
"Mana yang? gak ada!" ucap Fatma kebingungan.
"Aduh-aduh. Sakit ..." pekik Arya yang tertahan.
Fatma kembali tanpa membawa yang di cari, wajah Fatma tampak cemas. "Gimana dong?"
Kemudian Fatma menarik paksa tangan Arya dan terlepaskan. Terlihat jari Arya baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun.
"Prank ..." Arya tertawa renyah.
Sementara Fatma mendelikan matanya, melotot dengan sempurna ke arah Arya dan nampak sangat kesal. Lalu Melengos ke dekat kompor membalikan ayam gorengnya.
"Nggak lucu!" ucap Fatma sambil cemberut, namun tetap fokus dengan masakannya.
"Ha ha ha ... cemas kan? khawatir, kan? takut, kan? kenapa-napa?" Arya mendekati sang istri dengan tertawa lucu.
"Ketawa! apa yang lucu?" sambung Fatma dengan nada dingin.
"Lucu lah, wajah sayang pucat sangat ketakutan." Arya berdiri di belakang Fatma berdiri.
Fatma memutar badan. "Kamu yang jahat, buat orang cemas saja!" Kemudian kembali melanjutkan memasaknya.
"Maaf sayang, maaf." Kakinya Arya melangkah maju lantas mendekap dari belakang. Dan meletakkan dagunya di bahu Fatma.
"Kau pikir lucu apa? bikin orang spot jantung." Jelas Fatma sambil mengangkat ayam gorengnya.
"Iya sayang, iya. Maaf ya? Aa cuma bercanda, nggak ada maksud lain kok." Cuph! memberi kecupan kecil di leher belakangnya Fatma.
Membuat Fatma merasakan sensasi yang aneh, sehingga memejamkan matanya sesaat. Lalu menghindar dan mengambil sayuran yang tadi Arya potong-potong.
Kemudian Fatma memasak tumis kangkung dengan lihainya. Seperti sudah biasa memasak saja.
Arya berpangku tangan dan memperhatikan sang istri dari belakang. Bibirnya menyungging, membuat senyuman.
Setelah menunggu beberapa lama. Masakan pun matang. "Huuh ... akhirnya, matang juga."
Kini saatnya menata di meja, Arya juga membantu dan menuangkan air mineral ke dalam tiga gelas.
"Mau makan sekarang atau mau isya dulu?" tanya Fatma sembari membuka celemek.
"Sayang mau ke mana?" Arya malah balik tanya.
"Aku mau bangunin dulu Rania." Fatma berjalan dan membawa langkahnya ke kamar Rania.
"Aku mau isya dulu." Arya pun membawa langkahnya ke dalam kamar pribadinya.
Tampak anak itu masih terlelap. tanpa selimut. "Sayang ... bangun dulu?"
__ADS_1
Tangan Fatma mengusap kepala Rania yang berkeringat. "Sayang ... bangun, mam dulu yu? papa sudah nunggu."
"Hem ... ngantuk, Mam." Gumam Rania tanpa membuka matanya.
"Belum makan sayang, yu, makan dulu?" Fatma mengangkat tubuh Rania. Sehingga Rania perlahan membuka matanya.
"Yu kita cuci muka dulu, setelah makan, sayang boleh bobo lagi kok." Fatma membawa Rania ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Lapar, tapi ngantuk Mam ..." suara lesu Rania dalam gendongan sang bunda.
Setelah membasuh mukanya, Fatma langsung membawa Rania ke meja makan.
"Oke, mau makannya sama apa sayang. Ada kangkung, ayam goreng dan tempe juga tahu." Tanya Fatma sembari mengambil piring buat Rania.
"Ayam sama semuanya." Balas Rania yang masih tampak ngantuk.
"Baiklah." Fatma mengambilkan semua menu yang ia sebutkan untuk Rania.
Arya datang menghampiri keduanya. "Wah ... sudah siap nih, yang bobo juga dah bangun nih. Semangat dong ... mam dulu, nanti sakit."
Rania mengangkat wajahnya menoleh ke arah Arya. "Papa sudah salat ya?" netra mata Rania menatap intens sarung yang Arya gunakan.
"Iya, sayang. Ayo dimakan dong." Arya mengangguk.
Fatma menyodorkan piring yang sudah terisi beberapa menu. "Aa, makannya!"
