Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mengundang


__ADS_3

"Eh! malah bengong? woi! ditanya nih, woi!" tangan Sultan mengibas di depan wajah Arya. "Bro, aku ada nih Bro."


Arya menoleh dan memudarkan senyumnya. "Apaan sih?"


"Malah bengong. Dari siapa tuh? kayanya istimewa banget dari Renata ya?" tanya Sultan sambil mengambil paper bag nya.


"Bukan, dari Fatma." Jawab Arya kembali tersenyum.


"Ooh, Ibu Negara," gumam Sultan dengan santainya. Namun detik kemudian ia melonjak bangun dari baringnya. "Ha? Ibu Negara kirimi kau kue ini?" menunjuk kue di meja.


"Iya, kenapa sih kaget amat? oya biasa aja kali ah." Sambung Arya sembari memotongnya lalu ia cicipi.


"Emang sering gitu kamu di kirimi kue? jangan-jangan sering ya?" selidik Sultan menatap lekat.


"Nggak, baru kali ini saja--"


"Oh, iya. Wajarlah dia kirimi kamu kue, uang saja dia kirim," lanjut Sultan. Dengan tangannya mengambil potongan kue tersebut.


"Itu dulu, sewaktu masih kuliah. Setelah itu ... tidak. Catat ya sewaktu kuliah saja, selebihnya gengsi lah saya." Timpal Arya dengan jelas.


"Iya-iya. Aku tahu, Pak! jangan tersinggung. Tapi tumben dia kirim kamu kue?" Sultan heran sambil terus makan.


"Nggak tahu juga, ingat itu kali."


"Ingat apa?" Sultan tambah penasaran.


Arya menggaruk tengkuknya. "I-itu, waktu di Rumah sakit aku bawa pancake durian buat ku makan sendiri. Mungkin dia ingat itu kali."


"Oo. Sebentar! aku membayangkan dulu, di rumah sakit makan pancake berdua, saling suap-suapan uuh ... romantisnya bro, gitu gak? jangan-jangan iya." Sultan menunjuk ke arah Arya.


"Apaan sih? nggak ..." elak Arya. Padahal iya yang dikatakan Sultan adalah benar, dia menyembunyikan senyum simpulnya.


"Ah masa bro? nggak ya? seharusnya sih gitu." Tambah Sultan sembari terus makan kuenya.


"Ah si Sultan kurang ajar banget, menduga sesuatu yang memang benar adanya." Batin Arya.


"Sudah ah! dimakan melulu orang gak kebagian." Arya mengambil kue yang terus Sultan makan dan menyisakan seperempatnya lagi itu.


"Dikit lagi bro!" tangan Sultan bergerak mau ngambil lagi.


Namun ditepuk oleh tangan Arya. "Aku gak kebagian." Lantas dibawanya ke lemari pendingin, dia simpan di sana.

__ADS_1


Sultan menghentakkan kedua kakinya ke sofa dengan ekspresi wajah yang lucu. "Mak ... Arya tega Mak ... aku mau kue gak dikasihnya. Mak ... mau itu Mak ..." menunjuk ke arah lemari pendingin.


Arya menjulurkan lidahnya pada Sultan sembari masuk kamar dengan niat mau mandi, kebetulan sebentar lagi Maghrib. Sebelum mandi ia mengambil ponsel siapa tahu ada yang masuk dan ternyata ada. Beberapa panggilan tidak terjawab namun tanpa nama. Alias kontak yang belum tersimpan. Arya simpan kembali tanpa ada niat telepon balik.


Selepas mandi dan hendak salat Maghrib. "Tan, salat?"


"Nggak ah, lagi M." Jawab Sultan sambil main gemes. Menoleh sebentar pada Arya yang berdiri dekat pintu.


"M, apaan? mana ada pria M! malas? jangan malas, buang jauh-jauh gunakan waktumu sebaik-baiknya. Jangan sampai menyesal dikemudian hari, salat lah sebelum kamu di salatkan. Buruan?" Arya sedikit memaksa.


Dengan malas Sultan menyimpan ponselnya di atas meja lalu ke kamar mandi tuk mengambil air wudu. "Iya ... Pak ustadz. Sebentar mau ngambil wudu dulu."


Arya menggeleng seraya merapikan sarungnya, menunggu Sultan dan akhirnya mereka berdua menunaikan salat Maghrib yang beberapa menit yang lalu berkumandang merdu.


Seusai salat, Arya berdoa dan berzikir. Namun ponsel Arya berdering dan suaranya dari kamar yang memang Arya simpan di sana.


