Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Menggoda


__ADS_3

Renata dan Indah menoleh ke sumber suara, rupanya bibi menyenggol sebuah piring sehingga terjatuh ke lantai.


"Maaf, Non. Nggak sengaja?" kata bibi sambil langsung mengambil sapu dan tempat sampah.


"Hati-hati Bi?" gumamnya Renata lalu melirik ke arah Indah.


"Aku ikut bahagia bila kamu kamu mau menikah. Dan aku sudah maafkan kamu, Ndah." Renata lalu memalingkan pandangan ke lain arah.


"Piring yang sudah pecah seperti ini, seharusnya dimasukan ke tong sampah. Percuma di simpan juga," sindir bibi sambil menyapu lantai.


"Makasih. Renata ... kau sangat baik ... baik sekali." Indah tersenyum bahagia.


"Sekarang pulang lah, aku pengen sendiri!" Renata berkata seolah tidak ingin melihat Indah lagi.


"Tapi Renata. Aku mau menikah lho, aku ingin--"


"Kenapa? aku ikut bahagia kok. Silakan pergi? kamu hanya ingin meminta maaf kan? Sudah ku maafkan. Pergi?" Renata menunjuk ke arah pintu utama.


Indah terdiam sambil melihat tajam pada Renata yang membuang mukanya. Indah tersenyum penuh arti. "Baiklah, kalau begitu, terima kasih?" Indah lagi-lagi menunjukan wajah yang memelas.


Kemudian Indah beranjak dari duduknya. Lalu membawa langkahnya yang sesekali melirik Renata, berharap dia menoleh dan mencegah dirinya untuk pergi.


Namun sampai langkahnya sampai teras, tidak ada terdengar sepatah kata pun suara Renata memanggil namanya. "Hem, keras kepala juga nih anak! sulit tuk di Luluhkaan. Tidak seperti dulu."


Gadis yang berparas manis itu terus berjalan menuju jalan raya yang berada depan rumah Renata. Berdiri dan celingukan mencari kendaraan yang melintas, lalu menghentikan sebuah taksi untuk ia tumpangi.


"Jalan xx." Pinta Indah setelah berada di dalam taksi tersebut. Menyandarkan dirinya ke jok belakang dengan mata menatap keluar jendela dimana banyak kendaraan yang berlalu lalang, membawa penumpangnya ke tampat beraktifitas di pagi ini.


Indah mengalihkan pandangan pada tas nya. Mengambil sebuah berkas data-data dirinya untuk lamaran. Setelah dia di usir oleh Renata waktu itu, dia pun kehilangan pekerjaan akibat masuk kerja sesuka hatinya sendiri.


Sudah beberapa hari ini, dia ke sana ke mari mencari pekerjaan belum juga dia dapatkan. Sekarang dia berniat ke kantor Doni, kali aja sedang membutuhkan pekerjaan, atau dia minta uang pada pria itu dengan alasan apalah yang penting menghasilkan sesuatu.


Lamunan Indah pun terganggu dengan berhentinya taksi yang dia tumpangi. Taksi berhenti tidak jauh dari depan gedung dimana kantor Doni berada, dia tidak tahu lagi harus mendatangi siapa atau kemana? selain menemui Doni.


Indah turun, setelah membayar ongkos tumpangannya itu. Kepala Indah mendongak melihat tingginya gedung tersebut, lalu berjalan membawa langkahnya memasuki gedung tersebut.


"Permisi?" ucap Indah pada seorang karyawan yang sedang menghadapi sebuah komputer.


"Iya, ada uang bis daya bantu?" balasnya dengan ramah.


"Saya mau bertemu dengan Tuan Doni," kata Indah sambil mengangguk.


"Apa sudah bikin janji?" tanya wanita tersebut sambil menatap intens penampilan Indah yang lumayan formal.

__ADS_1


"Oh, saya sahabatnya. Dan sudah bikin janji, boleh tunjukan rungannya?" ucap indah dengan sangat percaya diri.


"Ooh, baiklah." Kemudian wanita tersebut menunjukan ruangan Doni. Dimana Doni sedang bekerja.


Kebetulan Doni sedang berbincang dengan seorang pria dengan sejumlah berkas di tangannya tampak serius.


"Permisi?" ucap Indah seraya mengutuk pinta yang terbuka itu.


"Ya, silakan masuk." Doni melihat sekilas dan tidak menajamkan penglihatannya sehingga tidak tahu siapa yang datang dan disuruhnya masuk ke ruangan tersebut.


Setelah beberapa waktu. Perbincangan mereka pun selesai. Pria tersebut mengundur diri dari ruangan Doni. Tidak lupa menutup pintu.


Doni mengalihkan pandangan pada orang yang duduk di sofa, menunggu. Alangkah terkejutnya Doni setelah tahu yang duduk itu Indah.


"Kau? ngapain di sini?" Doni menatap tajam ke arah Indah.


Indah tersenyum dengan manisnya. Lalu berdiri menghampiri meja kerja Doni. "Iya aku, apa kabar?" Seraya mengulurkan tangannya.


Namun tangan Indah tidak Doni sambut, Doni terus menatap tidak suka pada wanita manis tersebut. "Mau apa kau ke sini?"


Indah menarik napasnya panjang setelah menarik tangannya yang tidak diterima oleh Doni. "Hem ... tenang, kita sama-sama dewasa, tidak perlu lah perpanjang permusuhan. Aku capek."


