
"Terima saja, Wi! jangan sungkan. Ini asli dan tidak akan Kak Fatma ambil lagi kok," ucap Fatma sambil meraih tangan Dewi untuk mengambilnya.
"Te-tetapi Kak? ini terlalu bagus untuk--"
"Kenapa? aku, kamu sama aja. Aku ikhlas kok dan tulus." Fatma meyakinkan.
Manik Dewi terus menatap barang itu, lalu bergerak melihat ke arah Fatma. Beneran Kak, ini buat dewi?"
Fatma menggeleng sambil menyunggingkan senyumnya. "Tentu itu buat kamu Wi."
"Baiklah, Kak makasih ya? dan Dewi minta maaf bila selama aku di sini ada perilaku aku yang bikin Kak Fatma tidak berkenan atau tidak sesuai keinginan hati Kak Fatma." Dewi memegang tangan Fatma.
Tangan Fatma yang satu lagi pun mengusap tangan Dewi dengan lembut. "Justru, Kak Fatma yang seharusnya meminta maaf. Pasti ada kata-kata atau sikap aku yang tidak mengenakan di hati Dewi."
Dewi menggeleng. Lalu memeluk Fatma erat. "Maafin aku ya Kak?"
"Aduh ... kaya kita gak akan ketemu lagi deh!" ucap Fatma sembari mengusap ujung matanya yang basah.
"Kok kalian, nangis sih? Rania kan jadi sedih lihatnya. Hik-hik-hik." Anak itu malah menangis.
Fatma menoleh dan tersenyum tipis. "Ya sudah. Bereskan makannya."
Setelah selesai itu. Dewi di antar Fatma ke teras bersama Rania, dan Dewi tampak membawa langkahnya yang berat untuk meninggalkan tempat tersebut.
Dewi dan Fatma kembali berpelukan sebelum Dewi memasuki mobil yang sudah siap tersebut.
"Hati-hati ya? nanti kalau sudah sampai rumah kasih kabar." Pesan Fatma pada Dewi.
Dewi mengangguk sambil mengusap pipi nya yang basah. Sedih rasanya, apalagi melihat Rania yang terus berderai air mata.
"Pak Harlan, hati-hati ya? santai aja yang penting selamat sampai tujuan." Pinta Fatma mengarahkan pandangan ke arah pak Harlan yang berdiri dekat pintu sebelah kemudi.
"Baik, Bu. Siap laksanakan." Paka Harlan mengangguk-anggukan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Begitupun Dewi masuk setelah memeluk Rania erat, melambaikan tangan pada keduanya dan para asisten yang berdiri di belakang Fatma dan Rania. Juga melambaikan tangan mereka.
Kemudian Fatma mengajak Rania untuk masuk, di tuntun nya tangan Rania. "Jangan sedih sayang, kan Minggu depan kita ke Bandung. Dalam acara pertunangan aunty dan Tatan. Oke?"
"Oke, hek-hek." Rania sesegukan.
"Sekarang. Rania bobo siang sama Bu Ina ya? Mama mau ke kantor lagi. Oya nanti malam Rania mulai belajar mengaji, seneng gak?" ucap Fatma heboh sedikit menghibur Rania yang masih sedih.
__ADS_1
"Seneng dong, hore ... Rani mau belajar mengaji. Pakaian panjangnya ada kan?" tanya Rania sembari bersorak.
Fatma Fatma menarik bibirnya menunjukan sebuah senyuman. "Ada sayang, ada."
Setelah menitipkan Rania ke Bi Ina. Fatma kembali ke kantor yang menunggu campur tangannya. Buru-buru Fatma memsuki menjadi mobilnya yang akan di kemudikan oleh pak Dudin yang baru beberapa hari ini masuk kembali.
"Jalan, Pak. Hati-hati ya? jangan ngebut atau melamun. Santai saja," pintanya Fatma setelah duduk di jok mobil sambil membuka isi tasnya. Kali saja ada yang ketinggalan.
"Baik, Bu. Aduh jadi trauma, Bu. Takut begini takut begitu, masih banyak takutnya. Maklum masih ngeri." Pak Dudin mengungkapkan perasaannya.
"Iya, Pak. Saya mengerti. Dan perasaan itu harus diperangi. Sebab bapak ini seorang suami dan ayah yang tentunya harus bekerja mencari nafkah dengan giat. Kecuali benar-benar terpuruk gak bisa apapun," ujar Fatma dengan pandangan yang ia tujukan pada supirnya itu.
