Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Si jago merah


__ADS_3

Arya mengusap punggung sang istri yang berdiri menggendong Rania. "Sabar sayang!"


"Pertanyaannya, kenapa? bisa terjadi seperti itu?" ulang Fatma sembari menatap ke arah Arya.


"Mungkin kesalahan teknis atau apalah. Pak Dudin masih shock dan belum bisa memberi penjelasan apapun." Arya menggeleng.


Kemudian Arya menelpon ke rumah agar mengirimkan mobil ke lokasi. Fatma keluar, sebelumnya menitipkan Rania ke Dewi.


Kakinya Fatma bergetar setelah melihat mobilnya yang tinggal sisa asapnya yang masih mengepul. Mobil kesayangannya hancur dilalap si jago merah, kepala Fatma menggeleng serta bibir bergetar. Rasanya ingin sekali menangis.


Tangan Arya merangkul bahu Fatma yang sedang memandangi mobilnya yang hangus itu.


Fatma shock menatap mobil alfard yang baru setahun ini ia beli. Mulutnya menganga dan tak mampu lagi berkata-kata.


"Rejeki masih dapat dicari, asalkan kita sehat dan mau berusaha." Kata Arya dengan lirihnya.


Fatma menoleh dan memeluk tubuh sang suami, manik matanya berkaca-kaca. Bagaimana pun mobil ini adalah mobil kesayangannya.


Lalu Arya berbincang dengan pihak yang berwajib yang menangani kasus ini, pak Dudin yang masih belum bisa memberikan kesaksiannya. Langsung di ajak pulang lebih dulu biar istirahat dan menenangkan diri.


Menurut orang kebetulan berada di sana dan menjadi saksi, katanya mobil tiba-tiba meledak dan sang supir yang masih berada di dalam pun buru-buru keluar dan percikan api pun dengan cepat melahap bagian depan mobil.


"Saya sebagai wakil dari pemilik menyerahkan penuh pada pihak yang berwajib untuk menangani kejadian ini." Arya berjabat tangan dengan beberapa orang dari kepolisian.


Teman-teman Fatma pun ikut prihatin atas kejadian ini. Dan memberi support bahwa ini tidak seberapa dari harta yang Fatma miliki serta Tuhan pasti akan menggantinya.


Setalah itu, Arya dan Fatma juga Dewi dan Rania pulang dengan mobil jemputan yang di supir kan supir cadangan.


"Kenapa mobil Mama terbakar sih?" tanya Rania. Anak itu mendongak ke arah Arya.


"Em, mungkin sudah waktunya saja. Bila Allah menghendaki apapun pasti terjadi sayang." Arya mengusap kepala Rania.


"Kan harus ada sebab dan akibat kan, Pah?" selidik Rania lagi.


"Biar pak polisi yang menangani nya. Oya sayang mau makan dulu apa mau di rumah saja?" Arya mengedarkan pandangannya ke arah Fatma yang melamun.


"Aku, ingin pulang saja." Fatma menggeleng, memilih makan di rumah saja.


Mobil meluncur dengan sangat kencang menuju pulang ke Mension.


"Rania lapar ya Aunty? lapar gak!" Rania melirik ke arah Dewi yang melamun.


"Iya, sebentar lagi sampai Mension sayang. Kita makan di rumah ya?" tutur Arya dengan lembut.


"Kenapa gak makan di jalan saja?" tanya Rania kembali.


"Papa ogah lho, makan di jalan! nanti ke senggol motor atau mobil. He he he ..." Arya terkekeh sendiri.


"Iih, Papa. Bukan gitu. Makan di restoran." Rania memukul tangan Arya sambil tertawa.


"Kalian boleh makan di restoran. Mama belum lapar." Gumamnya Fatma.


Arya yang mengerti dengan suasana hati sang istri yang tidak baik-baik saja itu. Tidak tega melihatnya apalagi bila harus meninggalkan nya makan-makan di restoran tanpa dia.


"Nggak, kita makan di rumah saja." Kata Arya lalu berbisik pada Rania. "Kasihan Mama lagi bersedih."


Anak itu hanya melirik pada sang bunda. Dan tidak ingin menggangu suasana hatinya yang kurang baik itu. Dia malah bersandar di pangkuan Dewi sambil bernyanyi.


Setibanya di rumah. Kedatangannya menjadi bahan interogasi orang rumah, menanyakan kejadian, sebabnya apa? sabotase atau gimana? kecelakaan murni atau ada yang sengaja? bla bla.


