
"Rania saya--" Fatma melihat Rania sedang tidur di sofa. Televisi pun menyala dengan acara film kartun kesukaannya.
Tangan Fatma mengusap kepala Rania dan menciumnya lembut, detik kemudian. Fatma berbalik berjalan menuju meja merapikan makan siang yang barusan dia bawa.
Lanjut ke mendekati tempat tidur yang ada Arya di sana yang kini mendudukkan dirinya bersandar di bahu tempat tidur memeluk guling.
"Minum obat belum?" tanya Fatma sambil duduk di samping sang suami.
"Sudah," sahut Arya lirih.
"Makan dulu ya?" Fatma menggenggam tangan Arya lalu di ciumnya.
"Belum lama ini kita sarapan. Jadi belum lapar lagi," balas Arya sekilas menunjukan senyumnya.
"Ya sudah, kalau belum lapar. Sini tidur di pangkuan ku?" Fatma menarik kepala suaminya ke dalam pangkuannya.
Arya pun mengikuti kemauan sang istri. Berbaring dalam pangkuan, di pijitnya dengan lembut.
Tiba-tiba bibir Fatma tersenyum. Lalu meraih remote gorden di tutupnya semua sehingga suasana di kamar tersebut menjadi gelap gulita.
Arya duduk tegak, merasa heran kenapa semua jendela di tutup rapat? sehingga suasana begitu gelap, yang ada cuma menyisakan remang-remang saja.
Namun Arya tidak banyak bicara, hanya bertanya-tanya dalam hati saja. Lalu memejamkan kedua matanya sembari bersandar.
Detik kemudian Arya merasakan pergerakan Fatma yang mendekat, memeluk dirinya. Sontak Arya membuka netra nya melihat ke arah sang istri yang kian merapat serta memberikan sentuhan-sentuhan sensual pada dirinya.
Sehingga tercipta sebuah keintiman antara keduanya, usapan dan belaian lembut di tempat-tempat tertentu. Menjadikan darah mengalir begitu deras di sekujur tubuh, terutama di bagian-bagian tertentu. Terkumpul sehingga menimbulkan sebuah ketegangan.
"Aa, pusing disebabkan pengen kan?" bisik Fatma sembari menggigit daun kuping Arya.
Arya tersenyum, berada mendapat angin segar. Rupanya sang istri memahami kondisinya, tanpa dia yang memulai ataupun meminta. Sebab bagaimanapun dirinya harus pengertian di saat sang istri baru pulang kerja! masa mau di serang begitu saja.
Arya seraya mengangguk dan membalas sentuhan-sentuhan yang akan menjadi sebuah foreplay yang sangat menyenangkan.
Tidak lupa menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal yang ada, bagaimanapun mereka ingat bahwa di sana ada Rania yang bisa saja tiba-tiba bangun dan melihat pergulatan mama, papanya.
"Em ...." desis Fatma ketika Arya me**m** buah indah miliknya bergantian dan m***s** kuat dengan penuh gairah.
Di sepersekian waktu. Mereka berdua sudah siap untuk berenang di dalam samudra cinta. Kalau kata om Tatan sih berendam di danau kecil. He he he ....
Tanpa membuang-buang waktu. Dan dihantui rasa was-was, khawatir Rania keburu bangun sehingga akhirnya akan Gatot, alias gagal total. Kan sayang banget, bisa-bisa tambak berat tuh kepala Arya, bukan karena penyakit! melainkan karena hasrat yang terpendam.
Selanjutnya para reader pasti tau apa yang mereka lakukan seterusnya. Yaitu pergulatan yang panas sang teramat menyenangkan, dan menjadi candu buat penikmatnya.
Sekitar pukul 15. Rania terbangun dan suasana gelap, semua jendela tertutup rapat. Ia memutar otaknya mengingat-ingat sebelum ia tertidur tadi masih siang kok. Masa sudah malam lagi? lama amat ia tidur, pikirnya.
__ADS_1
Perlahan kakinya turun dan mendekati jendela dan lantas membukanya. "Ha ... kan terang! aku kira dah malam! rupanya baru pukul 3 kok, Papa mana?" Manik matanya mencari keberadaan sang papa yang gak ada di tempat tidur.
"Lho, tadi kan papa tiduran di sana," gumamnya sambil mendekati tempat tidur yang berantakan dan ada pakaian dalam wanita.
"Iih ... berantakan amat sih, si papa! itu punya siapa?" Rania mengarahkan pandangan ke barang tersebut.
"Sayang dah bangun?" suara Fatma mengagetkan Rania yang bengong melihat tempat tidur yang seperti kapal pecah tersebut.
Rania berbalik, melihat ke arah Fatma yang masih berdiri di dekat kamar mandi. Manik mata bening Rania menatap intens ke arah sang mama. Dari atas sampai bawah tak luput dari tatapannya.
"Mama sudah pulang. Kapan? Kok Rania gak tahu. Papa mana? apa berada di kamar mandi juga?" netra nya Rania celingukan ke arah belakang sang bunda.
"Em ... Papa ada lagi di kamar mandi, gimana Rania tau Mama pulang sayang? kan Rania bobo!" Fatma menghampiri Rania dan mencium pipi nya. "Em ... bau asem."
