Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Sayang Mama


__ADS_3

"Satu lagi, harus bisa berusaha lebih baik. Tidak boleh macam-macam, minum-minum gak boleh. Pokoknya akan banyak peraturan buat kamu." Tambah Renata.


"Cek! sayang ... banyak banget larangan yang kau buat." berdecak kesal.


"Terserah, kalau gak mau merubah diri terserah." Renata beranjak dan meninggalkan meja tersebut.


Doni berdiri dan mengejar Renata yang sebelumnya menyimpan uang di bawah piring. ''Sayang! tunggu?"


"Kamu gak perlu mengejar ku, buat apa juga kamu nikah dengan ku? kalau kebiasaan buruk mu itu tak mau dirubah." Renata menepis tangan Doni yang menangkapnya.


"Sayang, kok ngambek sih? oke aku akan buktikan kalau aku akan berusaha seperti yang kamu mau--"


"Aku gak mau kamu menjadi yang aku mau, kau maunya kamu menjadi diri sendiri namun lebih baik dari sebelumnya, sebab aku tahu seperti apa kamu? dikala di belakang ku!" lanjut Renata. Berjalan di pinggir jalan.


Geph!


Doni menangkap tangan Renata sangat erat. Sehingga Renata berontak pun tangan itu terkunci.


"Lepas, kamu gak sayang sama aku." Renata terus berjalan namun Doni tarik hingga tubuh Renata berbalik dan menabrak dada Doni.


Keduanya saling tatap dan Doni menatap tajam. "Aku bilang, masuk mobil? dengan nada garang. Lalu menuntun Renata dimasukannya ke dalam mobil. Doni mengitari mobilnya setelah Renata duduk di depan sebelah setir.


Doni mendudukkan dirinya belakang kemudi. Melirik Renata yang membuang muka kelaut jendela, tampak marah dan rahangnya mengeras, bibirnya manyun membuat bibir Doni tersenyum melihatnya gemas.


"Aku tahu yang harus aku lakukan setelah menjadi suami mu nanti, jadi gak perlu di atur! sebab aku tahu aturan sendiri. Tenang saja kalau aku gak mungkin terus seperti masih bujang." Lirihnya Doni.


Renata tidak menjawab. Dia terdiam sambil melihat keluar malas melihat Doni. Ditambah mengingat barusan berbicara dengan nada garang.

__ADS_1


Doni membawa mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Renata. Renata sibuk membalas chat dari sang ibunda yang menanyakan keberadaannya dimana?


"Siapa sayang yang ngechat kamu itu?" tanya Doni penuh curiga.


"Bunda," jawab Renata tanpa menoleh.


Doni terus melakukan mobilnya dan bertekad, malam ini harus bertemu orang tua Renata apapun yang terjadi. Sekalipun di hajar! seumpamanya.


...****...


Semakin hari, Rania semakin dekat saja dengan Arya. Kalau gak tugas, Rania Arya ajak jalan-jalan atau Arya bawa ke apartemennya. Tentunya dengan ijin sang bundanya, Fatmala.


Seperti saat ini Rania sedang berada di apartemen Arya sedang bermain boneka-bonekaan di lantai. Sementara Arya sedang mencuci pakaian dan beres-beres kamar.


"Om, sedang apa sih? Rania main sendiri nih." Pekik gadis kecil itu mungkin merasa bosan sendiri.


Hening!


"Rania bantu, Om ya?" tiba-tiba suara itu dari belakang Arya yang sedang mengganti seprei.


Kepala Arya menoleh. "Mau bantu apa sayang?"


"Apa saja, Rania juga bisa kok," anak itu mengambil bantal yang Arya simpan di sofa untuk ditata di atas tempat tidur.


"Em, makasih Rania? pinter deh." Arya tersenyum dan menyambut bantal dan guling yang Rania bawakan.


"Sama-sama Om." Kemudian anak itu mendekati meja kecil yang berada dekat ranjang. "Wah ... cantik sekali aunty ini, Om." Gumamnya.

__ADS_1


"Ha?" Arya kaget siapa yang Rania maksud. Arya menghampiri, ternyata Rania memegang vas foto yang ada gambar Renata nya.


"Om, aunty ini cantik ya?" ulang anak itu menatap intens gambar tersebut.


"Ooh, itu. Iya." Arya mengangguk. "Sudah masukan saja ke dalam lacinya," pinta Arya.


"Kenapa gak di pajang, Om?" tanya anak itu menatap heran.


Arya berjongkok. "Em ... mau Om ganti dengan foto Rania, boleh?" Arya mengusap pipi Rania lembut.


"Hore! boleh dong, sama mama dan Om juga ya? bertiga." Rania bersorak dan bertepuk tangan merasa girang mendengar Arya mau pajang fotonya.


Sejenak Arya terdiam menatap lekat anak itu. "Kalau maunya Rania seperti itu sih boleh, nanti Om bikinkan."


Wajah anak itu dengan drastis berubah sedih. "Emangnya Om ganteng gak sayang ya sama mama?" menunduk dalam.


"Eh, bukan begitu sayang, Om sayang juga sama mama. Siapa bilang Om gak sayang? sayang kok," ucap Arya sambil mengangkat dagu anak itu yang tampak sedih.


"Bener, Om sayang sama mama?" selidik Rania menatap penasaran dan menunggu jawaban dari Arya yang menggigit bibir bawahnya.


"Sayang dong ... sayang banget malah, Om ganteng sayang banget sama mama Rania lho!" suara pria dari balik pintu kamar sok tahu.


Spontan Arya menoleh dan berdiri, rupanya Sultan yang entah dari kapan datangnya? tau-tau sudah berdiri di sana. "Apaan sih?"


Rania menoleh ke arah Sultan yang memberi jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan pada Arya ....


****

__ADS_1


Reader ku jangan lupa like komen dan vote nya ya? makasih🙏


__ADS_2