
"Aa, gimana kalau Dewi sama kita saja? biar jagain Rania. Dari pada di sana biarpun kerja sih, di sini juga aku bayar kok." Saran Fatma menatap sang suami dan menggenggam kedua tangannya.
Arya mengalihkan pandangannya pada Fatma. "Em, boleh, terserah sayang aja. aku setuju-setuju aja kalua seandainya dia mau."
"Beneran boleh?" Fatma ingin meyakinkan diri.
"Iya sayang boleh. Aku setuju aja kalau Dewi nya mau bareng sama kita." Arya kembali mengangguk setuju.
"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau ke Jakarta kita omongkan lagi." Fatma melepas senggamanya. Hendak melangkah. Namun tangannya di tangkap Arya.
Geph!
"Mau kemana?" tanya Arya sembari menarik tangan Fatma ke dalam dekapan.
Fatma menggercapkan manik matanya. "Mau siap-siap."
"Nanti ah. Perginya juga setelah Maghrib biar gak tanggung waktu," mengelus pipi Fatma dengan punggung jarinya. Serta tatapan yang sangat lembut dan lekat.
Bikin jantung Fatma berdegup lebih kencang dari biasanya. "Kenapa sih gitu amat melihatnya? jadi ngeri deh!" seraya tersenyum simpul.
"Sebelum dilarang, mau puas-puaskan dulu menatap wajah cantik istriku, sampai aku puas dan aku yakin aku tidak akan merasa puas dalam menatapnya," ungkap Arya menatap intens dan bibirnya menunjukan barisan gigi putihnya.
"Aish ... gombalnya ... sejak kapan pandai gombal gitu hem?" Fatma semakin dibuat senyum simpul.
Senyum Arya kian mengembang."Sejak ... sejak menjadi suami mu, sejak aku mencintai mu. Aku sangat bahagia Allah langsung menyatukan kita, tanpa ada banyak waktu untuk mendekatkan diri pada hal-hal yang terlarang."
Netra nya Fatma hanya memandangi dengan sorot yang mesra ke arah sang suami, tangan melingkar di pundaknya tersebut sangat erat.
"Sehingga menjadikan halal dalam arti jauh dari mudhoratnya. Aku bersyukur sangat, Allah sangat menyayangi ku mempertemukan kita dengan caranya," sambung Arya sembari membelai anak rambut Fatma dengan sangat mesra.
Helaan napas Fatma yang panjang terlihat terasa dari hembusan nya melalui hidung. "Aku juga sangat bahagia, kamu sudah menyayangiku dengan tulus. Memberikanku kelembutan, kasih sayang. Walau kadang aku marah--"
"Marah kenapa hem?" tanya Arya memotong perkataan sang istri.
__ADS_1
"Iya, kadang aku marah. Bila kamu sering bertugas, padahal itu memang pekerjaan mu. Sedangkan pekerjaan apapun pasti ada resiko atau menyita waktu atau apalah. Dan jujur! aku juga sering merasakan cemburu, sebab suami ku dikelilingi wanita-wanita cantik." Fatma mengungkapkan perasaannya.
"Ha ha ha ... sayang kira. Aa gak cemburu bila istri Aa ini mengadakan pertemuan, rapat atau apalah. Yang mayoritasnya pria, istri Aa ini di pandangi mereka terus. Aa cemburu. Ingin rasanya menutupi istriku ini supaya tak dipandang orang." Arya juga mengemukakan perasaannya yang sering merasa cemburu bila sang istri berada dalam kumpulan yang kebanyakan laki-laki.
Fatma memeluk tubuh Arya. "Aku takut kehilangan dirimu," suaranya lirih.
"Aa juga tidak ingin kehilangan dirimu. Kita akan bersama-sama juga Rania selalu dan selamanya." Tangan Arya membalas pelukan sang istri lebih erat.
Sementara waktu keduanya saling berpelukan, dan tak ada kata-kata lagi yang terucap dari bibir mereka selain pelukan yang seolah berbicara.
Cukup gerakan atau bahasa tubuh yang berbicara kalau mereka saling mencinta, sehingga kedua bibir pun tak perlu berkata bila itu hanya akan melambangkan dusta.
Hening!
Yang terdengar hanya lah hembusan napas dari keduanya, yang merdu bak perindu. Terdengar indah ditelinga, suasana kamar apartemen pun begitu terasa syahdu.
