Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Cilok aci


__ADS_3

"Yu, berangkat?" ajak Fatma setelah mengenakan topi di kepala Arya yang bengong, anteng menatap wajah sang istri yang tampak cantik nan anggun tersebut.


Bibir Fatma mengukir senyuman melihat Arya bengong melihatnya. Fatma meniup telinga Arya sehingga Arya menggercapkan kelopak matanya. menajamkan penglihatan pada Fatma sembari tersenyum merekah.


"Melamun? kaya baru lihat aja wanita cantik?" goda Fatma seraya mengedipkan sebelah matanya nakal.


"He he he ... terpesona diriku pabila memandang mu. Terkesima diriku melihat senyuman mu." Arya malah bersenandung.


"Malah nyanyi lagi?" protes Fatma, memundurkan langkahnya.


Lalu menoleh pada Rania yang tampak sudah tidak sabar ingin pergi.


"Ayo, Mam ... Papa, kita pergi sekarang!" rengek Rania


"Iya, kita pergi. Ayo!" Arya berjalan dan meminta kunci mobil dari sang istri.


Kemudian mereka pun keluar dari unit tersebut menuju tempat parkir dimana mobil Fatma berada.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dan Rania pun duduk di depan bersama kedua orang tua nya.


Mobil yang sudah merayap keluar dari gedung tersebut. Membuat Rania mengedarkan pandangan pada tepi jalan yang mencari jajanan.


"Mam, Rania mau makan cilok," rengek Rania sembari mendongak.


"Boleh, Sayang ... nanti kit cari--" tapi pengen yang di pinggir jalan, Mam." Tambah Rania.


"Iya, nanti kita cari. Yang di gerobak kan jualannya?" timpal Arya, sekilas melirik ke arah Rania.


"Bener, Papa. Iya yang di gerobak," Rania mengangguk.


Selang beberapa waktu, kebetulan netra mata Arya menemukan gerobak cilok. Namun entah masih ada entah tidak.


''Tuh, ada gerobak dengan nama cilok Aci. Mau gak? tapi entah masih ada atau nggak sih!" Gumamnya Arya sembari menepikan mobilnya.


"Mau-mau. Mau, Rania mau." Sambut Rania sangat antusias.


"Bentar sayang ... Papa harus lihat dulu!" Fatma memegang Rania supaya tidak turun mengikuti papanya.


Arya turun mendekati gerobak cilok. Setelah di dekati dan di lihat-lihat, cilok nya masih ada dan masih terlihat mengepul. Namun si abangnya gak ada.


"Sayang, si abangnya gak ada." Arya menoleh ke arah mobil.


"Tanyain dong, Papa!" sahut Rania tidak sabar.

__ADS_1


"Iya, anak Mama, sabar. Papa pasti belikan kok." Fatma mengusap pucuk kepala Rania lembut lalu mengecupnya.


Arya mendekati orang yang jualan es cincau. "Bang, si Abang cilok nya kemana ya?"


"Ooh, tunggu saja sebentar, Pak. pasti balik lagi." Sahutnya sembari mengangguk.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya. si Abang cilok datang dan Arya langsung pesan buat Rania yang terdengar merengek, bilang. Ih lama.


"Masih ya Bang?" yang di balas dengan anggukan ramah si Abang.


Arya membawa kantong cilok pesanan Rania. Dan setelah dekat mobil Arya menoleh ke arah sang istri. "Sayang mau gak? beli."


Fatma menggeleng. "Nggak ah, kan mau makan yang ... ayo buruan? kita cari tempat makan."


"Oke." Arya kembali masuk ke dalam mobil dan memberikan cilok pesanan Rania.


"Makasih, Papa?" ucap Rania pada Arya.


"Sama-sama sayang. Dimakan ya?" sahut Arya, lalu kembali melajukan mobil dengan tujuan mencari restoran.


"Apa kita langsung ke Mall saja? cari makan di sana?" tanya Arya sambil nyetir dan tatapannya fokus ke depan.


"Em ... boleh sih, gimana aja, aku ngikut saja," sahut Fatma sambil. Sementara Rania asyik makan cilok.


Rania dan Fatma turun duluan, sementara Arya memarkirkan terlebih dahulu mobilnya.


