
Sekitar pukul dua belas malam, ada langkah yang mengendap-endap menuju kamar Fatma. Seorang pria dengan memakai jaket sembari menarik koper memasuki pintu kamar tersebut.
Dengan sangat pelan ... membawa langkahnya ada tidak menimbulkan suara sedikit pun. Netra nya menatap ke arah tempat tidur yang luas itu, terdapat ada seseorang meringkuk di balik seimut merah.
Bibir pria itu menyungging, menunjukan sebuah senyuman yang sangat manis. Terus mendekat dan berbaring miring agar dapat memandangi dengan puas, wajah wanita yang lelap tersebut tampak amat cantik dan sedap di pandang mata.
Kemudian pria itu memberi kecupan yang lembut dan mesra di kening sang istri. Sehingga Fatma menggerakkan tangannya, merasakan ada benda lembab mengenai keningnya.
Perlahan membuka kedua matanya yang indah itu, di bawah sinar yang remang-remang tampak sosok suaminya yang tersenyum mengembang berada dekat dengannya.
"Aa, sudah pulang?" gumam Fatma dengan suara parau khas bangun tidur, melengkungkan bibirnya sedikit, membentuk senyuman.
"Sudah sayang, lelap banget bobonya?" cuph! mendaratkan kembali ke kecupannya di kening dan pipi sang istri. Lalu mencari remote untuk menyalakan lampu.
"Em ... silau." suara Fatma pelan sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Arya mengambil sebuah paper bag dari bag nya. Lalu memberikannya pada Fatma. "Sayang, aku punya hadiah untuk mu. Semoga kau menyukainya."
Fatma mendudukkan dirinya setelah Arya menyodorkan suatu barang padanya. "Apa ini?" Fatma menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Buka saja sayang," titah Arya sambil membuka jaket dan pakaian formalnya.
Pandangan Fatma tertuju pada kotak tersebut dan isinya adalah satu set perhiasan yang indah, lebih indah dari yang dia berikan pada Dewi.
Tangan Fatma beberapa kali menggosok kedua matanya, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia memberikan perhiasan pada Dewi dengan tulus. Dan Arya sama sekali tidak mengetahuinya, sebab Fatma Idak bilang ataupun meminta ijin.
"Kenapa?" tanya Arya sambil mendudukkan dirinya di samping sang istri.
Fatma menoleh. "Aku sedang tidak bermimpi kan?"
Arya menarik bibirnya tersenyum tipis. Melirik ke arah jam dinding yang menggantung cantik.
"Aww ..." pekik Fatma sontak memasang kedua pipinya yang Arya cubit begitu saja. "Sakit!"
"Sakit, kan? tidak lagi bermimpi kan? hem?" tanya Arya seraya menangkupkan kedua tangannya di wajah Fatma.
"Hem ... berasa mimpi. kemarin aku memberikan satu set perhiasan pada Dewi sebagai hadiah, sekarang malah dapat lagi, masya allah ..." Fatma menutup mulutnya yang menganga.
"Oya? sayang beri Dewi perhiasan?" tanya Arya dengan kening mengkerut.
"Iya, yang ... aku tidak menyangka kalau akan mendapatkan ini sebagai gantinya, makasih banyak sayang?" Fatma lantas memeluk tubuh sang suami dengan sangat erat.
"Ohok-ohok. Pengap-pengap, dada ku sesak sayang! gak mau di peluk." Tolak Arya dengan berpura-pura batuk.
Dengan refleks, Fatma melepaskan pelukannya. Menatap heran pada sang suami.
Namun detik kemudian, Arya tertawa dan memeluk sang istri sembari mengecup keningnya penuh kasih sayang.
Fatma memukul bahu Arya, seraya berkata. "Apaan sih? aku kira beneran. Dasar jahat." Bibirnya senyum bahagia.
"Sama-sama sayang. Semoga kau suka?" ucap Arya sambil mendekap kepalang sang istri di dadanya.