Tanpa disuruh. Indah duduk di hadapan Doni setelah menarik kursinya. "Aku mau minta tolong sama kamu Don!" Wajahnya Indah berubah murung.


"Sebentar aja kok Doni. Aku mau minta pekerjaan sama kamu, aku sudah di pecat dari pekerjaan ku yang kemarin." Indah berucap lirih.


"Nggak ada lowongan." Doni dingin.


"Kau tahu kan? kalau ibuku sering sakit-sakitan sekarang saja masuk rumah sakit. Aku sangat membutuhkan uang," ujar Indah lagi dengan nada sedih.


Mendengar ibunya Indah yang sakit-sakitan, hati Doni terenyuh. Karena memang dari dulu juga sering sakit-sakitan, dengan penyakitnya yang kena lambung.


"Oke, aku ada nih Dua juta, untuk ibu mu." Doni memberikan uang kes pada Indah.


Netra nya Indah melihat uang itu. "Doni, aku gak minta. Tapi aku berniat meminjam dan tentunya berniat bayar kok, Paling kecil 50 juta. Untuk berobat dan sehari-hari, sebelum aku dapat kerjaan."


"Kau gila, lima puluh juta?" Doni kaget. Masalahnya hatinya gak merelakan. Kalau sebesar itu paling gantung gak di bayar pikir Doni.


"Don, aku serius. Aku akan bayar nanti biarpun nyicil atau apalah. Atau apa pun yang kamu mau aku turutin lah." Indah beranjak dari duduknya. Mendekati Doni lantas dengan tidak sopan nya duduk di meja kerja Doni.


Membuka blazer nya. Sedikit menaikan kakinya yang duduk samping depan meja kerja Doni. Doni menatap intens pada Indah. Dia penasaran apa sih yang akan dia lakukan.


"Don, aku mau melakukan apa pun untuk kamu, dengan tubuhku sekalipun aku mau membayar uang itu." Indah berusaha menggoda dengan bahasa tubuhnya.

__ADS_1


"Apa-apaan lu indah? pergi dari sini, gua jijik melihatnya." Sergah Doni.


Namun Indah tidak perduli dengan perkataan Doni, dia malah terus menggoda dengan sentuhan tangan ke bagian-bagian tubuh Doni. Dan memperlihatkan aset-aset berharga milik Indah.


Sebagai pria normal, siapa sih yang tidak akan tergoda bila di suguhi barang yang lumayan bagus dan menggoda tersebut. Begitupun dengan Doni tergoda mulai merasakan tubuhnya meremang, terbuai dengan sentuhan yang Indah berikan.


Indah tersenyum puas, melihat Doni memejamkan matanya pertanda menyukai yang dia lakukan.


Namun Doni segera tersadar dan membuka kedua matanya yang terpejam karena terlena dengan tarian jari-jarinya indah yang lentik menjelajah membelai aset berharga miliknya.


Plak!


Plak!


Tamparan kanan dan kiri, Doni berikan pada Indah yang sama sekali tidak menyangka kalau akan mendapat tamparan pedas dari Doni yang Indah pikir akan mengikuti permainannya yang menghanyutkan itu.


"Kau, berani menampar ku?" Indah memegang kedua pipinya yang terasa panas dan sakit.


"Kau yang kurang ajar, saya sudah beristri. Kau masih saja goda aku, sekarang kau pake lagi baju mu?" hardik Doni sambil melempar blazer ke tubuh Indah.


Indah mengambil dan memakainya kembali. "Kau itu munafik, kamu itu sebenarnya mau kan? jangan munafik gitu. Ingat, kita juga pernah menikmati bersama, jangan munafik gitu."


"Kau tidak perlu mengingatkan ku tentang itu, i-itu cuma masa lalu yang tidak penting diingat lagi!" bentak Doni. Sekarang ku pergi, sebelum ku datangkan scurity." Doni bersiap untuk menelpon keamanan.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri, jangan harap hidupmu bisa tenang ya?" ancam Indah sambil merapikan bajunya.


Indah kesal, marah. Dongkol dan semacamnya. Uang gak dapat, orangnya pun gak dapat. Sungguh sangat sial nasib Indah hari ini.


"Kalau kau gak punya ongkos, ini ambil?" Doni melempar uang berwarna merah lima lembar ke wajah Indah.


Indah langsung memungut uang tersebut yang jatuh ke lantai, lantas menatap penuh kebencian pada Doni yang lagi-lagi mencampakan nya. Indah merasa sangat terhina dibuatnya.


Doni mengatur napasnya yang sempat tidak beraturan tersebut. Dadanya naik turun membungkuk menumpukan jedua tangannya di meja. Wajahnya memerah penuh amarah, hampir saja dia tergoda sama Indah dan melakukan sesuatu yang tercela kedua kalinya.


Brugh!


Suara pintu yang Indah banting. Membuat Doni menoleh dan menatap pintu tersebut.


"Dasar bodoh, gila. Bisa-bisa nya menggoda ku kembali, aku juga bodoh, mau-maunya terhanyut dan terbawa suasana. Bodoh!" Doni menghempaskan tangan memukul udara ....


.


.

__ADS_1


Apa kabar reader ku yang baik srmua? yang selalu setia dengan karya-karya ku ini. Terima kasih atas dukungan kalian.


__ADS_2