Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Berita duka


__ADS_3

"Kita ke dokter ahli ya? datangkan ke sini?" Arya berucap lirih sambil menatap sang istri dengan tatapan sangat dalam dan hatinya sangat gelisah, khawatir terhadap sang istri.


Tangan Fatma menggenggam tangan Arya dengan kuat, lantas menunjukan senyumnya. "Jangan terlalu khawatir, aku baik-baik saja sayang. Mual-mual begini itu ... sudah biasa bagi wanita hamil."


"Tetapi, aku gak mau melihat istri ku tersiksa! gak tega. Apa kemari di luar Negeri seperti ini?" selidik Arya sambil mengelus kembali perut Fatma.


"Nggak, sama sekali nggak lho yang. Aneh ya? mungkin kalau di sini lebih mudah bila ingin di manjakan oleh papanya." Fatma tersenyum pada sang suami.


"Hem ... manjanya, calon baby kita ya?" Arya menarik kepala Fatma ke dalam pelukannya.


Sehingga Fatma bisa menikmati gimana rasa nyamannya berada dalam pelukan hangat sang suami. Gimana nyamannya menenggelamkan wajah di sana, membuat lama-lama kedua mata Fatma terpejam.


Begitupun dengan Arya sendiri yang bersandar di bahu tempat tidur terpejam merehat kan sejenak rasa penat dan lelah.


Setelah beberapa jam kemudian mereka pun terbangun dan Arya lebih memanjakan sang istri. Jangan ini, tidak boleh itu. Biar dia sendiri yang mengerjakan.


"Aduh sayang ... aku cuma pengen masak lho buat makan malam kamu." Keluh Fatma sambil menurunkan kedua kakinya.


"Jangan, aku bisa masak sendiri kok. Lagian ada bibi. Untuk masakan yang aku suka. Bisa masak sendiri juga. Jangan repot-repot, besok pun jangan masuk kantor dulu, oke?" pinta Arya sambil mengusap pucuk kepala sang istri.


Fatma mengangguk setuju. "Em ... boleh, aku gak ngantor besok. Asalkan ...."


"Asalkan apa sayang?" selidik Arya penasaran.


"Asalkan ... Aa, juga ada di sini bersama ku! kalau kamu gak ada. Aku gak mau lebih baik ngantor saja." Fatma lagi-lagi merasa mual lalu ia tutup mulutnya dengan tisu lalu menghirup minyak angin.


"Oke, siapa takut? aku siap kok kalau besok harus menjadi ajudan mu. Tenang saja, kebetulan aku gak ada jadwal sekitar dua hari ini, libur." Arya setuju.


"You really?" Fatma menatap curiga.


"Iya sayang, benar." Arya meyakinkan sang istri.


"Terima kasih sayang, terima kasih banyak?" Fatma memeluk tubuh sang suami, lantas di kecilnya pipi Arya.


"Sama-sama sayang ..." Arya pun membalas pelukannya sang istri penuh kehangatan.


Lanjut mereka turun ke lantai dasar saling genggam tangan, di sana Rania sedang heboh bercerita tentang cinderela. Sementara dirinya memakai gaun tersebut. Sangat tampak cantik sekali anak itu.


Fatma menoleh pada Dewi, sudah pasti kalau yang mendandani Rania dengan sangat cantik itu adalah Dewi.


Dewi nyengir pada Fatma seraya berkata. "Dia yang mau Kak!"


Fatma hanya tersenyum, lalu mengalihkan pandangan pada Rania kembali. "Sayang, lagi ngapain tuh?"


"Eh ... Mama, Rania sedang main cinderela-cinderela'an sama aunty semuanya," Rania mengedarkan pandangan pada para asisten Dewi.


"Ooh, boleh. Dilanjut!" Fatma mengangguk. Lalu menyusul suaminya yang kini sudah berada di dapur untuk memasak kesukaannya saja.


"Biar bibi yang memasak buat Aden," bi Ina mengangguk hormat seraya menawarkan tenaganya.

__ADS_1


"Nggak-nggak. Bibi kerjakan yang lain saja, biar saya sendiri masak kesukaan saya. Mumpung gak ada kerjaan! balas Arya sambil mengambil bahan-bahan masakan dari lemari pendingin.


Bibi hanya bengong melihat ke arah sang majikan. Padahal dirinya dan asisten lainnya sedang memasak buat makan malam.


"Biarkan saja, Bi. Tuan masak sendiri, yang jelas sudah kita tawarkan tenaga. Jadi biarkan saja." Suara Fatma menghiasi suara dentingan sodet dan wajan.


Yang sedang asisten pergunakan, untuk memasak tersebut. Arya asyik memasak masakan kesukaannya ya itu cumi balado dan sup telor.


Selang beberapa waktu, masakan Arya pun siap dan langsung membawanya ke meja untuk makan bersama.


Fatma mengedus mencium baunya masakan sang suami. "Hem ... baunya wangi ...."


"Iya dong, siapa dulu yang masak?" Arya menepuk dadanya. Namun kontan ohok-ohok, Arya terbatuk-batuk.


"Hem ... Aa. Di larang sombong." Jelas Fatma sambil menyuguhkan segelas air mineral.


"He he he ... Rania mana? makan kita," tanya Arya setelah meneguk minumnya.


"Tuh, sedang makan di meja satu lagi!" Fatma menunjuk Rania yang sedang makan bergabung dengan para asisten.


Kepala Arya menoleh pada yang Fatma tunjukan. "Oh, baiklah kita makan sayang."


