
Malam berasa semakin dingin dengan sikap keduanya yang diam-diaman. Jemari lentik Fatma perlahan mengusap pipinya yang basah tersebut.
Dipejamkan pun matanya tak mau pejam juga. Sehingga dirinya masih terjaga ketika terdengar dengkuran halus terdengar dari mulur Arya.
Namun tiba-tiba berada ada pergerakan dari Arya lantas memeluk perutnya Fatma yang rata tersebut. Cuph! beberapa kali kecupan hangat mendarat di bahu Fatma yang terbuka.
"Sayang, maafkan aku bila buat mu menangis." Suara bariton itu masuk ke gendang telinga Fatma.
Fatma terdiam, tidak dengan cepat merespon Arya yang kini menempelkan bibirnya di tengkuk Fatma setelah menyibakkan rambutnya yang wangi itu ke atas sehingga mengekspos lehernya yang jenjang tersebut.
"Sayang, sudah cukup dulu aku di bawah bayang-bayang Kak Fatma untuk bisa seperti sekarang ini. Dan kini biarkan aku berjalan di bidang ku sendiri! tanpa bayang-bayang istri ku ini, aku gak mau orang-orang menganggap aku terus hidup dibawah ketiak istri. Biarkan aku mandiri," ujar Arya dengan terus memberi kecupan di area bahu, pundak dan leher.
Membuat Fatma meremang dan memejamkan matanya. perlahan tangannya menyentuh tangan Arya yang memeluk erat itu.
"Jika aku mau, aku akan mencari kerjaan lain tapi dengan cara ku sendiri. Biarkan aku mandiri ya?" bisik Arya.
Lantas lengan Arya yang kekar menarik bahu Fatma agar berbalik. Blak! lalu Arya mengecup pipinya yang terasa lembab. Jari Arya bergerak mengusap pipinya. "Maaf sudah buat, istri Aa menangis? bukan niat Aa buat mu menangis!"
"Nggak pa-pa, aku mengerti. Aku juga mohon maaf sudah membuatmu tersinggung atau marah." Lirih Fatma.
Arya yang berada di atas sang istri. Menatap lekat pada Fatma di bawah remang-remang sinar lampu yang temaram. "Sudah sayang, aku mengerti kok. Dan aku minta maaf juga."
Kedua tangan Fatma bergerak membelai wajah Arya dengan gerakan lembut. "Makasih? sudah mau menjadi sosok suami yang bertanggung jawab untuk ku?"
"Sama-sama," ucap Arya sembari menatap mesra. Dan mulai melancarkan aksinya sehingga Fatma menggeliat geli serta tertawa kecil.
"Geli, ampun-ampun ... sudah-sudah, aku ngantuk." Gumamnya Fatma sambil menyembunyikan wajahnya di dada Arya.
"Aku juga ngantuk, tapi yang satu itu belum ngantuk gimana? he he he." Kata Arya sambil melanjutkan aksinya kembali.
"Em ... gimana lagi? suruh tidur aja apa susahnya." Tangan Fatma membelai rambut Arya.
__ADS_1
Setelah melancarkan aksinya yang bikin tubuh panas dingin. Membuat keduanya terhanyut dalam suasana yang sangat mendukung, selanjutnya kalian bisa bayangkan aktifitas apa yang mereka ajukan selanjutnya? olah raga malam yang mengasyikan.
Malam yang semakin larut dan suasana kian dingin. Membawa mereka pada suatu tempat yang indah yaitu alam nirwana.
Suatu hari. Fatma berada di Mension dan menyambut kedatangan keluarga dari Bandung yang dijemput pak Harlan ke sana.
"Assalamu'alaikum ... apa kabar? Neng Fatma. Semakin cantik saja, Masya Allah ..." umi Santi menatap intens ke arah Fatma.
"Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah, Umi juga sehat, kan?" balas Fatma dengan senyuman ramah.
"Alhamdulillah, Umi sehat wal'apiat." Tutur umi dengan sangat lirih.
Kemudian mereka berpelukan sangat erat. Setelah itu barulah Fatma bersalaman dengan Abah penuh hormat.
"Apa kabar abah? kita bertemu lagi." Fatma tampak bahagia dengan kedatangan sang mertua. "Oya yang satu lagi siapa adik Aa satu lagi?"
