Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Bimbang


__ADS_3

Lama ... wajah Arya di permukaan perut Fatma yang tidur nyenyak. Lalu beranjak lantas berbaring kembali lantas memejamkan mata.


Malam semakin larut dan Arya hanya bisa memeluk sang istri erat-erat. Tidak ada kegiatan yang signifikan di antar mereka selain tertidur nyenyak dan saling berpelukan.


Rania terbangun dari tidurnya, duduk sambil memicingkan manik matanya. Suasana lampu yang temaram di kamar itu terasa syahdu. Rania melihat ke arah mama, papanya saling pelukan.


Rania tersenyum sesaat lalu membaringkan kembali tubuhnya, menempelkan kepala nya di bantal dan memejamkan matanya yang masih ngantuk tersebut.


Pagi-pagi Arya sudah bangun, dan membangunkan Fatma dengan kecupan mesra di pipinya.


"Bangun yu? sebentar lagi subuh." Suara Arya yang terdengar berat itu.


"Hem ..." gumamnya Fatma sambil merangkul pundak Rania dengan masih memejamkan mata.


"Bangun? kita mandi yu? sama-sama." Ulang Arya lagi.


"Emang semalam kita melakukan itu apa?" Fatma malah bertanya dan membuka matanya dengan sipit.


"Setttt ..." Arya menoleh ke samping dimana Rania masih tertidur nyenyak.


Netra mata bergerak melihat ke arah Rania, lalu melihat ke arah suaminya kembali. Apa semalam kita melakukan--"


"Maunya sih ... tapi sayang bobo nyenyak sekali. Jadinya kita tidak melakukan apapun." Arya menjeda perkataan dari sang istri dengan suara pelan.


"Ooh. Aku capek sekali semalam," jawabnya dengan suara parau khas suara bangun tidur.


"Aku tahu sayang, Kamu pasti capek." Cuph! mengecup pipi, kening dan memberikan kiss pagi di bibir sang istri.


Lalu mereka bersitatap sejenak. Detik kemudian Arya menurunkan pandangannya ke dua buah yang indah milik Fatma, sungguh Arya ingin menyentuhnya saat itu juga tetapi di samping ada Rania dan gak mungkin mereka melakukan itu.


Fatma yang mengerti dengan keinginan Arya saat ini, kalau cuma untuk menikmati dua buah indahnya tentu akan ia berikan. Fatma menarik selimut agar menutupi keduanya.


Bibir Arya tersenyum mengerti dengan maksud sang istri. Dengan tidak membuang waktu sedikitpun. Arya meremas menjamah buah indah Fatma.


Sementara waktu Arya bermain di sana dan mengambil nutrisi dari asi nya Fatma. Sebelum baby-nya nanti, diawali dulu oleh papanya. Hingga akhirnya Arya menyudahi itu seiring terdengarnya suara adzan subuh yang sayup-sayup terdengar jauh.


Buru-buru Arya bangun dan bergegas ke kamar mandi. Di susul oleh Fatma dan masuk untuk membersihkan diri bersama.


Selesai membersihkan diri. Seperti biasa kalau tidak Arya pasti Fatma yang membangunkan Rania untuk berjamaah biar nanti setelah berjamaah, Rania bobo lagi.


"Bangun dulu sayang? nanti setelah berjamaah boleh bobo lagi." Suara Fatma pelan, namun di dengar Rania sehingga dia langsung bergerak. Menggeliat.


"Em ... ngantuk Mam," gumam nya Rania sambil memusingkan manik matanya.


Melihat penampilan mamanya sudah tampak segar dan mengunakan mukena.

__ADS_1


"Iya, nanti bobo lagi, oke anak pinter?" ucap Fatma sambil mengibaskan selimut dari tubuh Rania.


"Oke Mama. gendong?" merentangkan tangan minta di gendong untuk ke kamar mandi.


Fatma bersiap untuk menggendong Rania, namun Arya yang habis membuka gorden menghampiri. Dan mencegah Fatma menggendong Rania.


"Sayang, biar Aa, saja yang gendong Rania ke kamar mandi!" langsung menggendong Rania yang masih muka bantalnya untuk mengambil air wudu.


"Pipis dulu ya? baru ambil air wudunya. Papa tunggu depan pintu." Pesan Arya sambil berdiri di bagian luar pintu.


"Nggak, Papa. Rania sendiri saja kok," kata Rania dari dalam.


"Oke, kalau begitu." Arya berjalan menjauhi kamar mandi.


Sesaat kemudian. Mereka bertiga menunaikan salat bersama. Namun ketika selesai, Rania langsung naik ke tempat tidur berbaring kembali.


Setelah Rania pergi dan berbaring kembali, Arya melakukan senam pagi di balkon kamarnya tersebut. Ditemani oleh sang istri tercinta.


"Besok, Aa. Harus pulang bersama Rania, dia sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah." Suara Arya sembari menjeda gerakannya.


Sejenak Fatma terdiam dan memandangi sang suami dengan tatapan sedikit sedih. Rasanya baru kemarin mereka datang dan menemani dirinya. Memberi kehangatan dan kebahagiaan.


Sekarang sudah mau pulang lagi. "Sudah pesan tiket nya?" pada akhirnya Fatma bertanya demikian, menyembunyikan perasaan yang sulit tuk ditinggalkan.


"Sudah, sayang kapan pulang? bisa pulang bareng gak?" tanya kembali Arya menatap ke arah Fatma.


