
Rasanya belum pernah merasa sesakit ini. Perih, pedih. Bercampur menjadi satu, baru kali ini melihat Arya bermesraan dengan wanita lain.
Indah menoleh ke arah Renata yang terdiam dalam tangis. Dalam hati kecilnya tersenyum bahagia. "Hem, kini lu merasakan gimana hancur nya, kan? dulu lu kemana aja waktu lu duakan dia?" Indah bermonolog dalam hati.
"Sabar Ren, dia sudah bahagia. Dan yakin deh. Kalau kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau." Indah menenangkan.
Kemudian tangis Renata pun pecah juga. Dia menutup wajah dengan sepuluh jarinya, kedua bahunya bergetar hebat. "Seharusnya aku yang berada di sisimu, bu-bukan wanita lain. Bu-bukan wanita itu. Hik hik hik."
Tangis Renata terdengar pilu. Terus mengumpat dirinya sendiri yang bodoh, yang sudah sia-siakan Arya. Dirinya bodoh sudah tergoda dengan kenyamanan yang Doni berikan.
Renata membuka kedua tangannya dan kembali menoleh ke arah Arya, kini mereka bersama anak perempuan yang berpakaian TK, tertawa bersama saling kejar mengejar dan tampak sangat bahagia.
Lalu Renata kembali melihat ke depan lanjut ke arah Indah yang sempat Renata lihat bibirnya tersenyum. Seolah merasa senang melihatnya bersedih. "Indah, makasih ya? kau sudah menguatkan ku?"
Indah terdiam dengan tatapan yang sulit di artikan. Kemudian mengangguk dan merangkul bahu Renata penuh kehangatan.
Sementara supir taksi hanya terdiam tanpa suara tampak kebingungan dan dengan penumpangnya yang menangis.
"Kamu mau kan? menginap di rumah bunda ku, temenin aku ya? mau ya?" pinta Renata pada Indah.
Sejenak Indah hanya diam, lalu mengangguk pelan. "Ini kesempatan gue untuk bereaksi." Batinnya.
"Makasih? makasih banyak sahabat ku." Renata tersenyum tipis. Lalu mengedarkan pandangan pada sang supir sembari mengusap pipinya yang basah.
"Jalan, Pak?" pinta Renata dengan suara serak dan sumbang.
Taksi segera merayap dan meninggalkan tempat tersebut. Membawa kedua wanita yang satunya tampak sedih dan satunya tampak biasa aja bahkan ada bias yang tersembunyi di raut wajahnya.
...---...
Saat ini Arya sudah berada di rumah Fatma tengah berkumpul dengan keluarganya.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Arya sambil mengedarkan pandangan pada Abah dan umi.
"Sudah. Tadi, ya umi dan Abah tadi ikut belanja dan umi belanja menu masakan Sunda aja. Ya ampun ... pasarnya luas pisan, meni leyer iye mastaka Umi." Umi begitu antusias menceritakan perjalannya sembari memegang kepala.
Arya cuma tersenyum melihat ke arah sang bunda.
"Abah juga liyer pisan Umi mah bikin Abah malu." Timpal Abah mengarahkan pandangan pada sang istri.
"Atuh da Abah ... Umi teh baru ke pasar sebesar itu. Apalagi di swalayan yang sagala aya pokona mah lah." Tambah umi pada sang suami.
"Dewi. Rania nya suruh tidur siang ya?" ucap Fatma pada Dewi yang sedang menemani Rania bermain boneka.
"Oh, iya Kak!" Dewi mengangguk.
"Rania bobo siang dulu yu? sama aunty!" ajak Dewi dan Rania langsung mengangguk, kebetulan kedip matanya juga tinggal 5 wat.
Fatma terus berjalan menghampiri suami dan mertua yang sedang mengobrol. Ia duduk di samping sang suami.
"Oya, Neng. Umi belanja toge, konon katanya bagus untuk kesuburan, biar cepat-cepat." Kata umi setelah melihat Fatma duduk berada di tempat itu.
Fatma dan Arya saling lempar pandangan begitu lekat.