Dari jauh terdengar alunan suara adzan yang begitu merdu, mengajak umat Islam di seluruh penjuru untuk memenuhi undangan dari sang maha pencipta.
Begitupun Arya. Melepas pelukan dan memberi jarak pada sang istri. Mengelus pipinya dengan lembut seraya berkata. "Salat dulu yu? ajak Rania untuk belajar salat."
Arya menatap punggung sang istri yang berlalu, setelah hilang dari pandangan. Barulah Arya memasuki kamar mandi bersiap-siap sambil menunggu sang istri dan putrinya.
"Sayang, lagi apa?" suara Fatma ketika sudah berada di depan pintu kamar Rania dan mendorong pelan.
Rania yang sedang bermain boneka, menoleh pada sang bunda. "Mam, mau pergi sekarang ya?"
Kaki Fatma melangkah maju dengan menarik senyumnya. "Kata papa, kita salat dulu yu? mukena Rania nya di lemari, kan?"
Anak itu terdiam, melihat sang bunda mengambil mukenanya. Kemudian Fatma kembali dan mengajak Rania ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Setelah itu menuntun Rania ke kamarnya. Yang sebelumnya Fatma memakaikan mukena ke Rania, setibanya di sana Arya sudah menunggu dan menyambut hangat dengan senyuman.
"Ayo, sayang? berdiri dekat Mama ya?" menunjuk sejadah yang sudah ia bentangkan sebelumnya.
__ADS_1
Rania pun menurut perintah papanya, sementara Fatma masih bersiap mengenakan mukenanya.
Setelah ketiganya siap, Arya pun memulai salat Maghrib nya dengan khusuk, suasana begitu tenang. Rania pun mengikuti setiap gerakan yang Arya lakukan.
Kejadian seperti ini insya Allah akan membuat siapapun yang mengalaminya, bikin batin tenang. Tentram, Nyaman. Jauh dari rasa gersang dan semacamnya.
Usai salam, Arya memimpin doa yang diikuti kedua bidadari nya lantas mengaminkan. Lepas membaca doa yang bikin haru, Arya mencium kening sang istri lembut dan mesra, begitupun Fatma mencium punggung tangan Arya penuh hormat.
Rania hanya bengong ... melihat sang bunda dan papanya. Manik matanya kedip-kedip melongo.
"Sayang, cium tangan Papa?" titah Fatma yang langsung dituruti oleh Rania.
Arya mencium kening Rania penuh kasih. "Semoga menjadi anak yang Sholehah ya, Nak?"
Arya memeluk anak dan istrinya berbarengan. "Semoga kalian menjadi istri dan anak yang Sholehah. Papa sayang kalian berdua." Tanpa sadar air bening menetes dari sudut mata Arya. Dan itu air mata bahagia tentunya.
Kemudian Arya beranjak, mau bersiap untuk pergi. Menyimpan sarung dan pecinya.
"Papa, nanti salat bareng lagi ya?" Rania menggoyang tangan Arya yang sedang mengancingkan kemeja putihnya.
"Iya, sayang." Kepala Arya mengangguk.
Setelah membereskan bekas salatnya. Fatma pun bersiap-siap. mengganti pakaian agar tampak anggun nan menarik, dan dia memilih setelan panjang.
Celana panjang hitam dan kemeja kotak yang pas di tubuhnya. Dipadu-padankan dengan syal panjang menutup lehernya yang jenjang membentuk pita, tampak sangat cantik.
Rania dan Arya sudah berada di ruang tengah. Rania sudah tidak sabar untuk segera pergi. Arya memasang jam rolex nya di tangan kiri. Sesekali menoleh ke arah pintu kamar.
Matanya terpesona melihat kemunculan sang istri dengan setelan seperti sekarang ini. Rambut pun diikat kuda di atas tampak manis, syal berbentuk pita menghiasi lehernya yang jenjang.
Tangan Fatma selain membawa tas, juga menenteng topi Arya yang menjadi hadiah darinya waktu itu. Lantas ia pakaikan di kepala Arya setelah berada dekat ....
****
__ADS_1
Aku senang bila ada reader langsung komen aku kalau ada kata atau typo yang salah, agar aku langsung revisi, makasih ya🙏