
"Em , maksud aku ... mungkin umi mau masakan Sunda apa? biar bibi belanjakan, sebab kali saja umi atau Abah ga suka dengan menu yang di masak di sini." Ulang Fatma.
"Ooh, kalau umi ikut belanja boleh, Neng?" tanya umi pada sang mantu.
"Mau ikut juga boleh. Besok sama bibi ke pasar atau swalayan."
"Aduh haturnuhun atuh nya? menie bager punya mantu teh. Makasih ya, Neng?" umi tampak bahagia.
"Abah juga mau ikut, sambil jalan-jalan ah." Celetuk Abah.
Fatma mengukir senyumnya. Boleh Abah ... ikut saja." Lanjut Fatma lalu bersiap makan.
Rania dan Dewi baru muncul. Dengan tangan berpegangan, kemudian mereka duduk di tempatnya masing-masing.
"Rania mau sama apa mam nya sayang?" tanya Fatma sambil menuangkan nasi ke piring Rania.
Sebelum menjawab. Manik Rania melihat beberapa menu yang tersedia di meja tersebut. "Em ... sup dan ayam goreng."
Fatma pun memberikan yang Rania pinta. "Ini sayang, makan yang banyak ya?"
"Iya, Mam."
"Dewi ayo makan? mau apa saja ambil." Fatma menunjuk menu-menu yang tersedia di sana.
"Iya, Kak." Dewi mengangguk dan netra matanya mengamati meja yang penuh dengan hidangan. "Makannya gimana? sebanyak ini?" batinnya Dewi.
Setelah selesai makan. Fatma segera beranjak mau menjemput Arya yang rencananya pulang sekitar satu jam lagi.
Fatma mengenakan setelan panjang ditutup lagi dengan jas. Menyoren tas kecil warna hitam, rambut yang bergelombang diikat simpel.
Fatma menghampiri mertua nya yang kini duduk di ruang keluarga.
"Umi dan Abah istirahat aja ya? aku pamit mau ke bandara sebentar. Oya titip Rania." Ekor mata Fatma melirik ke arah Rania yang nempel sama Dewi aunty nya.
"Ooh, iya. Hati-hati. Iya umi juga capek pengen istirahat," tutur umi.
"Oya, sebentar lagi dokter pasti datang, Abah periksa aja. Aku pergi dulu." Fatma bersalaman dengan keduanya.
"Iya, hati-hati, Neng." Kata Abah.
__ADS_1
"Oya, Neng. Bayarnya berapa ke dokter teh?" selidik umi.
Fatma yang sudah melangkah kembali berbalik. "Tidak umi, nggak usah bayar. Sudah aku bayar sama dokternya"
"Ooh, gratis, Bah ... nggak bayar." gumam umi pada suaminya.
"Bukan nggak bayar umi, tapi aku bayarnya. Umi dan Abah tidak usah memikirkan bayarannya," lalu Fatma melanjutkan langkahnya meninggalkan Mension. melintasi pintu utama yang sudah terbuka itu.
Fatma segera memasuki mobilnya. "Sudah makan Pak?" tanya Fatma pada supirnya.
"Sudah, Nyonya. Baru selesai." Jawab pak Harlan.
"Baguslah. Kalau belum? makan aja dulu. Masih ada watu kok." Fatma Sembari melihat jam yang ada di tangan nya.
Pak Harlan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang, Fatma duduk bersandar ke jok belakang. terngiang perkataan umi tadi dan Rania yang ingin punya adek. Tangannya perlahan mengusap perutnya yang rata.
Kini Fatma sedikit merasa dilema. Antara ingin segera atau menunda punya anak demi Rania juga. Lamunan Fatma begitu anteng sehingga tidak menyadari kalau mobi yamg ditumpanginya sudah sampai di lokasi dan pak Harlan pun sengaja tidak mengganggu lamunan sang majikan yang begitu anteng itu.
Fatma baru tersadar, ketika dengan samar netra nya yang melihat baju para pilot yang lewat di sekitar mobilnya yang terparkir tersebut.
"Lho, Pak sudah sampai? kok gak bilang sih." Fatma bersiap turun.
Fatma langsung berjalan, membawa langkahnya agak cepat sembari melirik jam yang ada di tangannya. Hatinya bertanya-tanya kalau pesawat yang membawa Arya sudah landing atau belum.
