
Setelah Rania tertidur lelap, Fatma, Arya dan Bu Wati beserta suami, tak ketinggalan Sultan. Beranjak dan turun ke lantai dasar untuk makan malam. Meninggalkan Rania yang ditunggui Mia, pengasuhnya.
Semua duduk mengelilingi meja makan dan tidak membuang waktu lagi. Semuanya menyantap makan malam dengan lahapnya. Namun Arya dan Fatma makannya kaya kurang selera gitu, kendati demikian Arya paling anti menyisakan makanan.
"Tambah lagi makannya?" tanya Fatma sambil mengulurkan tangan bersiap mengambil wadah nasi.
Arya mengambil segelas air lalu meneguknya, tangan memberi isyarat kalau dia tidak ingin tambah lagi. Cukup.
"Kok disudahi makannya?" ucap pak Wijaya menatap ke arah Arya.
"Iya, sedikit sekali makannya?" Bu Wati menimpali omongan suaminya.
"Sudah kenyang, Bu. Pak," balas Arya seraya melihat keduanya bergantian.
"Biasanya sih banyak lho, ya ... mungkin belum terbiasa saja makan bareng calon mertua." celetuk Sultan sehingga kakinya disenggol Arya.
Semua mata memandangi ke arah Sultan. Menatap heran.
Merasa diperhatikan Sultan berbicara lagi setelah menelan makannya. "Em, maksud saya mungkin Arya belum terbiasa makan malam sama Om dan Tante," ralat Sultan lagi.
"Apa besok, Sultan mau ikut Arya ke Bandung?" tanya Fatma sambil mengarahkan tatapannya pada Sultan.
"Ha! kamu mau ke Bandung bro?" Sultan kaget dan melihat Fatma dan Arya bergantian.
Fatma menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringnya.
"I-iya," sahut Arya singkat.
"Aku gak tau? sama Ibu Negara kamu bilang?" tambah Sultan heran, dirinya tidak tahu sama sekali atas rencana Arya ke Bandung.
Fatma tersenyum tipis. Kini dia tahu kalau yang di maksud Sultan Ibu Negara itu adalah dirinya, menjadikan Fatma mesem-mesem sendiri sembari menunduk supaya tak terlihat senyumannya itu.
Mata Ary sedikit melotot pada Sultan. "Belum bilang. Udah belum makannya? Salat isya."
Arya berdiri merapikan kursinya. Kemudian meminta ijin ikut salat isya di kamar tamu waktu itu, tentunya tuan rumah dengan sangat senang hati memberi ijin tamunya tuk melaksanakan salat. Lalu Arya dan Sultan pun beranjak dari situ.
"Ada apa kau ke Bandung mendadak gini? mau kawin cepat apa?" tanya Sultan setelah berada di kamar.
"Nanti juga tahu. Jangan banyak tanya ah, euh! malah baringan, ayo ambil wudu? Salat." Arya menepuk kaki Sultan yang malah rebahan di atas tempat tidur.
"Bentar-bentar tadz, saya baru selesai makan. Ini nasi masih di perut, biar istirahat sebentar napa?" elak Sultan.
__ADS_1
"Apa hubungannya? justru biar turun karena tergerak nya seluruh anggota badan," protes Arya menggeleng lalu mulai mengerjakan kewajibannya.
Beberapa menit kemudian Sultan bangun. "Mau wudu dulu ah ... nanti keburu diceramahi sama ustadz Arya." Membawa langkahnya ke kamar mandi.
Seusai itu, Arya keluar dari kamar tamu lalu menghampiri keluarga Fatma yang kini berada di ruang keluarga.
Mia turun sampai setengahnya tangga. "Non Rania bangun memanggil-manggil Nyonya muda dan Mas Arya."
Fatma segera berdiri dan bergegas naik ke kamar untuk menemui Rania di sana. Arya juga mengikuti Fatma ke atas begitupun yang lain mengekor dari belakang.
Tampak Rania duduk dan dan bergumam memanggil mama dan om.
"Sayang. Ini Mama sayang." Fatma memeluk kepala Rania.
"Gimana panasnya? apa sudah turun?" tanya Arya sembari mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Fatma.
"Sudah turun, gak sepanas tadi." Jawab Fatma matanya menoleh ke arah Arya.
