Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ulat bulu


__ADS_3

"Kalau sudah makannya, langsung mandi ya? nanti aunty nyusul setelah membereskan ini," ucap Dewi menatap ke arah Rania yang begitu menikmati makannya.


"Iya, aunty." Rania mengangguk.


Setelah makan pun selesai, Rania langsung naik ke atas dengan niat mau mandi. "Aunty. Rania mau mandi dulu ya?"


"Iya, sayang. Sebentar Aunty nyusul ya! hati-hati, jangan lari-lari lho." Dewi beranjak menggeser kursinya.


"Abang di tinggalin nih?" Sultan menatap ke arah Dewi.


"Iya, mau ngurusin Rania dulu," sahut Dewi sebelum membawa langkahnya ke atas.


"Terus, Abang kapan ya diurusin. Mau dong di urusin sama Dewi." Kata Sultan sambil memainkan matanya.


Dewi mesem. "Ih, nanti kalau sudah waktunya." Kemudian Dewi berlalu meninggalkan Sultan. Setelah menyimpan bekas makan ke wastafel.


"He'em, boleh lah. Sabar? sampai nanti waktunya." Gumamnya Sultan sambil membawa langkahnya ke ruang tengah dan menonton televisi.


Manik mata Sultan melirik ke arah Bu Ina yang tersenyum padanya. Mendekati wastafel. "Eeh, Bu. Perlu saya bantu mencucinya?" Sultan mengangguk.


"Ooh, tidak perlu, Tuan. Asisten pun banyak. Terima kasih atas tawarannya?" sahut Bu Ina kembali.


Setelah berendam sesaat. Arya keluar dari kamar mandi, mengenakan kimono nya. Duduk di tepi tempat tidur, meraih minuman dinginnya di meja.


Lantas mengambil ponselnya untuk telepon sang istri. Fatma, tidak lama sambungan vc pun tersambung. Tampak Fatma tengah berada di kantornya.


"Assalamu'alaikum ... sudah sampai ya?" sapa Fatma menatap ke arah Arya.


"Wa'alaikum salam. Sudah lama sih. Cuman baru ada waktu kasih kabarnya," balas Arya.


"Rania mana yang?" tanya Fatma menanyakan Rania yang tidak dia lihat.


"Rania ... sedang makan sama Dewi dan Sultan. Aa capek ingin istirahat. Buat nanti malam tugas." Arya sambil membuka handbody ke tangan dan kakinya.


"Balum makan ya? Makan lah yang ... biar gak sakit. Jaga kesehatannya dong yang ..." tambah Fatma dengan nada cemas.


"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja kok sayang, doa kan saja ya? nanti malam Aa. Mau tugas. Oya jangan lupa minum susu bumil nya, biar sehat-sehat semuanya." Pesan Arya pada sang istri.


"Iya, tentu. Doa kan juga supaya aku bisa cepat pulang, biar bisa berkumpul di sana!" kata Fatma sambil tersenyum. Tangannya membuka lembaran berkas.


"Oh, pasti, itu sangat di nantikan sayang. Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaannya. Assalamu'alaikum?" Arya berpamitan, tidak lupa, muach. kecupan jauh pun terbang melayang.


Sambungan vc pun berakhir, Arya tersenyum sendiri. kalau baringan di atas tempat tidur tersebut.


...---...


Kini kehidupan Doni dan Renata sudah mulai tenang. Tanpa adanya Indah yang menjadi racun dalam rumah tangga mereka.


"Beb, aku bawakan susu nih. Jangan lupa diminum ya?" Doni menyimpan segelas susu di atas nakas dengan penampilan yang rapi dan formal.

__ADS_1


"Iya, simpan saja di sana! nanti ku minum." Balas Renata sambil mengulas senyuman manisnya. dia asik mensekrol ponselnya.


Doni mendekat, dan cuph! mengecup pipi Renata dengan sangat mesra. "Nanti pulang kerja mau dibawakan apa hem?" tanya Doni dengan lembut.


Renata sejenak menoleh mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Em apa ya? rasanya aku pengen durian deh!"


"Yah, durian. Belum musim beb, yang lain deh." Keluh Doni.


"Iddih ... mau nya gitu, gimana? emang bisa di tawar apa? aneh jadi orang." Ketus Renata.


"Iya-iya, nanti ku carikan. Yang Mateng atau yang mentah?" tanya Doni lagi sambil mengarahkan tangan ke perut Renata, mengelusnya lembut.


"Mateng lah. Buat apa mentah?" sahut Renata.


"Ya ... kali saja mau buat rujak atau apa gitu. Biar sekalian aku beli sama pohonnya. He he he ...."


"Iih ... selain aja dengan kebunnya." Renata menjepit gemas hidung Doni yang mancung.


"Baik lah. Aku akan ngantor dulu, nanti ku carikan duriannya ya?" cuph! Doni mengecup kening dan berakhir di bibir.


Lama beradu di sana. Tangan Doni pun jalan-jalan sejenak di tempat-tempat favoritnya.


Renata mundur. "Sarapan dulu sana? sebelum pergi. Nanti kamu sakit lho."


"Sudah minum kopi tadi. Biar nanti saja makan siang di kantor, diminum ya susunya biar tambah subur nih, ih bikin gemes deh," ucap Doni sambil meremas sesuatu.