"Oh, iya. Lupa! saking nyenyak nya bobo. Oya tadi papa sakit, apa sudah sembuh?" tanya Rania menatap sang bunda.
"Sudah, dong ... Papa dah sembuh. Lihat, Papa dah segar!" suara Arya dari balik pintu.
"Waw ... Is amazing! Papa dah sembuh!" Rania menatap ceria, bahagia melihat papanya dah sembuh.
Gimana gak sembuh? orang pusingnya karena menahan sesuatu kok, dan setelah dapat! ya ... tentunya sakitnya hilang. Segar kembali deh.
"Iya dong ... Papa! Papa kan kuat, hebat. Iya kan Mam?" Arya menoleh sang istri sambil mesem.
Fatma menggeleng dibarengi senyuman manisnya. Lalu mengambil pakaian dalam yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Em ... sayang, mandi dulu sana bau ih. Mama siapkan pakaian buat Rania." Fatma menoleh putrinya yang tengah bercanda dengan Arya.
"Iih ... Mama kan tadi udah, pagi. Benerkan Pah?" ucap Rania sembari melirik papanya.
"Iya, bener. Tapi Papa juga mandi lagi nih, biar bau wangi," sahut Arya sambil mendengus mencium bau wangi tubuhnya.
"Pokonya mandi dulu, biar wangi." Titah Fatma, dia sibuk menyiapkan pakaian yang mau di pake sekarang.
"Emang mau kemana sih Mama ... gak mau pergi ini?" Rania bermalas-malasan.
"Sayang ... emangnya harus pergi saja baru mau mandi? kan nggak." Timpal Fatma melirik putri kecilnya itu.
"Akh ... malas akh!" Rania malah mendudukkan dirinya di atas meja.
"Kita jalan-jalan deh, mau gak? tawar Arya, sembari menggunakan ponselnya.
"Mau kemana emang?" tanya Fatma heran.
"Kemana saja, terserah maunya Rania." Arya menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Hem ..." Fatma menggelengkan kepalanya.
"Beneran Pah? mau dong ... ke tempat rekreasi lagi. Yu Pah. Jalan-jalan." sambut Rania.
"Mandi dulu sayang ..." Fatma berucap lirih.
"Oke lah, Rania mau mandi dulu." Rania berlari memasuki kamar mandi.
Arya mendekat Fatma, setelah Rania tidak berada di sana. Wajahnya yang cerah, segar. Ringan tanpa beban, mengambil pakaian nya yang sudah Fatma siapkan, sementara Fatma sendiri sudah rapi dan kini tengah menata rambutnya.
Arya sudah memakai pakaiannya. Lalu mendekati Fatma yang sedang bersolek, melihat suaminya datang, langsung menyemprotkan minyak wangi ke tubuh sang suami.
"Sudah hilang pusingnya?" tanya Fatma melihat pantulan diri Arya dari cermin.
"Sudah, eh masih sih. Tetapi sedikit kok, makasih ya?" ucap Arya sembari merangkul bahu Fatma dan menatap cermin. Melihat pantulan mereka berdua.
Fatma menarik bibirnya tersenyum. Lalu berbalik pada Arya. "Sama-sama. Aku juga sangat bahagia juga sedih."
"Sedih kenapa?" tanya Arya sambil mengecup kening sang istri.
"Sedih, sebab kamu akan segera pulang. Meninggalkan aku sendirian di sini, mana masih banyak urusan di sini!" keluh Fatma.
"Bukannya, Aa. Nggak mau nemenin sayang. Tetapi Aa harus bekerja dan Rania harus masuk sekolah." Tangan Arya membelai kepala Fatma penuh kasih sayang.
"Aku tahu itu. Dan tidak apa-apa kok, Oya nanti malam aku harus mendatangi pertemuan." Fatma merangkul pundak Arya dengan tatapan sangat lekat.
"Oya, tidak apa! gimana kalau sekarang kita jalan-jalan, sebelum sayang nanti malam ada acara?" tanya Arya tatapannya yang begitu intens pada Fatma.
Fatma Mengangguk setuju. "Boleh. Yu? dengan senang hati."
Lalu mereka berpelukan dengan sangat mesra. Sesekali Fatma mencium pipi Arya yang langsung di balas oleh Arya.
"Iih, Papa, Mama ... pelukan terus? Rania nih. Kedinginan." Suara Rania membuyarkan keintiman antara Arya dan Fatma.
Fatma dan Arya saling memudarkan pelukannya. menoleh pada Rania yang berdiri memakai handuk. Menatap datar pada papa dan mamanya.
"Oh, iya. Sebentar sayang." Fatma beranjak menghampiri Rania, sementara tangannya yang Arya lepaskan.
"Pelukan Mulu, nanti yang ketiganya setan lho ..." ucap Rania sok tahu.
"Iya sayang, kan yang ketiganya Rania, berarti Rania apa dong?" tanya Mamanya sambil memakaikan pakaikan Rania.
"Rania manusia, Mama ... bukan setan! kan setan itu gak kelihatan, Rania kan ada di depan Mama dan Papa." Elak Rania.
"Tapi, kalau Rania menjadi orang ketiga di antara mama dan Papa lho, Berarti apa dong?" tanya Arya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Rania bengong mendengar perkataan sang ayah. Bingung harus berkata apa ....