak repot kok, itu buatan tangan ku sendiri kok. Oya aku mau pulang tuk siap-siap bekerja." Sofi pun langsung pamit.


"Oh, iya silahkan! makasih ya makanannya." Arya menunjuk makanan di tangannya.


Sofi mengangguk dan mengukir senyumnya. Kemudian mengayunkan langkah keluar dari lobby tersebut.


Arya pun membawa langkah lebarnya untuk menuju tempat tinggalnya. Baru beberapa langkah ia bertemu dengan Sultan. "Sedang apa di sini bro?"


"Aish ... saya nak jumpa kau lah, tak nak di apartemen kau ini? bukannya bersiap bekerja. Malah kelayapan saja kau ini." Sultan tersenyum senang bertemu dengan Arya di sini.


"Ini mau siap-siap, kau juga sudah siap ya sampai bawa koper segala, pindahan apa?" balas Arya sambil meneruskan langkahnya. Diikuti oleh Sultan di belakangnya.


"Bawa apa tuh?" tanya Sultan melihat yang Arya jinjing.


"Oh, ini makanan dari Sofi--"


"Dari Sofi? baik benar dia, kok aku tidak pernah diperhatikan sama dia," ungkap Sultan memicingkan matanya.


''Kalau mau, ambillah,'' ucap Arya memberikan pada Sultan.


''Beneran buat saya?" Sultan tak serta merta mengambil itu dari tangan Arya.


"Iya, ambil." Arya mengarahkan kartu akses apartemennya. "Masuk?"


Keduanya masuk beriringan. Sultan duduk di sofa sambil melahap makanan yang Arya berikan yang katanya dari Sofi.


Arya masuk kamar mau mengemas semua barang yang wajib ia bawa untuk bekerja nanti. Setelah itu ia masuk kamar mandi dan sementara waktu berendam di dalam bathub yang sebelumnya ia isi dengan air hangat dan aroma terapi.


Sesekali Sultan melihat putaran jam di tangannya. Melihat ke arah pintu kamar Arya yang masih tertutup rapat. Mengambil remote televisi mengutak-atik mencari acara yang bagus.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Arya keluar kamar dengan membawa semua barang keperluannya.


"Sudah siap kapten?" tanya Sultan sambil meraih tasnya.

__ADS_1


"Siap, tolong dong bekas makan dan minum di bereskan dulu, jangan sampai aku tinggal berantakan dan kotor." Akhirnya Arya meminta Sultan tuk beres-beres.


"Aish ... kirain makanan gratis? rupanya harus bayar juga dengan tenaga!" ungkap Sultan sambil beranjak menuruti perintah tuan rumah yang berdiri memperhatikan.


"Emang gratis, emangnya kamu saya pinta membayar apa?" sedikit menggeleng.


"Iya-iya, gratis." Sultan mengangguk setuju.


Selepas itu keduanya membawa barangnya masing-masing keluar apartemen. Mengendarai motor Arya menuju salah satu kantor maskapai.


Selah melewati ini dan itu akhirnya semua awak sudah berada di dalam pesawat. Yang terdiri dari ada dua awak pilot ya itu sebagai kapten dan co-pilot, serta beberapa pramugara dan pramugari. Intinya orang-orang pilihan.


Arya saat ini ia berperan sebagai co-pilot. Mendampingi kapten yang perannya sama-sama pentingnya. Kini Arya dan rekannya itu sudah duduk dan bersiap tuk tek-off, Arya memejamkan mata dan membaca doa dalam hati. Agar semua dilancarkan, pun perjalanan tak ada halangan. Semoga Allah menjaga dan melindungi semuanya.


Sekian waktu berlalu, Pesawat singgah di tempat tujuan dan di sana ada sebuah kejadian yang membuat tercengang Arya, dia menyaksikan seorang pria di tusuk, di salah satu toilet bandara. Dan Arya menjadi salah satu saksi insiden tersebut membuat jantung Arya berdegup kencang dan was-was. Napasnya seakan terhenti sejenak dan menempelkan punggungnya ke dinding toilet ketika penjahat itu melintasi ke arahnya.


