Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mau lahiran


__ADS_3

Di sebuah tempat, di meja bundar yang di kelilingi Arya, Wisnu dan Sultan. Tengah menyantap makan malamnya dengan lahap tapi Arya malah termangu melihat makanan tersebut.


Wajah Sultan mendekat pada piring milik Arya dan mengarahkan pandangan ke sana dengan seksama. "Perasaan tuh makanan gak ada apa-apanya, kok kami pandangi terus begitu bukannya di makan?" menatap ke arah Arya yang menunduk mengaduk-ngaduk makanannya.


"Iya, kenapa? tumben gak selera makan? ingat! hidup itu butuh tenaga." Timpal kapten Wisnu ikutan bicara di sela mengunyah makanan di mulutnya.


Wajah Arya mendongak dan mengulas senyumnya. "Entah kenapa jadi kurang selera aja nih."


Keadaan hati Arya memang sedang tidak baik-baik saja, sehingga mungkin karena itu juga nafsu makannya berkurang.


"Hem aku kira ingat sama Ibu Negara." Celetuk Sultan sambil menggigit ayam goreng.


"Siapa tuh? jadi Cepo nih!" selidik Wisnu sembari mengerutkan keningnya. "Tunangannya ya?"


"Bukan, lain. Dia saudara angkatnya," sahut Sultan dengan ringannya.


"Oya, kenalin dong!" timpal Wisnu, tangannya menggenggam gelas yang masih berisi air minum.


"Apaan sih?" ucap Arya. Tapi ada benarnya juga, Arya jadi ingat makan pancake berdua, sarapan bubur juga berdua. Wadah yang sama dan sendok itu-itu juga, akhirnya Arya mesem-mesem seraya menggeleng.


"Tuh, kan lihat. Dia mesem-mesem sendiri! tanda sedang berbunga-bunga hatinya." Kata Sultan lagi.


Wisnu cepat menoleh ke arah Arya. "Sepertinya sih ... hatinya sedang bercampur aduk! kayanya sedang dihinggapi berbagai rasa macam nano-nano gitu."


"Ha ha ha ... macam peramal saja nih kapten." Arya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Em ... mungkin, kayanya ada sedihnya ... bahagia juga ada ... ya gak kapten?" Sultan melirik pilot Wisnu yang langsung mengangguk.


Dalam seketika Arya tertegun mendengar perkataan kawan-kawannya itu. Memang benar adanya. Ingin sekali bercerita agar semua tidak menumpuk di benaknya, namun lidahnya terasa kelu, bibir terkunci berat tuk bercerita.


"Apa kau ada masalah? cerita lah sama aku!" Sultan menyenggol tangan Arya.


"Aku makan dulu lah!" Arya malah memasukan daging ke mulutnya.


"Eeh! di tanya malah makan, tadi di pelototi." Sultan menggeleng lalu menyedot minumnya.

__ADS_1


"Tan, cerita juga butuh tenaga. Biar sajalah lagian kasian tuh nasi kalau cuma di aduk-aduk tanpa dinikmatin. Ibarat wanita cuma di pacari ujung-ujungnya gak di halalin, lah kasian!" timpal Wisnu.


"Betul-betul, betul. Tapi lah gue gak punya pacar, apalagi ngehalalkan, nasib-nasib." Keluh Sultan.


Selesai makan, Arya menyedot minumnya. Lalu melihat jam di tangannya. "Yu balik ke pesawat." Ia Beranjak dan mengambil handphone nya dari meja.


"Lah, kapan ceritanya?" Sultan mendongak pada Arya yang malah berlalu.


Sultan dan Wisnu mengekor dari belakang dan diperjalanan bertemu dengan para awak pesawat lainnya.


"Eh! bro ngomong-ngomong Sofi gak pernah ke apartemen mu lagi?" tanya Sultan sembari berjalan.


"Entah, kan kamu tahu beberapa hari ini aku jarang ada di unit," sahut Arya tanpa menoleh.


"Oh, iya, ya!"


"Kangen, temuin dong. Siapa tahu gayung bersambut," sambung Arya.


Sultan mengejar langkah Arya sehingga kini langkahnya menjadi sejajar. "Bantuin dong! comlbangin gitu, deketin gitu! ya-ya please?" rajuk Sultan.


