Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Jemput


__ADS_3

Setibanya di halaman sekolah, Arya memarkirkan motornya agak sembunyi agar tak mudah ditemukan oleh Rania. Terlihat mobil Rania yang di kemudikan pak Dudin terparkir cantik.


Arya menghampiri Pak Dudin yang tengah menunggu Rania sambil main games.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Tiga kali Arya mengetuk jendela mobil samping pak Dudin yang kelewat anteng bermain games. "Pak? Pak Dudin?"


Pak Dudin menggelinjang, dan langsung membuka pintunya mengangguk hormat. "Eeh, iya, Den ada apa? maaf saya terlalu--"


"Em, gak pa-pa. Pak," netra mata Arya bergerak melihat sekeliling lalu kembali melihat ke arah pak Dudin. "Bapak boleh pulang. Biar Rania saya aja yang mengantar nya pulang."


"Ta-tapi, Den?" pak Dudin tampak ragu pada Arya.


"Tidak apa-apa aman kok. percaya kan sama saya?"


"Bukan tidak percaya, Den. cuma gak enak saja! ini kan sudah tugas saya." Balas pak Dudin.


"Tak apa ... bagi-bagi tugas saja. Besok juga saya gak bisa datang karena tugas, jadi hari ini saya datang," ungkap Arya dengan sangat memberi keyakinan.


"Oh, itu ya, tapi Non sama Mia di dalam," lanjut pak Dudin.


"Ooh, sama Mia ya? ya sudah, Bapak tungguin saja Mia, kasihan kalau pulang sendiri. Tapi nanti Rania sama saya ya Pak?" ucap Arya sambil tersenyum.


"Baik, Den." Setelah itu mereka berbincang apa saja sambil nunggu yang sekolah bubar.


Terdengar suara lonceng sekolahan berbunyi pertanda selesainya jam sekolah. Semua murid keluar begitupun dengan Rania dia berjalan di tuntun oleh Mia.


Arya keluar dari persembunyiannya dengan permen busa di tangan berwarna pung kesukaan Rania.


Rania memekik senang melihat Arya ada di sana. "Papa ... asyiknya ... Papa ada di sini!"


Rania menyeruak ke dalam pelukan Arya yang berlutut agar tubuh mereka sejajar.


"Selamat pulang sekolah sayang." Arya membalas pelukan Rania dan mengusap punggungnya.


"Papa gak bilang, kalau mau ke sini. Tadi pagi ga ada jemput," ucap Rania sambil memandangi wajah Arya.


"Em, tadi Om eh Papa. Mau pergi, tapi ada om Tatan ke rumah, jadi bisanya siang deh, ke sini nya." Balas Arya seraya mengusap kepala gadis kecil tersebut.

__ADS_1


Netra mata Rania mencari-cari keberadaan Tatan. "Om Tatan nya mana? sekarang."


"Dia pulang, gak ikut. Ini Papa bawakan permen buat Rania." Arya memberikan Rania permen.


"Yeeeey ... Rania dapat permen," sorak Rania sambil bertepuk tangan. Namun wajahnya mendadak murung.


"Lho, kok sedih sih? kenapa tuan putri?" selidik Arya.


"Besok Papa anterin Rania lagi gak atau jemput Rania sekolah?" menatap penuh tanya.


"Ooh, besok. Nanti sore Papa ada tugas sayang, kita bertemu lagi hari ... Jumat."


Rania tambah murung. Sedih lalu kembali memeluk Arya. "Rania masih kangen, Rania mau ikut Papa," ucapnya lirih.


Arya terdiam sesaat dan memeluk erat Rania dengan tangan terus membayar pucuk kepala Rania.


"Sayang ... Papa bekerja, bukan main-main. Jadi Rania gak boleh ikut, Rania sama mama aja di rumah. Kan mama lebih banyak di rumah walaupun sibuk." Suara Arya begitu lembut.


"Mama sibuk." Gumamnya sedih.


"Rania dengerin Papa ya?" tangan Arya menjauhkan tubuh mungil anak itu. Kedua tangan Arya membingkai wajahnya, di tatap lembut.


"Mama itu bekerja sayang buat kebutuhan Rania juga. Dan Papa juga akan usahakan untuk selalu mengantar kamu di masa-masa senggang Papa. Mengerti kan anak pinter?"