"Ooh, Ridwan. Dia tidak datang, katanya mau di rumah saja." Kata umi tentang putra bungsunya.
"Ooh, gitu? Dewi sehat?" Fatma mengedarkan pandangan pada Dewi, gadis itu memakai kerudung criam tampak anggun sekali.
"Gimana sudah dapat lagi calonnya? pacarnya orang mana?" tanya Fatma sembari mengajak mereka duduk di sofa.
Abah dan umi pun ikut menatap ke arah Dewi yang tampak malu-malu. "Em ... nggak ah, sekarang aku tidak mau pacaran , Kak."
"Oo! sekarang Dewi sudah memutuskan berkerudung ya? Masaya Allah cantik sekali." Lanjut fatma mengagumi kecantikan Dewi saat ini.
"Kak Fatma juga sangat cantik. Jauh dari Dewi cantiknya," timpal Dewi merendah. "Apalagi kalau kak Fatma berkerudung."
"Sudah pasti itu mah, Neng Fatma akan sangat cantik sekali. Iya kan Dewi?" umi nimbrung memuji kecantikan sang mantu.
Asisten rumah tangga datang, membawa nampan berisi beberapa gelas minuman untuk tamu.
__ADS_1
"Abah, umi dan Dewi. Diminum? pasti haus kan, ada cemilan juga silakan di cicipi!" Fatma menunjuk ke arah meja yang sudah sedia minuman dan beberapa macam kue dalam toples.
"Abah minum ya? kebetulan haus, Abah langsung meneguk minumnya. Diikuti oleh umi dan Dewi.
"Eeh, Rania mana? anak itu kok gak muncul? Umi kangen sama dia!" Umi celingukan mencari keberadaan Rania.
"Em ... Rania paling di taman sedang bermain dengan temannya." Fatma pun sedikit menunjuk ke arah suatu tempat yang berada di luar Mension.
"Aa, kapan pulang?" tanya Abah sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan tersebut.
"Sepertinya nanti malam juga pulang," timpal Fatma yang ditujukan pada Abah.
"Ooh, Ayah dan ibu belum datang, Neng?" tanya Abah kembali yang menanyakan besannya.
"Ayah dan ibu. Rencananya baru mau terbang besok, Abah. Kesini nya." Fatma menjawab seperti yang ia dengar.
"Oya, Neng ... belum ada tanda-tanda hamil ya?" selidik umi pada Fatma.
"Em ... Belum Umi. Lagian kami menunda dulu, sebab kami sudah sepakat menunggu Rania lebih dewasa lagi. Dan Aa ingin Rania lebih merasakan kasih sayang Aa sebagai ayahnya dulu," ujar Fatma.
"Kenapa ditunda? kalian sudah pada dewasa lho. Lagian Rania juga sudah besar kok sudah pantas punya adek, mumpung kalian masih muda. Emangnya gak mau punya baby lagi?" tutur umi walau lembut namun sedikit nyelekit buat Fatma saat ini.
"Umi, menunda bukan tidak mau. Kamu mau kok punya baby, cuman--" Fatma menggantung kalimatnya, bingung harus menjelaskan apa yang dapat mereka mengerti. Fatma menunduk dengan menautkan tangan yang mendadak berkeringat dingin itu.
"Janganlah ditunda, kami ingin segera menimang cucu. Rania kan sudah besar, jadi sebaiknya jangan di tunda lagi. mumpung kalian masih muda juga," tutur kembali umi sembari melirik sang suami.
"Kalau sekarang di tunda, masih mending kalau pas program cepat dapat! kalau lama lagi gimana? usia Eneng juga bukan usia dibawah Aa, lho. dimana usia segitu yang kata bidan banyak beresiko, Umi sih gak tau bener atau tidak. Cuman dengar dari bidan saja sebab yang menentukan Allah juga," sambung umi Santi.
Fatma tetap menunduk, kok sakit juga mendengar penuturan sang ibu mertua. Baru sekarang ia merasa punya mertua, yang ikut andil dalam keluarga kecilnya ini.
Dulu ketika berumah tangga dengan Aldian jangankan mertua, orang tua sendiri pun tidak pernah mencampuri urusannya seburuk apapun permasalahannya. Kecuali yang terakhir ....
__ADS_1
****
Yu ikutin terus! apa Fatma akan langsung program kehamilan? atau tetap dengan pendirian semula!!