Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Gak sanggup


__ADS_3

''Tapi apa alasannya, A ...kan harus jelas, jangan bikin kecewa orang lain, AA harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Jangan mengecewakan wanita! sebab ... itu sama aja menyakiti hati ibumu," ujar bah Yadi yang dengan spontan dapat anggukan dari uminya sebagai tanda setuju.


"Rasanya kurang baik kalau AA harus mengumbar aib orang. Jadi biar AA saja yang tahu inti permasalahannya," ucap Arya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan dengan bertumpu pada siku yang menempel di atas lutut.


"Tapi orang lain akan menuntut dan ingin tau akar dari permasalahannya A. Gak akan menerima begitu saja keputusan sepihak yang tak beralasan," sambung abah nya lagi.


"Tak ada satupun orang yang sempurna di dunia ini, pasti punya kekurangan dan kelebihan serta kesalahan yang bisa saja dilakukan secara tidak sengaja maupun yang disengaja," tutur umi Santi menatap ke arah putranya yang menunduk.


Arya mendongak dan mengedarkan pandangan pada kedua orang tua nya. "AA tahu itu. AA tahu, AA, dia sama-sama punya kekurangan masing-masing dan itu pasti. Tapi semua juga pasti tau, faham. Apapun yang kita pertahankan yang sudah dalam genggaman sekalipun akan lepas bila Allah tidak mentakdirkan nya."


Hening!


Abah Yadi dan istri menganggukkan kepalanya meskipun masih bingung apa inti masalahnya?


"AA gak sanggup untuk mempertahankan nya. Dengan berat hati AA akan melepaskannya, bukankah jodoh, rejeki dan maut sudah ditakdirkan Allah, manusia cuma bisa menjalankannya." Suara Arya penuh haru.


"Apa AA gak akan menyesal bila memutuskan pertunangan ini? masalahnya pernikahan itu sudah diambang pintu. Umi gak bisa membayangkan kalau keputusan sepihak itu kita yang terima," ucap umi dengan lirihnya. Melihat pada sang suami yang tampak tertegun.


"Baiklah kalau begitu maunya AA, Abah dan umi cuma bisa mendukung. Selebihnya terserah AA saja." Pada Akhirnya bah Yadi menyetujui keputusan sang putra sulungnya itu.


Setelah itu, Arya menghubungi sang adik, Dewi. Kalau Abah dan umi mau di boyong ke Jakarta untuk beberapa hari saja. Kemudian mereka bersiap-siap untuk pergi.


Dengan setengah berat hati, Abah dan umi mengikuti putranya ke Jakarta untuk memberi keputusan yang tentunya akan melukai hati seseorang.


Di dalam mobil pasangan suami istri itu saling pandang. Abah merapikan peci hitamnya yang sedikit miring lalu mengedarkan pandangannya ke luar jendela.


Umi Santi menghela napas dalam-dalam sebagai ungkapan hati yang berat dan tidak mengerti dengan putranya ini sehingga memutuskan pertunangan dengan sang kekasihnya.


Arya yang duduk sendiri di depan sesekali melihat ke belakang dimana Abah dan uminya berada. Tampak uminya tertidur bersandar di bahu suaminya membuat terukir senyuman manis dari bibir Arya.


...****...


''Sekarang silakan tanda tangani surat cerai nya?" ucap seorang pihak pengadilan agama.


Fatma sebagai penggugat tentunya paling semangat untuk menandatangi surat tersebut.


Sementara Aldian dengan wajah di tekuk tampak ragu namun dipertahankan juga gak mungkin mengingat banyak bukti yang akan menyudutkannya dan semua sudah ada di Pangadilan Agama. Aldian cuma bisa pasrah menerima kekalahan. Lagi pula Fatma memberikan sejumlah uang dan aset lainnya yang berbentuk mobil, rumah yang suci tinggali.


Aldian sebelum menikah dengan Fatma telah mempunyai istri tanpa anak, tinggal di kontrakan. waktu itu Aldian cuma karyawan biasa tidak seperti yang terakhir menjadi staf. Suci sendiri bekerja sebagai pelayan Cafe kala itu.


