Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kangen papa


__ADS_3

Kini Fatma sudah berada di tempat tidur. Dengan posisi yang sangat menggoda pasangannya bila melihat.


Benar saja, Setelah Arya kembali dari kamar mandi, langsung menerkam buruannya. Bak kucing lapar melihat ikan yang siap santap.


Dia yang sudah siap berpetualang, tentu tidak butuh waktu untuk menaikan hasratnya.


Kesukaannya traveling, menjadikan dia selalu menyiapkan mental untuk melakukan perjalanannya.


Dalam waktu yang singkat, kain berenda merah muda itu melayang entah kemana dibarengi dengan milik Arya yang terbuang begitu saja.


Kini Arya siap berenang di sebuah pulau kecil yang tenang, nyaman dan airnya membawa kenikmatan tersendiri bagi penikmatnya.


Bagai menyelam di air yang dangkal, Arya harus hati-hati agar tidak mencemari alam sekitar, atau ... agar keindahan pulaunya tetap terjaga.


Fatma pun tidak mau kalah dan bertingkah sangat agresif untuk mengimbangi sang suami yang begitu terbakar untuk meluapkan hasratnya tersebut.


Apalagi tadi ketika di apartemen, Arya sedang berjalan teratur dan langkah yang lebar, dengan tidak tidak sengaja Arya melihat pasutri tengah bercinta di dalam ruangan yang pintunya terbuka, mungkin mereka lupa atau memang sudah tidak kuasa menahan! sehingga membiarkan pintu terbuka begitu saja.


Sehingga Arya dengan perlahan menutup pintu tersebut. Walau mungkin itu tidak sopan untuk Arya melakukannya, namun untuk menghindari lebih banyak nya orang melihat adegan tersebut. Ya mendingan Arya tutup pintunya, mungkin bisa juga dibilang berbuat sedikit kebaikan.


Makanya ketika pulang, dan melihat sang istri yang berpenampilan menggoda, semakin menggugah hasratnya untuk melakukan yang sama.


Masih mending sekarang, kalau melihat sesuatu yang aneh. Bisa meluapkan dengan tempat yang tepat atau halal.


Kalau dulu sih, cuma bisa berpuasa dan berpuasa, bila tidak sengaja melihat yang aneh-aneh itu. Sebab belum ada pasangannya, tetapi sekarang Arya merasa lega! toh sudah punya tempat untuk meluah kan seandainya sewaktu-waktu jiwa lelaki nya punya keinginan dan meronta.


Kini pergulatan sengit semakin panas dan kian menegang, membuat keringat pun bercucuran dari kedua tubuhnya.


"I love you?" bisik Arya tepat di telinga Fatma.


"I love you too!" balas Fatma tak kalah pelan dan terdengar syahdu.


Sampai dua jam lamanya mereka menikmati permainannya itu. Sehingga beberapa kali merasakan puncaknya dan berakhir gold, Beberapa kali juga mereka merasa melayang di awanan.


Permainan barulah berakhir ketika merasa tubuh keduanya sangat lelah, capek.


Tubuh Arya ambruk di atas dada Fatma, lalu mengecup kening sang istri berkali-kali sebagai ungkapan terima kasih yang sudah memberikan kepuasan yang selalu membuat candu baginya.


Tangan Fatma membelai rambut Arya sangat lembut dan mesra. Dengan napas keduanya yang masih memburu serta suara yang terdengar berat.


"Terima kasih sayang? aku sangat bahagia dan tidak ingin kebahagiaan kita berakhir, Kita harus bersama selamanya." Seru Arya, membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan menarik selimut agar lebih ke atas.


"Sama-sama yang ... aku juga ingin kita sampai menua bersama hidup bahagia dalam keadaan apapun," balas Fatma dengan lirih seraya menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Iya, begitu juga keinginan ku. Menikmati masa tua bersama anak-anak kita yang tampan, cantik. Pintar, sholeh dan Sholehah." Arya membayangkan mempunyai putra dan putri yang Sholeh dan Sholehah.


"Yang ... rasanya aku ingin periksakan diri ke dokter--"

__ADS_1


"Kenapa? sayang sakit?" Arya melonjak naik, kaget. Khawatir sang istri sakit.


"Nggak, cuma ... kadang aku merasa pusing dan mual." Kata Fatma sambil mengeratkan pelukannya.


Arya kembali berbaring di tempat semula. "Apa ... sayang hamil?" lirih Arya sembari mengecup pucuk kepala sang istri.


"Nggak tahu, kan belum periksa! lagian ketika dulu hamil Rania, gak pusing atau mual. Kalau lemes. Dan ingin makan uang asam-asam, iya." Fatma mendongak.


Arya yang sudah ngeplay sesudah hubungan barusan, jelas dengan cepat diserang rasa kantuk yang berat sehingga dalam hitungan detik saja sudah tertidur lelap.


"Cie lah ... sudah bobo aja?" gumam Fatma sambil menggeleng.


Lalu ia pun berusaha memejamkan matanya, mengingat malam pun sudah semakin larut. Bahkan semakin menuju dini hari.


Malam yang semakin dingin. Membuat tidur semua orang semakin lelap dan dingin pun kian menyelimuti semua tubuh, sehingga orang-orang menarik selimutnya membalut tubuh.