Mungkin penjahat itu mencium bau-bau yang mencurigakan sehingga langkahnya terhenti sejenak dengan mata elangnya menyapu tempat sekitar. Arya benar-benar hentikan napasnya agar tak terdengar oleh mereka. Sebab kalau sampai ketahuan. Pasti akan berabe nantinya.


Setelah kedua penjahat itu benar-benar jauh. Barulah Arya bisa bernapas lega dan melihat korban yang bersimbah darah dan sepertinya sudah tidak bernyawa lagi. "Astagfirullah." gumamnya.


Kemudian bergegas menemui pihak keamanan setempat untuk melaporkan penemuan tersebut tanpa mengatakan dia sebagi saksinya. Ia yakin kalau mengatakan yang sebenarnya akan berbuntut panjang.


"Kenapa bro? sakit bukan." Tanya Sultan menatap ke arah Arya yang sedang meminum minuman dingin dan sambil melamun juga.


"Oh, nggak sih. Biasa aja aku baik-baik saja." Arya menggeleng dan melempar senyumnya.


"Tapi kau agak pucat. Takut sakit ata--"


"Serius aku baik-baik saja," ulang Arya meyakinkan.


"Kapten. Kau sehat?" Sofi tampak cemas, khawatir dengan kondisi Arya.


"Ha ha ha ... kalian kenapa sih? saya is oke. Yakin deh." Arya terus meyakinkan tekan-rekannya.


Kemudian ada rekannya yang baru datang dan berkata. "Ada pembunuhan di toilet bandara!"


"Ah yang bener. Hoax kali!"

__ADS_1


"Beneran! orangnya mengalami beberapa tusukan. Sampai nyawanya tak tertolong di tempat."


Arya yang mendengar itu hanya diam, seolah-olah tidak tahu apa-apa dan tidak menyaksikan itu semua walau hati kecilnya merasa gelisah. Bagaimanapun kejadian itu tepat di depan matanya.


Ada pula rasa penyesalan di hati yang paling dalam. Kalau saja ia bisa mencegah, mungkin saja orang itu terselamatkan tapi ia sama sekali tidak tahu orang itu siapa dan apa motif dibalik itu semua.


Pesawat bersiap balik ke Jakarta dan pun para awak sudah bersiap-siap menyiapkan segala sesuatunya.


Pesawat mulai bergerak melesat semakin tinggi semakin tinggi dan mengudara di angkasa. kembali ke kota asal ya itu Jakarta.


Walau hati masih belum bisa tenang, namun Arya berusaha professional dalam bekerja hingga akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta.


Arya berjalan menenteng tas nya. Berjalan bersama rekan-rekannya yang lain lantas mengambil motornya yang tersimpan di tempatnya penyimpanan. Mereka terpisah dengan tujuannya masing-masing, saat ini Arya pulang mengendarai motornya sendiri ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, Arya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang yang sebelumnya mengunci pintu terlebih dahulu. Menyandarkan kepala dan memejamkan matanya. Begitu lekat diingatan tentang kejadian itu.


"Ya Allah ... berdosa kah aku? membiarkan itu terjadi!"


Kemudian ia mengambil ponselnya dan mendapatkan berita kalau orang yang terbunuh itu ternyata seorang mafia. Membuat Arya termenung tak habis pikir.


Ningnong ....


Ningnong ....


Ningnong ....


Arya menggerakkan kepalanya menoleh ke arah pintu. "Siapa sih?"


Dengan malas Arya membawa langkahnya mendekati daun pintu.


Blak!


Pintu terbuka dan dua orang berdiri lalu masuk menyeret Arya ke dalam dan yang paling membuat Arya terkesiap, ya itu orang tersebut menodongkan senjata apinya ke kening Arya.


"A-apaan nih? ja-jangan kaya gini juga, kalian siapa?" suara Arya terputus-putus. Matanya menatap tajam kedua pria yang tengah menyeretnya itu. Wajahnya begitu menyeramkan ditambah lagi bermuka garangnya ditunjukkan pada Arya ....


*****

__ADS_1


Arya dan yang lainnya ya mengucapkan selamat idul Fitri satu Syawal 1443H mohon maaf lahir batin.


__ADS_2