"Syukurlah, Alhamdulillah." Tangan Arya mengecek suhu panas tubuhnya Rania.
Netra mata Fatma beralih pada Mia yang berdiri tidak jauh dari tempat itu. "Kamu pasti belum makan, pergilah makan dulu."
"Hi ... gadis kecil? jangan sakit dong, kalau sakit gak bisa main lagi. Om marah nih kalau Rania sakit." Goda sultan mencolek pipi gembul Rania.
Rania menoleh pada Sultan. Bibirnya tersirat sebuah senyuman. "Rania cuma demam Om Tatan. Bukan sakit."
"Oh, iya. Bukan sakit ya? lupa Om Tatan ya? Rania cepat sembuh ya, biar dapat bermain lagi." Sultan mengusap pucuk kepala Rania.
Kepala Rania mendongak. "Om, jangan pergi ya Rania masih kangen ... deh." Lalu tangan Rania mengeratkan pelukannya di tubuh Arya.
Arya menatap ke arah Sultan yang menaikan kedua bahunya. Perasaan Arya kini bercabang ke mana-mana.
Bu Wati dan pak Wijaya merasa sedih. Seharusnya Rania nempel begitu itu, pada papanya. Bukan sama Arya yang bukan siapa-siapa.
"Rania sama Oma yu?" bu Wati merentangkan tangannya pada Rania.
Namun Rania menggerakkan tubuhnya memberi penolakan. "Nggak, Rania mau sama Om aja."
"Sama Opa mau? yu sama Opa," pak Wijaya pun menawarkan jasa.
"Nggak mau! Rania mau sama Om dan juga Mama." Anak itu kekeh tidak mau.
__ADS_1
"Sayang, makan dulu, biar cepat sembuh demamnya." Fatma membawakan semangkuk bubur untuk Rania.
Rania menggeleng. "Pahit. Gak mau makan."
"Tapi sayang ..." suara Fatma lesu menatap sendu putri kecilnya itu.
"Sini. Om yang suapin ya, mau? nanti kalau Rania gak mau makan! Om marah gak mau main lagi sama Rania. Pada akhirnya Rania mau makan juga dari tangan Arya.
"Kalau diperhatikan. Mereka seperti keluarga kecil yang tampak bahagia ya, Ayah?" bisik Bu Wati pada suaminya.
"Jelas lah, Om, Tante ... mereka itu pasangan yang serasi. Sangat serasi." Sultan nimbrung bisikan Bu Wati yang nyaris tak terdengar itu.
Keduanya melirik ke arah Sultan sambil tersenyum senang membuat Sultan tersipu malu. Namun pak Wijaya mengacungkan jempolnya pada Sultan dengan spontan Sultan balas lagi dengan acungan jempol nya.
Kemudian Arya pamit setelah Rania kembali tertidur. Arya menenteng jaketnya di tangan dan Fatma mengantar sampai ujung tangga atas saja, sementara Sultan dan pak Wijaya sudah turun ke lantai bawah.
"Semoga Rania secepatnya sembuh dari demamnya," ungkap Arya sekilas melirik dimana Fatma berada di sampingnya.
"Aamiin. Oya hati-hati ya?" pesan Fatma sembari menundukkan kepalanya ke lantai.
"Iya, aku pulang dulu. Nanti aku usahakan untuk menelpon atau VC dengan Rania."
"Ya, salam buat Umi di Bandung," sambung Fatma di persekian detik melirik lagi ke arah Arya.
Arya menatap dengan senyuman yang menawan di bibirnya. "Iya, nanti aku sampaikan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Balas Fatma.
Arya berjalan menuruni anak tangga, bergegas menyusul Sultan yang mungkin sudah berada di depan.
Fatma menatap kepergian Arya dengan perasaan seperti apa saat ini lalu masuk kembali ke kamar, di sana ada sang bunda yang menunggui Rania.
"Panasnya sudah mulai turun, Oya. Nak Arya mau ke Bandung menemui siapa?" selidik bu wati.
"Eh ... menemui orang tua nya." Jawab Fatma.
"Ooh ... Ibu kira menemui tunangannya." Gumam Bu Wati sangat pelan namun terdengar oleh Fatma yang langsung menoleh ....
****
Ayo ... mana. Dukungannya nih? biar aku tambah semangat ya🙏
__ADS_1