Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tenggelam


__ADS_3

"Em, Aa ke kantor polisi ada panggilan." Fatma menjawab pertanyaan sang bunda.


"Ooh, Kamu jadi ke luar Negerinya lusa?" tambah Bu Wati.


"Jadi, Lusa aku pergi, tadinya mau sama Aa dan Rania, tapi karena Aa juga sibuk jadinya aku sendiri saja." Jawabnya Fatma lagi.


Pandangan Fatma mengarah ke arah Rania yang masih asyik berenang.


"Nggak pa-pa. Ada Ibu yang jagain Rania, kamu tenang saja.'' Bu Wati mengusap punggung Fatma.


"To-tolong? Ma-mama. Tolong?" suara Rania yang timbul tenggelam nyaris tak terdengar.


Rania berada di kolam yang tingkat kedalamannya buat orang dewasa. Dia terpeleset ketika tubuhnya sudah merasa lelah untuk berenang.


Ketika Fatma menoleh ke arah kolam yang kosong, matanya bergerak mencari keberadaan Rania, Dewi yang baru datang membawa minuman hanya sendiri. Dari arah dapur.


Dan alangkah terkejutnya Fatma ketika melihat di tengah ada yang timbul tenggelam. Fatma langsung beranjak dan menajamkan penglihatannya sembari memanggil nama Rania.


Semua panik. Dan mengedarkan pandangan ke sekitar kolam, manik mata Fatma melotot dengan sangat sempurna ketika yakin yang ada di dalam kolam tersebut adalah Rania.


Fatma menjerit. "Rania ...."


Byuuuuurrr ....


Fatma langsung melompat ke dalam air, dan berusaha mendekati Rania. Namun Rania terlalu jauh untuk di jangkau, sehingga dirinya lamban untuk sampai.


Byuuuuurrr ....


Seorang lelaki melompat dan lebih cepat menjangkau Rania, ia bawa ke pinggir.


Bu Wati dan Dewi tampak shock, menatap dengan jantung berdegup sangat kencang. Mulut Bu Wati menganga, shock bukan main.


Apalagi Dewi sangat merasa bersalah banget, tadi dia tinggalkan Rania sebab minta air jus. Lututnya bergetar lemas sehingga luruh ke lantai.


Rania yang lemah di bawa Arya ke atas dan dibantu agar mengeluarkan air yang mungkin sudah terminum. Arya yang baru masuk melihat Fatma melompat ke air dan dengan cepat netra nya melihat Rania timbul tenggelam sehingga tanpa buang waktu ia langsung melompat.


Fatma yang sudah di pinggir tertegun, shock melihat a


Rania yang mengeluarkan air dari mulutnya Lalu menangis.


"Wi! bawa ke kamar keringkan tubuhnya. Ibu, Bibi, bantu Rania kasih air hangat." Pinta Arya, dia sendiri langsung menghampiri sang istri yang masih di sisi kolam renang.

__ADS_1


"Sayang naik?" menyodorkan tangan pada Fatma.


Fatma mengusap wajahnya yang basah, lalu menyambut tangan Arya. Ditariknya naik ke atas. Fatma langsung memeluk Arya sambil menangis, jadi shock mengingat barusan.


"Sudah, tenang! Rania akan baik-baik saja. Keringkan dirimu?" ucap Arya.


Fatma pun mengangguk dan segera berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Arya yang sama-sama basah.


Yang lain mengeringkan tubuh Rania digantikan baju dan di berikan air hangat dan tubuhnya pun dibalur minyak angin. Biar menghangat.


Sesekali Rania memanggil mamanya.


"Mama, pasti berganti baju dulu sayang. Kan sama-sama basah, Cucu Oma gak pa-pa, kan? kuat kan?" Bu Fatma merangkul kepala Rania yang masih di keringkan dengan alat pengiring rambut.


"Aunty minta maaf ya? gak bisa jagain Rania. Aunty yang salah." Dewi menunduk sedih lantas menangis.


Anak itu melihat ke arah Dewi, lalu mendongak pada Omanya. "Aunty gak salah, Oma. Rania tadi minta minuman sama aunty dan aunty ke dapur. Rania yang mau naik terpeleset."


"Apa benar itu sayang?" tanya Bu Wati meyakinkan diri.


"Iya, Oma, aunty gak salah." Tambah Rania polos.


