
Arya bersandar ke belakang sofa. "Malas ah. Nggak ada yang lain apa yang bisa diperbincangkan? itu-itu mulu."
"Ha ha ha. Tersinggung dia." Sultan tertawa.
"Rania sudah bobo?" tanya Arya ketika melihat Dewi kembali.
"Sudah, Aa. Capek dia bermain terus." Balas Dewi sambil mendudukkan dirinya.
"Teman-teman nya sudah pada pulang? tadi kan banyak teman nya," tanya Arya kembali.
"Sudah, mereka sudah pulang tadi lewat jalan belakang, Aa." Kata Dewi lagi.
"Oya, Dewi. Ada yang Abang tanyakan," ucap Sultan ambil menatap ke arah Dewi.
"Soal apa?" Dewi mendongak membalas tatapan Sultan.
Sultan melirik ke arah pak Wijaya dan Arya bergantian lalu kembali mengarahkan pandangan ke Dewi dengan lekat. "Dewi mau maskawin apa?"
Degh!
Menerima pertanyaan itu saja sudah bikin hati Dewi bergetar tak menentu. Lalu melirik ke arah Arya yang juga menatap ke arah dirinya.
Sebelum menjawab, Dewi menghela napas panjang, kemudian ia hembuskan kembali. "Aku ... gak akan meminta mahar yang sekiranya memberatkan calon mempelai pria."
"Ya kalau Dewi mintanya pesawat sih, jelasrmberatkan Abang. He he he ..." Sultan terkekeh.
Dewi senyum simpul. "Nggak mungkin lah, Dewi minta seperti itu."
"Terus, maunya apa? bilang saja sama Abang?" Sultan lirih dan serius.
Arya penasaran. Apa sih yang akan Dewi pinta pada Sultan sebagai mahar?
"Rumah?" tanya pak Wijaya ikut bertanya. Namun Dewi menggeleng.
"Atau mobil?" tanya lagi pak Wijaya.
Dewi tetap menggeleng, sebab yang ditanyakan bapak mertua Arya bukanlah itu yang ia mau.
"Iya terus apa yang Dewi mau? kan kalau sudah jelas, tinggal Abang persiapkan." Desak Sultan lagi.
"Em ... Dewi cuma mau minta umroh saja?" Dewi menunduk dalam.
"Masya Allah ..." ucap Sultan dan pak Wijaya berbarengan.
Sementara Arya terdiam. Dia sudah berencana untuk memberangkatkan orang tau nya di Bandung untuk pergi haji.
"Dewi serius ingin umrah? setelah menikah nanti?" tanya Sultan meyakinkan.
Dewi mengangguk. Dia meminta itu bukan tanpa alasan atau tidak tahu kalau biaya ke sana itu cukup mahal, tetapi justru melihat kalau Sultan akan mampu memberikannya.
"Baik, baik. Abang akan persiapkan itu, Abang setuju." Sultan mengangguk setuju dan bibir pun tersenyum mengembang.
__ADS_1
"Abang Arya gimana? setuju tidak dengan permintaan adik mu itu?" Sultan mengedarkan pandangannya ke arah Arya.
Huuh ... Arya menghembuskan napasnya dari mulut. "Aku sih setuju saja. Cuman yang jadi pertanyaan ku kamu sendiri siap nggak? kalau soal mampu sih. Aku tahu kau mampu."
"Aku, insya Allah siap!" Sultan menggerakkan kepalanya.
"Bagus lah kalau, Nak Sultan siap! tentunya siap lahir dan batin." Pak Wijaya ikut bahagia berada di tengah perbincangan itu. Berasa menjadi orang tau mereka saja.
Kemudian Arya beranjak dari duduknya. Membawa langkahnya menaiki anak tangga dengan langkah yang lebar. Mau menyiapkan segala sesuatunya untuk berangkat.
Sultan terus berbincang dengan Dewi dan pak Wijaya juga bu Wati yang sudah kembali dari beres-beres barangnya.
Saat ini Arya sudah berada di dalam kamar. Mengecek barang-barang yang mau di bawa. Namun kali ini bukan barang-barang yang diperlukan sebagai pilot. Melainkan sebagai penumpang.
Arya teringat sesuatu sehingga dia, membalikan badan keluar dari kamar. Berjalan mendekati tangga lalu mencari keberadaan Dewi yang masih berada di ruang tengah.
"Wi, barang Rania sudah di siapkan belum, seperti pakaiannya? kalau data-data sudah, Aa pegang kok." Pekik Arya dari atas tangga.
"Oh, iya belum, Aa. Lupa! aku siapkan sekarang," sahut Dewi sambil berdiri dan buru-buru naik untuk ke kamar Rania.
"Gimana sih? Aa pikir udah." Arya kembali ke kamarnya.
Cklek.
Pintu di kunci. Berdiri dan bersandar di daun pintu sambil mengirim pesan pada Fatma, kalau sore ini ia akan berangkat bersama Rania, Bu Wati juga pak Wijaya.
Dan dalam hitungan detik. Fatma membalas dengan emoji love dan kata, iya sayang dan hati-hati.
