Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kecewa


__ADS_3

"Pak, bawa ke dokter ya? takutnya nanti lebih parah sakitnya. Antisipasi dari awal itu lebih baik." Kata Arya yang ditujukan pada pak Harlan.


"Baik, Tuan." Pak Harlan mengangguk lantas memapah Mia.


"Ini, uang buat ke dokternya." Arya memberikan dua lembar uang warna merah pada pak Harlan.


Pak Harlan pun mengambil dan melanjutkan langkahnya. Wajah Mia masih juga di tekuk, dia kesal yang menggandengnya bukan Arya melainkan pak Harlan.


"Sial, kenapa jadi begini sih, gagal deh rencana gue!" Kesal Mia dalam hati.


Arya berjalan ke lain arah dan mencari keberadaan istrinya, Fatma.


Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya netra mata Arya menemukan sang istri dengan yang lainnya.


"Hem, putrinya Papa suka gak tempat ini?" tanya Arya sembari berjongkok agar sejajar dengan Rania.


"Suka, banyak bunga juga. Wangi."Jawab Rania yang tampak happy.


"Syukurlah kalau Rania suka." Arya mengusap kepala Rania. Kemudian berdiri.


"Rania sama situ ke sana yu?" ajak Dewi yang langsung di respon baik oleh Rania. Begitupun umi dan Bu Wati, mereka berjalan ke arah yang Dewi tunjukan.


Fatma pun tadinya mau mengikuti mereka, jalan bersama-sama. Namun tangannya Arya tangkap dan akhirnya cuma melihat mereka pergi yang terlihat berhiaskan tawa riang.


"Sayang?" panggil Arya.


"Hem," Fatma menoleh dan manik matanya menatap sorot mata Arya yang menatap lekat.


"Kita jalan ke sana aja!" tangan Arya melingkar di pinggang Fatma dan mengajaknya berjalan berlawanan dari yang lain.


"Kenapa gak ke sana?" jari Fatma menunjuk ke arah mereka yang jalan ke sana.


"Biar kita berdua saja. Masa yang pacaran mau barengan yang lain terus? kapan pacarannya?" Arya senyum lebar.


"Hem ..." gumamnya Fatma seraya mengusap pipi Arya dengan lembut.


"Pacarannya nanti malam aja." Balas Fatma. Bibirnya tampak mesem-mesem.


"Ada Rania. Takut kita lagi apa dia terbangun, kan gak lucu." Lanjut Arya.


"Tapi, kalau di Mension tidur sendiri kok," sambung Fatma lagi.

__ADS_1


"Bukan apa sayang, aku takut ketauan. Em ... dulu kalau lagi gituan sama ... papanya Rania pernah ketauan gak?" selidik Arya sedikit ragu.


Fatma mesem dan lagi-lagi mengusap pipi Arya. "Gituan apaan?"


"Iya, gituan!" Arya memberi kode dengan kedua tangannya. "Masa gak ngerti?"


"Em ... nggak kayanya. Kalau melihat tidur bareng sih iya. Tapi kalau lebih dari itu sih, nggak kayanya. Kalau penganiayaan ... pernah." Kenang Fatma sambil menerawang.


"Ooh, apalagi seperti itu. Kita harus lebih hati-hati!" akunya Arya.


"Emangnya kamu mau siksa aku apa?" Fatma mengernyitkan keningnya.


"Iya, akan aku gempur sampai aku puas!" lanjut Arya sembari tertawa membuat Fatma bergidik ngeri.


"Nggak, sayang. Mana tega aku seperti itu? kita harus saling menyayangi, memberi dan menerima. Kita akan saling membutuhkan satu sama lain." Suara Arya dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah Fatma.


"Aku mohon, jangan buat aku--"


"Aku gak bisa berjanji apapun. Namun aku akan berusaha kalau kita akan bahagia dan terus bersama. Menyayangi Rania juga. Aku akan berusaha menyayangi mu dan Rania menjaga kalian semampu ku." Kedua netra mata Arya menatap lekat manik mata Fatma yang juga menatap intens dirinya.


"Makasih sayang." Kemudian Fatma memeluk tubuh Arya dengan erat.


"Sama-sama sayang." Cuph! bibir Arya mencium pucuk kepala Fatma.


Tidak perduli sedang dimana? dan mereka terus berpelukan seakan menumpahkan rasa yang lama terpendam.