"Sayang, gimana kamu gak ke napa-napa kan?" Fatma berlari menghampiri setelah berganti pakaian, di belakangnya Arya berjalan dengan tenang.


"Rania gak pa-pa, Mam. Rania kan kuat!" ucap Rania sambil mengusap ingusnya dengan tisu.


Fatma memeluknya sangat erat. Hatinya sangat was-was takut Rania tadi ke napa-napa.


Arya berdiri dekat tempat tidur Rania. Menoleh pada asisten yang masih berada di sana. "Tolong buatkan minuman hangat buat saya dan ibu."


Asisten pun mengangguk hormat lalu mengundur diri setelah beberapa langkah, barulah membalikan badan keluar dari kamar Rania.


Para asisten lain dan supir yang melihat dari pintu pun setelah memastikan Rania baik-baik saja, pada pergi. Tinggallah Arya, Bu Wati dan Dewi. Fatma dan Rania.


Dewi merosot ke lantai. Berlutut di hadapan Arya sambil menunduk dalam.


"Wi! apa-apaan kamu?" Arya heran dan memegangi kedua bahu Dewi.


Dewi menunduk dalam seraya berkata. Namun sebelum bicara, air matanya lebih dulu keluar membasahi pipi. Luapan dari rasa bersalahnya yang sudah lalai dalam menjaga anak sambung sang kakak.


Semau pasang mata tertuju pada Dewi yang malah tersedu.

__ADS_1


Jemari Dewi mengusap pipinya yang basah kuyup. "Dewi meminta maaf yang sebesar-besarnya, sebab Dewi sudah lalai menjaga Rania. Sehingga dia tenggelam." Suaranya lirih dan tetap menunduk.


"Papa, Mama. Aunty gak salah, jangan marahin aunty ya? tadi aunty Rania suruh ambilkan minuman, jadi aunty gak salah apa-apa, Mama, Papa!" Rania langsung membela Dewi.


Fatma dan Arya saling bersitatap. Tadinya memang Fatma mau marah walau agak merasa gak enak pada Arya sebagai kakaknya.


Begitupun Arya tidak tahu harus salahkan siapa? dalam hal ini.


"Mam, Pah. Jangan marahi aunty ya? aunty gak salah! Rania yang minta aunty ambilkan minuman!" lagi-lagi Rania meminta supaya orang tua nya tidak memarahi Dewi.


Arya mengusap wajahnya seraya berkata. "Oke, kalau memang begitu."


Begitupun dengan Fatma. "Sungguh." Menatap wajah Rania yang memang tampak jujur.


"Iya, Mam. Rania gak bohong. Hacih ... hacih ...."


"Yah, Rania pilek." Fatma cemas.


"Permisi, Tuan ini minuman hangatnya?" seorang asisten membawa nampan yang berisi dua gelas minuman hangat pesanan dari Arya.


Arya menoleh. "Iya, simpan saja di meja. Terima kasih?"


"Sama-sama." asisten mengangguk, lalu kembali berlalu setelah menyimpan yang dia bawa di meja.


Bu Wati menelpon dokter untum memeriksa Rania yang mulai bersin-bersin.


"Dewi, bangunlah. Lain kali lebih hati-hati bila sedang di posisi seperti ini." Arya berucap lirih sambil menghampiri meja meraih gelas yang masih terlihat mengepul asapnya.


Dewi mengangguk sembari melepas napasnya dari hidung. Berdiri meraih handuk bekas Rania dan merapikan semua barang-barang Rania. Bekas barusan.


Arya mendekati sang istri dengan gelas di tangan. "Sayang minum dulu ini? untuk menghangatkan tubuhmu."


Fatma melirik Dan meneguk sedikit minuman hangat tersebut. Sesaat kemudian meneguk kembali, sehingga bersuara. "Akh ...."


Rania berada dalam pelukan Fatma. Terus bersin-bersin. Bu Wati mengelus punggung Rania lembut.


"Rania jangan sakit dong ... katanya kuat? anak yang kuat gak boleh sakit." Gumam Fatma sambil menempelkan dagunya di pucuk kepala Rania. Sebagian ibu dia tampak sangat cemas, mana lusa mau berangkat ke luar Negeri.


"Rania cuma pilek, Mama ... besok juga sembuh." Gumamnya.


Arya dan Dewi yang baru balik dari kamar mandi duduk di sofa. Dengan dada masih berdebar. Kaget setelahnya kejadian ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2