Membuat bibir Arya mengembang. Membentuk sebuah senyuman yang mengesankan. Lalu berjalan mendekati tempat tidur lantas berbaring sebentar. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi untuk pergi ke bandara internasional.
"Sebentar lagi kita akan bertemu sayang, kita akan melepas rindu. Memadu kasih setelah barapa hari kita terpisah." Monolog Arya dengan senyuman yang tak mau pudar dari bibirnya.
Waktu yang terus berputar, membawa Arya ke satu saat mengharuskan dia membersihkan dirinya sebab sebentar lagi akan berangkat.
Sekitar dua puluh menit kemudian Arya keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya.
Gegas bersiap-siap merapikan diri. Dengan pakaian yang sudah disiapkan sebelumnya, merapikan rambut. Memakai topi, jaket dan kaca mata hitam yang memang selalu dibutuhkan keberadaannya.
"Papa? sudah siap belum? kami sudah siap nih!" suara cempreng Rania terdengar dari balik pintu.
"Ya, sebentar lagi sayang?" Arya balas memekik dari dalam. Meraih bag dan handphone.
Berjalan menuju pintu yang sudah ditunggu oleh si gadis kecil yang menggunakan outfit setelan, rambut di kepang satu berhias pita.
Manik matanya yang bulat dan bening menatap intens pada papa sambungnya. "Wah ... Papa ganteng deh, pantas mama sayang sama Papa! Rania juga sa ... yang."
Membuat Arya tergelak mendengarnya. "Kenapa gadis kecil hem? emangnya kalau Papa gak ganteng! mama dan Rania gak sayang sama Papa gitu?"
"Em ... sayang kok, kan jelas-jelas Papa yang ini adanya. Bukan yang lain." kepala Rania menggeleng.
"Oya, sayang pamitan dulu belum sama papa Aldian?" tanya Arya sambil menuntun tangan Rania.
__ADS_1
Rania menggeleng. "Belum."
"Pamit dulu lah, bilang. Kalau Rania mau pergi sama Papa ke mama." Lanjut Arya.
"Kenapa mesti bilang?" Rania heran sambil menuruni anak tangga satu demi satu.
"Ya ... bilang aja minta ijinnya. Kalau Rania mau ke luar Negeri," sambung Arya lagi.
"Bilang ke mana? gak ada nomornya," gumamnya.
"Oma. Opa mungkin?" dan pada akhirnya keduanya sampai di lantai dasar.
Sultan, Dewi yang menjinjing tas punyanya Rania. Bu Wati dan suami juga sudah siap. Bi Ina yang berdiri tegak.
"Bu, Yah, apa punya nomor Aldian?" tanya Arya pada sang mertua.
Pak Wijaya dan Bu Wati saling bersitatap terheran-heran. Buat apa Arya menanyakan itu. "Buat apa? lagian kami tidak punya itu."
"Ooh, ini. Tadinya biar Rania telepon papanya buat sekedar pamitan," sahut Arya sambil menoleh ke arah Rania.
"Tidak, kami tidak menyimpan nomornya. Lagian biarpun ada itu nomor lama, yang baru tidak ada." Kata pak Wijaya.
"Ya Sudah. Wi! kamu jangan kemana-mana yang diam saja di sini. Banyak yang ain kok, kalau ada apa-apa hubungi saja polisi. Bi Ina tahu apa yang harus dilakukan." Arya memeluk sang adik.
"Iya, Aa. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Balas Dewi dalam pelukan Arya.
"Sesekali Sultan akan main ke sini bila gak tugas." Arya melirik ke arah Sultan yang mengangguk.
"Iya, Aa." Balas Dewi lagi. "Hati-hati?"
Dewi menyudahi pelukan, Aa nya. Lalu memeluk Rania. "Selamat senang-senang ya Nona manis? semoga selamat."
Lanjut mereka mengayunkan langkahnya masing-masing yang menuju mobil, di sana sudah ada pak Harlan yang siap untuk meluncurkan mobil tersebut.
Dewi dan para asisten berjejer dengan melambaikan tangan ke arah mereka sudah berada di dalam mobil yang berwarna hitam itu.
Yang berada di dalam mobil pun melambai, Rania menyembulkan kepalanya. Melihat ke arah mension yang sekarang ia tinggalkan.
"Daah ... bibi. Aunty?" gumamnya Rania.
Mobil melaju dengan sangat cepat. Aga segera sampai di bandara internasional.
Bu Wati menarik bahu Rania dari jendela mobil. "Sayang, nanti masuk angin ah, duduk manis sama Oma. Memeluk tubuh mungil tersebut.
Pak Wijaya cuma mengelus pucuk kepala Rania lembut. Dan bibir yang tersenyum.
"Yang dikatakan itu Oma bener sayang." Arya mendukung omongan Bu Wati.
"Iya Pah ..." ucap Rania sambil bermain boneka.
"Rania senang gak dengan perjalanan ini hem!" tanya Arya.
__ADS_1
Rania menoleh pada Arya yang duduk di depannya bersama Sultan. "Seneng dong ... Rania senang. Mau ketemu Mama."
"Oma juga senang. Mau ketemu mama dan calon baby." Timpal Bu Wati dengan wajah yang sumringah ....