Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Maukah


__ADS_3

Fatma sedikit membelalakkan matanya ke arah Arya tanpa sepatah katapun.


"Beneran nih? mamanya Rania gak rindu sama Om ganteng ini? aku kira akan dirindukan, tapi ternyata aku tidak berharga sedikitpun. Padahal secara kita--" ucapan Arya menggantung melihat bahasa tubuh Fatma.


Fatma menoleh dan memposisikan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Arya. Menatap penuh arti. "Kamu sendiri, kenapa gak kabari aku? kan bisa walau sekedar chat, kan kamu juga yang sewajarnya hubungi aku, untuk memberi kabar atau bertanya kabar ku dan Rania," ungkap Fatma sambil menelan saliva nya. Suaranya sedikit bergetar.


Arya bengong mendengarnya sekaligus bahagia, setidaknya wanita ini mau mengungkapkan perasaannya walau secara tidak langsung.


"Kan kamu juga bisa saja chat aku? bertanya! sayang, kamu sudah makan belum? atau sayang masih dimana? sudah pulang apa belum? kan bisa."


Kepala Fatma yang memperhatikan Rania beralih pada Arya. "Kamu jahat, kamu tega membiarkan aku yang berharap-harap cemas memikirkan dirimu." Tangan Fatma memukul dada Arya beberapa kali, matanya berubah nanar dan pada akhirnya air bening itu lolos juga meluncur melewati pipinya.


Rasanya ini ingin ia luapkan dari kemarin-kemarin, sebagai bukti kalau dirinya sangat mengkhawatirkan Arya.


Arya memandangi wajah cantik Fatma yang semakin teduh di bawah topi pantainya itu. Ingin sekali menangkap tangan dan menggenggam nya erat lalu menariknya ke dalam pelukan, menyeka air matanya.


Namun Arya tidak berani melakukannya sebelum halal, dia ingin benar-benar menjaganya kecuali kepepet.


"Em, sorry! aku memang sengaja, aku pikir biar waktu yang menunjukan kalau kita saling merindu, saling memikirkan dan alam semesta ini menjadi saksinya. Kalau kita saling menyayangi serta akan saling membutuhkan."


Kepala Fatma menggeleng. "Aku pikir kamu itu serius, tapi ternyata kamu hanya cuma main-main dan memberi harapan kosong, kamu gak sungguh-sungguh." Seraya menyeka kasar air matanya.


Degh!


"Kenapa bilang seperti itu? aku sungguh-sungguh, aku serius ingin mempersunting mu. Apa kamu masih ragu dengan apa yang aku lakukan? dan itu bukan semata-mata buat Rania saja seperti yang tadi kamu bilang, bahwa aku cuma datang untuk Rania. Aku datang buat kamu juga tentunya," ungkap Arya penuh keseriusan.


"Aku, tidak percaya. Buktinya kamu pergi saja tidak pedulikan perasaan aku yang memikirkan kamu." Rajuk Fatma sebagian luapan kekesalannya sambil membawa langkah menjauhi Arya.


Cuaca berubah teduh tidak sepanas tadi. Langit pun mendadak kelabu. Matahari redup tertutup sebagian awan.


Gegas Arya menyusul langkah Fatma dan menghadang tepat di depannya. Namun Fatma berbalik dan ingin menghindari Arya.


Arya kembali menyusul dan berlutut di depan Fatma yang spontan tertegun. Menatap heran ke arah Arya.


"Aku gak tau lagi harus bagaimana agar kamu percaya bahwa aku serius ingin mempersunting mu," ungkap Arya.

__ADS_1


Dia kebingungan dan tak tau harus bagaimana, sadar kalau dirinya bukan pujangga yang pandai merangkai kata.


Fatma menoleh kanan dan kiri terlihat banyak orang yang memperhatikan ke arah mereka berdua seraya bergumam. So sweet ....


"Kamu ngapain begitu? malu," gumamnya Fatma.


Arya mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya, sebuah benda bulat dan bolong, ada permata nya kecil nan simpel berwarna kuning keemasan.


Sorot manik mata Fatma tertuju pada benda tersebut yang berada di tangan Arya.