Setelah menikah dengan Fatma kehidupan Aldian beserta istri berubah drastis. Yang asal tinggal di kontrakan pindah ke rumah besar. Kendaraan mewah, yang seharusnya disita oleh pihak penggugat namun karena kebijakan Fatma sebagai penggugat semua itu menjadi hak milik Aldian ditambah lagi sejumlah uang yang tidak sedikit nilainya.


Kini Fatma sudah tidak ada ikatan apa-apa dengan Aldian, tinggal menunggu masa iddah saja selama 3 bulan. Fatma dan keluarga merasa lega akhirnya tidak perlu menunggu sidang ini itu, kecuali masalah aldian pribadi mengenai penganiayaan dan percobaan menghilangkan nyawa seseorang.


"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas semua kejadian yang menimpa mu," ucap Suci setelah berada di luar kantor. "Namun saya tetap memohon cabut laporan mu, agar meringankan masa tahanan Aldian."


"Saya tidak ingin membahas tentang dia hal apapun. Jadi ... kalau ingin bicarakan sesuatu silakan dengan pengacara saya saja. Permisi!" tegas Fatma seraya berlalu pergi meninggalkan Suci dan pengacaranya.


Bu Wati dan pak Wijaya juga pengacara Fatma mengikuti dari belakang. Mereka berdiri di dekat pintu mobil.


"Menurut anda bagaimana? apa akan berubah pikiran atau tetap akan dibiarkan sesuai proses yang berlaku?" tanya pria yang bertubuh gempal sebagai pengacaranya itu.


"Huuh ..." Fatma membuang napasnya dari mulut. Melihat ke suasana sekitar. "Biarkan saja mengikuti proses yang ada biar jera. Saya tidak perduli lagi dia ayah anak saya atau siapakah? dan kita jangan ikut campur lagi toh punya pengacara sendiri. Intinya jangan pernah mau bernegosiasi dengannya." Jelas Fatma.


"Baiklah, sampai jumpa lagi. Hati-hati.'' Pak pengacara melambaikan tangan pada Fatma dan keluarga.


Kemudian mobil Fatma meluncur meninggalkan tempat tersebut. Dengan membawa hati yang lega dan tenang akhirnya Fatma lepas juga dari Aldian si pria psikopat tersebut.

__ADS_1


"Akhirnya ... selesai juga ya, Ibu merasa lega sekarang kamu sudah bebas," ucap Bu Wati melirik pada Fatma dengan senyuman merekah.


"Iya, Bu." Fatma singkat.


"Kamu jangan khawatir soal Rania. Dia anak yang pinter dan selama Aldian mendekam. Tidak pernah bertanya tentang bapaknya. Atau merindukannya," sambung Bu Wati.


"Bapak nya juga gak nanyain anaknya." Timpal pak Wijaya dari depan.


Fatma terdiam sejenak, memang tak ada pembahasan tentang anak dengan Aldian. Dia sama sekali tidak menanyakan kondisi darah dagingnya sendiri.


Deg!


Hatinya terasa sakit. Bagaikan tertusuk sembilu, Rania adalah anak nya darah daging Aldian tapi Aldian sama sekali tidak perduli. Batin Fatma menangis.


Namun ia sembunyikan rasa itu dari kedua orang tuanya. Manik mata yang berkaca-kaca ia paling kan ke luar jendela. Melihat kuda-kuda besi dan orang-orang yang berjalan. Sebelum ke kantor, mobil mengantar lebih dulu bu Wati dan pak Wijaya ke Mension. Barulah setelah itu mobil membawa Fatma menuju kantornya.


Setibanya di kantor, Fatma bergegas ke kamar mandi dan menumpahkan segala kekecewaan dengan cara menangis begitu pilu. Bukan kecewa telah bercerai dengan Aldian melainkan kecewa, putri semata wayangnya seolah tak dianggap oleh bapaknya sendiri.


Fatma kecewa, terluka untuk Rania yang seakan di sia-siakan, tak dipedulikan oleh Aldian. Namun Fatma berjanji kalau dia harus membahagiakan Rania bagaimanapun caranya. Tanpa ayah sekalipun ia harus bisa membuat Rania bahagia! itulah tekad Fatma.


Fatma menatap dirinya di cermin, wajah nya pucat dan basah dengan air mata. Ia keringkan dengan lembaran tisu.


