Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Menembus langit


__ADS_3

Seperti yang diucapkan oleh Arya sebelum ke mushola. Aya membelikan makan siang untuk Adi dan kawannya sehingga kedua orang itu begitu sangat senang dengan kebaikan Arya. Menurut mereka Aldian aja tak sebaik dulu sewaktu waras. Apalagi sesudah gila.


"Padahal tidak perlu repot-repot Tuan. Kami bisa membeli sendiri toh uang gaji kami cukup kok dari Nyonya muda," ucap Adi mengangguk hormat pada Arya.


"Sudah, jangan menolak rejeki. Pamali." Balas Arya sambil menepuk bahu mereka. "Oya, saya sebentar lagi mau pulang. Ada tugas! mohon bantuannya jangan sampai terulang kejadian yang sama lagi." Pinta Arya dengan memohon dan tak lepas dari senyumnya.


"Iya, Tuan. Kami meminta maaf kami telah lalai menjaga majikan kami sendiri." Adi menyesal mengakui kelalaiannya.


"Sudahlah, oke selamat makan. Saya mau pamit ke dalam dulu." Arya melangkah meninggalkan mereka berdua menuju pintu ruangan Fatma namun ternyata Fatma tengah tertidur nyenyak.


Arya cuma melihat dari jauh dan duduk di kursi dekat jendela. Namun sepersekian waktu, Arya beranjak dari duduknya bersiap pulang. Sebelum melangkahkan kakinya Arya mengirim pesan pada ponsel Fatma sekedar pamitan.


Kemudian Arya berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Di depan pintu, Arya berdiri menatap Adi dan kawannya. "Pak, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati Tuan." Adi mengangguk.


Arya melanjutkan langkahnya menuju lift untuk sampai di lantai dasar. Ting! pintu terbuka dan di sana bertemu suster yang menangani fatma.


Dengan ramah wanita itu menyapa Arya yang menunjukan senyumnya. "Mau kemana Mas?"


"Mau pulang dulu, titip pasien ya?" Arya seraya mengangguk.


"Pasien yang mana, Mas? kan pasien saya banyak." Seringainya menggoda.


"Ah, suster bisa aja. Mari?" Arya melintasi pintu lift yang terbuka dan berada di lantai dasar.


Suster berdiri dekat pintu menatap punggung Arya. "Uuh! sudah ganteng ramah dan perhatian sekali. Tuhan ... sisakan satu ... aja untuk ku pria macam dia." Gumamnya.


Arya setengah berlari menuju parkiran dimana motornya berada, tidak lupa mengenakan helm lanjut melajukan sepeda motornya menuju unit apartemennya. Disepanjang jalan Arya mungkin kurang fokus pikirannya bercabang-cabang sehingga beberapa kali hampir saja motonya nyenggol kendaraan lainnya.

__ADS_1


"Astagfirullah ..." gumamnya Arya sambil menepikan motornya di pinggir jalan yang agak sepi.


Membuka helmnya sebentar. "Astagfirullah ... apa sih yang aku pikirkan? sehingga aku gak fokus macam ini." Menghela napas panjang dan mengusap wajahnya beberapa kali.


Sebentar terdiam di tempat tersebut. Menatap langit dan suasana sekitar, langit mulai gelap awan kelabu menghiasi. Kemudian Arya membuang napasnya melalui mulut, lalu menggigit bibirnya mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Kembali menggunakan helem dan bersiap membawa kuda besinya menuju pulang.


Selang beberapa waktu sampailah di area unit apartemen yang berada di kawasan elit tersebut. Arya mengayunkan langkahnya yang lebar dan berjalan tampak kurang semangat, tangannya mengambil kartu akses apartemen dari saku celana lalu mengarahkan dan ceklek!


Pintu di dorong membuka setengahnya. Di dua langkah pertama Arya berdiri mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan tersebut.


Di meja yang berada di sudut jendela terpajang foto dirinya dan Renata tengah merangkul bahu satu sama lain. Berjalan mendekati serta diambilnya dan ditatap lekat, terasa sakit dan dadanya begitu sesak pula. Mengingat pengkhianatan yang Renata lakukan.


