Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tidak sopan


__ADS_3

"Aku mau mandi dulu, sayang i love you?" Bisik Doni tepat di telinga Renata, sementara matanya melirik ke arah Indah yang menatap tidak suka itu.


"Ya sudah, mandi dulu sana. Aku mau siapkan pakaian ganti buat kamu." Renata melepas pelukan dari Doni.


"Oke," Doni membawa langkahnya menuju kamar mandi.


Indah menatap heran ke arah Renata, setelah Doni masuk ke dalam kamar mandi. "Kenapa sikap kamu manis sekali pada dia?"


"Lho, kenapa? di suami ku, dan wajar dong kalau aku bersikap manis padanya?" Renata balik menatap datar pada Indah. Tangannya menyimpan sepatu di tempatnya.


"Ta-tapi, bukankah kamu ngotot ingin berpisah? dan sudah melayangkan gugatan cerai?" Indah memelankan suaranya sambil celingukan ke arah kamar mandi.


Renata melangkah mendekat, seraya menjatuhkan tubuhnya tidak jauh dari Indah. "Aku ... sudah berubah pikiran. Aku pikir, aku mau cari seperti apa lagi? bukankah menikah sama dia itu pilihan ku, akibat aku menduakan Arya."


"Buka-bukankah kamu menyesal dan ingin balik lagi dengan arya? lagian Doni itu--"


"Gimana bisa kembali? dia sudah bahagia dengan wanita itu, dan Doni kurang apa sih? dia berusaha merubah semuanya hanya demi aku!" Renata sontak memotong pembicaraan dari Indah.


"Kalau lu bisa berusaha, kenapa tidak? kamu bisa aja kembali dengan Arya, kamu aja yang gak mau usaha."


"Hem, usaha kamu nilang? usaha untuk merebut kebahagian orang lain, gitu maksud kamu Ndah?" Renata menjeda ucapannya sesaat.


"Aku sudah mematahkan harapan Arya. Mengecewakan dia, sekarang dia sudah bahagia dengan wanita lain. Aku gak berani buat dia kecewa yang kedua kalinya," ujar Renata yang memang pernah terbesit untuk mendekati Arya lagi tapi itu tidak mungkin.


"Ta-tapi, Doni." Indah menggeleng dan nada bicara yang gelagapan.


"Sayang, mana baju ku?" kepala Doni muncul dari balik pinta meminta baju ganti. Sebab Indah masih juga Berada di kamar tersebut.


"Oh! iya sebentar," sahut Renata sambil turun mendekati lemari. Lalu membawakan setelan pada Doni.


"Ini." Renata menyodorkan pakaian Doni. Namun Doni bukan cuma mengambil pakaian saja tetapi juga menarik tangan Renata supaya masuk.


"Apa-apaan sih kamu?" Renata heran dan menarik tangannya dari genggaman Doni.


Doni bukannya memudarkan pegangan. Melainkan semakin menarik ke dalam pelukannya. "Aku kangen sikap kamu yang hangat dan mesra seperti ini."


Sesaat Renata terdiam dan kedua netra nya menatap lekat mata Doni. Dia tidak melihat suatu kebohongan di sana, yang ada sebuah ketulusan dan selalu berusaha bersabar menghadapi sikap dirinya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


Kemudian Renata menenggelamkan wajahnya di dada Doni. membalas pelukan Doni dengan erat, namun untuk meminta maaf. Bibir terasa kelu, gengsi.


"Sial! mimpi apa sih gue semalam? sampai-sampai harus menyaksikan adegan yang bikin gue terbakar gini?" gumam Indah.


Di wajahnya tergurat kegusaran yang tiada tara, melihat adegan romantis yang Doni buat di depan pintu kamar mandi yang sengaja dibiarkan terbuka itu.


Indah harus menyaksikan Doni mencumbu istrinya. Bikin hatinya terus terbakar perasaan namun tak sedikitpun ada niat beranjak dari tempat tersebut.


"Sudah, gak enak dilihat Indah?" pinta Renata setengah berbisik, setelah Doni melepaskan bibirnya dari kecupan nafsunya itu.


Doni mendengus kecewa. "Lagian kenapa sih dia ada terus di kamar kita? pergi kek ke mana, keluar pokoknya dari kamar kita," jari Doni memegang dagunya Renata, mendekatkan lagi wajahnya.


