Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Belah duren


__ADS_3

Namun suara ponsel terus berdering dan kian meningkat suaranya sehingga mengganggu konsentrasi Doni yang sedang naik-naiknya. Sehingga dia menghempaskan diri dan mengurungkan niatnya untuk belah duren.


Kepalanya panas, sakit. Pusing dengan kegagalan ini. Mengambil ponsel yang tertera kontak dari sang ayah.


Renata duduk tertegun melihat Doni yang sedang terima telepon dengan ke adaan polos. Tanpa sehelai benangpun di tubuhnya, Renata buru-buru mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai ketika menyadari tubuhnya pun tak ada bedanya dengan Doni.


Renata duduk kembali setelah merapikan diri. Ia sadar kalau barusan ia hampir saja melepas mahkota yang sesungguhnya, Renata menyusupkan kepalanya di bahu sofa dengan hati yang pilu.


Doni mendekati Renata yang makin dekat makin terdengar suara isakan nya, Doni duduk dan mengusap punggung Renata yang bergetar. "Sayang kok nangis?"


Renata mendongak namun segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sebab Renata tak kuasa melihat adik Doni yang bangun dan tegang.


Doni segera meraih celananya dan pakaian lain hatinya menjadi tak menentu dibarengi rasa kecewa dan sakit di kepala sebab hasratnya tidak tersalurkan.


"Jangan menangis sayang, kita tidak melakukannya. Kamu masih suci kok," merengkuh bahu Renata dan mencium pucuk kepalanya, paling gak suka lihat Renata menangis.


Dengan masih menutupi wajahnya Renata bergumam suaranya bergetar. "Aku malu, kamu sudah lihat semuanya."


Bibir Doni menyeringai, menggerakkan alisnya merasa senang sekaligus kecewa. Senang sudah melihat semuanya namun juga kecewa belum sempat menikmati seutuhnya, apalagi sesuatu yang sangat di idamkan. "Iya, aku lihat semuanya. Tapi gak sempat ke situ," lirihnya.


Doni membawa kepala Renata ke dalam dekapannya. "Aku akan melamar mu sayang, tunggu saja waktunya. Hari pernikahan itu tetap akan berlangsung namun aku yang akan menjadi pendamping mu." Mengangkat dagu Renata dengan jarinya. Cuph! Doni mengecup bibir tipis Renata lalu mengusap air mata dari pipinya.

__ADS_1


Netra Renata menatap lekat pada Doni dan keduanya saling bersitatap seolah menyelami hati masing-masing. "Aku tunggu! karena itu yang ayah ku mau. Kamu datang menemuinya."


Jari Doni mengelus pipi Renata dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Pasti akan aku lakukan demi kami, demi kita."


Kemudian mereka beranjak. Doni menarik tangan Renata. "Yu kita pulang sayang? namun kita makan dulu ya? lapar."


Renata mengangguk dan mengikuti langkah Doni yang menuntun tangannya keluar dari kantor yang sudah nampak sepi itu. Karyawan pun sudah pada pulang tinggal para scurity saja yang masih nampak berkeliaran.


Keduanya mendatangi restoran di tengah perjalanan. Di sebuah restoran favorit Renata, tentunya Doni pun suka.


"Sayang, aku sangat mencintai mu, lupakan Arya dan hidup dengan ku, aku akan melakukan apa pun asal kamu bahagia." Doni menatap lekat pada Renata, menyentuh tangannya di sela makan malam tersebut.


Renata yang sedang mengunyah hanya melihat ke arah Doni bagaimanapun di hatinya masih sangat mencintai Arya dan itu pasti secara hubungan dengan Arya bukan satu atau dua tahun. Namun anehnya Renata merasa nyaman dengan Doni yang selalu perlakukan dirinya dengan sentuhan lembut dan memanjakannya.


Cuph! Doni mencium punggung tangan Renata lembut dan mesra. "Kok melamun sih?"


"Em, tidak sih." Renata tersipu malu.


"Ayo makannya, mau langsung pulang atau--"


"Pulang saja, kapan kamu mau ajak orang tua mu ke rumah?"

__ADS_1


"Besok malam, sekarang pun aku akan menemui bunda untuk meminta maaf. Apalagi setelah tadi aku sudah buka-buka durennya. Namun belum sempat belah sih, cuma lihat-lihat saja," ungkap Doni dengan seringai puas.


Renata melotot dengan sempurna, membelalakkan matanya ke arah Doni. "Awas bila kamu bilang macam-macam!"


Doni terkekeh. "Ha ha ha ... nggak sayang nggak. Mana mungkin aku menceritakan semua yang kita lakukan sama bunda."


"Awas." Mata Renata mendelik. "Oya, tadi kamu bilang. Kalau kamu mau melakukan apa saja demi aku?"


"Tentu sayang, kenapa?" Doni mengerutkan keningnya dan tangan menyimpan sendok di piring.


"Berarti, kamu mau dong mengikuti kemauan ku?" Renata menatap setelah menyedot minumnya.


"Apa itu sayang? katakanlah." Doni mengangguk.


"Kamu harus menjauhi kawan-kawan nongkrong mu itu, aku gak suka! apalagi kalau kita sudah menikah."


"Lho, kamu juga suka nongkrong bukan? kenapa melarang ku?" protes Doni terharan-heran, belum menikah sudah mau ngatur.


"Itu, dulu. Kalau sudah menikah tentu kita harus merubah kebiasaan yang kurang baik. Kita akan berumah tangga, bukan rumah kemah yang cuma sementara!"


Doni terdiam mendengar omongan Renata yang memang ada benarnya juga ....

__ADS_1


****


Jangan lupa dukungannya🙏


__ADS_2