Kemudian Fatma menanyakan pada pihak yang bersangkutan apakah pesawat dengan puing xxx apa sudah landing atau belum?
Dan kata mereka pesawat yang Fatma tanyakan sudah landing. Dan mungkin saat ini sedang meeting atau berkemas.
Fatma duduk di sebuah kursi menunggu Arya. Bersilang tangan di dada sebentar lalu mengambil ponsel dari tas dan memainkannya.
"Kemana nih? kok belum muncul sih." Mata Fatma celingukan melihat orang-orang yang berlalu lalang di sana.
Di sana begitu ramai dengan orang-orang yang datang maupun yang menjemput. Bahkan yang baru mau berangkat penerbangan selanjutnya.
Namun mata Fatma belum juga menemukan sosok suaminya yang dia tunggu, Sehingga lehernya terasa sakit. Tengok kanan dan kiri terus yang tak juga kunjung.
Sesekali melirik putaran jam yang sudah menunjukkan pukul 21.30 wib. Fatma beranjak dari duduknya, berdiri dan sedikit berjalan ke arah kanan. Matanya terus mencari sosok Arya.
Setelah berapa langkah, Fatma berdiri sembari menyapu pandangan ke seluruh penjuru gedung tersebut namun yang dia lihat hanyalah banyaknya orang lain, tidak ia lihat satupun rekan-rekan dari Arya.
__ADS_1
Ketika manik indah Fatma sedang mencari seseorang. Tiba-tiba ada dua tangan yang menutupi pandangannya.
"Sedang mencari apa sayang? serius amat. Cari selingkuhan ya?" suara itu bikin Fatma tersenyum bahagia.
Sontak Fatma berbalik dan membuka tangan yang menutup matanya itu. "Aa ... kenapa sih ngagetin?"
Fatma. langsung memeluk sang suami. "Aku kangen." Pelukannya semakin erat.
Arya membalas pelukannya sang istri dan beberapa kali mengecup pucuk kepala sang istri. "Senangnya dalam hati dirindukan oleh istri."
Fatma hanya menarik bibirnya tersenyum bahagia dalam pelukan sang suami. Pelukannya semakin erat, tubuhnya semakin merapat dan menyatu. Keduanya tidak perduli dengan orang-orang yang melintas dan melihat kemesraan mereka berdua.
"Coba lihat, orang-orang melihat kita berdua sayang." Gumamnya Arya sambil mengusap punggung sang istri penuh rasa rindu.
Fatma melepas pelukan, dan memberi jarak di antara mereka berdua. "Biar saja kamu kan suami aku, bukan pacar aku."
"Siapa yang bilang kita pacaran hem?" jari Arya menjepit hidung Fatma yang mancung. "Tapi emang pacaran sih, pacaran dalam halal."
"Em, sakit." Mengusap hidungnya yang terasa panas. "Oya. Abah dan umi sudah ada di Mension."
"Ooh, baguslah. Di ****** gak?" tanya Arya.
"Di jemput, sama pak Harlan." Balas Fatma.
Kemudian mereka berjalan bergandengan mesra, tangan Arya yang satunya menarik koper dan bag.
"Aa?" panggil Fatma sambil. berjalan.
"Hem, ada apa?" tanya Arya melirik sekilas.
"Kayanya aku gak melanjutkan lagi menunda kehamilan. Biar saja, bila Allah memberi secepatnya syukur. Nggak juga gak pa-pa,"
Langkah Arya terhenti sesaat dan menoleh pada sang istri. Pikirnya kenapa berubah lagi? kemarin ingin menunda kehamilan demi Rania dan itu Arya setujui sebab ia pun cukup memahami alasan dari Fatma.
Dan kini berubah lagi. "Kenapa?"
"Nggak! aku tahu, Aa pasti inginkan anak dari darah daging Aa sendiri kan? orang tua Aa juga pasti inginkan cucu dari Aa segera, Jadi aku gak ada alasan untuk menundanya lagi. Rania juga pengen punya adik katanya," ungkap Fatma Menatap intens ke arah Arya ....
****
__ADS_1
Mohon dukungannya ya jangan lupa like komen dan vote nya juga🙏