"Aku gak tau, masa harus di usir kan gak enak." Renata sekilas melirik ke arah Indah yang malah membuka majalah yang ada di sana.


"Ck, ganggu aja nih." Doni kesal lalu memudarkan rangkulannya. Dan mengenakan pakaiannya.


"Aku tunggu di bawah ya, di meja makan?" Renata keluar serta menutup pintu tersebut.


Renata berjalan seraya berkata yang ditujukan pada Indah. "Yu, Ndah. Ke bawah, kita siapkan buat makan malam?"


"Em, Ren. Aku gak lapar deh, aku mau di sini saja ya? tiduran." Indah dengan tidak sopan nya bicara seperti itu.


"Em, baiknya kamu tidur di kamar sebelah saja." Kata Renata dengan nada dingin.


"Iya nanti aku pindah," sahut Indah dengan ringannya sambil terus membuka majalah yang berada di tangannya.


Kepala Renata menoleh ke arah kamar mandi yang dimana suaminya berada di sana.


Indah merasa heran melihat Renata masih berdiri di sana, padahal tadi mengajak turun ke dapur. "Lho. Kok masih berdiri di sana? bukannya mau menyiapkan makan buat suami mu?"


"Emang kenapa? bukankah ini kamar ku dan suami ku masih berada di kamar mandi. Nggak baik bila kamu dan suami ku berdua ruangan ini." Jelas Renata.


Indah tercengang mendengarnya. "Maksud mu apa?"


"Maksud mu apa?" Renata menirukan pertanyaan Indah. "Seharusnya kamu pikir sendiri maksud apa? Apa pantas kamu berada di kamar ini sementara ada suami ku dan aku sendiri di luar?"


"Bukankah kmu sendiri mau menceraikannya?" Indah mulai bersikap angkuh.

__ADS_1


"Hei ... sekalipun seperti itu aku tanya sama kamu, sopan gak sikap kamu seperti itu? ini kamar, tempatnya privasi seseorang?" Renata meninggikan nada suaranya. "Dan catat ya sama kamu, aku sudah membatalkan gugatan cerai ku."


Lagi-lagi Indah dibuat tertegun melihat perubahan Renata yang ia pikir sangat mendadak itu.


"Ada apa sayang?" tanya Doni saat keluar dari kamar mandi.


Renata menoleh. "Em, ini sayang, Indah."


Indah gugup. "Em, aku--"


"Aku gak ngerti saja dengan pemikiran Indah sekarang, yang lebih suka dengan suami orang, padahal orang bujang saja masih berteman diman-mana!" Timpal Renata.


Sejenak Doni bengong melihat keduanya yang tampak bersitegang. "Ya sudah, kita makan yu? aku sudah lapar nih."


Doni merangkul pinggang Renata. Berjalan mendekati pintu.


Bukh!


Indah melempar majalah dan beranjak dari tempat duduknya meraih tas, menyusul Renata dan Doni yang sudah dulu melintasi pintu.


...---...


"Sayang, jangan ke tengah ya berenangnya takut tenggelam lho." Pinta Fatma pada Rania yang sedang berenang di kolam renang yang berada di mension tersebut. Padahal baru saja pulang dari berlibur.


"Aduh. Jangan terlalu tengah dong sayang? Oma ngeri nih," timpal Bu Wati yang baru datang lantas duduk di dekat Fatma.


"Nggak pa-pa, Oma kemarin juga di laut Rania bisa," pekik anak itu.


Bu Wati menggeleng. Lalu mengalihkan pandangannya pada Fatma yang sedang meneguk minumnya. "Gimana hanymoon nya Fatma?"


"Baik, sangat menyenangkan, Bu. Gimana selama aku gak ada? aman-aman kah di sini." Balik bertanya. Mengarahkan pandangan pada sang bunda.


"Di sini baik-baik saja. Oya, Aa kemana?" selidik Bu Wati mengenai sang mantu yang tidak ia lihat.


"Awas, Wi, jagain Rania?" pinta Fatma ke Dewi yang berada di pinggir kolam ....


.

__ADS_1


.


Apa kabar semuanya?


__ADS_2