"Jangan lupa. Toge di makan, pembuahannya tidak. Itu salah, yang lebih benar itu sering-sering berhubungan. Bukan cuma makan toge, Nanti kalau makan toge tanpa penetrasi. Terus hamil anaknya toge dong, ha ha ha ..." ujar Abah mencairkan suasana.
Fatma menjadi tersenyum simpul. Malu dengan perkataan Abah.
"Iya atuh Abah, masa cuma makan toge saja bisa hamil ah. Bisa aja," tutur umi sambil menepuk bahu Abah dengan mesem-mesem.
"Abah, ada-ada saja." Arya menggelengkan kepalanya.
Kemudian Arya dan Fatma naik ke kamarnya. Fatma menagih kalua Arya mau memijit pinggangnya yang yang sakit.
"Ayo dong yang. Katanya mau pijit aku sebelum berangkat?" Fatma duduk di tepi tempat tidur, memandangi ke arah Arya yang membuka kaosnya dengan niat mau tidur siang sebentar.
Sebelum naik ke tempat tidur. Arya menoleh ke arah Fatma yang menatap intens ke arahnya.
"Sini, duduk di sini?" titah Arya setelah duduk bersandar bertilam bantal. Menepuk kasur di sebelahnya.
Fatma melihat ke arah kasur yang Arya tepuk lalu ia pun naik duduk di tempat yang Arya tunjukan.
"Mana yang mau aku pijit hem?" bisik Arya tepat ditelinga Fatma yang sontak bikin merinding.
"Di sini!" menunjuk pinggangnya. Fatma sedikit membelakangi Arya.
__ADS_1
Bibir Arya mengukir sebuah senyuman manis melihat ke arah punggung fatma. Tangannya malah mengarah ke rambut Fatma lantas ia singkirkan ke samping depan sehingga pundaknya yang mulus terbuka begitu saja tanpa sehelai rambut pun yang menghalanginya.
Dengan nakalnya Arya mencium tengkuk Fatma dengan sangat lembut. Membuat pemiliknya memejamkan mata dan tersentak. Bagai ada sengatan listrik yang mengalir dan menjalar ke sekujur tubuh Fatma sat ini.
Lalu kedua tangan Arya turun meraba pinggang Fatma yang katanya sakit. Memijatnya dengan lembut, Namun sesekali tangan Arya menyelinap ke tempat lain.
"Nakal," tangan Fatma menepuk lengan Arya yang menyelinap di dalam dress pendeknya, namun bibirnya tersenyum.
"Bukan nakalnya tapi lepas landas yang ... mencoba menjelajah. Ha ha ha ..." elak Arya sembari tertawa lebar.
"Ih, dasar." Gumamnya Fatma.
Arya menyudahi pijatannya. Dan memutar tubuh Fatma agar berhadapan dengan Arya yang otaknya sudah traveling jauh. wajahnya mendekat dan mendaratkan bibirnya ke bibir Fatma yang merah merona.
Bergerak menyapu setiap permukaannya. M*****t mereguk manisnya gincu yang berbau stroberi itu. Me*y**** menyelami dalamnya.
Tangan kanannya bergerak di bagian tengkuk, menguncinya dan memperdalam sentuhannya yang semakin menuntut lebih.
Lalu tangan kirinya merayap ke resleting dress Fatma. Dibukanya dengan sangat pelan. Perlahan tapi pasti. Mendorongnya supaya terbaring lantas ia kungkung, menatap sendu seolah meminta ijin kalau dia ingin mulai menjelajah tempat-tempat yang indah tersebut.
Bermain di bukit tinggi melepas pandangan yang dengan bebas ke hutan yang berghua dan terawat. Ingin memasuki gua tersebut dengan adik juniornya yang sudah tidak sabar lagi untuk mengunjungi tempat tersebut.
Manik mata Fatma bergerak seolah memberi kode pasrah, menyilakan si juniornya itu menerobos bibir gua yang sudah siap juga.
Dengan tidak membuang waktu. Arya mulai bereaksi dengan santai namun menggairahkan.
Arya tersenyum. Menarik bibirnya penuh bahagia berasa mendapat angin segar. Sebelum tugas mendapat bekal yang sangat berarti untuknya.
Napas yang sama-sama memburu menghias keheningan yang ada mewarnai ruangan tersebut.
