
"Sama-sama sayang, Terima kasih juga sudah menjadi suamiku yang mencintai ku dan Rania juga." Fatma merubah posisi tidurnya menyamping menghadap ke arah Arya yang masih di posisi yang sama.
"Iya, sayang. Insya Allah aku akan selalu mencintai dirimu dan anak-anak kita, akan selalu berada di samping mu." Punggung tangannya mengelus halus pipi sang istri.
"Aku bahagia sekali. Dapat hidup bersama mu?" Fatma menggenggam tangan Arya dengan senyuman yang sangat merekah.
"Aku pun bahagia bila melihat sayang bahagia, Oya sayang. Aa, sudah memikirkan sesuatu--"
"Apa?" tanya Fatma yang langsung memotong perkataan dari Arya.
"Aku mau menjual apartemen! unt--"
"Untuk apa Aa?" lagi-lagi Fatma menjeda omongan Arya.
"Aa, mau jual. Sebab Aa mau membeli sebuah rumah untuk kita bertiga, berempat dengan anak-anak kita. Apartemen terlalu kecil buat kita dan Mension terlalu besar. Aa ingin ... kita lebih apa ya?" Arya menjeda perkataannya sendiri.
"Apa?" Fatma lirih sembari mengelus rahang Arya.
"Aa, ingin kita lebih ... lebih mencerminkan hidup sederhana. Bu-bukan, Aa ingin mengajak mu hidup susah sayang, bukan. Cuman ... ya gitu lah, tidak harus dalam keseharian harus gembar-gembor gimana gitu," ucap Arya.
Fatma terdiam mencoba mencerna maksud dari sang suami. Matanya cuma bergerak-gerak melihat ke arah Arya.
"Adakalanya, Aa ingin hidup lebih tenang. Nyaman, yang ada hanya keluarga kecil kita saja, apalagi kita ini masih masa-masa penyesuaian diri, masih suasana hanymoon juga, jadi gak mau di ganggu seperti sekarang ini. Ha ha ha ..." ungkap Arya diakhiri dengan tawa renyah.
"Ah ... ujung-ujungnya itu juga dasar ... mesum mulu deh." Fatma bangun dan duduk.
Namun Arya menariknya sehingga kembali berbaring terlentang. "Mau ke mana sayang?"
"Lapar, belum makan. Sudah jam berapa ni? perjalanan yang panjang lho sayang. Kalau di Indonesia sekarang ini sudah dini hari ya?" sahut Fatma menatap intens ke arah suaminya yang berada di atasnya.
"Iya, beda sekitar lima jam sayang. Di sini masih sore." Arya mengangguk.
"Yu! cari makan? setelah itu Aa istirahat sebentar. Biar tubuhnya fit lagi." Fatma mendorong dada Arya agar jangan mengukung geraknya.
Arya menghela napas panjang, lalu bangun mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
"Baiklah. Sayang ganti baju dulu." tangan Arya menarik tali kimono Fatma yang sudah berdiri dan langsung terbuka.
__ADS_1
"Eeh, apaan sih?" tangan Fatma memegangi kimono yang hampir turun.
"Waw ... ternyata dalam nya polos, kalau tau begitu dari tadi deh," Arya menyeringai sambil menatap nakal ke arah sang istri.
"Dari tadi apaan?" Fatma menyeret langkahnya ke dekat koper yang belum ia bereskan.
"Ya sudah, aku ke kamar mandi aja ah. Mau buang benih di sana!" Arya turun dan membawa langkahnya ke kamar mandi.
Fatma heran dan langsung menoleh. "Ha? maksudnya?"
Arya membalikan tubuhnya. "Iya, mau buang benih di kamar mandi, habis sudah tegang-tegangnya di tolak, untuk meluapkannya terpaksa dan dengan berat hati di sana saja." Menunjuk kamar mandi dengan nada merajuk.
Sejenak Fatma terdiam mematung, netra mata memandangi ke arah Arya dengan intens yang masih berdiri menyilang kan di dada. Ia tatap dari bawah ke atas.
Tangan Fatma menarik kimono yang melekat di tubuhnya, sehingga ia berdiri dengan polos. Tanpa sehelai benang pun yang menghiasi, itu memang sengaja ia lakukan untuk menggoda sang suami.
Melihat sang istri seperti itu, jelas siapa sih suaminya yang tidak bernafsu untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan.
Begitupun dengan pria tampan itu, dengan refleks melangkahkan kakinya yang lebar mendekati sang istri yang tak bergeming. Menatap sayu pada Arya yang tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya ke lain arah.
Tangan Arya yang kuat mengangkat tubuh Fatma, digendongnya ke tempat tidur yang ukuran king size itu, dengan seprei dan selimut yang putih bersih.
Arya yang sudah melepas semua langsung menyerang dengan ciuman mesra di beberapa titik sensitif sang istri.
Semakin terdengar suara lembut dan merdu yang menghipnotis pendengaran Arya, membuat gairahnya semakin terbakar. Hasratnya kian meronta untuk mendaki gunung Himalaya yang indah.