Ponsel berdering, ternyata Arya yang menggunakan VC. Fatma ragu untuk mengangkatnya. Apalagi dengan kondisi seperti ini ia sedang kacau. Setelah panggilan yang ke dua akhirnya Fatma angkat juga.


"Assalamu'alaikum? maaf mengganggu! tidak lagi sibuk kan? kebetulan ini waktunya istirahat ya?" ucap Arya menatap wajah Fatma yang agak kusut.


"Wa'alaikum salam. Nggak kok, iya nih waktunya istirahat." Fatma berusaha tersenyum walau nampak getir.


"Kenapa menangis?" tanya Arya dengan mata memperhatikan Fatma yang dia yakini habis menangis di kantornya.


"Ah, nggak ... siapa yang nangis? cuman ke lilipan doang." Elak Fatma menyembunyikan rasa sedihnya.


"Habis cuci muka!" Fatma mengelak lagi.


"Bohong ah. Jangan menangis! nanti air hujan kering karena airnya habis untuk menangis. Oya gimana Rania turun belum demamnya?" tanya Arya sembari melihat ke arah Fatma yang berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Rania sehat, minta sekolah malah." Balas Fatma seraya mengulas senyum tipisnya.


"Terus di ... biarkan sekolah?" selidik Arya kembali.


"Iya, maunya gitu gimana? ketika bangun marah-marah, Om bohong, katanya mau nemenin Rania tapi kabur juga." Suara parau Fatma tak dapat disembunyikan.


"Terus mamanya kenapa nangis? Oya, aku ... sekarang lagi di perjalanan pulang ke Jakarta. Habis makan siang sama Abah dan Umi." Arya mengarahkan kameranya pada background resto dan di sana terlihat ada umi dan abah nya yang agak jauh dari Arya berdiri.


"Ooh. Ya sudah, hati-hati saja." Fatma mengangguk dan hendak mematikan sambungan VC nya.


"Sebentar, jangan lupa makan? lihat tuh tampak kurus!" Arya sembari mengulas senyum nya.


Tut ... Tut ... tut ....


Fatma tersenyum dan menggeleng bahkan kali ini senyumnya tidak secara terpaksa. Dia membasuh mukanya lalu mengolesinya dengan bedak, memandangi dirinya dari pantulan cermin.


"Ada apa menjemput Abah dan uminya ke Bandung? apa berkaitan dengan tunangannya. Apakah akan segera diresmikan?" monolog Fatma dalam hati.


Saat ini Fatma sedang makan siang di ruangannya. Malas keluar jadinya pesan lewat gopood saja.


Fatma membereskan meja dengan berkas-berkas yang menumpuk rapi, bersiap untuk pulang. Ia berjalan melewati para staf yang juga bersiap-siap pulang. Semua mengangguk hormat diiringi dengan senyuman ramahnya pada Fatma.

__ADS_1


Ada seorang staf dan statusnya duda anak satu. Mendengar Fatma kini menjadi janda muda bibirnya senyum-senyum, hatinya berbunga-bunga merasa ada kesempatan untuk mendekati. Siapa tau aja ada rejeki nomplok dilirik dan mendapat perhatian dari sang CEO.


"Siang, Bu. Mau pulang?" Peri mengangguk hormat.


Fatma membalas hanya senyuman saja. Lanjut berlalu berjalan membawa langkahnya menuju lift yang kebetulan terbuka. Fatma bergegas masuk dan Peri juga mendahului masuk ke dalam lift.


Fatma merasa risih pada pria yang sikapnya macam ini, teringat dulu ia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga terjebak dalam jerat pria psikopat seperti Aldian. Peri terus memperhatikan ke arah Fatma yang tampak tak nyaman.


Fatma tersenyum pada seorang wanita yang berada di sampingnya. Ting! pintu pun terbuka dan Fatma bergegas keluar membawa langkahnya dengan cepat menuju area parkiran staf.


Pak Harlan membukakan pintu mobil untuk Fatma yang berdiri di dekat mobil sambil sibuk dengan ponselnya.


Fatma menerima pesan dari Mia, kalau Rania mau eskrim kesukaannya yang adanya di sebuah Mall. "Pak, ke Mall sebentar. Rania mau eskrim."


Pak Harlan tersenyum dan mengangguk. Kemudian bergegas memutar kemudi melajukan mobil yang dibawanya menuju Mall yang terdekat.