Rintihan kecil lolos dari bibir Fatma, ketika sesuatu menghentak ke dalam tubuhnya. Bersahutan dengan suara lenguhan nikmat dari Arya yang begitu menikmati ritual tersebut.
Sore-sore, cuaca cukup dukung dengan redupnya matahari dan awan hitam pun menghiasi. Gerimis mewarnai. Membawa ke ritual yang semakin memanas dan penuh semangat.
Fatma memandangi punggung Arya yang sedang tidur nyenyak. Mengusap bahunya dengan sangat lembut. "Ya Allah ... semoga suamiku mencintai ku selamanya."
Arya bergerak menggeliat nikmat. Menoleh ke arah Fatma yang sudah bangun duluan dan memandangi dirinya yang memicingkan mata, Kedua netra nya terasa sepet banget.
''Bangun? mau kerja gak sayang?" tangan Fatma mengelus rahang Arya yang berbulu halus tersebut.
Kemudian membuka mata lebar-lebar menoleh ke arah jam. "Hah. Sudah sore! aku harus mandi." Mengibaskan selimut dan hendak turun.
Seiring dengan pekikan fatma yang melihat adik junior Arya yang bangun. Sontak Arya pun menutup kembali.
"Sayang, bikin aku kaget saja!" cuph! mengecup kening Fatma yang menutup wajah dengan sepuluh jarinya.
"Kenapa harus Histeris sih? kan barusan di pake!" goda Arya sembari mesem.
"He he he ... kaget." Fatma senyum simpul.
Lalu Arya menegakkan duduknya meraih celana pendek yang langsung ia pakai. sebelum berjalan, dengan isengnya menarik selimut yang Fatma jepit untuk menutupi tubuh begin atas.
"Akh. Iseng banget sih?" pekik Fatma.
Arya hanya menunjukan gigi putihnya sambil bergegas memasuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak lama kemudian, Fatma menyusul ke kamar mandi namun sebelumnya memungut pakatan yang berserakan di tepi tempat tidur. Lanjut merapikan tempat tidur yang persis kapal pecah.
Cklek. Handle pintu Fatma dorong. Tampak Arya tengah berada di sawah shower yang terlihat mengepul.
Bibir Fatma tersenyum licik, lalu mendekati sang suami yang membersihkan diri. Fatma peluk dari belakang,
Manik mata Arya bergerak melihat sepasang tangan yang memeluk tubuhnya dan bergerak dan menari-nari di area perutnya.
Area memejamkan mata merasakan darahnya yang bergolak panas dan naik ke atas.
"Sayang, sudah sore. aku harus siap-siap." Berbalik berhadapan dengan Fatma yang sudah mulai basah kuyup dengan lingerie nya.
"Emang kenapa kalau mau siap-siap? kan bisa di tunda sebentar." Dengan nada menggoda, menautkan tangan di pundak Arya.
"Sayang, nanti aku terlambat." Suara Arya bergetar.
Netra nya Fatma turun melihat yang menggelantung namun bukan ayunan dan juga bukan tali untuk di tarik.
"Nggak pa-pa, pergilah. Yang tersiksa juga siapa kok! aku sih gak rugi." Fatma kini menjauh dan menarik penutup tubuhnya mengekspos semuanya.
__ADS_1
Mata Arya tidak berkedip melihat pahatan nan indah tersiram air hangat meliuk-liuk sangat menggoda. Bikin Arya tidak mampu menahan lagi, keinginannya memuncak kembali.
Selama 30 menit telah terjadi sebuah permainan yang teramat menyenangkan sehingga menjadi candu buat keduanya.
Arya buru-buru menyudahi kegiatan tersebut, dan buru-buru juga membersihkan diri. Begitupun dengan fatma, dia merendam diri bathub dengan senyuman puas melihat Arya.
"Aku bisa terlambat nih sayang ..." gerutu Arya sambil menggosok dirinya.
"Bodo ah, aku gak peduli." Fatma menyaut dengan nada dingin dan bibirnya tak berhenti tersenyum lalu memejamkan matanya.
"Awas ya besok aku balas, sayang mau kerja aku ganggu!" balas Arya sembari meraih handuk lalu keluar dari kamar mandi.
"Terserah." Gumam Fatma seraya bermain-main dengan busa sabun.
