
Arya menatap ke arah Fatma yang berjalan menuruni anak tangga lalu berhenti melihat ke arahnya. Netra mata Arya dan Fatma bertemu, saling tatap satu sama lain begitu lekat.
Arya menelan saliva nya. Mengagumi sosok Fatma yang dinilai sempurna. Pakaian tidur selutut yang sangat cocok di tubuhnya, kakinya yang jenjang nan mulus terekspos begitu saja.
"Ehem," Sultan berdehem melihat Fatma dan Arya begitu anteng saling pandang.
Kemudian Arya menunduk sambil bergumam. "Astagfirullah ... mata ini terlalu menikmati ke indahan ciptaan mu ya Allah." Matanya sekilas melirik ke arah Sultan.
Sementara Bu Wati dan pak Wijaya hanya menunjukan senyumnya. Lalu melihat ke arah Fatma yang jalan nya masih sedikit tertatih.
"Mau Ibu bantu Fatma?" tanya Bu Wati menatap Fatma yang kini melanjutkan langkahnya.
"Nggak, Bu. Aku bisa sendiri." Fatma menggeleng dan pada akhirnya sudah menapaki lantai dasar. Karena gak makan, Fatma memilih duduk di sofa ruang keluarga.
"Set, samperin dia! sebelum pulang." Sultan setengah berbisik pada Arya yang terdiam menatap kosong gelas yang di tangannya.
Arya menoleh pada Sultan. "Ha? apa sih?"
"Ck! iih ... malah nanya. Ajak ngobrol Napa sih? kaya baru kenal aja, kaku! heran gue. Kenal sudah bertahun-tahun juga." Sultan berdecak kesal dengan suara pelan dan nyaris tak terdengar.
"Eh, gimana kalau kita lanjut ngobrolnya di ruang tengah?" ajak pak Wijaya sambil berdiri lalu menggeser kursi bekasnya duduk.
Arya dan Sultan mengikuti tuan rumah yang lebih dulu berjalan menuju sofa. Sultan duduk selonjoran menjadikan sofa panjang cuma cukup dirinya sendiri.
Bu Wati dan suami duduk berdua di sofa yang cukup berdua. Arya berdiri merasa bingung mau duduk dimana? dan yang ada tempat duduk cuma sofa yang di duduki Fatma.
__ADS_1
Arya menatap ke arah Sultan yang tidak sopan duduk selonjoran kaki. "Kurang ajar nih anak gak ada sopan-sopan nya," batin Arya.
"Duduk, AA?" ucap Bu Wati yang kini mulai panggil Arya dengan sebutan AA.
Fatma juga mendongak melihat Arya berdiri saja dan sedikit menggeser posisi duduknya.
"I-iya." Arya duduk bersebelahan dengan Fatma. Jantung nya mendadak mau lompat, saking kuatnya berdegup sangat kencang.
Begitupun Fatma, terlihat gelisah dan salah tingkah. Duduk berdekatan dengan Arya.
Sultan yang melihat Arya dan Fatma duduk berdekatan, langsung menurunkan kakinya dan dengan isengnya menyalami Arya dan Fatma semacam orang kondangan memberi selamat pada kedua mempelai. "Selamat ya? semoga menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah."
Sontak Arya, Fatma tersipu malu sambil menyambut tangan Sultan, dan tidak berhenti di sana saja. Sultan juga menyalami pak Wijaya dan Bu Wati bergantian. Mereka tertawa lucu dengan tingkahnya Sultan.
"Sama-sama, makasih atas doanya." Balas pak Wijaya sambil bersalaman.
"Oya, silakan makan-makan dulu?" sambung Bu Wati dengan wajah yang berseri-seri dalam menerima tamu.
"Ooh, makasih. Nanti perut saya meledak akibat kebanyak makan." Sultan mengusap-ngusap perutnya. "Terima kasih-terima kasih banyak."
"Kalian apa-apaan sih?" Fatma mesem-mesem. Menunjukan senyumnya yang manis.
Arya menggeleng. "Maklum, Kak. Jiwa jomblo nya Sultan lagi meronta. Ha ha ha ...."
Sultan duduk kembali dan melotot seolah tidak terima dibilang jomblo. "Apa? gue jomblo? enak bener kau ngomong bro, suka bener. Ha ah ha ...."
__ADS_1
Arya dan Fatma saling lirik dan menggeleng, kedua bibirnya sama-sama tersenyum.
"A, gimana sudah dapat ganti belum?" tanya Bu Wati pada Arya.
Arya yang tidak mengerti mengerutkan keningnya. "Maksud Ibu?"
Bu Wati dan sang suami saling bertukar pandangan. "Itu, kan sudah putus dengan tunangannya. Sekarang sudah dapat pengganti belum?" ulang bu Wati.
Degh!
Fatma tidak menyangka kalau Arya sudah memutuskan pertunangan dengan Renata. Fatma menatap ke arah Arya yang berada di sampingnya.
Netra mata Arya menatap lekat pada kedua orang tua Fatma. seraya berpikir tau dari mana mereka soal putusnya hubungan dirinya dan Renata. "Em ... itu. Soal itu ... belum." Lalu menunduk.
"Carikan dong, Yah. Kasian jomblo nah." Sultan nimbrung.
"Mau gak sama putri Ayah, Fatma?" selidik pak Wijaya sambil tersenyum namun serius.
"Ayah, apaan sih? kaya barang aja." Wajah Fatma mendadak merah merona mendengar ucapan sang ayah.
"Uuh, mau banget. Saya mau banget Ayah mertua. Euh! siapa sih yang gak mau sama kak Fatma ini, sudah cantik. Mandiri, pengusaha pula. Pasti banyak yang merebutkan nya," ungkap Sultan dengan gaya khasnya.
"Tapi, seperti yang AA tau. Fatma sudah punya buntut, jadi paket lengkap," lanjut pak Wijaya setelah melihat ke arah Sultan dengan senyumnya yang suka dengan gaya bicara Sultan ....
****
__ADS_1