"Aku suka banget. Apa kau tau atau Dewi bilang kalau dikasih perhiasan dariku?" Fatma sesaat mendongak, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada atas suaminya.
__ADS_1
"Nggak, gak sama sekali. Aa, belum bicara sama Dewi. Apa dia jadi ke Bandung nya?" jemari Arya mengelus pipi Fatma yang halus dengan gerakan yang lembut.
"Terus?" tanya Fatma lagi.
"Aa, emang dah niat aja belikan itu. Sini Aa pakaikan?" Arya melepas pelukannya.
Tangan Fatma mengangkat rambutnya ke atas, memberi jalan buat Arya memasang kalutnya.
Arya memasang kalung itu di leher Fatma yang jenjang indah tersebut. "Sudah selesai." Lalu menempelkan dagunya di samping leher Fatma.
Fatma mengangguk menatap kalung tersebut dengan bahagia dan senyum pun yang mengembang tak pudar dari bibirnya Fatma. "Cantik sekali."
"Terima kasih juga sudah memberi hadiah pada Dewi?" gumamnya Arya sambil mengelus perut Fatma yang mulai terasa membulat.
"Sama-sama. Bobo yu sayang? ngantuk nih." Ajak Fatma dengan nada manja.
Setelah Arya membersihkan diri dalam beberapa saat, dia kembali dan berbaring di dekat sang istri yang menunggu dirinya selesai mandi.
"Kok, belum tidur sayang?" tanya Arya sambil membaringkan tubuhnya, lantas memeluk tubuh sang istri yang beberapa kali menguap.
"Huam ... belum, sayang belum tidur juga." Fatma mengeratkan tangan Arya di pinggangnya.
"Ya sudah, kita bobo. Aku capek juga, gak pa-pa, kan? kalau tidak menjenguk Dede baby dulu! capek banget nih." Bisik Arya sambil menempelkan bibirnya di pipi.
Bibir Fatma melengkung indah. "Nggak pa-pa. Aku juga ngantuk berat." Balas nya lagi sambil memejamkan kedua matanya.
Arya pun mengulas senyumnya, lalu memejamkan matanya dalam pelukan sang istri.
Saat ini. Arya, Fatma dan Rania sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Bandung. Dalam menghadiri acaranya lamaran Dewi dengan Sultan, yang akan di laksanakan besok.
Wajah Rania sangat sumringah dan riang, mau bertemu dengan aunty dan Abah juga umi di sana.
"Rania sudah kangen sama aunty. Abah dan umi. Mereka itu nenek dan kakek Rania juga, kan, Mam. Pah?" Rania mendongak pada Arya sedang menyimpan koper ke bagasinya di bantu oleh pak Harlan dan pak Dudin.
"Iya, dong. Mereka itu kan umi dan Abah Papa. Jadi ... mereka itu nenek dan kakek Rania juga." Balas Arya.
"Rania sayang ... iya dong ... mereka itu nenek, kakeknya Rania dan calon Dede baby nih." Ungkap Fatma sambil mengusap perutnya.
"Yey-yey-yey. Yey-yey-yey ... Rania mau jalan-jalan ke Bandung. Ketemu aunty, umi dan abah." Anak itu begitu riang.
Ketiganya memasuk mobil yang sudah di panaskan oleh pak supir.
Namun sebelum masuk. Fatma menoleh pada kepala asisten dan lainnya. "Kami pergi, kalau ada apa-apa hubungi saja saya."
"Baik, Bu. selamat jalan dan hati-hati, semoga cepat kembali." BI Ina mengangguk hormat dan penuh harap.
Mobil mewah Fatma mulai merayap keluar dari halaman tersebut. Meninggalkan mension menuju daerah Bandung, daerah Arya dilahirkan dan dibesarkan.
"Mama-Mama? kalau Dede baby membesar. Berarti perut Mama juga membesar ya?" Rania mendongak ada mama nya.
"He'em sayang, nanti perut Mama membesar. Sampai sembilan bulan lamanya." Kata Fatma sambil memeluk bahu Rania yang mengelus perutnya.