"Semua masih diteliti oleh pihak yang berwajib. Dan semuanya butuh proses," sahut Arya menanggapi rentetan pertanyaan tersebut.


"Kata Umi juga apa? sebaiknya hari ini kalian jangan pergi-pergi, pamali!" ucap umi Santi.


Fatma yang menautkan kedua tangan meremas jemarinya menatap lekat pada sang ibu mertua.


Semua terdiam mendengar omongan umi Santi barusan.


"Masih mending gak ada korban ataupun luka-luka, ya Allah ... Alhamdulillah engkau masih melindungi anak dan mantu ku?" mendongak ke langit-langit seraya menjatuhkan bokongnya ke sofa.


Seketika Fatma mengingat obrolan waktu itu tentang mimpi yang berkaitan dengan baby. Langsung terbayang gimana kalau mimpi itu menjadi kenyataan? lantas Fatma membawa langkahnya dengan cepat ke lantas atas. Setengah berlari menaiki anak tangga tanpa berkata apapun kepada semua orang yang di sana.


Kini hati Fatma dipenuhi rasa was-was, rasa khawatir yang teramat. Takut kalau hamil terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


Melihat Fatma berlari ke lantai atas, membuat Arya segera menyusulnya. Semua pasang mata hanya memandangi keduanya yang kini sudah berada di atas tangga.


Fatma memasuki kamarnya, duduk di sofa dengan hati yang tidak jelas apa yang dirasa. Yang jelas di wajahnya tersirat sebuah kecemasan.


Arya pun duduk di samping dan merangkul kepala Fatma dibawanya ke bahu lebar miliknya itu. "Jangan di ambil hati omongan umi ya?"


Fatma bungkam, dia hanya menggeleng dengan mata yang tampak nanar. Kacaunya perasaan Fatma saat ini memang sulit tuk di ungkapkan dengan kata-kata, lalu dia menangis dalam pelukan Arya. Suasana hati yang sensitif membuat Fatma mudah hanyut dalam kesedihan.


"Menangis lah, bila itu bisa membuatmu tenang." Dengan lembutnya Arya mengusap kepala sampai punggung Fatma.


Sejenak Fatma menangis di pelukan sang suami. Arya terus membelai rambut Fatma dengan lembut, berusaha menenangkan hati sang istri.

__ADS_1


Setelah Fatma sedikit berangsur tenang. Arya beranjak meninggalkan Fatma menuju kamar mandi.


Badan terasa lengket dan ingin bersih-bersih sebelum salat Dzuhur. Setelah beberapa saat, Arya keluar dengan handuk yang melilit di pinggang.


Fatma yang masih di di tempat semula. Melihat Arya yang habis mandi, langsung beranjak mengambil pakaian ganti dari lemari.


"Sayang, salat bareng yu? biar lebih tenang." Ajak Arya pada sang istri.


Fatma yang menenteng pakaian Arya mengangguk pelan. Lalu mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Di lantai dasar, tepatnya di ruang makan sudah berkumpul untuk makan siang bersama.


"Saya tidak habis pikir, kok bisa itu mobil kebakaran segala?" ucap Bu Wati seraya mengerutkan keningnya. Bolak-balik pun tetap ia tidak mengerti.


"Nanti saja hasil dari kepolisian nya gimana! biar jelas." Balas pak Wijaya di sela-sela makannya.


"Iya besan, biar kita tidak menduga-duga atau suudzon. Biar pihak yang berwajib yang menangani." Tambah Abah sembari mengambil gelas minumnya.


"Umi juga sama, besan tidak mengerti. Tapi masih Alhamdulillah tidak ada korban, Umi tidak bisa bayangin kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan." Umi berucap lirih.


Yang lain mengangguk setuju dengan yang umi katakan bahwa kejadian itu tidak memakan korban.


"Rania kaget, sangat kaget ketika mendengar suara itu ya aunty?" Rania menoleh ke arah Dewi yang sedang menyuapkan sendok ke mulutnya.


"Iya, aunty juga terkejut. Takut, takut apa gitu." Tambah Dewi seraya mengangguk.


"Gimana coba suaranya?" tanya Bu Wati sambil tersenyum pada Rania.


"Duarrrr, duarrrr. Begitu Oma suaranya, bikin Rania kaget." Rania menirukan yang sudah dia dengar.