"Ooh, Aa. Kira bisa pulang bareng! tapi tak apa lah. Hati-hati saja di sini, jaga kesehatan juga." Arya merangkul bahu sang istri.


"Aku akan menyelesaikan dulu urusan ku di sini. Setelah itu barulah aku akan pulang dengan perasaan tenang." Tambah Fatma lirih.


"Baiklah, aku mengerti. Kalau ada waktu, Aa. Pasti berkunjung kembali ke sini." Kata Arya lalu memeluk tubuh sang istri penuh kehangatan.


"Terima kasih atas pengertiannya. Aku titip Rania ya?" Fatma mendongak menatap sendu ke arah Arya.


"Sayang ... tentu lah aku akan menjaganya. Hi ... Dia putri ku, jangan khawatir!" ucap Arya sambil tertawa tipis.


"Bukannya begitu yang ..." Fatma menenggelamkan wajahnya di dada Arya.


Heningh!


Mereka hanya menikmati dan laris dalam perasaan, pelukan hangat dan mesra dari keduanya. Mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Oya, mau hadiah apa dariku? sebagai kado ulang tahun mu?" Fatma bertanya seraya kembali mendongak memandangi wajah suaminya.


"Em ... apa ya? nggak ah! aku gak mau apa-apa selain kebersamaan kita." Tangan Arya membelai rambut Fatma dengan lembut.

__ADS_1


Fatma Menatap syahdu pada suaminya itu. Bibirnya berdetak seolah ingin mengatakan sesuatu yang sulit ia ucapkan.


"Segeralah selesaikan urusan di sini. Biar kita bisa dengan cepat berkumpul lagi di indo," ungkap Arya dengan nada sangat serius.


Helaan napas Fatma yang panjang menghiasi suasana hati yang mendadak melo. Ia kembali sembunyikan wajahnya dalam pelukan suaminya itu.


"Kalau urusan kerjaan selesai, kan bisa mengurus yang lainnya dengan leluasa, termasuk yang satu ini?" akunya Arya sambil menempelkan dagu di pucuk kepala Fatma.


Fatma merasa penasaran. "Urusan apa?"


Sebelum menjawab, Arya merapatkan tubuhnya dan mengeratkan pelukan seakan memberikan jawaban yang tidak perlu diucapkan. Sebab lawan bicaranya seharusnya bisa membaca dan merasakan, kalau dirinya senantiasa membutuhkan sentuhan kasih sayang.


Fatma merasakan sesuatu yang tegang dan keras, ketika tubuh suaminya semakin merapat memeluknya. Fatma menarik bibirnya tersenyum. Jemarinya membelai rambut Arya seraya berbisik. "Aku mengerti."


"Terima kasih jika sayang mengerti, dan faham itu. Sebenarnya kita akan saling membutuhkan satu sama lain." Balas Arya lalu menggerakkan kepalanya. Menjadi saling berhadapan dan saling menatap mesra.


Cuph! bibir Arya menyentuh lembut bibir Fatma yang merona menggoda. Tidak segera pergi! melainkan menikmati manisnya penuh perasaan.


Fatma memejamkan matanya. Perasaan yang terbawa suasana, menjadikan keduanya menikmati. Mereguk manisnya perlakuan-perlakuan yang halal itu.


Arya menggerakkan bibirnya turun menelusuri leher yang jenjang dan putih mulus. Memberikan kecupan-kecupan kecil di area sana.


Tangan Fatma meremas rambut Arya serta bibirnya yang bergumam. "Jangan meninggalkan jejak di sana. Aku mohon!"


Arya menghentikan aktifitasnya. memandangi wajah sang istri yang merah merona, manik matanya terpejam. Menggigit bibir bawahnya, mendongak ke langit-langit, persis menginginkan sesuatu yang lebih.


Begitupun yang Arya rasakan. Namun waktu sudah tampak siang dan sang istri harus segera berangkat kerja. Sekuat tenaga Arya menahan hasratnya untuk yang satu itu.


"Sayang, apa kau akan berangkat sekarang? belum sarapan juga." Suara Arya berat, menahan sesuatu dari dalam dirinya.


Tatapan mata Fatma begitu sendu, terlihat dari matanya kalau dia begitu menginginkan sesuatu. Sepertinya ini akan mengganggu otak syaraf nya. Dan bekerja pun tidak akan mampu konsentrasi.


"Gimana ini?" suaranya lirih menatap suaminya.


"Maaf sayang rasanya gak ada kesempatan, mengingat di dalam ada putri kecil kita." Arya kembali memeluk erat.


Beberapa kali Fatma membuang napasnya dari mulut mencoba membuang beban di kepalanya. Menetralkan detak jantungnya. Napas yang memburu dan dada yang terus berdebar.


Tangan Fatma mendorong dada Arya ke belakang supaya memberi jarak di antara keduanya. Bibir Fatma tersenyum lebar melihat sesuatu yang ah ... sulit di ungkapkan dengan kata-kata dan pemiliknya terus mencoba menahannya.


"Aku akan usahakan untuk pulang cepat, itupun bila seminar ku di kansel hari esok." Fatma merapikan pakaiannya yang kusut tersebut.


Berjalan melintasi Arya yang tertegun, bimbang antara mau atau tahan. "Sayang, gak bisa kita melakukannya sebentar?"


Fatma hentikan langkahnya yang tinggal melintasi pintu. Berbalik sejenak. "Nggak yang ... sabar ya?" mendekat lalu mendaratkan kecupan di kening suaminya tersebut ....

__ADS_1


.


__ADS_2