
"Tapi gak enak kalau sampai ketauan! iya memang kita saling mengenal tapi--"
"Tapi apa cinta? kita bersahabat dari lama kan ..." Doni kekeh dengan pendiriannya.
Arya yang keluar dari toilet berjalan, berjalan menuju mejanya namun ketika mengangkat kepalanya melihat arah mejanya. Mendapati Renata tengah berbincang dengan Doni.
Ia dengan cepat mundur dan bersembunyi. Memperhatikan mereka dari jauh.
"Aku cemburu bila kamu dengan Arya. Apalagi dengan penampilan yang cantik seperti ini." Akunya Doni seraya menatap dengan lekat.
"Kamu ngomong apa sih?" Renata menggeleng dan senyum simpul. "Jangan cemburu lah, kan Arya tunangan ku."
"Tapi aku juga kekasih mu lho? lupa apa mau dilupain?" Doni menatap tanpa ekspresi.
Renata menaikan bahunya. "Em, ya ... gitu deh." Sambil senyum menggoda.
Doni terkekeh. "Aku akan membuat mu menjadi milik ku selamanya tanpa ada siapapun."
"Lho ... kok gitu? kan kita main dibelakang Arya cuma sementara ketika aku nikah, selesai." Protes Renata yang tak menyetujui omongan Doni barusan.
"Itu, kan dulu cinta. Sekarang aku sudah berubah pikiran dan kamu harus jadi milik ku seutuhnya, selamanya." Jelas Doni tak mau kalah dan memang baginya gak ada kata kalah dalam hal apapun.
"Nggak bisa gitu dong, aku ini jelas-jelas tunangan Arya, Semua juga tahu. Kamu jangan bikin runyam dong Doni." Renata tampak cemas.
"Biar saja semua orang tahu bahkan Arya kalau kita sebenarnya punya hubungan spesial. Bukan sekedar teman nongkrong doang, biar semua tahu kalau aku akan memiliki mu seutuhnya, untuk selama-lamanya," sambung Doni dengan sangat percaya diri.
"Tidak, jangan gitu. Hubungan kita hanya sementara saja dan itu akan berakhir ketika aku nikah nanti, itu juga yang kau bilang padaku saat itu." Kenang Renata.
"Ooh, tidak bisa. Milik Doni ya ... akan tetap milik Doni. Selamanya." Tangan Doni mengelus pipi Renata sangat lembut.
__ADS_1
Hati Renata tambah gusar, cemas. Was-was, takut Arya tahu atau mencium perselingkuhan nya dengan Doni. Doni senyum tipis melihat Renata terdiam dan bengong tergambar rasa cemas dari wajahnya.
"Aku akan lebih membuatmu bahagia dari si Arya itu. Semua yang kamu mau akan aku penuhi, jangan takut kamu susah nantinya. Aku pastikan kamu akan bahagia bersama ku."Lanjut Doni meyakinkan.
"Aku mohon pergilah, aku takut Arya keburu datang." Lirih Renata penuh permohonan.
"Nggak mau, aku akan bilang sekarang juga pada Arya kalau kita saling mencintai." Timpal Doni.
Lagi-lagi Doni terkekeh melihat raut wajah Renata pucat pasih, gugup mendengar perkataannya.
"Ha ha ha ... tidak, cinta. Aku gak akan melakukan hal itu." Doni berdiri dengan tatapan yang terkunci pada Renata yang tampak gugup sekali dan membalas tatapan Doni dengan hati yang tak menentu, takut. Menyesal, bercampur menjadi satu. Kemudian Doni mencondongkan tubuhnya ke depan, cuph! mengecup bibir Renata dalam beberapa detik.
Kejadian itu jelas tidak luput dari pandangan Arya, bahkan tangan Arya mengarahkan kamera ponselnya untuk merekam pemandangan yang bikin copot jantung.
Sungguh pemandangan yang bikin Arya tercengang. Sekelumit kecurigaannya terbukti sudah, Doni dan kekasihnya ada main di belakang, terjalin hubungan yang spesial dan akan merobohkan kokohnya kepercayaan yang ia bangun selama ini. Seketika akan menghancurkan bangunan cinta yang sudah berdiri tegak sejak lama.