"Mam, kalau perutnya besar. Berat gak sih? Rania lihat mama teman aku. Kelihatannya berat banget gitu," tambah Rania kembali menatap ke arah Fatma.
__ADS_1
"Em ... berat, dulu juga waktu Mama hamil kan Rania gitu, berat. duduk gak enak. Tidur gak nyenyak, pengen bolak-balik toilet Mulu, bawaan pengen pipis Mulu. Berbaring gak nyaman." Kenang Fatma sembari membelai rambut anak itu.
"Ooh, begitu ya? kasihan ya? kasihan Mama!" suara Rania pelan.
Arya yang hanya mendengarkan, sesekali melihat ke arah istri dan putrinya. Menghela napas panjang, mengingat pengorbanan seorang ibu.
"Makannya. Kita harus sayang pada ibu yang melahirkan kita. Begitu banyak pengorbanannya untuk kita dari mulai segumpal darah, sampai sekarang kita seperti ini." Arya beruap lirih mengingatkan khususnya untuk dirinya sendiri agar menyayangi seorang ibu. Termasuk sang istri.
Fatma dan Rania memandangi ke arah Arya yang berucap demikian. Lalu manik mata Rania bergerak melihat ke arah mamanya.
Tangan kecil Rania memeluk tubuh Fatma sembari berkata. "Rania sayang mama!"
Fatma tersenyum dan membalas pelukan putrinya itu. "Mama juga sayang Rania. Rania harus jadi anak yang Soleh dan sayang sama orang tua, keluarga. Belajar yang benar, yang pintar."
Setelah melewati waktu yang lumayan panjang. Pada akhirnya mobil yang di kemudikan pak Harlan sudah mendekati kampung dimana keluarga Arya berada.
Fatma bersandar dengan mata yang terpejam, begitupun Rania tertidur di pangkuan sang bunda. Sementara Arya sibuk dengan tabletnya dengan sebuah urusan bisnis sampingan.
"Uhh ..." Arya menggeliat panjang dan terasa begitu nikmat. Meluruskan sendi-sendi di tubuhnya yang terasa kaku.
Mobil pun berhenti di depan rumahnya Abah dan umi. Arya menoleh pada Rania dan sang istri yang mulai bergerak merasakan kalau mobil sudah berhenti.
"Sudah sampai sayang." Suara Arya pelan dan memangku Rania.
"Hem." Tangan Fatma menggosok kedua matanya yang terasa sepet dan ngantuk.
Arya sudah masuk rumahnya membawa Rania langsung masuk kamar. Sementara Fatma masih di mobil mengumpulkan kesadarannya.
"Assalamu'alaikum Neng geulis? aduh mantu Umi. Apa kabar? lama tidak bertemu, cucu Umi juga yang masih dalam kandungan?" lirih Umi menyambut Fatma dengan ramah dan senang.
"Umi, Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah Umi. Gimana sebaliknya?" Fatma mencium tangan umi penuh hormat lalu keduanya berpelukan.
"Shukur atuh, kalua semua baik-baik saja. Si cantik mah bobo di bawa papa ke kamar." Tambah umi.
Lanjut Fatma memeluk Dewi dan mencium punggung tangan Abah yang berdiri tidak jauh dari Dewi.
"Mantu Abah, gimana kabarnya juga kabar calon cucu Abah yang pertama ini?" tanya Abah dengan wajah yang sumringah.
"Alhamdulilah Abah, baik. Gimana kabar Abah?" tanya balik Fatma pada bapak mertua.
"Alhamdulillah, masuk yu? masuk." Ajak Abah.
"Ayo, Neng? masuk?" Jak Umi juga sambil menuntun tangan Fatma.
"Yu, Kak?" Dewi pun menggandeng tangan yang satu lagi.
Semuanya memasuki rumah Abah yang sederhana tersebut. Namun sangat riuh, ramai ....
.
.
Aku sedih nih kok pada gak mau komen sih? tapi tetap bersyukur sih, makasih 🙏
__ADS_1