Selang beberapa saat, Fatma langsung meluncur mencari pesanan sang putri kecilnya. Ditengah perjalanan, Fatma melihat sosok wanita yang pernah ia temui dengan anak rekan bisnisnya.


"Siapa ya? perasaan kenal, tapi siapa?" batin Fatma termenung.


Kemudian melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuan. "Ooh, iya. Dia tunangan Arya, Ha?" Fatma terkesiap setelah mengingat siapa wanita itu dan sontak kembali menoleh ke arah mereka yang sedang nongkrong, tampak mesra si pria nyosor terus ke arah si wanita. Sementara si wanita tampak sangat menikmati itu.


Fatma tertegun di tempat, shock dengan yang dia lihat saat ini. Dalam hati yakin kalau itu tunangan Arya yang Fatma tidak tahu namanya. Kalau orangnya tahu.


"Beneran kok, dia ... tunangan--" Fatma tidak melanjutkan gumamnya. Merasa ikut sakit kalau benar itu tunangan Arya, teganya selingkuh dari Arya pria yang baik di mata Fatma.


Selesai membeli eskrim, Fatma membawa langkahnya berjalan sambil sibuk dengan ponsel di tangan sehingga bertabrakan dengan seorang wanita sampai-sampai kantong bawaannya terjatuh. Entah siapa yang salah atau yang menabrak? yang jelas Fatma gak ngeh.


"Aduh, sorry? kenapa gak lihat-lihat jalannya Mbak?" suara wanita itu.


Fatma tanpa melihat dia siapa langsung berjongkok untuk mengambil barangnya yang terjatuh. "Sorry, sa--" ucapan Fatma terhenti setelah melihat wanita yang tabrakan dengannya.


Wanita tersebut pun tertegun. Melihat ke arah Fatma yang memandanginya dengan intens lalu netra mata Fatma bergerak melihat tangan si wanita dan pasangannya yang saling merangkul pinggang satu sama lain.


Spontan si wanita menjauh dari si pria. Tampak gugup seolah mengakui sebuah kesalahan.


"Eeh! Anda, di sini apa kabar?" Si pria dengan ramah menyapa dan mengulurkan tangan kepada Fatma.


Perlahan Fatma menerima jabatan itu. "Baik." Tentu Fatma mengenal si pria yang notabene nya anak dari rekan bisnisnya dan dia sendiripun sudah memulai mengikuti jejak ayahnya dan dia kerap menggantikan sang ayah dalam dalam beberapa kali kesempatan.


Ya ... dia Doni. Doni yang sedang mengajak Renata berkencan tanpa siapapun termasuk Indah. Setelah kejadian waktu itu Indah mendatangi Doni di Villa, Indah seakan memberi jarak pada Doni maupun Renata.


Indah jarang nongkrong bareng. Paling kalau butuh saja baru berkomunikasi dengan Doni. Di kampus pun jarang bersama Renata dengan ada aja alasannya yang dia buat.


"Em, sendiri?" tanya Doni pada Fatma yang tak melepas pandangan pada dirinya dan Renata.


"Ooh, iya." Fatma melihat yang ia bawa. "Duluan ya, permisi?" Fatma mengayunkan langkahnya. Menjauhi Doni dan Renata.


"Kamu mengenalnya?" tanya Renata setelah Fatma pergi.


"Rekan bisnis Papa. Kenapa, apa kamu mengenalnya, Cinta?" tangan Doni merah pinggang Renata dari depan yang jatuhnya memeluk dan mencium pipi Renata tak perduli di tempat umum.


"Em, tidak." Elak Renata. "Pulang yu?" sambil sedikit memberi jarak diantara mereka, menghindar dari Doni.


Fatma yang sudah beberapa meter pun kembali menoleh dan melihat kelakuan Doni pada Renata. Sejenak Fatma mematung di tempat hingga akhirnya melanjutkan langkahnya mendekati eskalator. Untuk pulang.


Kapala Fatma menggeleng, kelihatanya si wanita itu baik, lembut dan sederhana, cantik sih sudah jelas. Tapi dekat dengan pria macam itu ....

__ADS_1


****


Ayo, mana like, komen dan vote nya juga. Biar author semangat ya🙏


__ADS_2