Berenang di lautan madu yang akan membawanya pada adrenalin yang tinggi. Membuat senam jantung yang akan menyehatkan. Gigitan kecil, lembut namun nakal. Tak ayal menjadi aksi yang menyenangkan bagi keduanya.
Waktu yang seperti saat ini, tidak Arya buang percuma. Dia pergunakan sebaik mungkin Apalagi dalam beberapa jam kemudian ia harus kembali ke Jakarta dalam tugasnya.
Pergulatan panas mulai berlangsung begitu hebat saling cekik dan saling banting. Tembakan pun tak ayal beberapa kali terlepas. Berpindah posisi pun menghiasi pergerakan mereka berdua.
Suara napas yang tersengal, dada yang berdebar. Dan keringat yang bercucuran menghiasi aksi kesenangan mereka. Hingga akhirnya Arya benar-benar tumbang di atas dada Fatma. Tangan Fatma mengusap punggung Arya sampai ia tertidur sangat lelap.
Padahal belum menyudahi permainan yang mereka buat. Bibir Fatma terus mengembang, walau terasa berat menahan beban tubuh Arya, tapi Fatma merasa senang. Dan perlahan menggeser tubuhnya dari posisi semula.
Manik Fatma melirik pada jarum jam, tadinya mau mesen makanan gak jadi. Apalagi pergi mencari, dan sekarang Arya malah kecapean. Masih ada beberapa jam lagi untuk Arya beristirahat.
__ADS_1
Fatma tatap wajah pria yang sedang lelap tersebut dengan senyuman yang mengembang. Tangan Fatma terus bergerak dari mulai membelai rambut. Pipi, kening. Leher dan bibir.
Senyum Fatma yang terus mengembang. Tak berhenti dan memudar, saat ini kebahagiaan sedang berpihak padanya. Merasa di manja, dihargai dan saat ini sedang tumbuh benih cinta dari dia dan suami.
Alangkah bahagianya Fatma saat ini. Yang ia harapkan terkabulkan. Doa Rania yang ingin segera punya dede bayi tidak lama lagi akan hadir di antara mereka. Tentunya kehadiran baby yang masih dalam perut Fatma ini sangat di nantikan oleh kedua keluarga. Terutama oleh keluarga yang di Bandung.
"Sayang, selamat bobo? aku sayang kamu, cinta kamu," ungkap Fatma lirih sambil membenarkan selimut di dadanya.
Arya tetap tertidur begitu lelap. Seakan melepaskan segala kelelahan yang menyelimuti tubuhnya.
Fatma pun akhirnya memejamkan matanya di sisi sang suami.
Waktu terus berputar begitu cepat. Cepat sehingga ponsel Arya yang dipasang alarm berbunyi keras.
Tangan Arya meraih ponsel yang di berada di atas nakas. Mematikan alarm. Lalu menggeliat nikmat, memicingkan matanya ke arah samping. Dimana seorang bidadari cantik tertidur di sisinya itu.
Bibir Arya tersenyum manis melihat wajah Fatma yang terlelap itu. mendekati keningnya lalu mengecup mesra. Kemudian Arya mengibaskan selimutnya, sebelum menurunkan kakinya. Dia tersenyum melihat junior miliknya yang sebelum tidur ia pakai.
Dan membelainya. Diajaknya tersenyum, lalu gegas menurunkan kakinya ke lantai. Serta membawa langkahnya ke kamar mandi.
Tanpa membuang waktu, Arya berdiri di bawah shower dengan semprotan air yang hangat. Dia membersihkan seluruh tubuhnya itu yang ia pakai untuk bercinta.
Sekitar sepuluh menit, Arya keluar dengan handuk di pinggang dan mengusap rambutnya yang basah. Memakai pakaian formal nya.
Setelah siap, memakai jam tangannya sambil menatap sang istri yang begitu tampak lelap sehingga dari tadi tidak merubah posisinya. Masih saja seperti tadi.
Arya mendekati sedikit berbaring. "Sayang, aku pergi dulu ya?" setengah berbisik.
Lalu mendaratkan kecupan di kening, pipi dan berakhir di bibir Fatma yang tak bergeming. Tangan Arya memeluk sesaat tubuh sang istri. Lanjut berdiri siap membawa langkahnya untuk bertugas plus pulang ke Jakarta.
Meraih ponsel dan bag nya, setelah di dekat pintu. Arya menoleh ke belakang, menatap sang istri yang tetap tertidur.
"Ya Allah ... jaga istri ku di sini? jaga kehamilannya juga benih dari ku! Aamiin ..." Arya melanjutkan langkahnya. Dan menutup kembali pintunya dengan rapat.
Arya terus membawa langkahnya mencari taksi untuk mengantar dirinya menuju bandara, dan berkumpul dengan semua temannya di kantor terkait.
Kini Arya sudah berada di dalam taksi, meninggalkan kamar hotel tempatnya Fatma menginap. Dia menempelkan punggung nya ke belakang jok.
__ADS_1
"Semoga secepatnya, aku bisa kembali ke sini menemui istri ku, bersama Rania. Dia pasti bahagia bila tahu mamanya tengah hamil," gumamnya Arya dalam hati, hanya suara mesin yang terdengar memenuhi gendang telinga di saat ini ....