Arya terbangun, seketika mendengar sayup-sayup suara adzan yang merdu mengalun indah. Menggeliat nikmat serta memicingkan matanya melihat ke samping, di sana ada bidadari yang masih tertidur lelap.


Bibir Arya mesem-mesem sendiri menatap wajah sang istri yang tampak cantik dengan keadaan natural seperti ini.


Netra nya bergerak melihat ke bawah, lalu membenarkan selimut agar menutupi bagian dada sang istri. Cuph! mengecup keningnya lembut.


Tubuh Fatma bergerak sambil menguap. "Huam ... sudah subuh ya?"


"Baru saja, bangun yu? mandi bareng!" sambil membelai rambut Fatma nan mesra.


Fatma duduk sambil menjepit selimut di ketiaknya. Mengusapkan kedua tangan ke wajahnya itu. Beberapa kali menguap dan menggosok kedua netra nya.


Arya yang sudah berdiri dan memakai celana pendeknya, lantas memberikan pakaian Fatma untuk di pakainya.


Fatma pun segera mengenakannya. Lantas menurunkan kedua kakinya menapak di lantai. Tubuh berasa sakit atau remuk bila saja sudah merasakan gimana namanya remuk itu.


Tangan Arya meraih tangan Fatma di tuntun nya ke kamar mandi. Fatma hanya mengikuti langkahnya Arya dengan senyuman bahagia di bibir.


Setelah membersihkan diri, keduanya menunaikan subuh berdua dengan penuh khusu. Berdoa meminta kebaikan untuk rumah tangga yang kini dijalani.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Pah, Papa dah pulang, kan?" suara Rania sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Arya dan Fatma yang baru selesai berucap Aamiin. Saling bertukar pandangan.


"Mam ... di dalam ada papa ya? buka, Rania kangen papa!" Rania terus menggedor daun pintu.

__ADS_1


Fatma hendak berdiri untuk membuka pintu. Namun Arya sudah lebih dulu beranjak dan berkata. Tumben banget pagi-pagi buta begini anak itu sudah bangun?


"Biar, Aa saja yang buka." Kata Arya sambil melangkah dengan masih menggunakan sarung dan peci.


Ckleki


Blak! pintu Arya buka dan tampak si gadis kecil berdiri, manik matanya yang bening menatap tajam ke arah dalam kamar.


Netra nya Rania melihat sang bunda yang sedang bersimpuh di atas sejadah dengan mukenanya yang berwarna putih sutera. Kemudian mengedarkan pandangan kembali ke arah Arya yang berdiri memakai sarung, peci. Jelas baru selesai salat.


"Papa, kenapa gak temui Rania? kan tau Rania juga kangen sama Papa! bukan mama aja?" anak itu nada bicaranya serius amat.


Arya mengulas senyumnya, lalu berjongkok. "Sayang ... belum sempat, sebab Papa pulangnya tengah malam sekali. Tanyain sama mama." Sambil menoleh ke arah sang istri yang langsung mengangguk.


"Atau, tanya Bu Ina kalau Rania masih tidak percaya. Kalau Papa malam sekali pulangnya," tambah Arya kembali.


Rania hanya menatap, dengan netra yang bergerak-gerak mencari kebenaran dari sang papa sambung.


Brug! Rania memeluk Arya sangat erat sambil berkata. "Rania sangat kangen Papa?"


Arya pun membalas pelukannya Rania, lalu mengusap punggung anak itu dengan halus. "Papa juga kangen sama anak papa yang satu ini!"


Fatma yang menyaksikan itu tersenyum penuh haru. Saat ini terlihat jelas kalau Rania masih begitu dekat dengan Arya sebagai papa sambung, ketimbang dengan Aldian yang papa kandungnya.


Mungkin juga sebab jarang bertemu dan dulunya memang tidak terlalu dekat, ditambah dengan terpisahnya Fatma dan Aldian serta jeruji besi yang menambah semakin jauhnya hubungan mereka berdua.


Kemudian Rania memudarkan pelukannya. "Papa, pokonya jangan pergi atau pulang Rania gak tau. Rania harus tahu."


"Iya, Papa janji deh. Kalau pulang kerja biarpun tengah malam, Rania sedang bermimpi pun Papa harus bangunkan, gitu kan?" tutur Arya lembut sambil mencium kening Rania.


"Kalau ... Rania nya gak bangun gimana, Pah?" tanya Fatma sembari berdiri membuka mukenanya.


"Seandainya Rania sedang bermimpi, Papa akan siram aja dengan air satu ember biar bangun Mam." Canda Arya sambil tertawa kecil.


"Iih, gak mau. Gak mau disiram gak mau." Rania menggeleng dengan rengekan manja.


"Terus gimana dong? kalau Papa pulang ketika Rania sudah bobo nyenyak!" Arya berlagak bingung.


Rania terdiam seakan memikirkan sesuatu, sementara Arya dan Fatma saling pandang dengan kening yang saling mengernyit dan bibir menunjukan sebuah senyuman yang sulit di artikan ....


.


.


.


Terima kasih para reader ku yang sampai saat ini masih setia🙏

__ADS_1


__ADS_2