"I-iya, Bu. Terima kasih juga atas perhatian dan kebaikan ibu pada saya keluarga." Kata pak Dudin sambil fokus nyetir.
Fatma mengangguk pada supirnya itu dengan senyuman yang merekah tersebut.
Setibanya di alaman kantor dan membuat Fatma langsung turun dan gegas berjalan memasuki gedung pencakar langit yang ada dihadapannya itu.
Kini Fatma sudah berada di saah satu ruangan, ya itu tempatnya bekerja. Langsung mengambil berkas yang sudah ada di meja kerjanya Fatma.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Pintu terbuka dan muncullah Zayn membawa sebuah berkas. "Kau sudah kembali?"
"Hem ..." saat ini Fatma fokus dengan laptopnya.
"Ini ada berkas untuk di tandatangani. Oya aku ada berita yang ingin aku sampaikan padamu." Zayn mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depannya Fatma.
"Oke, berita apa tuh? kalau boleh aku tahu. Sepertinya penting!" tanya Fatma sambil mengalihkan pandangan kepada Zayn yang berwajah sumringah.
"Em ... istri hamil dua bulan." Zayn membagikan kebahagiaannya pada Fatma sebagai bos dan sepupunya itu.
"Sungguh?" tanya Fatma sambil menatap ragu pada Zayn yang tampak bahagia dan sumringah.
"Eeh ... kok gak percaya sih? beneran istri ku hamil, tentunya anak ku!"tambah Zayn kembali.
__ADS_1
"Iih, dasar. Ya iyalah anak mu. Emang kata siapa bukan anak mu? suka ngada-ngada deh." Fatma menggeleng pelan.
"Kali saja menganggap ku mandul--" Zayn menggantung perkataannya.
"Ah, kalau menurutku kamarin itu saja. Mungkin sekarang lah saatnya kalian di kasih kepercayaan, dari sekian lama menunggu." Fatma berucap lirih sambil mengecek berkas yang Zayn bawa.
"Mungkin juga sih." Zayn mengangguk sambil memainkan ballpoint di jarinya.
"Selamat ya? semoga bumil nya sehat. Baby-nya juga sehat. Dan istrinya di sayang ya jangan kau ajak bertengkar Mulu," ucap Fatma sambil menunjukan senyumnya.
"Iya lah, ku sayang-sayang. Ku tawari apapun itu." Kenang Zayn.
"Mabuk gak dia? em maksud ku pusing mual gitu?" tanya Fatma pada Zayn.
"Nggak tahu, orang bukan aku yang akunya. Jadi saya gak tahu mabuk apa nggak nya." Sahut Zayn sambil nyengir.
"Iih ... dodol. Aku tanya serius juga. Sudah-sudah, kalau sudah keluar saja dari raungan ku!" Fatma mengibaskan tangannya memberi kode agar Zayn keluar dari ruangannya yang masih banyak yang harus ia kerjakan.
"He he he ... nanti ku tanyakan sama istri ku, apa di mabuk atau tidaknya." Zayn berdiri nyengir. Lantas mengambil berkasnya lalu beranjak mendekati pintu.
"Nggak usah di tanyain. Gak penting kok," ucap Fatma tampak kesal pada asisten sekaligus sepupunya itu.
Waktu terus berputar, sehingga membawa Fatma pada sore hari dan sudah waktunya dia pulang ke Mension. Dia beranjak sambil membereskan meja kerjanya, menutup laptop yang sudah dia matikan sebelumnya.
Fatma terus berjalan mendekati pintu, namun karena merasa using dan mual menyerang. Dia kembali dan memasuki toilet.
Sekitar 15 menit kemudian. Fatma sudah berada di dalam mobil, menuntun pintu dan membuka jendela setengahnya.
"Mau langsung pulang atau mau mampir ke mana dulu?" tanya pak Dudin menatap majikannya melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Oh, pulang saja, Pak. Kasihan Rania sendirian." Fatma menyahut dari belakang sambil menyandarkan punggungnya ke belakang jok.
Dalam pikirannya teringat pada sang suami yang tidak tahu kabarnya saat ini ....
.
.
Kalau ada ejaan atau kata yang salah. tolong jangan sungkan bilang ke aku ya? biar aku perbaiki🙏
__ADS_1