Ini kali pertamanya Arya makan masakan dari tangan sang istri, Fatma. "Em ... enak juga masakan Mama ya?" ungkap Arya seraya melirik ke arah Fatma yang sedang menyuapkan ayam goreng ke mulutnya.
"Nggak seburuk yang dipikirkan bukan?" sinis Fatma sembari mesem.
"Emang siapa yang berpikir buruk? nggak kok! percaya juga kalau istri ku ini pintar masak juga!" elak Arya.
"Tadi, jelas-jelas meragukan ku!" ucap Fatma menggeleng.
"Sett ... jangan banyak bicara! pamali." telunjuk Arya menempel di bibir Fatma.
Rania yang makan menggerakkan manik matanya yang bening itu. Melihat ke arah papa dan sang bunda.
"Papa dan Mama ributin apa sih? Rania gak ngerti deh."
"Em, nggak sayang. Ini masakan Mama enak, Papa jadi lahap nih." Arya tersenyum.
"Iya, sayang ... ayo makannya. Katanya ngantuk?" sambung Fatma.
"Iya, Mam. Ngantuk nih!" pandangan Rania tinggal lima wat lagi.
"Maka dari itu. Makannya habiskan dulu sayang?" suruh Fatma dan mengusap pipi Rania.
__ADS_1
Selesai makan, Rania minta bobo lagi dan minta di epom-epok sang bunda.
"Iya, sebentar ya sayang? Mama mau bereskan dulu bekas makannya ya?" Fatma berdiri merapikan meja terlebih dahulu.
Mengalihkan piring dan gelas kotor ke wastafel. Arya yang membawa Rania ke kamarnya. Bibir Fatma tersenyum melihat sang putri di gendong oleh papanya.
"Bobonya, Papa yang tepuk-tepuk ya? iya gak? besok kita pergi sekolah pakai mo?"
"Motor, Papa. Asyik ..." ucap senang dari anak itu.
"Iya, sekarang bobo lagi ya? biar gak kesiangan."
"Baik, Papa!" sahut Rania sambil membaringkan kepalanya di bantal. Lalu memejamkan mata.
Arya menarik selimut lantas menyelimutinya. Kemudian memberikan ciuman lembut di kening sang anak dengan penuh kasih dan sayang.
"Jangan lupa membaca doa sebelum bobo nya ya?" pesan Arya sembari mengelus kepala Rania.
Fatma berdiri di depan pintu seraya menyilang kan kedua tangan di dada, menatap lembut ke arah dua orang yang kini ia sayangi.
"Udah bobo lagi kah?" tanya Fatma dengan lirih.
Arya menoleh ke arah Fatma. Dan Rania membuka matanya kembali pas mendengar suara sang bunda berada si situ.
"Mama, Rania mau bobo sendiri aja, Mama. Papa boleh meninggalkan Rania sendiri kok," ucap anak itu pelan dan memicingkan matanya ke arah sang bunda.
Arya senyum senang mendengarnya. Bari dia bisa segera masuk kamar dengan Fatma yang semenjak datang sibuk mengurus kamar Rania dan memasak, sampai-sampai belum sempat masuk ke kamar Arya sekalipun.
Fatma melempar senyuman pada Rania. "Beneran? Mama mau mandi nih, lengket.
"Boleh, Mam dan Papa boleh pergi. Rania mau bobo," ucapnya sambil memeluk boneka besar.
"Baiklah, Met bobo sayang!" Fatma melengos meninggalkan kamar tersebut.
Arya menatap anak itu yang tertidur kembali. "Ya sudah, Papa pergi dulu ya? kalau butuh sesuatu panggil saja Mama atau Papa."
Kaki Arya turun yang sebelumnya mencium pipi Rania dengan lembut. Lantas memutar tubuhnya hendak berjalan.
"Papa? jagain Mama ya? jangan sakiti Mama!" gumam anak itu sembari tetap menutup matanya.
Arya terdiam. Langkahnya terhenti ketika gendang telinganya mendapat ucapan seperti itu dari anak sekecil ini.
Kemudian Arya membalikan badan menoleh ke arah anak itu yang tetap terpejam, manik mata Arya menatap lekat dan akhirnya berkata. "Insya Allah akan Papa jaga, semampu Papa."
Suasana hening tak ada respon lagi dari Rania yang mungkin sudah mulai berlayar di alam mimpinya ....
****
__ADS_1
Aku minta tolong ya? kalau ada tipo atau kata yang salah, tolong kasih tahu ya agar aku segera revisi🙏