"Emang ngaruh?" Renata mengernyitkan keningnya.


"Iya, cepat kembali ya?" Renata mengantar hanya ke depan pintu kamar saja. Lagi mager untuk ngapa-ngapain.


Terdengar suara derap langkah kembali mendekati jalan pintu. Renata menoleh. Dan ternyata Doni kembali muncul dari balik pintu tersebut.


"Ada apa kembali?" tanya Renata heran.


"Jangan lupa mandi ya? biar cantik dan wangi," ucapnya sambil berdiri depan pintu.


"Cuman mau bicara seperti itu? gak mandi pun aku selalu wangi kok!" balas Renata sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Iya, sih wangi. Nanti malam kan kita mau bertempur. Biar lebih fresh saja." Tambah Doni.


"Nggak ada, kalau gak dapat durian sih gak ada jatah. Oke?" jelas Renata sambil membuang mukanya.


"Lah, kok gitu sih? baiklah akan ku usahakan untuk mendapatkannya. Semi si baby dan si Otong. Ha ha ha ...."


Renata menggeleng, bibirnya senyum simpul. Kemudian kini Doni melanjutkan langkahnya meninggalkan sang istri.


Setelah perginya Doni. Renata memaksakan diri untuk turun ke bawah, yang sebelumnya. Meneguk meminum susu yang dibikin oleh Doni. Serta membawa galas nya ke bawah.


"Bi? lagi apa?" sapa Renata ketika sudah berada di lantai dasar. Berdiri sambil memegangi pagar tangga minimalis tersebut.

__ADS_1


"Eeh, Non turun juga. Mau di masakan apa Non, buat sarapan?" bibi menoleh dan bertanya.


"Em ... malas ah. Gak lapar," sahut Renata sambil mengayunkan langkahnya menuju kursi meja makan.


"Jangan gitu Non, justru orang hamil itu harus banyak makan biar sehat. Bibi kupasin buah ya? dan Bibi masakin sayuran," ucapnya sambil mencuci perabotan.


"Baiklah. Coba saja bikinkan." akhirnya Renata mengangguk.


"Permisi? Renata apa kabar?" suara dari arah belakang yang tak terdengar suara langkahnya.


Membuat Renata kaget dan bibi dengan cepat menoleh. Pada tamu yang main masuk aja tanpa permisi dari luar.


"Dasar ulat bulu, yang bikin gatal iih ..." bibi bergidik.


"Ka-kamu Indah?" Renata. terkesiap melihat kedatangan Indah. Ia heran tanpa permisi dari luar tiba-tiba ada saja berdiri dihadapannya.


"Apa kabar Renata?" sapa Indah.


"Baik, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Renata dengan nada dingin.


Indah masih berdiri tidak jauh dari Renata. "Jangan begitu? kita sudah berteman dari dulu, masa sih. Gara-gara pria saja kita musuhan? semua bisa diperbaiki."


"Apa, diperbaiki? tidak salah? masalahnya. Pria itu suami ku--"


"Itu, kan masa lalu, kami dekat sebelum kamu menikah dengannya, dan wajarlah ... kalau pria itu agak genit dengan wanita lain, berarti dia normal." Indah memotong perkataan dari Renata.


"Kalau cuma mas lalu, kenapa kau terus menggoda suami ha? aku tahu kamu mungkin tahu segalanya, tapi jangan jadikan itu kunci untuk mendapatkan Suami orang! Kalau merebut pacar orang masih mending lah. Tapi ini suami orang. Mikir dong ... Jangan mentang-mentang aku adalah sahabat dan aku akan diam saja bila suami di embat orang!" ujar Renata panjang lebar.


"O-oke, aku minta maaf, dan aku akan memperbaiki diri. Dan datang ke sini itu untuk meminta maaf lho." Tambah Indah sambil mendekat dan mendudukkan diri di kursi.


"Aku sudah maafkan, pergilah. Aku sudah tidak ingin melihat mu lagi," lirih Renata sambil membuang muka.


"Renata, dengan setulus hati, aku meminta maaf." Indah memasang wajah yang memelas.


"Aku sudah bilang. Pergilah, aku sudah maafkan kok." Kata Renata dengan masih tidak ingin melihat wanita yang mengenakan baju dengan leher rendah tersebut.


"Mbak, dengar gak? kalau Non Renata minta Mbak pergi dari sini?" bibi menatap tidak suka dengan wanita ini dari mulanya juga.


Indah menoleh dengan tatapan nanar. "Bi, saya minta maaf bi dengan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Saya mengaku salah."


"Helleh, apa iya?" bibi menaikan alisnya.


Pandangan Indah beralih pada Renata kembali, tidak perduli dengan kata-kata bibi. Tangannya Indah bergerak memegang tangan Renata.


"Rena, aku mohon maaf, sebentar lagi aku akan menikah. Aku tidak ingin dihantui dengan rasa bersalah ini. Tolong Ren?" Rajuk Indah.


Renata menggerakkan kepalanya melihat tidak suka pada tangan Indah yang memegang tangannya itu.


Lantas Indah pun melepaskan genggamannya. "Aku pasti terus dihantui dengan rasa bersalah. Bila tidak kau maafkan dengan tulus."

__ADS_1


Prek ....


.


__ADS_2