Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Menculikmu.


__ADS_3

"Bro, besok mau pergi tugas?" tanya Sultan setelah menemukan Arya di balkon sedang berdiri termenung.


Arya menoleh. "Ha? tugas," sahutnya singkat.


"Apa gak mau istirahat saja gitu? menenangkan pikiran misalnya." Timpal Sultan kembali.


"Nggak ... besok aku berangkat." Akunya Arya.


Hening!


Sementara tidak ada percakapan diantara keduanya. Sultan yang berdiri tidak jauh dari pintu hanya menatap punggung Arya, Dia begitu anteng memandangi langit yang hitam kelam berhias bulan yang hanya separo itu.


Arya menoleh, pada akhirnya bertanya. "Apa kau mau menginap atau--"


"Aku mau pulang saja. Besok aku jemput ya?" ungkap Sultan.


"Aku bisa berangkat sendiri, ngapain di jemput? Bukan anak TK kali ah." Bibir Arya tersenyum tipis.


"Iya sih, tapi siapa tahu banyak yang minat dan menculik mu? kan rugi! Sebab dari pada diculik orang, mendingan akyu jual lah lumayan. Banyak Tante cari simpanan. Ha ha ha ...."


"Resek lu, kau pikir saya barang apa? main jual aja. Nggak punya otak lu." Arya sambil mesem.


"Gitu dong, senyum. Masa mau murung terus? gak enak di pandang mata. Semakin jauh gantengnya ma gue kalau di tekuk begitu," sambung Sultan.


"Sudah, pulang sana? jangan ganggu mulu kaya jin lu ganggu mulu!"


"Alamak ... akyu di usir, hik hik hik tak bilang ibu Negara ah," Sultan membalikan badan.


Mendengar Sultan menyebut ibu Negara, Arya langsung ingat pada Fatma dan putrinya yang malam ini belum dia telepon.


Arya bergegas masuk ke kamarnya, mengambil ponsel yang berada di atas meja dan ada banyak panggilan dan pesan yang kebanyakan dari Renata. Dengan malas Arya dillet semua, dan langsung mencari kontak Fatma.


Tidak sampai dua kali panggilan VC langsung diangkat. Dan yang pertama muncul tentu Fatma yang sudah mengenakan piyama pendek dengan rambut di kuncir kuda.


"Assalamu'alaikum ... Kak, Rania nya sudah bobo? Sorry mengganggu?" Arya menatap ke arah Fatma yang duduk bersandar di bahu tempat tidur.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Rania sudah bobo dan kebetulan masih di sini bobonya." Fatma menunjukan Rania yang sudah tidur itu. "Nggak kok, gitu deh rewel dulu nanyain kamu."


"Maaf, aku sibuk. Besok juga mau tugas, tadinya mau main ke sana sama Abah dan Umi. Tapi, besok pagi-pagi mau bekerja jadi mungkin lusa sebelum aku antar pulang ke Bandung."


"Ooh, gak pa-pa lain kali saja. hati-hati saja! oya apa kamu sakit? wajah mu pucat begitu?" tanya Fatma yang melihat wajahnya Arya. Tampak pucat Paseh.


Tangan Arya mengusap wajahnya. "Nggak, ah. Aku gak pa-pa, nggak sakit kok biasa saja." Elak Arya.


"Tapi kau sangat pucat. Kalau sakit gak usah tugas saja dulu. Takut kurang maksimal kan?" sambung Fatma.


"Em, perhatian banget? takut aku ke napa-napa ya?" Arya tersenyum menggoda.


"Nggak juga. Khawatir saja, kalau kamu sakit, berarti tidak bisa menemui Rania dong. Aku cuma ingin melihat anak ku tersenyum, berbahagia. Meski tidak bersama papanya yang jelas-jelas tidak pedulikan anak itu." Lirih Fatma.


Arya terdiam sejenak, mencerna omongan Fatma barusan.


"Aku ingin membuatnya bahagia dengan caraku sendiri. Sekalipun tanpa ayah biologisnya," ungkap Fatma kembali.


"Sudahlah, Kak. Jangan mengenang sesuatu yang hanya akan membuat hati mu sakit. Ya sudah, bilang saja kalau aku telepon biar Rania gak ngambek. Pokonya besok malam saya mau ke sana, Abah dan Umi mau bersilaturahmi dengan kakak katanya sudah lama tidak jumpa."


