Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Dalam dada


__ADS_3

"Eeh, melamun. Mikirin apa sih? pasti mikirin ibu negara ya?" tanya Sultan, dia duduk di dekat Arya yang melamun.


kepala Arya menoleh dan memberikan senyuman pada Sultan. "Tau aja."


"Telepon dong, tanya kabar. Atau apa kek? diem-diem bae, kaya orang sariawan aja," sambung Sultan seraya melirik lalu perhatiannya pada langit yang tampak merah tersebut.


Arya menghela napas panjang kemudian sekilas melirik dibarengi dengan kepala yang menggeleng. "Biar saja waktu yang berbicara dan alam semesta yang menjadi saksinya, kalau rasa rindu ini tidak harus selalu di ungkapkan dengan kata-kata, cukup saja di rasa dan tersimpan di dalam dada sampai waktunya tiba."


"Cielaah ... ha ha ha ... kata-kata pujangga dari mana tuh?" tanya Sultan sambil tertawa.


"Ku temukan dari got tadi. Lumayanlah buat referensi, ha ha ha ... yu salat dulu terus makan malam, mana yang lain?" kepala Arya celingukan.


Mereka berjalan keluar, kebetulan sudah terdengar suara adzan Maghrib yang mengalun indah, mengajak para umat muslim meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat dan bersyukur.


Kini Arya, Sultan dan Wisnu tengah makan malam. Di restoran cepat saji. Sementara yang lain di meja lain, Wisnu mengalihkan perhatiannya pada Arya.


"Kapan akan diresmikan nih?" tanya kapten Wisnu di sela-sela makannya.

__ADS_1


"Secepat sih niatnya, tapi gak tau juga tergantung kesiapannya. Lagian masih masa iddah kayanya dan aku gak tau apa dia segera siap untuk menikah lagi atau ... tidak," sahut Arya setelah menelan makanan di mulutnya.


"Masa mau kalah sama dini, Renata? kalau bisa. Duluan bro." Sultan nimbrung omongan keduanya.


"Menikah bukan ajang perlombaan bro. Menikah itu harus penuh persiapan, lahir atau batin. Jangan sampai di tengah jalan tidak siap menerima cobaan. Rumah tangga! artinya meniti dari nol untuk naik ke tangga berikutnya, kita boleh mempunyai target namun Allah juga yang menentukan, jangan iri dengan orang yang mudah jodohnya atau lebih cepat menikahnya sebab itu rejeki dia. Dan rejeki orang berbeda-beda," ujar Arya tanpa jeda.


"Betul itu, aku setuju dengan pandangan Arya." Timpal Wisnu mengangguk pelan.


"Bener sih ... buktinya aku masih juga jomblo sampai detik ini ya? padahal aku ganteng dan tampan juga." Sultan membuat ekspresi genit.


Setelah makan selesai. Semua kru bersiap-siap kembali ke pesawat dan para penumpang bersiap take-off, Arya dan Wisnu sebagai kapten pilot yang bertanggung jawab akan awak yang akan mereka bawa. Mempersiapkan diri dengan segenap jiwa, memanjatkan doa agar sang pencipta menjaga keselamatan mereka semua.


Pesawat pun mulai merayap, bersiap untuk terbang menembus awan. Membelah langit, menerjang kegelapan yang yang berhiaskan bukan dan bintang.


Arya dan Wisnu sebagai pengendali begitu fokus menjalankan tugasnya sebagai pilot, setelah sekian lama awak pesawat pun semakin mendekati titik tujuan mereka yaitu bandara Halim Perdana.


"Bismillah ... ya Allah bantu kami untuk melakukan pendaratan ini? semoga engkau memberi keselamatan kepada kami semua. Aamiin."

__ADS_1


"Aamiin." Timpal Wisnu dengan segenap peralatannya.


Seusai sekian lama mengudara. Dan pada akhirnya, pesawat makin mendekati titik bandara. Pesawat pun terus mengikuti arahan untuk menemukan titik tersebut dan pesawat yang dikendalikan pilot Arya dan Wisnu mulai landing turun-turun dan turun ....


Pada akhirnya kaki si burung besi menapak di permukaan bumi. Di landasan yang luasnya ribuan hektar tersebut. Pintu terbuka di depan tangga yang sudah tersedia dan para penumpang pun turun dengan tertib. Setelah para penumpang turun semuanya tinggallah giliran para awak yang keluar membawa bag nya masing-masing.


Arya turun beriringan dengan para sahabat-sahabatnya. Dan setelah melewati setiap proses yang berlaku di kantor akhirnya Arya cs bisa pulang dengan plong dan bisa beristirahat di peraduan masing-masing melepas rasa penat dan lelah.


Selang beberapa puluh menit. Kini Arya sudah berada di unitnya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur ukuran king size tersebut.


Memejamkan mata, mengosongkan segala macam pikiran sejenak. Namun ia bergegas bangkit kembali melucuti pakaiannya dan memasuki kamar mandi. Tubuhnya terasa gerah dan lengket. Duduk di tepi bathub lantas mengisi air hangat serta aroma terapi yang dapat merilekskan tubuh dan otak dengan keharumannya.


Sekitar Dua puluh menit Arya berendam. Arya segera membersihkan diri di bawah air shower. Kemudian meraih handuk untuk membalut bagian intinya dan handuk kecil yang akan ia gunakan mengeringkan rambutnya.


Langkah Arya yang mendekati lemari berhenti di sana, mengulurkan tangan membukanya. Mengambil piyama yang paling ia pakai celananya saja, sebab untuk tidur. Arya lebih suka bertelanjang dada, apalagi cuaca sedang panas seperti ini ....


****

__ADS_1


__ADS_2