"Om Tatan, ke sini juga?" sapa Rania ketika melihat Sultan mau memasuki pintu utama yang sama dengan Rania dan Fatma.


"Eh, anak manis! di sini juga? apa kabar Nona cantik. Bidadari kecil?" Sultan begitu senang melihat Rania. Lalu mengalihkan pandangannya pada Fatma dan melempar senyumnya.


"Rania sedang jalan-jalan sama papa!" sahut anak itu.


"Oo! mana Papanya?" tanya Sultan lagi.


"Masih di mobil." Rania singkat kemudian memasuki area Mall tersebut.


"Rania? Rania? gak boleh jauh dari Mama, nanti hilang lho." Fatma nampak cemas bila Rania pergi-pergi sendiri.


"Iya, Mam." Rania balik lagi menghampiri sang bunda dan memegang tangannya.


Fatma mengedarkan pandangan pada wanita yang berada dekat Sultan yaitu Sofi. "Em, Tan aku duluan ya?"


"Iya, Kak. Silakan-silakan, nanti saya nyusul." Balas sultan seraya mengangguk.

__ADS_1


Fatma berjalan seiring tangannya yang ditarik oleh Rania.


Arya masuk dan langsung bertemu Sultan. " Kau di sini juga?" sapa Arya menatap ke arah Sultan dan Sofi bergantian.


Sofi mengangguk hormat. Matanya terus melihat ke arah Arya yang sekarang jarang banget satu kerjaan, menjadikan jarang pula ketemu.


"Iya, bro. Kemi mau nongkrong, Cuci mata, he he he," ucap Sultan sambil menunjukan senyumnya.


"Sebentar, sini? gue pengen ngomong?" tangan Arya menarik tangan Sultan dibawanya menjauh dari Sofi.


"Ada apa nih? Sultan merasa kaget, tak biasanya kawannya ini serius amat.


"Kau pernah bicara apa sama rania?" tanya Arya setelah jauh dari Sofi.


"Bicara apa? nggak ah gak bicara apa-apa gue, kenapa emang?" Sultan lupa dengan yang pernah dia ucapkan pada Rania.


Arya menceritakan apa yang dikatakan Rania pada dirinya dan Fatma soal berduaan bikin Dede baby. Dan itu di dapat dari Sultan.


Selesai Arya bicara, sultan tertawa hingga terpingkal, ha ha ha ... yang membuat Sultan merasa lucu adalah kalimat terigu dan telor.


"Jangan tertawa! apasih yang lucu?" Arya menatap datar pada Sultan yang masih aja tertawa.


"Ha ha ha ... kamu juga yang aneh, masa ngasih jawaban dari terigu dan telor. Terigu nya Fatma dan telornya kamu ya ha ha ha ...."


"Gue bingung mau ngasih jawaban apa dan itu yang di otak gue. Gue belum pengalaman bro." Jawab Arya sambil menepuk bahu Sultan untuk berhenti tertawa.


"Sorry-sorry? gue juga kan gak tau harus berkata apa kalau dia lagi ngoceh, kan gue bingung juga bro!" elak Sultan.


"Jangan ngomong yang aneh-aneh lagi lah sama dia. Gue belum parenting dalam menghadapi anak." Pinta Arya kembali menepuk bahu Sultan.


Sofi yang berdiri agak jauh dari Sultan dan Arya. Menatap mereka dengan rasa heran. "Ngomongin apa sih? mereka, dibilang serius. Tapi tertawa-tawa begitu." Monolog Sofi sembari menggerak kakinya bergantian untuk mengusir rasa jenuh.


Kemudian Sofi memilih untuk pergi mencari restoran, perutnya sudah pada demo minta makan.


Ketika masuk, ada Fatma dan Rania di barisan dekat jendela. Sedang duduk berdua sebab Arya memang masih bersama Sultan.


"Papa mana sih, Mam? lama amat ya?" Rania menggerutu.


"Mungkin sebentar lagi nyusul sayang," Fatma menenangkan. "Rania makan duluan aja, sayang."


"Ehem! boleh aku ikutan duduk di sini?" Sofi langsung saja duduk sebelum diijinkan pun ....


****

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya 🙏


__ADS_2