
Tadinya pancake itu mau Arya buang ke dalam tong sampah. Namun niat itu urung juga, ia pikir! apa salah pancake durian ini? tak ada salahnya. Arya bawa kembali ke meja dan berniat memakannya saja dari pada mubazir kan sayang.
Fatma menggeliat terus terbangun, perlahan membuka matanya dan mendapati sosok seseorang di sofa namun bukan bodyguard nya. Membuka mata sebelah dan mengintip siapa yang sedang duduk di sana. Setelah memastikan siapa dia! terlukis senyuman di bibir tipisnya.
"Hem ... sejak kapan kamu di situ? perasaan sebelum aku tidur gak ada kamu." Suara parau itu mengagetkan Arya yang sedang memakan pancake sambil melamun.
Spontan menoleh dan menunjukkan senyumnya. "Sudah lama sekali, anda tampak nyenyak tidurnya. Jadi gak dengar aku datang."
"Oya, iya kali ya? kehadiran mu selalu tidak aku sadari, tau-tau ada aja," ucap Fatma seraya kembali mengulas senyum yang manis.
"Mungkin, seperti aku yang niatnya pulang. Malah terdampar di sini." Gumamnya Arya yang nyaris tak terdengar.
"Maksudnya?" Sura berat Fatma yang khas baru bangun tidur, terdengar lebih seksi di telinga.
"Ooh. Nggak Kak, sudah lewat. Iya sudah lewat." Arya menggeleng.
"Hem ... kalau sudah lewat, panggil aja lagi biar berhenti dan balik lagi," sambung Fatma sambil mendudukkan dirinya bersandar ke bantal.
"Nggak bisa ... sudah terlalu jauh," timpal Arya kembali.
"Em ... gitu ya? ngomong-ngomong, kamu makan apa sih malam-malam begini?" tanya Fatma ketika menggerakkan netra nya ke cup yang ada meja Arya.
"Ooh ... ini pancake durian, mau?"
"Durian? gak suka," Fatma menggeleng.
"Enak lho kak, apa lagi kalau makannya pas dari freezer terus sedang cuaca panas," sambung Arya.
"Oya, tapi kenapa kamu makan jam segini?" Fatma melirik jam yang ada di dinding ternyata sudah dini hari. "Dini hari lho."
__ADS_1
"Emang, siapa yang bilang ini siang bolong?" balas Arya lagi. Kemudian Arya beranjak dari tempatnya membawa pancake tersebut ke Fatma dan duduk di kursi dekat ranjang Fatma.
"Coba deh, dikit aja." Tangan Arya hendak menyuapi Fatma.
"Em ..." kepala Fatma menggeleng. "Bau!"
"Dikit ... saja, pasti suka kok dan rasanya manis apalagi sambil memandangi aku!" dengan nakalnya Arya menaik-turunkan kedua alisnya.
Membuat Fatma senyum simpul melihatnya. "Aku, gak suka durian." Fatma kekeh sambil menutup mulutnya.
Namun karena Arya paksa terus Fatma pun mau nyicip. "Dikit ya?"
Fatma menutup hidung lantas membuka mulutnya sedikit. "Aa."
Arya menunjukkan senyumnya dengan Fatma mau nyicip durian itu. "Nggak gitu juga, hidungnya gak boleh ditutup. Biasa saja," protes Arya dan akhirnya Fatma menjauhkan tangan dari hidungnya.
Arya menyuapi Fatma pancake durian ke mulut Fatma yang katanya tidak disukai itu.
Sesekali kedua pasang manik mata keduanya saling tatap dengan sangat lekatnya. Namun hal itu tak pernah berlangsung lama sebab salah satu diantara kedua pasti menunduk atau mengalihkan pandangan ke lain arah, begitu seterusnya sampai pancake durian habis.
"Tuh kan ... suka! enak, kan?" Arya mengambilkan minum untuk Fatma dan sisanya ia minum tak sedikitpun merasa risih bekas orang.
"Beneran lho, aku pertama kali makan yang namanya durian. Aku paling anti dengan bau durian--"
"Sebelumnya?" ucapan Arya memotong kalimat dari Fatma.