Arya dan Fatma makan bertiga bersama Dewi. Sesekali Arya menyuapi sang istri, makan dari tangannya. "Makan yang banyak sayang ... biar kuat dan sehat.


Selesai makan. Ponsel Arya berbunyi dan Buru-buru mengangkatnya. Ekspresi Arya berubah drastis setelah mengangkat telepon tersebut.


Arya mematung sesaat, setelah mendengar berita duka tersebut. Lalu menyimpan ponselnya ke saku, menoleh ke arah sang istri yang terlihat penasaran. "Teman, Aa. meninggal dan kini masih di Rumah sakit."


Fatma hanya terdiam sembari mengingat, kawannya yang mana? perasaan belum ketemu, pikirnya dalam hati.


Dewi hanya terdiam diam memelankan mengunyahnya. Dengan. sorot mata tertuju pada sang kaka.


"Yang mana sih?" gumamnya Fatma lirih, berasa tidak kenal gitu.


"Indah, mungkin sayang gak kenal dia. Oya. Aku melayat dulu ya? sayang gak boleh ikut. Kurang baik nih angin malam, istirahat saja di rumah ya?" Arya mengecup keningnya Fatma yang tadinya mau bilang ikut tetapi langsung di patahkan dengan larangan dari Arya.


"He'em ... baiklah. Tetapi jangan lama-lama ya?" pinta Fatma sambil memeluk sesaat tubuh pria itu.


Arya berbalik, setengah berlari ke lantai atas untuk mengambil jaket dan dompet. Tidak lama, Arya langsung kembali dengan memakai jaket dan topinya.


Rania heran melihat papa nya yang sudah rapi. Namun mamanya biasa saja. Rania menghampiri mamanya berbarengan dengan kedatangan Arya dari lantas atas.


"Papa mau kemana?" tanya anak itu heran.


"Em, Papa mau pergi dulu ya? ada urusan sebentar." Arya mengecup pucuk kepala Rania dengan lembut.


"Mama gak ikut? lagian mau kemana sih? Rania ikut ya?" lanjut Rania menatap kepada papa dan mamanya.


"Nggak sayang, Rania gak boleh ikut. Mama saja gak ikut." Tambah Fatma sambil mencium pipi Fatma sebagai pamitan.

__ADS_1


"Sayang aku pergi dulu ya?" Arya merangkul kepala Fatma sejenak.


"Iya, hati-hati ya? dan cepat pulang." Pinta Fatma kembali.


"Iya sayang, Rania? papa pergi Dulu ya?" lagi-lagi Arya memberikan kecupan hangat pada pucuk kepala Rania.


"Baiklah, kalau gak boleh ikut." Tapi matanya Rania menatap Arya tidak rela.


Kini Arya sudah berada di atas motor besarnya. Tidak lupa mengenakan memakai helm lebih dahulu.


Arya mendapat kabar duka dari seorang teman, kalau teman mereka yang bernama Indah, yang kini Sudah tewas dan sekarang ini masih berada di dalam rumah sakit.


Motor Arya meluncur, membelah jalanan dan memecah keheningan malam yang sebentar lagi mencekam dalam pelukan kegelapan.


Setibanya di rumah sakit, Arya langsung di sambut oleh temannya yang sudah lebih dulu berdatangannya di tempat tempat tempat tersebut.


Arya merasa miris setelah melihat keadaan Indah yang yang menyedihkan. Dia memejamkan kedua matanya.


"Apa motif ini tersebut? sehingga sampai menghilangkan nyawanya tersebut?" Arya menggeleng, pandangan matanya mengarah pada kawan-kawannya itu.


"Untuk sementara waktu, motifnya adalah pelecehan itu, tuh." jawabnya seorang sahabat.


"Tapi, aku yakin ada motif di sebalik itu, sehingga berbuat demikian," timpal salah seorang temannya.


Arya mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti, dengan mata sesekali melihat ke arah jenazah.


"Ada-ada saja. Itu orang gak punya hati atau tidak punya perasaan. Kejam, dia pikir nyawa orang seperti hewan apa?" gumamnya Arya pelan.


"Mungkin juga. Habis enak-enak di sakiti begitu saja ya? gak kasian apa? kejam memang." Tambah yang lainnya.


"Semoga, amal ibadahnya diterima di sisinya. Aamiin ... dan pelakunya dengan cepat tertangkap juga, tidak bisa dibiarkan itu orang," ucap Arya sambil menghela napas panjang.


"Aamiin," jawab yang lainnya serempak.


Seusai beberapa waktu Arya berada di Rumah sakit, Arya memutuskan untuk segera pulang ke mension.


"Ya, setelah menikah, kau tidak pernah nongkrong sama kami lagi. Terlalu anteng membuat baby ya ha ha ha ..." ucap seorang teman Arya sambil berjalan di koridor Rumah sakit tersebut.


"Ya, wajarlah. Kehidupan sebelum dan sesudah menikah itu pasti berbeda bro, jangan di samakan lah." Akunya Arya, kemudian pamit dari temannya untuk duluan jalan.


Sementara teman-temannya pulang mengunakan mobil. Dan Arya tentu dengan motornya.


Sekitar pukul 22,wib. Arya baru sampai di mension, langsung di suguhkan dengan sebuah pemandangan ....


.


.


Mohon dukungannya ya reader ku semua, dan terima kasih banyak pada kalian semua yang dari awal sampai saat ini masih setia, walaupun jalan ceritanya membosankan 🙏

__ADS_1


__ADS_2