Mia yang sedari tadi melihat keduanya hanya bisa berdiam diri sambil mengagumi sosok Arya yang makin hari semakin semakin menawan hati.


"Oh, seandainya dia menjadi milik ku? alangkah senang dan bahagia nya hati ku."


"Mia, Neng Mia? ayu pulang, biarkan Non Rania sama Den Arya pake motor." Suara pak Dudin membayarkan lamunan. Mia.


"A-aku mau ikut Arya saja." Mia masih menatap ke arah Arya.


"Eeh, ayo pulang?" pak Dudin menarik tangan Mia diajaknya ke dalam mobil.


"Se-sebentar, saya mau ambil tas dulu Non Rania." Mia mengambil tas dari punggung Rania yang sedang asik makan permen.


"Tuan Arya, titip Non Rania ya?" Mia berjalan menjauhi Rania namun matanya terus melihat ke arah Arya.


"Hem," Arya tersenyum melihat Mia yang berjalan seperti kepiting.


"Rania pulang sama Papa atau mau sama aunty?" tanya Arya sambil mengusap kepala Rania.


"Sama, Papa, mau pulang sama Papa." Jawab Rania.

__ADS_1


"Oke, sama Papa ya? tapi naik motor ya?" ucap Arya sambil menuntun Rania berjalan menuju ke dekat mobilnya.


Namun ketika mau bersiap menyalakan motor, Ada seseorang turun dari sebuah taksi. Menghampiri Arya dan Rania.


"Hi, sayang. Baru mau pulang sekolah ya?" sapa wanita yang berpenampilan elegan tersebut. Dengan suara ramah.


Arya menatap ke arah Wanita tersebut dan bertanya-tanya siapa? Namun tangan Arya masih


Netra mata Rania menatap tanpa ekspresi wanita tersebut. "Aunty ngapain ke sini?"


"Ooh, sayang ... Mama Suci kangen sama Rania. Rania sehat?" tanya wanita tersebut.


"Sehat kok, Yu Pah, berangkat?" Rania mengedarkan pandangannya pada Arya.


"Ha, Pa-pa? dia papa rania?" selidik Suci menatap tajam pada Rania dan Arya bergantian.


"Papa, ayo?" rengek Rania.


"Papa Rania itu papa Aldian, bukan dia." Kata Suci menunjuk ke arah Arya.


"Bukan, Papa Rania bukan papa Aldian. Bukan!" pekik Rania yang tidak suka dibilang Aldian lah papanya.


Arya mengusap punggung Rania. "Sabar sayang, jangan marah-marah gitu ah gak baik."


"Tapi, memang papa Aldian papanya Rania, bukan pria ini." Tambah Suci lagi.


"Bukan, bukan dia. Papa Rania Om ini. Rania gak suka ... papa Aldian jahat sama mama, jahat sama Opa, Gak sayang juga sama Rania." Rania tambah kesal dan marah, hatinya sedih tidak ingin mendengar nama Aldian lagi.


"Maaf Mbak, jangan membuat anak ini sedih ya? dia anak saya jangan ganggu dia lagi," Arya memeluk Rania sambil terus membelai kepalanya.


"Lho, itu benar kan? yang aku katakan, kamu bukan siapa-siapa nya Rania. Kamu cuma orang baru di antara Fatma dan Rania." Sambung Suci menatap tajam ke arah Arya.


Degh!


"Benar, saya bukan siapa-siapa nya Rania tapi setidaknya aku punya kasih sayang yang akan aku persembahkan buat Rania yang kesepian dari perhatian ayahnya." Ucap Arya dengan tegas dan yakin.


"Oya, jangan-jangan kamu mengincar emak nya. Bukan anak nya." Suci mencibir dengan mata sebelah memicing.


"Terserah kamu mau bicara apa, Mbak ini siapa aja, saya tidak tahu. Dan tidak perlu menilai saya! sebab Mbak juga tidak tahu siapa saya," ungkap Arya kembali.


Suci menatap dengan tatapan jengah dan kesal. "Kurang ajar ini orang!" Rahang Suci mengeras ingin rasanya menampar pipinya Arya ....


...---...

__ADS_1


Jangan lupa like komen vote nya.


__ADS_2