Saat ini Arya sudah siap untuk berangkat. Begitupun Fatma yang akan mengantarnya sekalian menjemput orang tua nya yang akan datang dari luar Negeri.
Orang tua Arya mengantar sang putra sampai ke teras. "Hati-hati ya, Aa. Jangan lupa berdoa meminta pertolongan sama Allah, agar senantiasa melindungi dirimu dan orang-orang yang kamu bawa juga," ujar Abah.
"Iya, Abah. Umi, Aa mau tugas dulu? dan mohon doanya." Arya meraih tangan orang tuanya dicium bergantian.
"Kami pasti akan mendoakan, Aa. Semoga selamat dan pulang tanpa kurang apapun," tutur umi dengan lembut. Memeluk sang putra.
"Em, Umi. Abah. Titip Rania ya? dia gak mau ikut katanya, dia anteng sama aunty nya, Dewi."
"Oya, Rania gak mau ikut kah sayang, tumben?" Arya menoleh ke arah sang istri yang kini mengenakan dress selutut.
"Katanya sih gak mau. Maya sama aunty saja katanya," balas Fatma sembari mengangguk.
"Ya sudah, biar saja kalau begitu. Yu Berangkat?" Arya langsung memasuki mobil milik Fatma.
Setelah mengucapkan salam pada orang tua nya. Di susul oleh Fatma yang duduk di samping Arya.
Baru saja mobil mau merayap. Rania berlari dari dalam Mension. Memanggil mama dan papanya.
"Mam, Papa? Rania ikut?" suaranya Rania.
"Eeh, Neng Rania jangan lari atuh nanti jatuh gimana?" umi menyusul dan meraih tangan Rania, khawatir Rania jatuh atau apa.
"Rania mau ikut Umi! mau ikut jemput Oma." Rania melepaskan tangan umi Santi.
Arya dengan cepat membuka pintu mobil. "Ayo sayang? sudah mandi, kan?"
"Mendingan, Neng Rania sama umi di sini sama Abah dan aunty Dewi. Nggak usah ikut, katanya tadi gak mau ikut," ucap umi Santi sambil berusaha memeluk anak itu.
"Nggak mau, Rania mau ikut. Gak lama kok paling sebentar aja," elak anak itu sambil melepaskan diri dari umi. Mendekati mobil yang pintunya sudah terbuka.
"Ayo, sayang? papa bisa lambat nih. Kenapa tadi bilangnya gak mau ikut sih?" menarik tangan Rania. Mendudukkan di tengah.
Umi melambaikan tangan pada Arya dan istri. Sampai mobil merayap jauh dari tempat tersebut.
"Rania mau ikut, tadi-tadi nggak mau ikut tapi sekarang mau!" sahut anak itu sambil manik matanya yang bening itu mengedarkan ayah dan bundanya yang sangat tampak bahagia. Terlihat dari raut wajahnya yang bersinar ceria.
"Hem ... tadi gak mau makanya Mama tinggalkan aja." Fatma mengusap kepala Rania lembut.
Mobil meluncur dengan sangat sepat. Menuju salah satu bandara dimana Arya akan mau mengendalikan pesawat.
"Rania mau!" gumamnya Rania. Oya Papa? kerjanya sama om Tatan gak?"
"Om Tatan katanya sedang libur sayang, gak kerja bareng Papa sekarang ini." Arya menatap ke depan dengan melihat jalanan yang masih terlihat ramai.
"Oo, kok gak main ya? kangen deh sama om Tatan." Kata Rania yang merasa kangen sama om Tatan.
"Om Tatan nya gak kangen sama Rania, gimana tuh?" Fatma nimbrung obrolan Rania sama papanya.
"Pak, agak cepat ya? telat nih!" pinta Arya pada pak Harlan seraya melirik ke arah jam tangan.
Pak Harlan pun mengangguk seraya bergumam. "Baik, Den."
Setelah mendapat perintah dari sang majikan. Pak Harlan segera mempercepat laju mobil tersebut.
Namun disaat sedang asyik membawa mobilnya Fatma. Tiba-tiba terjadi sesuatu ....
****
Mohon dukungannya ya reader ku semua.
__ADS_1