
Kini Fatma sedang berendam di bathub dengan hati yang berbunga-bunga bak ibarat taman bunga yang sedang bermekaran. Bibirnya pun tak henti-hentinya mengulas senyuman. Dengan kedua tangan ia gunakan untuk menggosokkan busa ke seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa lama berendam, akhirnya Fatma membersihkan diri di bawah air shower dengan suhu hangat. "Seger."
Tangan kanannya meraih kimono handuk yang menggantung di samping untuk menutupi tubuhnya yang polos dan basah. Bergegas keluar berjalan teratur menuju Wardrobe memilih pakaian malamnya yang mau dikenakan saat ini.
Kemudian mengayunkan langkahnya mendekati cermin rias yang lebar dan memantulkan hampir seluruh tubuhnya Fatma.
Memberi bedak tipis di wajah. lipstik tipis pula namun tak mengurangi paras cantiknya. Kemudian menyisir rambut dan semprotkan minyak wangi favoritnya ke setiap lekuk tubuh yang indah itu.
Lalu membawa langkahnya keluar kamar. Untuk memastikan bahwa Arya masih di sofa atau sudah pindah ke kamar. Namun Fatma memilih berdiri di dekat tangga dengan sorot mata mengintip ke bawah.
Sofa kosong, berarti Arya sudah pindah ke kamar, gak mungkin pulang! tanpa pamit dulu sama dirinya. Pikir Fatma.
Kemudian Fatma membalikan badan untuk kembali ke kamar namun sungguh terkejutnya dan shock nya Fatma, ketika manik matanya yang indah mendapatkan seseorang berdiri tepat di hadapan Fatma dengan bibir senyum mengembang.
"Ya Tuhan ..." Fatma mengusap-usap dadanya yang naik. "Kenapa gak ngomong sih? bikin orang jantungan tahu gak?"
"Emang, punya penyakit jantung?" Arya menaikan alisnya sebelah.
"Iih ... mau aku jantungan?" balas Fatma sambil memukul lengan atas Arya.
"Nggak sih. Cari siapa sih celingukan ke bawah?" kepala Arya tengok kanan dan kiri.
"Nggak ... gak cari siapa-siapa kok." Jawab Fatma gugup.
"Yang bener? bukan ... tida mencari ku?" sembari memainkan matanya.
"Iih ... siapa juga cari situ. GR amat? si amat aja gak gede rasa." Elak Fatma seraya memegang pagar tangga.
Arya menatap lekat ke arah Fatma yang tampak salah tingkah itu di depannya.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" selidik Fatma sembari memicingkan matanya.
"Em, tadi lihat Rania. Kangen sudah beberapa hari ini gak ketemu dia." Jawab Arya sedikit menunjuk dengan dagunya ke arah kamar Rania.
"Oh," Fatma mengangguk, kemudian memilih terdiam.
"Kenapa masih di sini? sudah malam lho. Istirahat ntar kesiangan," lirih Arya yang berdiri di samping Fatma.
__ADS_1
"Hem? kamu juga belum tidur? mentang-mentang libur gak ada tugas." Sedikit melirik.
"Aku, besok tugas. Sore tapi! mau perjalanan jauh."
"Kemana emang?" Fatma penasaran dan menatap ke arah Arya menunggu jawaban.
"Ke hatimu!" balas Arya menatap mesra lalu menunduk sebentar lalu mendongak lagi.
"Apaan sih? gak lucu." Fatma tersipu malu.
"Untuk beberapa hari ini aku sibuk. Jangan cari aku ya?"
"Iih ... siapa juga yang mau mencari kamu? gak ada. Gede rasa banget sih, buat apa nyariin kamu? kerjaan ku banyak, gak ada waktu." sambung Fatma menggeleng.
"Lama-lama calon istri ku bawel juga ya?" suara Arya dengan lembut dan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
Fatma melirik sekilas. Kemudian mengedarkan pandangan ke lain arah. Rasanya tak ada yang harus ia jawab.
"Dulu pendiam. Kaku, sekarang bawel." Lanjut Arya.
Kepala Fatmala menoleh ke arah Arya. "Kamu juga gitu, sama aja gak ada bedanya. Lagian dulu itu aku ..." Fatma kembali menunduk. "Dulu aku istri orang. Aku punya batasan sekalipun itu urusan kerja."
