Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Cemburu


__ADS_3

"Maaf ya? kemarin aku berniat meminta cerai, maafkan aku?" ucap Renata pelan menatap ke arah Doni yang bersiap menyalakan mesinnya.


Doni menoleh. "Aku sudah memaafkan kok Beb. Jangan pikirkan lagi."


Renata terus menatap Doni yang begitu sabar dalam menghadapi dirinya yang kemarin keras kepala.


Selang beberapa puluh menit. Doni dan Renata di sambut sang bunda yang sudah diberi kabar oleh Doni kalau Renata sedang mengandung.


Sungguh bunda Tita sangat bahagia mendengarnya berita ini. Renata bunda Tita peluk erat dengan rasa haru yang menyelimuti batinnya, serta bersyukur kalau Renata gak jadi bercerai ditambah lagi kini tengah mengandung cucu pertama.


"Selamat ya sayang ... jaga kesehatan dan jaga kehamilannya ya?" ucap bunda Tita.


"Iya, Bunda. Maaf kemarin aku bikin marah Bunda?" gumamnya Renata pada sang bunda.


"Tidak apa sayang, mungkin waktu itu kamu sedang berubah-ubah hormonnya. Yang penting kamu minta maaf pada suami mu yang kamu sakiti hatinya?" ucap bunda Tita sambil melirik sang mantu.


Doni tersenyum ke arah bunda Tita dan sang istri. Dia sangat mencintai Renata sehingga dia sanggup bersabar dalam menghadapi sikap kerasnya Renata.


Doni mendekat dan memeluk keduanya. "Aku sudah memaafkan istriku, bunda."


"Terima kasih, Nak Doni?" bunda Tita semakin terharu.


Kini mereka sedang merasakan bahagia dalam menyambut calon baby pertama mereka.


...---...


"Ayo, kita pulang ..." ajak Dewi yang menunggui Rania sekolah.


"Ayo, tapi ... mau beli permen busa dulu ya? boleh ya?" Rania menggoyangkan tangan Dewi.


"Boleh, yu?" Dewi menuntun ke arah pedagang yang jualan permen busa yang warna-warni tersebut.


"Om, beli satu yang warna ... me ... kuning aja deh." Rania menunjuk yang berwarna kuning.


Satu aja, Non? nggak dua gitu?" tanya si om pedagang.


"Nggak ah, satu aja. Takut sakit gigi," sahut gadis kecil terebut.


"Ooh, boleh. Satu, boleh." Kata si pedagang tersebut.


Sesudah membayarnya, Rania tidak lupa mengucap terima kasih. Kemudian kembali ke mobil.


Baru saja mau masuk ada suara klakson motor Arya dari arah berlainan.


Rania langsung menoleh. "Papa?" pekik Rania sambil bersorak.


Arya menepikan motornya ke pinggir, dan membuka helm nya. Turun lalu berjongkok memeluk Rania.


"Baru mau pulang ya?" tanya Arya sambil memeluk Rania.


"Iya, Papa pulang kapan? kok tadi pagi gak ketemu?" Rania menatap ke arah Arya.


"Em ... Papa baru pulang sayang, habis simpan barang! langsung ke sini deh." Kata Arya. Lalu menoleh ke arah Dewi yang menghampiri dan mencium tangannya.


"Aa, aku kira belum pulang?" Dewi tersenyum.

__ADS_1


"Sudah, pukul sembilan tadi. Oya, Rania mau jalan-jalan dulu atau mau langsung pulang?" pandangan Arya kembali ke Rania.


"Em ... mau jalan-jalan dulu ke Mall, beli eskrim dan bermain games. Boleh nggak?" Rania ragu.


"Boleh gak ya?" goda Arya.


"Ah, tadi nawarin! tapi malah gitu, gak asyik. Papa gak asyik," gadis kecil itu ngambek dengan tangan dilipat di dada dan bibir maju ke depan.


"Hem ... ngambek, boleh dong. Masa gak boleh!" Arya mengangguk sambil tertawa.


"Iih, Papa suka menggoda aku. Bikin marah dulu." Rania kembali memeluk Arya. "Ajak aunty ya?"


"Iya, sayang." Lalu Arya menyuruh pak Harlan untuk pulang duluan, biar Rania dan Dewi bersamanya.


Pak Harlan pun mengangguk setuju. Terus membawa mobil untuk pulang.


Sementara Rania sudah duduk di atas motor Arya sambil bernyanyi riang.


"Ayo, Wi! naik?" suruh Arya sambil mengenakan helm nya.


Dewi naik, duduk menyamping. Berpegangan pada pinggang sang kakak. Kerudung Dewi bergerak terbawa angin.


Arya mulai menyalakan mesin dan langsung melaju dengan kecepatan sedang menuju Mall terdekat.


"Aa. Jangan ngebut? takut." Dewi menyembunyikan di punggung Arya.


"Jangan khawatir. Ini termasuk rendah Dewi ... pegangan aja yang kuat." Timpal Arya.


Dewi pun menurut, tidak lagi banyak bicara, melainkan merangkul pinggangnya Arya, biarlah sebagai kakaknya ini.


Tidak selang lama. Motor Arya sudah sampai di depan sebuah. Mall.