Langkah Arya terhenti dan menoleh pada Sultan dan ditatapnya lekat-lekat, lalu menghela napasnya. "Bila iya ada niat baik ... bicara sendiri. Kalau melalui orang, takutnya gak serius, tentunya aku yang malu."


"Oke, lain kali aku bantu ya? sekarang ini hati aku lagi kurang baik." Arya kembali meneruskan jalannya.


"Kau ada masalah apa bro? cerita dong ... jangan dipendam sendiri," Sultan sedikit memekik.


"Tan-Tan," tangan Wisnu memegang bahu Sultan. "Mungkin Arya butuh waktu, butuh ruang untuk menyimpan masalahnya sendirian. Biarkan saja dulu."


Sultan terdiam, menatap ke arah Wisnu dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Kini Arya sudah berada di tempat tugasnya menghadapi mesin dengan pesawat dengan segala peralatannya.


"Saya kagum sama kamu, kamu cukup profesional. Walau sepertinya kau tidak baik-baik saja tapi ... kau tetap menjalankan tugas dengan baik," puji Wisnu sembari menatap ke arah Arya.


Arya terdiam, lalu menoleh namun tidak satu katapun yang terucap dari bibirnya. Ia hanya bisa menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


"Saya tahu kamu tidak sedang baik-baik saja. Meskipun tak kau ceritakan, yakinlah ada jalan keluar yang terbaik dari masalah mu itu. Apapun itu," sambung Wisnu.


Arya mengangguk pelan. "Terima kasih kapten?"


Kemudian pesawat bersiap take-up kembali ke kota asal. Dari mulai dataran rendah sampai tertinggi, burung yang terbuat dari bahan besi itu melayang-layang di udara. Mengikuti arah yang sudah di interuksi kan.


"Pesawat dengan boeing L512 siap mendarat."


Perlahan si burung besi turun mendarat dan akhirnya pesawat landing dengan sangat sempurna.


Terdengar suara riuh dari belakang. Arya pun segera melihat untuk memastikan ada apakah gerangan.


"Ada yang mau melahirkan, ada yang mau melahirkan di sana."


"Dimana?" Arya segera menghampiri.


Seorang ibu yang hamil besar dan nampaknya sudah tidak kuat berdiri dan sudah mengalami pecah ketuban. Di tenangkan oleh beberapa pramugari.


kedua netra mata Arya celingak-celinguk mencari pendampingnya. "Bawa ke Rumah sakit terdekat. Panggil ambulan."


Kemudian Sultan memanggil ambulan dari rumah sakit terdekat.


"Suaminya mana? pendampingnya mana?" selidik Arya lagi.


"Sepertinya ibu ini tidak beserta suami kapten." Jawab salah satu pramugari tersebut.


Arya berjongkok dan memegangi tangan ibu tersebut. Dia tampak lemah dan ingin segera lahiran wajahnya sangat jelas menderita. "Suami nya mana? ibu di sini sama suami?"


Namun wanita itu menggeleng sambil menahan sakitnya. Menggigit bibirnya dan mata terpejam.


Ngeri! riuh suara ambulance sudah terdengar dan semakin mendekat. "Oke, ambulan sudah datang." Arya menoleh pada Sultan dan rekannya yang lain. "Tolong bawakan semua barang ku. Aku mau mendampingi wanita ini ke rumah sakit.


Dengan sedikit meminta yang lain bergeser. Arya mengangkat tubuh ibu itu dibawanya keluar. "Tolong carikan barang ibu ini dan bawakan!"


Para awak pesawat mencarikan barang ibu itu yang berada di kabin atas tempat duduknya tadi dan diserahkan pada yang mau ikut serta. Yaitu Sultan.

__ADS_1


"Tan kamu urus dulu barang kita, nanti saja kamu nyusul lah. Isikan data ku nanti," pinta Arya dengan jelas setelah mengambil tas ibu tersebut dan pintu ambulance pun tertutup.


Arya dan pihak rumah sakit yang berada di dalam ambulance tersebut. Ibu itu terus merintih dan mendesis kesakitan. Arya terus menenangkan dan berharap si ibu kuat sampai tempat nanti, Rumah sakit. Arya ikut mendorong Bankar pasien ke ruang UGD setibanya di Rumah sakit terdekat dari bandara ....


__ADS_2