"Kamu sendiri. Kan punya tunangan, gadis yang waktu itu kamu kenalkan padaku, kenapa bisa putus? bukannya tanggalnya sudah ditentukan?"
"Ya, tapi ... mungkin bukan jodoh--"
"Bukan jodoh atau kamu sendiri yang punya wanita lain?" selidik Fatma memotong perkataan arya. Pandangannya mengarah pada wajah Arya.
Kedua tangan Arya memegangi pagar tangga menumpukan tubuhnya di sana. "Tidak, tidak sama sekali. Gak mungkin aku batalkan kalau ... Sudahlah. Sudah malam istirahat sana? ntar gak bisa tidur dan akhirnya kesiangan."
"Hem ... aku tau kamu sangat mencintai dia? sehingga tidak mau bahas itu, kan?" Fatma menunjuk ke arah Arya sambil menunjukan gigi putihnya.
"Bawel, tidur sana!" Arya langsung menuruni anak tangga.
Fatma memandangi punggung Arya yang sedang berjalan turun. "Met malam calon suami ku?" gumamnya Fatmala.
Walau pelan dan nyaris tak terdengar. Namun tetap bisa Arya dengar sehingga mengehentikan langkah nya sejenak lalu membalikan tubuhnya. membuat Fatma langsung membalikan. badan memunggungi Arya. Malu dengan ucapannya sendiri.
"Met Bobo juga calon istri ku." Lirih Arya tapi jelas.
__ADS_1
Fatma tertegun di tempat lalu menggerakkan matanya melihat Arya yang kini berjalan meninggalkan tempat tersebut. Kemudian ia berjalan mendekati kamar Rania. Mendorong pintunya berdiri sekejap memandangi anak itu yang terlelap sangat. Perlahan menutup kembali pintunya.
Langkah Fatma berlanjut menuju kamarnya untuk istirahat. Kebetulan waktu sudah menunjukan pukul 00.20 wib. Dengan cepat Fatma membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ukuran king size itu. Mencoba memejamkan matanya yang serasa tidak ada rasa kantuk sedikitpun.
Namun setelah berusaha susah payah. Rasa kantuk pun menyapa kedua mata Fatma. "Hua ...m, ngantuk."
Sementara Arya di kamar tamu, berbaring sangat gelisah. Balik kanan dan kiri bergantian rasanya gak nyaman dan sulit untuk tidur. Padahal sudah berkali-kali menguap sehingga kedua matanya berair. Menjelang subuh, barulah kedua mata Arya bisa terpejam.
Kicauan burung, bernyanyi menyambut datangnya sang pagi, embun yang menggenang di dedaunan berkilauan bak permata. Fatma berdiri di balkon menghirup udara yang masih segar belum terkena pencemaran.
"Huuh ..." Fatma menghela napas dengan begitu panjang, pandangan lepas jauh ke depan.
Kemudian Fatma membawa langkahnya menuju lantai bawah, teringat pada Arya, mau memastikan kalau pria itu sudah bangun atau belum?
Fatma berdiri di depan pintu, tampak ragu mau membuka pintu. Akhirnya ia ketuk beberapa kali.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Namun tak ada yang membukakan. Di tunggu-tunggu pun tidak ada tanda-tanda Arya membuka pintu.
"Kenapa Fatma, belum bangun kali. Mungkin kesiangan! bangunkan dia, kasihan." Bu Wati menatap sang putri yang berdiri di depan pintu tamu.
Fatma menoleh jam tangan yang ada di tangan kirinya. Putaran jarum jam sudah menunjukan pukul 06.25 wib. Perlahan tangan Fatma mendorong daun pintu yang di depannya itu.
Retttt ....
Blak!
Tampak di tempat tidur masih ada yang meringkuk dibalik selimut yang putih bersih itu. Langkah Fatma kian mantap untuk mendekati orang yang masih tampak nyenyak tersebut.
"Hi ... bangun dah siang. Sudah bangun belum?" suara Fatma sangat lirih ....
****
Jangan lupa like komen dan vote nya ya, agar aku makin semangat lagi🙏
__ADS_1