Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Maukah menjadi istriku


__ADS_3

"Aduh, AA ganteng banget sih?" Sofi dan yang lainnya begitu terpesona dengan sosok kapten yang mereka kenal ini.


Fatma melihat ke arah Sofi menatapnya penuh curiga, Fatma merasa kalau wanita itu menyukai Arya lebih dari sekedar teman biasa. Terlihat dari bahasa tubuhnya Sofi yang menunjukan kalau dia suka sama Arya.


Saat ini semuanya duduk manis di meja dekat meja yang di duduki oleh Arya dan Fatma juga Sultan yang mengajak Wisnu untuk ikut bergabung di meja tersebut. Mereka makan hidangan yang tersedia di meja.


"Terima kasih, kepada semuanya. Atas kejutannya? jujur aku tidak menyangka," ungkap Arya di sela makannya.


"Ini. Idenya Sultan yang konteks kami untuk berkumpul di sini, oya! senang dapat berkenalan dengan anda," kata Wisnu melirik ke arah Fatma yang sedang memasukan kue ke mulutnya.


"Ooh, iya! sama-sama juga kapten, saya juga senang bisa kenal dengan kalian semua kawan-kawan dari Arya. Lain kali mau dong bila aku undang makan di rumah ku? ya ... sekedar berbincang santai lah." Balas Fatma dengan sangat ramah dan sosoknya yang mudah beradaptasi atau mudah bergaul menjadi mudah sekali untuk mengenal orang baru.


"Em, tentu saya mau, apalagi bisa mengajak anak dan istri ku, walau sekedar bersilaturahmi." Wisnu mengangguk dan menyambut hangat ide dari Fatma.


Sultan meneguk minumnya. Setelah menelan makanan yang ada di mulutnya. "Kapten, sekalian aja silaturahmi dengan calon mertua. Ibu Negaranya di sini kan? masa gak ngerti?"


Sejenak kapten Wisnu terdiam dan mengernyitkan keningnya, dia berusaha mencerna maksud dan tujuan dari Sultan dan pada akhirnya Wisnu mengerti. "Ooh ... ini, sosok orang yang Arya kagumi? ya ... cuma kagum mah. percuma. Sayang gak?" tatapan mata mengarah ke arah Sultan.


"Uuh! jangan di tanya, benget-banget, banget. Tau dong tadi romans-rimans nya seperti terbakar gitu! merhatiin dong tadi?" timpal Sultan seraya kembali menyuap.


"Ya-ya, ya aku tahu. Semoga aja tersemoga kan, cocok kok," sambungnya Wisnu melihat ke arah Arya dan Fatma bergantian.

__ADS_1


"Kalian bicara apa sih?" Arya mengelap mulutnya dengan tisu.


Sementara bibir Fatma hanya mengulas senyumnya saja. Kalau mendengar sebutan ibu Negara, tentu Fatma merasa itu adalah sebutan untuk dirinya yang selalu Sultan ucapkan. Lalu netra mata Fatma menangkap Sofi yang selalu curi-curi pandang.


Fatma menggeleng seraya berkata dalam hati. "Ini cewek. Curi-curi pandang Mulu."


"Oya Kak, gimana soalan ku tadi? mau gak! kalau--"


"Uhuk-uhuk, uhuk." Arya mendadak terbatuk-batuk mendengar Sultan kembali pertanyakan hal itu pada Fatma.


"Eeh, kamu kenapa?" tanya Fatma dengan spontan memberikan air putih meluknya untuk Arya minum saat itu juga.


"Ayolah Kak, jawab aku! iya atau tidak? Oya, yang lain akan menjadi saksi jawaban dari Kak Fatma ini." Sultan mengedarkan pandangan pada semua kawannya lalu kembali menatap lekat ke arah Fatma.


"Bener-bener si Tatan bikin aku jantungan. Apa sih maksudnya? enak saja mau melamar Fatma." Batin Arya makanan yang sudah di mulut mendadak sulit untuk di telan.


Fatma menjadi kebingungan, kenapa sih Sultan harus melontarkan pertanyaan yang sama, dia jadi gak enak untuk menjawabnya. Bilang iya? tentunya gak mau, hilang tidak? gak enak di hadapan orang. "Em, baiknya--"


"Maukah kamu menikah dengan ku?" dengan spontan pertanyaan itu keluar dari mulut Arya sendiri, dia tidak mau Fatma sampai menerima Sultan. Sekalipun untuk sekedar menjalani.


Blak!

__ADS_1


Tangan Sultan menepuk meja seraya berkata "Nah ... gitu kek dari kemarin-kemarin, susah amat ye ngomong gitu doang. Diem bae! cemburuan iya."


Jelas Arya kaget dengan ekspresi Sultan. Ia kira Sultan akan marah sebab dirinya tiba-tiba memotong perbincangannya dengan Fatma.


Apalagi Fatma terkesiap, tercengang. Dan merasa shock antara percaya dan tidak percaya dengan pertanyaan yang Arya lontarkan. Membuat dadanya terus berdebar, dag dig dug tak karuan. Bagai gemuruh ombak di lautan, meskipun disebalik itu hatinya diibaratkan taman bunga yang sedang bermekaran yang semerbak harum mewangi. Fatma tak berani menaikan wajahnya.


Dia menunduk dalam, sembari tangannya mengaduk-ngaduk makanan. Pipinya bersemu merah, malu. Bahasa tubuhnya menunjukan kalau dia sangat gugup seperti anak perawan yang baru di tembak.


"Gimana, diterima gak? siapa sih yang tak mengenal sosok Arya yang tampan, bertanggung jawab tinggi. Perhatian, baik. Tidak akan menyesal deh ... cuma wanita bodoh yang menyia-nyiakan pria seperti dia," ungkap Wisnu yang cukup mengenal baik siapa Arya.


"Bener!" sambung Sultan.


Hening!


"Lanjut dong?" Sultan menatap ke arah Arya yang malah kembali terdiam.


Jantung Arya berdegup tak menentu, membuang napasnya melalui mulut. "Huuh ..." berlaki-kali Arya mencoba menetralkan perasaannya ....


****


Ayo, siapa yang menunggu episod Arya menembak Fatma? Dorr ...

__ADS_1


__ADS_2