"Bro, ponsel mu tuh bernyanyi. Eh berdering kali aja penting," sultan menoleh.


Arya beranjak dan membawa langkahnya ke kamar tuk mengambil handphone yang berdering tersebut.


"Fatma? ada apa?" gumam Arya heran namun bibirnya tertarik ke samping mengukir senyuman.


^^^Fatma: "Iya, maaf mengganggu?"^^^


^^^Arya: "Ah, nggak. Oya makasih ya kue nya? aku suka! tahu aja kesukaan ku."^^^


^^^Fatma: "Sama-sama, terima kasih juga bunga nya? oya sedang apa? aku gak ganggu, kanu?"^^^


Kini sudah keduanya sudah semakin dekat sehingga panggilan pun aku kamu, tidak seperti dulu anda dan saya lebih formal gitu.


^^^Arya: "Aku ... baru selesai salat. Apa ada yang perlu aku bantu?"^^^


^^^Fatma: "Em ... em, nggak sih."^^^


Fatma terdengar ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu pada Arya.


^^^Arya: "Ada apa? oya Rania mana? aku dah beberapa hari ini gak ketemu, habis agak sibuk sih jadinya belum sempat menemuinya, besok juga--"^^^


^^^Fatma: "Justru itu yang ingin aku bicarakan, em ... bisa gak datang! sebentar ... aja? Rania sedari siang rewel, ketika aku pulang juga ngamuk pengen ketemu kamu. Sampai-sampai ketiduran nih."^^^


Akhirnya Fatma bicara juga akan maksudnya menelepon Arya untuk mengundangnya ke Mension agar menemui Rania yang merengek ingin bertemu Arya.

__ADS_1


^^^Arya: "Ooh ... basa-bisa. Sebentar aku datang. Nggak sampai satu detik kok."^^^


^^^Fatma: "Emang bisa, dalam satu detik nyampe sini? ngarang kamu! emangnya kamu jin, yang bisa dalam sekejap hadir dimana yang dia suka? ada-ada saja deh!"^^^


Terdengar Fatma tertawa renyah yang jarang bahkan mungkin tidak pernah Arya dengar sebelumnya.


^^^Arya: "Bisa, lah. Coba saja pejamkan kedua matamu dan rasakan kehadiranku di sana bersama mu, menunggu rembulan bersinar dan bintang yang akan berkelipan menyaksikan kita berdua bahagia."^^^


Hening!


Fatma tak terdengar bersuara lagi kecuali suara napasnya yang terdengar dengan jelas. Begitupun Arya, dia tertegun mengingat kalimat apa yang telah ia ucapkan barusan.


^^^Arya: "Sebentar ya? mau siap-siap dulu. Nanti aku ke sana!"^^^


Tut ... Tut ... Tut ...


Arya menutup sambungan teleponnya lalu berbalik mau ke kamar. Sebab tanpa sadar ia menerima telepon itu di balkon.


Prok-prok, prok. Suara tepukan tangan dari Sultan yang belum lama ini nyusul ke balkon. "Gila, rayuannya. Coba pejamkan kedua matamu dan rasakan kehadiranku bersamamu, ahaiii ... so sweet ...."


Arya menggeleng sambil berjalan dan meraih ti-sert panjang warna abu. Jam tangan dan mengantongi kunci motornya. "Apa-apaan sih? ngintip omongan orang." wajahnya memerah. Malu ucapannya di dengar oleh Sultan.


"Dikit! mau ke mana sih?" selidik Sultan langkahnya mengikuti langkah Arya setelah mengunci pintu balkon.


"Ha? bukannya mendengarkan?" tanya Arya seraya menatap dengan heran.


"Aihs ... dikit, mau kemana sih ikut dong?" pinta Sultan.


"Ke rumah Fatma. boleh," sahut Arya sambil merapikan bekas salatnya. Melipat sarung dan berganti celana panjang.


"Ibu Negara, ngapain ke sana?" tanya Sultan sambil meraih tas ponselnya dari meja.


"Rania tadi sore ngamuk pengen ketemu aku! jadi dia meminta aku datang ke sana!" ucap atau sambil berjalan berdampingan dengan Sultan.


"Ooh, dekat amat anaknya sama kamu? lama-lama Ibu Negara nya juga akan ketergantungan juga sama kamu bro," ungkap Sultan tanpa menoleh.


Arya terdiam di tempat mencerna ucapan dari Sultan. Namun ketika mau melanjutkan langkahnya, Ponsel kembali bergetar ....


****


Ayo, mana? like, komen serta vote nya dong🙏

__ADS_1


__ADS_2