"Aku, Arya Saputra. Menyatakan kalau hari ini, detik ini bertanya padamu Fatmala. Maukah kamu menjadi istri ku? ibu dari anak-anak ku?" ungkap Arya menatap ke arah Fatma.


Netra mata Fatma menatap nanar, tidak menyangka kalau Arya akan berlaku seperti ini. Senyuman manis menghiasi bibir tipisnya Fatma.


Lalu netra Fatma menoleh ke arah sekitar yang terlihat sangat mendukung dengan cara menyatukan tangannya masing-masing.


Kemudian Fatma memejamkan kedua matanya sejenak diiringi jeritan dalam hati, inikah jodoh yang ia cari! ia menggigit bibir bawahnya dan kembali melihat ke arah arya.


"Bismillah ... aku Fatmala. Menyatakan--" menggantung perkataannya.


"Sekali lagi, aku bertanya maukah kau menjadi istri ku dan ibu dari anak-anak? aku gak bisa menjanjikan sesuatu sebab janji akan mudah di ingkari. Cuma mari kita belajar dan menuju mahligai rumah tangga yang bahagia."


"Jawab-jawab. Jawab-jawab, jawab."


Semua memberi dukungan n termasuk Rania yang berada di garda paling depan. Dan menepuk-nepuk tangan seperti orang dewasa lainnya.


"Ayo jawab. Ayo jawab, ayo jawab iya atau tidak, iya atau tidak.''


Fatma tersenyum simpul, perasaannya jadi bercampur aduk antara bahagia dan haru. Sehingga air mata haru nya kembali menetes.


Fatma memantapkan hati untuk memberikan jawaban. sesungguhnya dia pun butuh bahagia, ia pun ingin seperti wanita umumnya yang mempunyai suami yang baik, yang bertanggung jawab.


Tidak perlu orang kaya yang penting bertanggung jawab, walaupun memberi nafkah semampunya. Namun menyayangi dan menghargai perannya sebagai istri. Itu cukup baginya.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dengan pelan Fatma mengangguk juga.

__ADS_1


Membuat Arya yang tadinya tegang dan gugup akhirnya mencair dan tersenyum lebar. Ia langsung menyematkan cincin di jari manis Fatma tanpa menyentuh kulitnya.


Wajah Fatma begitu terharu dan memegangi cincin tersebut. Bibir nya terus mengulas senyuman yang terindahnya. "Makasih?"


"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih." Balas Arya dengan tatapan sangat lekat dan penuh kasih yang tulus.


Semua bertepuk tangan ikut berbahagia dengan kebahagiaan pasangan ini.


Rania tampak bahagia. "Hore ... Rania punya papa baru. Rania punya papa baru."


Entah dari mana anak itu tahu kalau Arya akan menjadi papa baru atau sebuah hubungan yang bersifat keluarga.


Rania memeluk sang bunda dan Arya bergantian.


"Papa dan Mama mau menikah ya?" tanya anak itu bikin kaget, tahu dari mana coba anak Segede itu soal menikah.


"Iya sayang," balas Arya dengan memeluk Rania sebagai ganti memeluk mamanya.


Kemudian mereka bermain pasir bersama dan sesekali berlarian.


Hati Fatma yang bergemuruh bagai suara deburan ombak yang menghantam batu karang, rasanya masih belum percaya akan secepat ini sebuah cincin melingkar indah di jari manisnya dalam masa Iddah yang belum selesai ini.


"Mama, bengong terus ih ..." byur-byur, byur. Rania menyiramkan air ke arah sang bunda.


"Sayang jangan. Mama gak mau di siram, gak bawa baju ganti lho." Fatma menjauh dari bibir pantai.


Membiarkan Rania dan Arya juga Mia yang anteng bermain air dan pasir. Membuat rumah-rumahan.


Arya berlari menghampiri Fatma setelah sebelumnya membuatkan Rania sebuah rumah pasir yang tinggi.


"Kenapa gak ikut bermain?" tanya Arya sambil membuka kaosnya yang basah dan berpasir ....


****


Salam hangat reader ku semua makasih ya masih menemani ku berkarya🙏

__ADS_1


__ADS_2