Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Persis Maling


__ADS_3

Doni melonjak bangun dan bergegas menyambar kunci mobil, langkahnya sedikit mengendap-ngendap supaya tidak ketahuan semua temannya.


Rung!


Rung!


Rung! dius ....


Suara dari mobil Doni kabur dari Villa nya dan meninggalkan semua temannya dengan niat mau menemui Renata yang sudah dua hari ini tak jumpa. Rindu di dada sudah bertumpuk dan hampir tak ada ruang lagi.


Mobil Doni terus melaju menelusuri jalan yang sudah agak sepi. Jarum jam sudah menunjukan pukul 21.10 wib. Kedua netra nya fokus ke depan dan pada saat ini dia berada dalam keadaan sehat tanpa pengaruh apapun, tak seperti biasanya.


Setibanya di area rumah Renata. Doni memarkirkan mobilnya di luar gerbang. Karena suasana rumah sudah tampak sepi sekali, Doni berdiri di depan pintu gerbang yang kebetulan belum di kunci dan Doni menyelinap masuk. Berjalan mendekati teras lantas berdiri depan pintu.


Beberapa kali Doni mengetuk dan mengucap salam. Namun tak sekalipun terdengar balasan atau suara langkah kaki sekalipun, Doni mengayunkan langkah kakinya ke belakang tetap sepi bagai tak ada penghuni namun bukan Doni namanya kalau harus pulang dengan tangan kosong. Setidaknya dia harus mendapatkan sesuatu dari kedatangannya ke rumah Renata ini.


Kapala Doni tengok kanan dan kiri dan bibirnya langsung senyum mengembang melihat sesuatu yang akan mengantarkannya bertemu sang pujaan hati.


Di dalam kamar Renata, dia masih di depan laptopnya sedang mengerjakan soal mata kuliah nya. Beberapa bulan lagi dia akan wisuda namun pernikahan akan di gelar sebelum dia wisuda dan itu tuntutan dari orang tua Renata dan keluarga Arya yang menyarankan lebih cepat akan lebih baik. Biar lebih tenang, kalau sudah halal ... orang tua gak was-was bila sering atau hidup bersama juga.


Samar-samar terdengar suara ketukan. Membuat Renata dengan cepat menoleh ke sumber suara.


"Siapa sih ketuk-ketuk pintu? bunda," Renata bergegas turun dari atas tempat tidurnya.


Renata berjalan menuju pintu lalu membukanya. seraya memanggil. "Bunda?"


Namun di luar kamar tak ada siapa-siapa. Netra mata Renata menyapu tempat sekitar yang memang benar tak ada diapun apalagi bayang-bayang bundanya.


Pintu Renata kunci kembali dan bejalan cepat ke tempat tidur yang ukuran king size itu. Suara itu terdengar lagi namun setelah Renata dengarkan dengan lebih seksama. Sumber suara itu datangnya dari pintu balkon.


Renata tertegun dan sedikit merinding. Bulu kuduknya mendadak meremang mengingat jarum jam sudah menunjukan pukul 22.lewat dan siapa juga yang iseng mengetuk-ngetuk pintu jam segini?

__ADS_1


Karena penasaran dan suara itu terus terdengar akhirnya dengan membawa langkah ragu Renata mendekati dan mengintip dari balik gorden, terlihat bayangan seseorang.


Degh!


"Siapa dia? iih ... takut." Renata berbalik menempelkan punggungnya di pintu tersebut dengan dada yang berdebar ketakutan. "Jangan-jangan maling."


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Cinta-cinta? ini aku!" suara Doni dari balik pintu. "Sayang buka? lama benar sih? ku Doni."


Dengan spontan Renata kembali mengintip setelah sayup-sayup mendengar suara seorang pria yang ia kenal.


"Doni?"


Renata segera membuka pintu, Doni dengan cepat masuk dan memeluk tubuh Renata yang terkesiap. Aneh! malam-malam gini Doni datang bahkan menyelinap lewat balkon segala? persis orang yang tak diundang mau mengambil sesuatu.


"Aku sangat merindukan mu. cintaku, pujaan ku." Doni memeluk dengan sangat erat dan menghujani wajah Renata dengan kecupan kecil.


