Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Gimana baiknya


__ADS_3

Saat Arya dan Fatma sedang berpelukan sambil berbaring. Arya mengecup kening Fatma dengan durasi yang lama ... lalu berucap setengah berbisik lembut.


"I love you?" Bisik Arya dengan lembut nan mesra.


"I love you too!" balas Fatma dengan mesra pula.


"Aku akan merindukan mu bila nanti di sayang di sana. Kangen saat-saat kita seperti ini, kangen kita dimana selalu bersama," ungkap Arya sambil menempelkan dagunya di pucuk kepala Fatma.


"Aku juga, akan merindukan mu. Aku ingin selalu seperti ini, setiap tidur berdua. Saling peluk memberikan kasih sayang," balas Fatma.


"Aa, sangat menyayangi mu dan keluarga kita." Lirihnya Arya dengan tangan terus membelai rambut sang istri.


"Aku juga." Fatma sedikit menggerakkan tubuhnya sembari mengusap rahang Arya yang sedikit berbulu halus.


Beberapa sat kemudian. Kantuk pun menyapa membuat keduanya sama-sama menguap hingga pasang mata mereka berair. Lalu sama-sama membaca doa lalu memejamkan mata dengan keadaan masih polos dan hanya berbalut selimut saja.


Burung-burung berkicau riang menyambut sang mentari yang menghangatkan. Di Mension sudah tampak sedang beraktifitas. Ada yang menyapu, mengepel. Bersih-bersih halaman dan mengurus taman.


Ada yang naik tangga dengan tugasnya membersihkan kaca yang besar-besar.


Ada pula yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.


Fatma pun pagi-pagi setelah melihat putri kecilnya yang semalam pilek Alhamdulillah sudah lebih mendingan dan tampak segar. Anak itu terlihat sangat ceria, senyum Fatma berkembang melihat kondisi putri kecilnya yang kuat.


Lanjut ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat sang suami dan Rania si putri kecilnya itu.


Arya Arya berjalan menuruni anak tangga dengan dua bag yang selalu ia bawa ketika bertugas. Dia hendak mendekati sang istri yang sedang berdiri dekat kompor bersama asisten yang juga sibuk memasak.


Langkah Arya mendekati meja makan yang jelas dekat dengan Fatma, setelah menyimpan bag nya dekati tangga.


"Sayang, aku harus lebih pagi berangkatnya." Arya menarik kursi lantas duduk menunggu sarapan.


Fatma menoleh dengan menautkan kedua alisnya. "Lho, bukannya nanti jam delapan berangkatnya?"


"Iya tadinya. Tetapi karena ada suatu hal membuat diharuskan berangkat lebih pagi," seru Arya.


Fatma menyuguhkan sarapan yaitu nasi goreng kesukaan sang suami dengan segelas air hangat di depannya.


"Oke. Ini sarapannya?" Fatma pun duduk di sampingnya sang suami.


"Nggak sarapan?" tanya Arya ketika melihat di depan Fatma hanya ada segelas air hangat saja.

__ADS_1


Fatma menggeleng lalu meneguk minumnya. Tidak lama kemudian Bi Ina menyuguhkan agar-agar dan buah di depan Fatma.


"Rania gimana keadaannya sekarang?" tanya Arya kembali sembari menyiapkan sendok ke mulutnya. "Bismillah."


"Sehat kok, cuman hati ini aku suruh istirahat dulu lah di rumah." Suara Fatma sambil memakan hidangan yang ada di hadapannya itu.


"Syukurlah kalau gak berkelanjutan. Sayang mau ngantor juga hari ini?" selidik Arya lagi mengingat Fatma masih memakai pakaian santai.


"Aku pantau dari rumah aja, lagian nanti Zayn yang akan datang bila meminta tanda tanganku--" Fatma menjeda ucapannya.


Melanjutkan sarapan buahnya. Lalu setelah menelan itu baru meneruskan kembali kalimat yang tergantung tadi.


"Biar aku lebih banyak waktu buat Rania. Secara besok aku berangkat, Oya, Aa. Aku mulai memikirkan sesuatu."


Arya menoleh cepat. "Apa itu? tentang apa?"


"Tentang ... pengasuh Rania. Em ... maksud aku, Dewi tetap di sini mengasuhnya sebagai keluarga. Sebenarnya Rania sudah dewasa tidak membutuhkan pengasuh khusus kok, cuman butuh teman saja. Apalagi nanti setidaknya Dewi kan segera menikah juga kan?"