Harapan hidup bersama dan membangun biduk rumah tangga bersama nan bahagia dengan Renata pupus sudah. Dibalik tenang dan sabarnya Arya tersimpan anti pengkhianatan. Sekali saja dilakukan sekali itupun tak ada toleran lagi.
"Kamu, apa-apaan sih, ini tempat umum," ucap Renata yang tak menyangka kalau Doni dengan berani mencium dirinya di tempat umum seperti ini. Netra mata Renata bergerak menyapu semua meja yang ada orangnya. Namun tak satupun melihat seorangpun yang melihat ke arahnya. "Dilihat orang gimana?" kesal.
Doni menaikan bahu+kedua tangannya. "Mana? gak ada, kan?" menggerakkan ekor matanya melihat sekitar, bibinya menyeringai puas penuh rasa kemenangan sebab ia yakin dialah yang menang banyak terhadap Renata, bukan tunangannya. Arya.
Doni bejalan penuh kemenangan. pergi meninggalkan Renata di tempatnya. Pria yang memakai ti-sert hitam panjang itu akan berusaha mendapatkan yang dia mau sampai dapat. Apapun caranya. Seringai penuh obsesi terpancar dari wajahnya.
Kemudian Arya memantapkan hati untuk kembali menghampiri Renata setelah ditinggal oleh Doni. Arya berusaha menyembunyikan luka hati dengan sebuah senyuman yang mengembang dari bibirnya.
Renata melihat Arya datang, mencoba berpura-pura dan menutupi perasaannya masih gugup, panik. Hati yang dihinggapi rasa was-was takutnya Arya melihat Doni bersamanya apalagi sampai melihat dirinya bersentuhan bibir dengan Doni. "Mati aku ..." batinnya.
"Maaf sayang, aku kelamaan di toilet. mules." Tangan Arya mengusap perutnya lalu mendudukkan diri di tempat semula yang masih terasa hangatnya bekas duduk Doni.
__ADS_1
Renata hanya membalas dengan senyuman manisnya dan memasukan pancake ke mulut.
Sesungguh nya dada Arya saat ini begitu sesak. Ada torehan luka yang menganga, perih. Pedih semua bercampur aduk dan sulit digambarkan dengan kata-kata. Hatinya hancur berkeping, mendapati sesuatu yang ia jaga dengan sebaik-baiknya dirusak orang. Bahkan sempat terpikirkan. "Apa mungkin kesucian Renata juga sudah ternoda? ah ... gak mungkin!" kepala Arya menggeleng kasar.
Melihat Arya terdiam dan sedikit menggeleng, ekspresinya pun aneh membuat Renata kembali merasa cemas. "Kamu sakit? minum obat segera! atau ke dokter yu? aku temenin."
"Ha? nggak-gak. Aku baik-baik saja kok. Ayo habiskan pancake nya sekalian punya ku, perut ku mules nih." Elak Arya berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya tidak.
"Iya, makanya minum obat ya?" Renata tampak cemas.
"Nanti saja di unit ku," ucap Arya seraya menunduk.
"Udah ah, kenyang." Renata mendorong pancake durian yang punya Arya. Sementara punya dia dah habis.
"Mbak?" tangan melambai pada pelayan tuk membayar.
"Iya, Mas!"
"Em, pancake ini bisa di bawa kan?" jari Arya menunjuk pancake yang masih utuh.
"Bisa, nanti saya kasih paper bag nya." Balas pelayan tersebut.
"Oke, saya minta satu lagi tuk dibawa pulang tapi beda paper bag ya? dan semua berapa?" tanya Arya.
Tangan wanita itu menghitung hidangan di meja. "Semuanya ... Rp 9.85000.''
"Oke," Arya mengeluarkan kartu debitnya.
Hening!
__ADS_1
"Ini Pak, kartunya. Terima kasih?" mengembalikan kartu debit milik Arya dan memberikan dua paper bag satu sudah berisi pancake, dan satu lagi baru di isi ....