"Ka-kamu apa-apaan sih? malam-malam gigi datang, lewat balkon segala? macam maling tahu gak?" Renata melepaskan diri dari Doni.


Pria yang mengenakan ti-sert abu-abu itu menatap heran pada Renata dan memegangi bahu Renata dengan kedua tangannya. "Hi. Kamu gak senang aku datang? jauh-jauh malah disambut dingin."


"Suruh siapa juga kamu datang jam segini dan bukan melalu pintu utama melainkan naik balkon. Kalau ada yang lihat itu wajar kalau dibilang macam maling juga. Pukul berapa nih?" Renata menunjuk ke arah jam dinding.


Netra nya Doni mengikuti arah yang Renata tunjukan. "Aku tahu itu cintaku ... tapi rindu ku terlalu menggebu untuk aku biarkan apalagi dibiarkan akan semakin menumpuk, gak kuat."


Lagi-lagi Doni merangkul tubuh Renata dan menyusup di sela leher Renata yang jenjang itu dan memberi kecupan kecil nan hangat.

__ADS_1


Renata berontak. "Apa-apaan sih? lepas ah." Renata menjauh dan duduk di sofa. "Sebentar lagi aku akan menikah, jadi hubungan ini harus segera berakhir."


"Apa? ooh! tidak bisa, kamu harus menjadi milik ku seutuhnya. Apapun caranya kamu harus menjadi milik ku." Doni menggenggam tangan Renata.


"Tidak bisa, aku sangat mencintai tunangan ku. Kau tau itu ... aku mohon jangan lakukan apapun biarkan aku menikah dan akhiri kisah ini?" ucap Renata lirih dan sedikit memohon.


"Aku akan pastikan kalau kalian tidak menikah! seorangpun yang berhak memiliki kamu selain diriku saja. Aku tau kamu pun menyimpan rasa pada ku, kan cinta?" Doni menangkupkan kedua tangannya di wajah Renata.


Renata harus mengakui kalau memang merasa nyaman dengan Doni dan lebih-lebih terbiasa dengan sentuhannya tapi itu bisa dia dapatkan bila nanti sudah menikah dan halal dengan Arya. Itu pasti! kalau seandainya mereka dah halal.


Doni menatap lekat bola mata Renata sorot mata pun bertemu dan saling menyelami perasaan masing-masing lalu Doni mendekatkan wajahnya dan tak menutup kemungkinan sentuhan pun terjadi.


Benar saja. Doni mengecup benda kenyal dan tipis milik Renata yang selalu bikin Doni kecanduan.


Sementara waktu keduanya menikmati sentuhan itu, mereguk manisnya madu asmara. Kemudian Renata tersadar.


"Em ... lep-lepas," tangan Renata mendorong dada Doni sehingga tubuh Doni menjauh ke belakang.


Doni menatap tajam, ******* bibirnya sendiri seolah ******* sisa-sisa makanan yang belepotan di bibir.


"Aku, tidak ingin mengecewakan orang tua ku dan aku juga gak mungkin membatalkannya." Renata menggeleng.


Doni merubah posisi duduknya mendekatkan tubuhnya dengan Renata, mengusap pipinya yang halus dengan punggung tangannya. "Aku yakin, kalau kita akan bersama dan kamu akan menjadi istri ku kelak--"


"Jangan bicara seperti itu, biarkan aku bahagia dengan tunangan ku. Pria yang aku cintai sejak lama," ungkap Renata seraya menggeleng dan kedua manik matanya berembun.


"Dengar, cinta. Kau harus menyadari kalau kita juga saling mencintai. Cuma kamu saja yang belum menyadari itu, cinta ku ..." Doni merengkuh kembali tubuh Renata dengan sangat erat.


"Aku mohon. Jangan berbuat apa pun dan biarkan aku menikah dengan Arya. Aku mohon?" Renata memohon pada Doni agar membiarkannya menikah dengan Arya ....


****

__ADS_1


Assalamu'alaikum reader ku semua, apa kabarnya baik ya? terus dukung aku ya🙏


__ADS_2