Arya yang menatap lekat hanya mengangguk pelan, dia faham dengan pemikiran Fatma juga yang mungkin pasti merasa gak enak bila terlalu suruh ini itu, dengan status Dewi sebagai adik ipar. Bila ada kesalahan pun kagok jika harus menegur atau memarahinya.


"Em ... Aa. sih gimana sayang aja gimana baiknya." Arya meneguk minum sampai habis dan Fatma berniat membuatkan lagi namun Arya mencegahnya.


"Air putih biasa aja." Pinta Arya.


"Iya, sarapan?" Arya mengangguk pada sang mertua.


"Mana Rania? belum sarapan?" tanya Bu Wati.


"Belum turun." Seru Fatma. Sebentar lagi mungkin turun.


"Tadi, Ibu ke sana. Anak itu benar-benar kuat, hebat." Tambah Bu Wati.


"Pileknya dah sembuh?" selidik pak Wijaya sambil mengambil minumnya.


"Sudah, sudah sembuh dong." Jawab Bu Wati dan Fatma berbarengan.


"Ooh, pinter." Pak Wijaya mengangguk. "Oya gimana hasil penyelidikan polisinya?" tanya pak Wijaya baru ingat hal itu.


"Em, murni kecelakaan, Yah. tidak ada sabotase lainnya," jawab Arya menatap sang bapak mertua.


"Ooh, jadi kecelakaan biasa. Murni?" selidik Bu Wati ikut penasaran.

__ADS_1


"Iya, Bu. Murni tanpa adanya sabotase atau apalah," Arya meyakinkan.


"Masih Alhamdulillah. Pak Dudin segera keluar! kalau saja terjebak di sana, Ayah tidak bisa membayangkannya." Seru pak Wijaya sambil bergidik.


Begitupun yang lainnya menjadi bergidik ngeri jika terjadi sesuatu menimpa supirnya itu.


Sementara waktu suasana hening. Tak ada yang bicara selain sibuk dengan pikirannya masing-masing sambil menatap hidangan di meja.


Sesaat kemudian pak Wijaya dan Bu Wati sarapan. Sementara Arya dan Fatma sudah selesai, dan beranjak mendatangi Rania di kamarnya.


"Papa? Mama? Rania dah sembuh, hebatlah Rania." Anak itu bersorak ketika papa dan mamanya datang.


"Hebat dong ... anak Papa. Sarapan dulu sana sama aunty," suruh Arya sambil mengacak rambut Rania.


"Iih, kusut rambut Rania. Mama! Papa nih sukanya nyacak rambut Rania. Jadi kusut nih," rajuk Rania pada sang mama.


Bibir Fatma tersenyum melihat Rania, kemudian merapikan kembali. "Ya sudah, sarapan dulu sana, Wi! ajak sarapan, kamu juga. Makan yang banyak, agar nanti menikah lebih berisi."


"Iya, Kak." Dewi mengangguk.


Lalu kemudian mengajak Rania untuk sarapan.


"Oya sayang. Papa mau berangkat ya?" Arya mengikuti langkah Rania dan Dewi.


Fatma berjalan menuju kamarnya. Mau mengambil tas kecil, bersiap mengantar Arya ke bandara.


"Papa mau kerja?" tanya Rania menghentikan langkahnya yang hampir turun melewati tangga.


"Iya, dong ... mau ikut nganterin gak?" tanya Arya sambil turun menuntun Rania.


"Mau, Rania mau ikut ah. Mama nganterin juga kan? Papa-Papa! mama mau nganterin juga kan? Rania mau ikut ah!" Rania mendongak pada Arya yang menuntunnya.


"Iya, sama Mama. Boleh. Tapi harus sarapan dulu terus minum obat, oke?" ujar Arya yang langsung mendapat respon dengan anggukan dari Rania.


"Ya ... harus sarapan dulu?" keluh anak itu lesu.


"Kalau gak sarapan, gak Papa ajak lho." Tambah Arya lagi.


"Ya ... Papa!" Rania cemberut.


"Eeh, Rania harus sarapan. Biar tambah kuat lho, gak sakit-sakitan dan gak lemah juga." Kata Dewi dengan nada membujuk.

__ADS_1


Kini hanya derap langkah yang terdengar. Dan tiba-tiba terdengar suara brugh! membuat Arya dan yang lainnya menoleh ....


__ADS_2