"Ya ampun ... Umi kaget juga." Kata umi Santi. Lalu mengambil sayur dari mangkuknya.


"He'em, Oma juga ikut kaget." Bu Wati menimpali perkataan umi.


"Kasihan deh, Mama. Mobil kesayangannya kebakaran," kenang Rania lagi sambil mengunyah. Di mulutnya penuh dengan makanan.


"Nggak pa-pa, mobil bisa di beli lagi." Kata pak Wijaya.


"Beli kan harus pake uang Opa ..." protes Rania.


"Iya, yang penting Mama masih bisa berusaha dan kapanpun bisa membeli yang baru," sambung opanya.


"Aamiin. Semoga mama cepat bisa beli lagi gantinya. Aamiin." Umi dan Bu Wati berbarengan.


"Aamiin ya Allah." Abah mengusap wajahnya. Dan menyudahi makannya.


Susi yang sedari tadi terdiam, tidak mengeluarkan suaranya takut salah. Hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


Arya yang masih di atas sedang memeluk Fatma dengan masih mengenakan alat salatnya masing-masing. Tangan Arya mengusap kepala Fatma dengan lembut dan mesra.


"Apa yang terjadi hari ini, ambil hikmah nya saja. Jangan dipikirkan, harta bisa di cari barang bisa dibeli. Uang bisa usaha yang penting kita sehat dan mau berjuang." Arya berucap dengan lirih.


Fatma mendongak sejenak, dan lalu mengangguk. Hatinya kini sudah lebih tenang dibandingkan tadi.


Hatinya tidak terlalu gundah seperti tadi. "Iya, Aa. Aku cuma tidak habis pikir saja, kok bisa seperti itu?"


"Biarlah polisi yang mengusutnya. Alhamdulillah tidak ada yang menjadi korban juga," ungkap Arya lagi.


"He'em, benar. Itu benar sekali, ya sudah aku gak mau pikirkan itu lagi. Yang penting kita sehat, kita selamat dan kita masih bisa mencari rejeki." Fatma bangkit lalu berdiri membereskan bekas salatnya.


Begitupun Arya. Ia tampak bahagia melihat sang istri tampak semangat, dan tidak ingin memikirkan yang terjadi hari ini.


"Begitu dong. Semangat, istri Aa harus strong. Ha ha ha ..." Arya tertawa tergelak.


"Yu, kita makan?" Fatma duluan keluar dari kamar. Namun setelah di dekat tangga ia berdiri menunggu Arya.


Di bawah asisten tampak sibuk, ada sedang makan, ada yang bersih-bersih. Ada juga yang sedang memasukan pakaian ke mesin lipat.


Arya turun menuntun tangan sang istri yang sekarang lebih fresh wajahnya.


"Mau makan, Tuan. Nyonya?" tanya Bu Ina selaku kepala asisten sambil mementahkan anak buahnya untuk menyiapkan makan buat majikannya tersebut.


"Yang lain sudah pada makan, Bi?" selidik Fatma sambil terduduk di kursi yang Arya sediakan.


"Sudah, baru selesai." BI Ina sembari menuangkan air putih ke dua buah gelas untuk sang majikan.


Kemudian keduanya menyantap makan siang dengan lahapnya. Sesekali saling suapi satu sama lain begitu tampak kebahagiaan di antara mereka berdua.


Sementara yang lain sedang berada di ruangan yang lain, asyik bercengkrama.


Setelah selesai makan. makanan barbekyu menemui Rania lebih dulu untuk menyuruhnya tidur siang.


"Wi, ajak Rania tidur siang ya?" anak itu suka rewel kalau gak tidur siang," pinta Fatma pada Dewi yang sedang mengasuh Rania di dekat kolam renang.


"Ooh, iya, Kak. Sebentar aku ajak dia bobo siang!" Dewi mengangguk seraya membawa langkahnya mendekati Rania.

__ADS_1


"Sayang, kata mama bobo dulu yu? sama aunty nih."


Anak itu mendongak. Kakinya yang bermain air lantas naik berdiri. "Rania juga ngantuk sih, aunty."


"Iya, makanya bobo!" Dewi menarik tangan Rania.


Fatma yang masih berdiri, melihat Rania dan Dewi bersiap tidur. Barulah bergerak meninggalkan tempat tersebut. Menuju kamarnya menyusul Arya yang sudah duluan ke sana.


Setibanya di dalam kamar. Fatma merangkak naik ke atas tempat tidur. Dan meletakkan kepalanya di dada Arya yang merangkul bahunya.