Rania tampak happy sekali bermain dengan Arya dan Dewi. anak sebesar itu memang hidupnya bebas, lepas tanpa beban.


"Hem ... waktunya makan siang nih. Kita ke mushola dulu ya? setelah itu kita mencari makan," ucap Arya sambil mengedarkan pandangannya ke tempat sekitar yang ramai.


"Boleh, di mana mushola nya, Aa?" tanya Dewi.


"Ikutin, Aa aja." Arya menuntun Rania berjalan mencari mushola.


"Pah, emang makan kabur ya? di cari segala?" tanya Rania sambil berjalan.


"Iya, ilang. Makanya di cari," sahut Arya sambil mesem.


"Aa, ada-ada saja." Kata Dewi sambil menggeleng.


Setibanya di mushola, mereka menunaikan salat Dzuhur terlebih dahulu. Lalu selepas itu bergegas mencari restoran.


"Rania mau makan ayam rica-rica ya, Pah?" Rania menoleh sambil melihat daftar menu.


"Boleh dong, apa lagi sayurnya?" tanya Arya sembari mengusap kepala Rania.


"Toge aja. Sayurnya toge. Udah." Tambah Rania.


"Kalau kamu apa Wi?" menoleh pada sang adik yang tampak kebingungan dengan banyaknya daftar menu.

__ADS_1


"Em ... samakan aja dengan Rania, Aa. Minumnya jeruk." Dewi akhirnya menjatuhkan pilihan.


"Baiklah. Ayam rica-rica dua, jeruk dua. Tisert nya. Ayam bakar madu satu dan minumnya air putih saja." Pesan Arya pada pelayan.


"Baik, mohon tunggu sebentar ya?" si mbaknya membalikan badan lalu mengundur di dari meja tersebut.


Tidak lama menunggu, pesanan pun datang sesuai yang diminta. Mereka bertiga menyantap makannya dengan sangat lahap.


Bibir Arya terus mengembang, rasanya ingin bercerita sesuatu Nih! namu ia urung sementara.


"Biarlah nanti sekalian, ketika ada kesempatan, barulah aku cerita untuk memberi tahu kalau Fatma tengah berbadan dua." Gumam Arya dama hati.


"He'em ... Rania sayang, kau ada di sini?" Sapa Aldian yang tahu-tahu sudah berada di sana.


Semua mata melihat ke arah Aldian yang di gandeng wanita muda. Lalu duduk di tengah-tengah mereka.


"Apa kabar?" tanya Arya sambil mengulurkan tangan pada Aldian.


Aldian pun langsung menyambut tangan Arya. "Baik."


Rania hanya terdiam sambil mengunyah, selera makannya mendadak hilang.


"Sayang makan apa?" ulang Aldian yang tidak mendapat respon dari Rania.


"Sayang ... Papa bertanya, kok gak di jawab sayang?" Kata Arya yang ditujukan pada Rania.


Rania masih terdiam sambil menunjuk mulutnya yang penuh, dan tampak lucu.


Arya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dikira kenapa, ternyata karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Gimana kalau sehabis makan ini, kita bermain yu? naik bobongkar, mandi bola, atau naik mainan apa gitu? ya?" ajak Aldian lagi-lagi mengajak putrinya untuk jalan-jala.


Namun kali ini Rania menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak mau ah, Rania mau sama, Papa aja." kepalanya Rania nyender di bahu Arya.


Aldian bengong. Ini anak lebih memilih dengan papa sambungnya ketimbang dengan dirinya sebagai papa kandung.


"Sayang, kenapa gak mau sama, Papa? gak kangen sama, Papa?" Aldian menatap lekat dan sedikit kesal.


"Kangen, mau. Cuma ... tidak sekarang, Rania lagi pengen sama-sama papa ini!" Rania seraya mendongak pada Arya.


Bikin hati Arya mencelos. Berasa dia sendiri yang meracuni pikiran Rania. Arya memandangi ke arah Rania, di tatapnya lekat. "Rania sayang, kalau Rania mau, jalan sama Papa Aldian. Boleh kok! nanti Papa yang cerita sama mama kalau Rania mau jalan dengan papa Aldian. Oke?"


Namun lagi-lagi Rania menggeleng pelan. Dan kedua manik matanya nanar, lalu menunduk. Di usap sama Dewi punggungnya.


Tangan Arya meraih kepala Rania dibawanya ke dalam pelukan. "Kok gadis kecil Papa sedih sih? Papa kan gak marah sama Rania, tapi Rania nya sedih. Gimana ceritanya?"


Aldian bengong. Melihat kedekatan Arya dan Rania melebihi dekatnya dengan ayah kandung. Justru sama dia saja begitu banyak jaraknya.


Rania tetap menggeleng. Tidak mau berbicara apa yang dia rasakan saat ini. Bahagia atau sedih kah? hanya dia sendiri yang tahu.


Wanita yang bersama Aldian tampak bosan. Dan tidak suka duduk lama-lama di sana. "Mas balik kantor yu?" bisik nya.


Aldian tidak merespon, hatinya sedih. Cemburu pada Arya yang begitu dekat dengan Rania putrinya ....


.

__ADS_1


.


Apa kabar reader ku yang baik hati dan selalu setia, delalu mendukung setiap karya ku! terima kasih ya🙏


__ADS_2