"Iya, sebelumnya! tapi kok enak juga ya? gak bikin eneg juga," ucap Fatma merasa sedikit heran.
"Apalagi aku yang suapin, ya ... enaklah. Iya, kan?" goda Arya makin lama kecanggungan diantara mereka berangsur menipis.
__ADS_1
Lagi-lagi Fatma dibuat senyum simpul. Merasa malu dan segera menyembunyikan wajahnya dari Arya yang terus menggodanya dengan kata-kata dan perlakuan yang manis dan terkesan menjaganya.
Terngiang di telinga Fatma. Kata-kata yang terucap dari putrinya, Rania. "Kalau Oma pulang siapa yang akan menjaga Mama? kalau papa datang dan sakiti Mama siapa yang akan menolong?"
Fatma menghela napas panjang lalu membuangnya secara kasar. Kata-kata anak itu terus menghantuinya.
"Kenapa?" tanya Arya selepas membuang tampar pancake ke tong sampah, jadi. Sekarang dia buang sebab tinggal wadahnya saja.
"Ah, nggak. Cuma ingat Rania saja." Balas Fatma. Kemudian turun sambil mengikat rambutnya sehingga mengekspos lehernya yang putih bersih.
Arya segera memalingkan wajahnya seraya berkata. "Mau ke toilet bukan? mau ku antar?"
"Ha?" Fatma dengan cepat menoleh ke arah Arya yang entah memandang ke mana. "Tidak, sekarang aku bisa sendiri kok."
Kebetulan Fatma sudah terbebas dari infusan. Jadi lebih leluasa tuk jalan ke toilet walau masih lemas sedikit.
Arya kembali ke sofa nya setelah Fatma berada di kamar mandi. Kembali merebahkan tubuhnya berharap mata ini bisa terpejam, namun sia-sia sudah. Tetap saja tak bisa akhirnya mengambil ponsel, ngecek kali saja ada kawan-kawan yang masih online di WhatsApp, kebetulan ada kawan nongkrong yang masih online dan Arya chat dia mengajak berbincang tentang nongkrong-nongkrong yang agak lama Arya tidak ikutan.
Terus kawannya bercerita kalau tunangan mu sering jalan dengan Doni dengan kata lain bukan sekedar nongkrong biasa ada sesuatu di sebalik itu. Mereka tampak mesra seperti pasangan kekasih pada umumnya, peluk cium sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi kawan lainnya. Diajak ke Villa milik Doni dll.
Arya membuang napas dari mulutnya, pikirannya langsung traveling ke mana-mana. Kini bertambah sudah kelengkapan bukti pengkhianatan Renata dengan Doni. Namun tak sedikitpun niat Arya tuk mempertahankan hubungan tersebut sebab Arya paling anti dengan pengkhianatan, perselingkuhan dan semacamnya.
Ia sudah merencanakan sesuatu yang akan menyelesaikan semuanya dengan secara baik-baik dengan harapan akan terus menjalin hubungan silaturahmi dengan baik ke depannya.
Fatma yang kembali dari toilet, menatap ke arah Arya yang begitu serius menatap layar handphone nya. Ia pandangi dengan sangat intens. "Pasti sedang chat'an dengan kekasihnya." Pikir Fatma, ia pernah mendengar kalau Arya memang sudah tunangan dan pernah satu kali melihat tunangannya ketika secara kebetulan bertemu di pusat pembelanjaan.
Waktu itu Fatma sedang ada pertemuan dengan klien nya di sebuah restoran dan tidak sengaja berpapasan dengan Arya dan kekasihnya di sana. Mereka sempat bertegur sapa sebentar lalu kembali dengan pada aktifitasnya masing-masing.
Fatma naik kembali ke ranjangnya, manik matanya tak lepas dari sosok pria itu yang begitu anteng dengan ponselnya dan sesekali terlihat geram dan mengangguk yang entah karena apa Fatma pun tidak tahu.
__ADS_1
"Kamu gak tidur?" tiba-tiba suara Fatma kembali masuk ke dalam gendang telinga Arya ....