"Kayanya, besok sibuk nih. Kemungkinan gak bisa mesra-mesraan," ucap Arya pelan.


"Kenapa?" tanya Fatma.


"Sibuk, gak akan bisa bercinta." Tambah Arya. Cuph! mengecup pucuk kepala sang istri.


"Nggak pa-pa, sudah biasa. Lumrah, kan? namanya juga sedang resepsi. Ya wajar." Gumamnya Fatma sebentar mendongak.


Arya memejamkan matanya. Sebab kantuk sudah mulai menyerang dan sulit untuk dibuka lagi.


"Emang nya kenapa? pengen dobel sekarang? nanti malam kan bisa!" ucap Fatma sembari menggerakkan jemari lentiknya di dada Arya yang bidang dan tanpa menutupnya, cuph! ia kecup dengan mesra.


Arya cuma menggeliat. Pergerakannya kurang signifikan. Membuat kepala Fatma lagi-lagi mendongak. "Eeh ... bobo? aku bicara sendiri dong."


Kemudian Fatma pun mencoba memejamkan kedua matanya. Sambil mengeratkan pelukan ke tubuh Arya.


Keduanya terlelap, dalam semilirnya angin siang menjelang sore ini masuk ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka.


Di malam hari suasana Mension sudah pada rame dengan percobaan sun sistem. Orang-orang yang menyempurnakan dekoran nya. Dan Fatma menjamu dengan hidangan atau makanan barbekyu.


Menjadikan suasana semakin ramai. Zayn pun ada. Dan sahabat Arya alias Sultan pun baru saja datang ke tempat tersebut.


"Aku ikut prihatin dengan kejadian terbakarnya mobil kalian," ucap Sultan.


"Iya, aku juga heran seribu heran, kenapa bisa seperti itu dan apa motif dari semua itu?" Zayn pun mengangkat bahunya.


"Apa lagi aku, gak faham." Sultan membalas ucapan Zayn.


"Kalian tidak usah merasa bingung, biar polisi yang selidiki. Kita terima jadi saja, oke?" balas Arya melihat keduanya bergantian.


"Iya sih," kata Sultan sambil menempelkan punggungnya ke bahu kursi.


Fatma dan Susi mengambilkan makanan buat suami mereka.


"Alah ... gua siapa yang layani dong?" gumamnya Sultan ketika melihat Fatma dan Susi membawa makanan buat Arya dan Zayn. "Dewi mana Dewi?"


"Eh, Sultan dari kerajaan Aceh, kamu itu kan punya Sofi, ngapain sih deketi adik gue?" tanya Arya seraya meneguk minumannya.


"Emangnya, aku belum cerita ya bro?" Sultan balik nanya.


"Mana ku tahu." Arya menaikan kedua bahunya.


"Aku sudah putus sama dia, dia itu gak cinta sama aku bro. Aku cuma dijadikan pengganjal saja--"


"Pengganjal perut maksudnya?" Zayn memotong perkataan dari Sultan.


"Kau pikir itu makanan!" Sultan menoleh. "Eeh, ngomong-ngomong kok kamu sama istri seperti kembar! kembar labu, yang satu labu Siam dan yang satu labu kuning?"


"Ya beda dong ... ada-ada saja." Zayn menggeleng.


Sultan beranjak mendekati meja menu masakan. "Ini daging, ramah banget ya?" sambil mengambil daging.


Susi heran. "Emang kenapa?"


"Ini, sapa-sapa terus." Sultan menunjuk daging yang ia masukan ke piring.


"Eeh ... itu sapi. Om Tatan." Timpal Fatma.


"He he he ... aku tempe Kak!" sultan terkekeh sendiri.


"Aku tahu, bukan tempe." Protes Susi.


"Oya, Kakak berdua tahu gak? ikan apa yang suka ngomongin orang?" tanya Sultan pada kedua wanita tersebut.


Susi melongo. "Apaan? gak tahu ah."


"Nyerah-nyerah, nyerah?" Sultan menunjuk keduanya.


Susi menyerah. "Nyerah deh."


"Namanya. Ikan bawel ...."


"Itu ikan bawal om Tatan." Fatma memutar bola matanya jengah.


Kemudian Fatma duluan membawa makanan buat sang suami ....

__ADS_1


****


Mana suaranya yang menunggu novel ini UPS.


__ADS_2