"Apa salah ku? sampai kau tega khianati aku? maaf atas segala kekuranganku selama ini. Mungkin aku tak seperti yang kamu mau." Monolog Arya, pigura itu ia buat tengkurep agar gambarnya tak terlihat. Duduk lesu di sopa mengacak rambutnya sehingga terlihat kacau.


"Aku percaya bahwa kau setia, tapi nyatanya tidak. Aku persiapkan semua untuk masa depan kita tapi semua sia-sia, kamu hancurkan semua! kamu hancurkan semua Rena." Arya memukulkan lengannya ke sofa.


"Teganya kamu bikin aku kecewa." Bibir Arya bergetar menahan emosi yang meluap-luap sendiri.


Pigura fotonya dengan Renata dihempaskan ke lantai. Pecah berkeping fotonya lepas dari tempatnya. Arya ingin menangis namun air mata pun sungkan tuk keluar hanya batin yang menangis pilu, kacau dan rapuh. Itulah kata-kata yang tepat untuk Arya saat ini. Namun ketika ingat tugas, ia segera bangkit dan menarik napasnya panjang, keluarkan. Tarik lagi buang lagi begitulah yang saat ini Arya lakukan sebagai cara membuang semua beban di dada.


Sore-sore Arya sudah berada di kantor, berada di ruang meeting. Arya berusaha bersikap baik-baik saja gak mungkin kali ini ia cancel lagi. Setelah kemarin digantikan sama orang lain.


"Hi, bro sudah pamit belum sama ibu negara?" suara Sultan sembari menepuk pundak Arya.


"Ooh, sudah." Singkat dan pura-pura membaca buku panduan.


"Hem, kali ini siap terbang?" selidik Sultan setelah ia perhatikan Arya tampak berbeda.


Dengan cepat Arya menoleh pada Sultan dengan nada serius ia berkata. "Siap, bro. Siap!"

__ADS_1


Terlihat Sultan menghela napasnya yang mendadak berat.


"Kenapa?" Arya melirik.


"Nggak, kayanya ada yang berat nih," sahut Sultan lalu mengobrol dengan yang lain rekan pramugara juga.


"Berat apaan?" selidik Arya merasa aneh.


"Berat, meninggalkan Ibu Negara." Sambil berdiri bersiap jalan.


"Hah, dasar ... sok tau lho." Arya menyusul dan berjalan barengan dengan kapten Wisnu lagi.


''Gimana kabarnya baik kapten?" sapa kapten Wisnu pada Arya dengan ramahnya.


"Insya Allah baik, kapten bagaimana?" tanya balik Arya.


"Tentunya baik, sebaik mungkin." Jawabnya. Arya pun mengangguk, sebagai yang mengerti mesin Arya pun ikut mengecek body mesin pesawat yang akan mereka bawa agar tak ada kendala nantinya.


Setelah persiapan selesai semua awak bersiap-siap di dalam mengerjakan semua tugasnya sambil menunggu semua penumpang masuk dan duduk manis di kursinya masing-masing. Arya sudah bersiap di belakang kemudi bersama kapten Wisnu.


Pukul 19.45 wib. Pesawat bersiap take-up perlahan badan pesawat naik-naik dan semakin naik dan naik lagi sehingga melayang terbang, meninggalkan landasannya menerbangkan kedua sayap di udara melintasi awan menembus langit.


Begitupun hati Arya yang ingin terbang meninggalkan ruang hati Renata menembus langit mencari sebuah bintang yang sanggup menjadi penerang hati Arya yang gelap dan sepi tanpa penghuni.


Walau pikiran Arya kacau. Hati sunyi sepi, terluka alias patah hati namun kali ini ia harus konsisten demi tugasnya. Demi masa depannya, hati boleh menangis namun bibir harus tetap tersenyum. Batin boleh berduka namun bibir mesti tetap tertawa. Hati boleh hancur berkeping tapi hidup harus tetap berjalan karena perut tak kenyang dengan kata sakitnya batin.


Setelah sekian lama mengudara, pesawat akhirnya bersiap landing. Turun-turun perlahan menapakkan rodanya di atas landasan yang Alhamdulillah tak sedikitpun mengalami kendala dan cuaca malam ini pun. lumayan bagus ....


****

__ADS_1


Buat penggemar BSH mohon maaf, akan di pending dulu, namun gak perlu kecewa sebab aku mau nabung bab dulu 🙏


__ADS_2