
Arya kaget bukan main, sontak berbalik ke belakang ada orang yang hendak menyerangnya. Tentu Arya tidak berdiam diri dia langsung menghindar dan balik menyerang dengan tendangan-tendangannya. Ditambah diberondong dengan pukulan mentah dari tangannya.
Bola mata Fatma melotot panik, napasnya seakan terhenti seketika. Melihat adegan itu di depan mata tidak mengerti maksud orang tersebut ingin melukai Arya. "Tolong ... tolong ...."
Wuuuuus ....
Wuuuuus ....
Wuuuuus ....
Tak terbayangkan jika senjata tajam orang tersebut mengoyak isi perut atau sekiranya mengenai dan menggores bagian-bagian tubuh Arya yang lainnya.
Arya berusaha menghindar dan mencari kesempatan tuk bisa membuang senjata tajam itu dari tangan orang tersebut. Hingga akhirnya tua mendapat celah tuk menendang tangan itu sampai senjatanya jatuh terpental. Kemudian.
Dugh ... dugh ... dugh ...dugh ....
Tendangan dan pukulan menghujani tubuh orang tersebut. Membuat lawan tak berkutik dan memohon ampun, serta berdiri terhuyung hendak kabur.
Namun tangan Arya yang besar langsung mencengkram kerah bajunya sambil membentak. "Kau suruhan siapa ha? dan bermaksud apa yang sebenarnya?"
"A-ampun tu-tuan. Sa-saya cu-cuma orang suruhan." Suaranya terbata-bata dengan tangan disatukan depan dada.
"Siapa yang menyuruh mu? katakan?" bentak Arya kembali.
"Sa-saya! disuruh--" ucapan orang tersebut menggantung dan keburu datang bodyguard dan scurity juga suster, akhirnya Arya serahkan penjahat tersebut pada scurity dan bodyguard Fatma, dibawanya beserta barang bukti.
Arya bernapas lega lalu melirik Fatma yang tampak tegang dan menutup wajah dengan sepuluh jarinya. "Huuh ..." membuang napas dari hidungnya.
Setelah menutup pintu dan membereskan barang yang berjatuhan. Membawa langkahnya mendekati Fatma yang ditenangkan oleh suster.
"Kamu tidak ke napa-napa?" selidik Fatma pada Arya selepas duduk di kursi yang tidak jauh darinya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tenang saja!" dengan senyuman yang menenangkan.
Fatma tak pernah lepaskan pandangannya dari Arya. Dan lama-lama Arya merasakan sesuatu dari tangan bagian atasnya, yang lama-lama terasa perih dan basah.
"Arya, kamu kenapa?" Fatma panik melihat Arya yang menyingsingkan lengan kaos hitamnya.
__ADS_1
Tampak tangan Arya mengeluarkan darah yang tidak ketara, sebab kaosnya berwarna hitam. Rupanya tadi mengenai senjata tajam dari penjahat tersebut.
''Sus. Tolongin dia sus?" pinta Fatma pada suster yang baru saja selesai mengecek tensi nya.
"Baik, nyonya." Suster segera keluar untuk mengambil obat dan kain untuk perban.
"Apa tidak kerasa?" Fatma kembali melihat ke arah Arya yang membuka bajunya. Lantas mengelap darah yang terus mengalir di lengannya. Arya hanya menggeleng dan fokus dengan lukanya.
Tubuh Arya yang kekar dan memiliki roti sobek di bagian perutnya terpampang jelas depan Fatma membuat yang melihat menelan saliva nya. Segera Fatma menundukkan pandangan ke lantai menyembunyikan perasaaan hatinya yang terus berdebar tak karuan.
Tidak lama suster kembali membawa yang dibutuhkan. Luka Arya segera dibersihkan lalu dibalut dengan perban.
"Makasih suster?" ucap Arya dengan senyuman termanisnya.
Fatma yang melihatnya merasa heran dengan perasannya. Ada rasa kesal mendapati senyuman Arya buat yang lain. tangannya meremas ujung baju dari balik selimut. "Kenapa dengan perasaan ku? rasa ini tidak boleh menguasai perasaan ku!" menggeleng.
"Bro, akhirnya ketemu juga ruangan ini. Dari sekian lama berkeliling mendaki gunung lewati lembah, akhirnya ..." suara seorang pria tinggi tampan dan tampak ramah masuk begitu saja ke ruangan inap Fatma.
Namun seketika pria itu tertegun melihat Arya bertelanjang dada dengan tangan bagian atas di perban.