"Aamiin, Makasih." Arya berpamitan dan langsung menutup sambungan telepon.


Arya menyimpan ponsel di tempat semula. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, berbantal kan kedua tangan dibawah kepala. Menatap langit-langit membayang kejadian di rumah Renata tadi.


Malam semakin merangkak menuju pagi disaat orang pada nyenyak tidur Abah dan sang istri terbangun dan seperti biasa mereka berdua melaksanakan alat sunat dua rakaat.


Berdoa semoga sang putra berlapang dada dalam menerima kenyataan yang menimpanya ini. Semoga secepatnya mendapat pengganti yang lebih baik lagi.


Sekitar pukul 03.30 Arya pun sudah bangun dan membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Menikmati dinginnya Aira dan suasana dalam bathub. Mencium wanginya yang menyegarkan hidung.


20 menit kemudian Arya keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, mengambil pakaian di wardrobe.


Arya keluar untuk melaksanakan salat subuh setelah rapi dengan pakaiannya. Dia bersimpuh dan bersujud, sebagai umat muslim ia berkewajiban untuk melaksanakan perintahnya yang diantaranya salat lima waktu. Selepas itu Arya menyiapkan semua barang yang wajib ia bawa bertugas.


Kini Arya tengah berada di dapur untuk membuat minuman hangat untuknya untuk pengganti sarapan.

__ADS_1


Melihat putranya memakai seragam tugasnya. "AA mau tugas pagi ini?" tanya umi yang baru datang di tempat tersebut.


Netra matanya Arya. menoleh pada sang bunda."


"I-iya Umi. Aku ada tugas semoga aja lancar dan Tak ada halangan apapun, mohon doa nya Umi."


"Tentu, A ... Umi akan senantiasa mendoakan AA. Dimana pun dan kapanpun." Umi merangkul bahu sang putra.


"Umi dan Abah jangan ke mana-mana ya? diam saja di dalam unit. Untuk makanan nanti seperti sayuran akan di kirim lewat jalur darat, untuk sarapan di lemari pendingin ada beberapa sayuran, telor ada."


"Ada apa ini teh? pagi-pagi buta dah ramai?" suara Abah yang baru muncul di tempat tersebut.


"Abah, AA pagi ini mau tugas mohon doa nya?" kalau sore AA sudah pulang. Nanti malam kita main ke rumah kak Fatma. Kalau AA lancar tugasnya, Aamiin ya Allah ya robbal'alamin." Arya meraih tangan sang ayak untuk diciumnya sebagai tanda meminta restu.


"Tentu Abah mendoakan, Aa ... semoga semuanya lancar." Abah mengangguk.


"Beneran? Umi mau diajak ke rumah Fatma?" umi sangat antusias mendengarnya.


"Oya, Umi. Insya Allah." Arya meminum hangatnya. "Oya Abah. jangan pergi dari kamar ini. Takut ke sasar atau tidak bisa masuk gitu." Tambah Arya.


"Ooh iya kalau begitu. Lagian mau ke mana ah? makan? Umi bisa masak." Lagi-lagi Abah menganggukkan kepalanya.


Suara Bell terdengar dari depan. Bu Santi menyimpan kopi buat sang suami. Lalu buru-buru mengayunkan langkahnya. menuju pintu.


"Pagi, Umi ..." Sultan sudah berdiri dekat pintu membawa tas kopernya.


"Iya, Nak masuk? wah ... sudah ganteng pagi-pagi gini. Mau tugas ya." Umi berjalan duluan.


"Aduh, dibilang ganteng. Makasih -makasih Umi." Sultan memeluk bahu Umi Santi sebentar.


Arya muncul membawa koper yang wajib ia bawa selama perjalanan. "Kamu mau naik apa ke kantor?"


"Ha? naik motor ku atau motor mu kan bisa? emangnya mau naik pohon. Kau pikir aku ulat?" ungkap Sultan kesal ....


****

__ADS_1


Buat reader ku yang ingin bersilaturahmi. DM saja Instagram ku yang bernama Juleha 2606🙏🙏


__ADS_2