"Pulang yu? biarkan saja mereka di sini sampai mereka mau pulang," ajak Arya seraya menyentuk pinggang bagian atas Fatma.


"Rania?" tanya Fatma. "Rania gimana?"


"Rania ajak pulang sekarang!" sambung Arya. "Oya, sayang. Mia tadi pulang dari masjid sakit kepala. Dan aku suruh pak Harlan membawanya ke dokter terdekat."


Fatma menautkan kedua alisnya. "Sakit? baru dengar dia suka sakit kepala! tadi kamu ngapain dia?" Fatma menatap curiga pada sang suami.


"Ngapain apa sayang? gak ngapa-ngapain. Aneh pertanyaannya. Memapah sebentar, kasihan. Sebelum pak Harlan datang. Tanya aja sama pak Harlan kalau gak percaya."


"Tuh, kan ... memapah dia! gandeng dia, kan?" Fatma menatap lesu.


"Sayang ... tadi kasihan kepalnya pusing, makanya aku bantu. Gak lebih sayang," sembari mengecup pipi Fatma namun sebelumnya celingukan dulu.


"Kan bisa, di tinggal dulu tunggu yang lain, umi atau ibu. Bukan kamu yang harus gandeng dia?" Fatma dengan nada kesal.

__ADS_1


"Umi dan ibu sudah duluan pergi, pak Harlan masih di dalam masjid. Maaf sayang. Aku gak punya pikiran apa-apa selain kasihan takut gimana-gimana. Percaya deh sama aku?" ucap Arya penuh permohonan.


"Hem alasan." Fatma melangkah hendak meninggalkan Arya. "Kalau pingsan baru refleks menolong, ini cuma gitu aja langsung main pegang-pegang saja." Gerutu Fatma.


Geph!


Tangan Fatma Arya tangkap. "Maaf sayang, oke itu salah ku, aku khilaf sayang. Maaf, jangan marah dong sama aku." Arya tampak gusar.


"Aku kecewa sama kamu, Aa. aku sudah berada bilang. Hati-hati dan jaga jarak sama dia. Gak tau? gak merasa kalau dia itu suka sama Aa. Kalau saja cuma suka itu wajar! tapi kalau berusaha di tunjukan dengan terang-terangan, itu sangat tidak lucu." Jelas Fatma dan berusaha menepis tangan Arya yang mengunci.


"Aku gak tau apa-apa. Dan aku gak punya pikiran yang macam-macam, tolong mengerti aku?" lirih Arya dan terus menggenggam tangan Fatma.


Sebelum melanjutkan pembicaraannya. Fatma menghela napas panjang, kemudian berkata dengan nada yang sangat rendah. "Aku percaya sama kamu. Tapi aku kecewa kamu pegang-pegang dia."


Bibir Arya menyungging dan tersenyum tipis. "Sekali lagi aku minta maaf sayang. Maaf."


Arya merengkuh bahu Fatma ke dalam pelukannya. Ia peluk dengan sangat erat.


Fatma terdiam dan membalas pelukan sang suami. Matanya yang berkaca-kaca kembali berbinar dan mengulas senyuman.


"Ya udah, ajak Rania pulang." Arya melepas dekapannya setelah beberapa saat terhanyut dalam gelora rasa yang bercampur aduk.


"Iya." Fatma berjalan diikuti oleh Arya. Mereka mencari keberadaan Rania dan yang lainnya.


"Itu dia." Fatma menunjuk ke arah keluarganya.


"Rania? Mama mau pulang ah capek. Pulang yu?" Fatma menghampiri putri kecilnya.


"Kok pulang, masih siang juga." Rania mendongak. Lalu mengalihkan pandangan ke arah Arya. "Pah, pulang sekarang ya?"


"Iya, sayang. Mama capek. Dan besok kita balik ke Jakarta, harus persiapan juga. Oya, mau gak besok! pulangnya langsung ke apartemen Papa. Mau?"


"Hore! kita pulang ke apartemen aku suka, aku suka." Rania bersorak.


"Besok sayang, bukan sekarang." Tambah Fatma.


"Iya, besok. Sekarang, kan masih di Bandung! ya kan Pah?" mendongak ke arah Arya.


"Besok sayang." Arya menuntun Rania.


"Emangnya jadi pulang besok?" tutur umi sangat lirih. Dan pertanyaan itu di tujukan pada Arya dan Fatma ....

__ADS_1


****


Ayolah mana nih dukungan buat aku semangat nya🙏


__ADS_2