Fatma mengangguk pada Sultan, ia pernah beberapa kali bertemu dia ketika Arya masih kuliah. Begitupun Sultan sering lihat Fatma apalagi sebagai pengusaha besar dan sering seliwiran di media, jelas Sultan kenal.
"Kau itu baru nyampe? kemana saja?" Arya malah bertanya dan menatap ke arah Sultan yang berdiri terpaku.
"Kan, sudah aku bilang. Aku kesulitan menemukan tempat ini, no kamu gak bisa dihubungi tahu. Aku sudah mendaki gunung dan lewati lembah yang untung tidak terbentang luas dan membawaku terdampar di sini." Sultan mengulang kata-katanya.
"Halah, bisa aja kau ini." Arya merogoh sakunya mengambil ponsel yang ternyata mati akibat belum di ces.
"Nih, kunci motor mu. Aku menyebut nama mu, anak yang punya rumah langsung ingin ikut, mau ikut ketemu Om ganteng katanya. Emangnya kau ganteng?" tangan Sultan memegang dagu Arya dan mengamati wajah Arya dari kanan dan kiri. "Perasaan lebih ganteng aku deh, tapi ... kalau badan menang kamu sih!"
Arya menepis tangan Sultan dari dagunya dan berdiri. "Nggak sopan benget. Apa gak lihat aku hensem begini ha?"
Fatma yang mendengar mesem dan nyaut. "Itu anak ku kali." Kurang yakin sebab ia tak tahu pasti Sultan mengambil motor dari mana?
"Anak perempuan gemuk dan lucu," sambung Sultan.
"Iya ... itu Rania anaknya beliau." menunjuk Fatma dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Entah lah, aku gak tau. Aku tanya kamu kenapa di perban segala? dia diperban. Kau juga diperban, kan aneh?" Sultan tetap masing merasa penasaran pada sahabatnya itu.
"Barusan, kena tusuk sedikit. Sudahlah jangan banyak tanya," ucap Arya sambil mengibaskan tangannya selepas berpindah duduk ke sofa.
"Apa? kena tusuk? kesalahan mu apa? menganiaya orang kah atau membawa kabur istri orang kah? kan harus jelas bro." Sultan mengikuti Arya duduk di sofa yang sama.
Manik mata Arya melotot pada Sutan, kemudian melihat ke arah Fatma yang menatap ke arahnya.
"Eit ... malah saling tatap, aku di cuekin. Gimana sih?" mengibaskan tangan tepat di depan muka Arya.
"Kau ini, asal ngomong ya? aku gak tau salah ku dimana? gak tau kesalahan ku apa? tau-tau dia datang dan ingin menyerang ku, kan aku juga gak ngerti bro." Elak Arya.
"Masa sih?" Sultan mengernyitkan keningnya.
Fatma perlahan turun dari ranjang dan meraih infusan dengan niat ke kamar mandi. Melihat itu Arya segera beranjak dan mendekati.
"Mau ke toilet kah?" tanya Arya pada Fatma yang malah menatap lekat pada dirinya. Tangan Arya meraih infusan yang di pegang Fatma.
"Aku bisa sendiri."Bala Fatma sambil melangkah dengan tertatih.
"Yu, ku bantu!" lengan Arya memegangi kedua bahunya Fatma menuju kamar mandi dengan langkah pelan. "Kuat gak jalannya?"
Fatma mengangguk. "Kuat." Ia malu kalau harus Arya gendong lagi, ditambah ada Sultan. Malu dan juga kasihan dengan kondisi tangan Arya yang terluka.
Sultan mengulum senyumnya seraya bergumam. "Ini mah bukan sebatas saudara, tapi bikin hati berbunga-bunga. Dasar ..." Sultan menggeleng pelan.
Arya antar Fatma sampai depan pintu, selanjutnya Fatma masuk sendiri dengan membawa kantong infusan ke dalam.
Seperti biasa, Arya berdiri di depan pintu menunggui Fatma selesai. Menoleh ke arah Sultan yang senyum-senyum sendiri.
"Kenapa, senyum-senyum sendiri? gak gila kamu?" mata Arya melotot pada Sultan.
Sultan hanya mencibirkan bibirnya tanpa membalas perkataan dari Arya. Terdengar derap langkah yang mendekati pintu dan tidak lama dari itu terdengar suara ketukan yang begitu nyaring ....
****
Aku mohon pada reader ku yang baik hati dan selalu menjadi pengikut setia ku. Terus dukung aku ya?
__ADS_1