Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Meledak


__ADS_3

Pagi-pagi Zayn sudah siap untuk ngantor namun sebelumnya mengharuskan dia pulang dulu sebentar untuk mengambil sesuatu dan berganti pakaian.


Sementara Susi berada di mension tersebut. Bersama Fatma dan keluarganya yang menjadikan suasana ramai.


"Aku di rumah sendirian. Jadi sepi, gak seramai ini," ucap Susi.


"Keluarga kamu kenapa gak di ajak Sus, biar rame." Fatma menjatuhkan bokongnya di sofa dengan memeluk bantalnya.


"Nggak mau, Kak, gak mau ikut dengan ku, gak betah katanya. Maklumlah orang kampung he he he ..." Susi terkekeh sendiri.


"Kalau aku yang ikut mereka. Zayn gak mau. Lagian jauh dari tempat kerja." Tambah Susi.


"Hem, Itu pasti." Fatma mengangguk lalu membuka laptopnya.


"Nak Susi, bantu Umi yu? bikin kue khas Sunda." Ajak umi Santi.


"Oh mau, Umi. Mau," Susi sangat antusias, lalu berdiri mengikuti umi dan Bu Wati.


Tinggallah, Fatma sendirian di sana. Dan Arya sedang berada di ruang nge-gym, tatapan Fatma begitu serius ke layar laptop dan jari-jarinya yang lentik terus berkutat di papan keyboard tersebut.


Setelah sekian lama Fatma berkutat di ruang keluarga. Fatma merasa jenuh lalu berpindah ke lantai atas dan memilih balkon sebagai tempatnya duduk dan menyibukkan dirinya dengan sebuah laptop kesayangannya.


Arya memasuki kamar Fatma yang tertutup rapat. Mata Arya mengitari ruangan tersebut yg kosong tak ada bayang-bayang sosok istrinya di sana.


"Di luar kali," gumam Arya sambil membawa langkahnya ke kamar mandi. Mau bersih-bersih tubuhnya nya yang terasa lengket.


Tangannya Arya memutar keran mengisi bathube untuk berendam sementara waktu.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Arya membawa langkahnya keluar kamar mandi. Dan netra matanya Arya mendapati sang istri sedang berdiri di depan lemari.


"Sa--yang" kalimat Fatma terpotong dengan pandangannya yang menoleh ke arah Arya yang sudah berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Kenapa sayang?" tanya Arya mendekat. Memeluk dari belakang.


Fatma mengambil setelan panjang untuk dirinya. Dan pakaian ganti buat Arya.


"Emang mau kemana? kok pakaiannya agak resmi." Arya sedikit heran.


"Kita harus ke tempat bakti sosial, aku lupa kalau hari ini ada acara itu." Fatma bergerak ke dekat tempat tidur untuk menyimpan pakaian yang dia ambil.


"Oo! aku harus ikut gitu?" tanya Arya sambil tetap memeluk perut sang istri dan menempelkan dagunya di sisi bahunya.


"Ikutlah, mumpung ada waktu." Fatma melirik ke samping.


Cuph! kecupan kecil mendarat di bahu Fatma, lalu memudarkan dekapannya. "Baiklah kalau begitu aku akan ikut dengan mu."


Keduanya gegas siap-siap. Fatma berdandan cantik, mengenakan setelan panjang. Rambut diikat kuda, namun tetap tampak cantik. Ia duduk di depan cermin rias, membubuhkan bedak di pipinya yang sudah dasarnya putih mulus.


Lalu mengambil jam tangannya dari laci. Cek isi tas, ponsel pun sudah berada masuk. Menoleh ke arah Arya yang kini sedang mengenakan jam rolex nya.


Langkah Fatma mendekati dan merapikan kerah kemeja Arya. Sesaat Fatma menatap wajah sang suami yang berseri-seri. Lalu Fatma kemudian berkata. "Berangkat sekarang yu? keburu siang."


"Oke. Rania di ajak gak?" tanya Arya mengingat anak itu.


Fatma yang berjalan melintasi pintu, berucap lirih. "Kalau mau di ajak aja."


Keduanya berjalan berdampingan dengan tangan Fatma menggandeng tangan Arya.


"Di mana itu?" kedua mata Arya mencari-cari keberadaan Rania yang tidak ia lihat.


"Ada di depan, sedang bermain." Fatma mengayunkan langkahnya ke dapur, dimana orang ibu-ibu berada di sana.


"Ibu, Umi. Aku dan Aa pergi dulu ya?" pamit Fatma kepada sang bunda dan ibu mertua.


"Oo, mau kemana atuh Neng? jangan pergi-pergi, takut ada apa-apa. Kan acaranya besok, diem we atuh di rumah Aja." Umi dengan nada cemas melihat ke arah anak dan mantunya bergantian.


"Ya, hati-hati saja lah. Cepat balik." Pesan Bu Wati.


"Nggak lama kok, Umi. kami akan segera kembali, Bu." Arya mencium punggung tangan ibu mertua dan uminya. Diikuti oleh Fatma sembari cepaka-cepiki.


Lalu keduanya berjalan menuju pintu utama dan melintasi Abah dan pak Wijaya yang sedang bermain catur di lantai. Di luar pun banyak orang yang masih mendekor mension tersebut.


"Bah, Ayah, ku pergi dulu?" Arya meraih tangan kedua pria tersebut bergantian.


"Mau kemana kalian?" tanya Abah dan pak Wijaya.


"Ada urusan, sebentar kok," sahut Fatma.


"Ooh, hati-hati saja." Pak Wijaya mengangguk.

__ADS_1


"Sayang, ikut gak?" tanya Arya pada Rania setelah menginjakkan kakinya di teras.


"Ha? mau. Aunty di ajak juga gak?" anak itu menatap sang papa.


"Boleh, ikut aja, Wi." Arya mengangguk.


"Yu, aunty kita masuk mobil?" Rania menarik tangan Dewi dengan riang ke dalam mobil.


"Ayo, tetapi jangan lari-lari." Pinta Dewi memegang kuat tangan anak itu.


"Maaf, Nyonya! pak Harlan tidak masuk hari ini, katanya kurang sehat." Kata Bi Ina peda Fatma.


Sejenak Fatma terdiam dan menatap kosong ke arah kepala asisten tersebut, kemudian berkata. "Ya sudah. Suruh pak Dudin saja. Oya, kirim dokter ke rumahnya pak Harlan." Titah Fatma pada bi Ina.


"Baik, Nyonya." BI Ina memutar badan, berjalan ke belakang lewat jalan samping.


"Kenapa sayang?" selidik Arya sembari merangkul bahunya di ajak jalan menuju mobil.


"Itu, pak Harlan sakit. Nggak masuk kerja." Fatma berucap dengan lirih.


"Ooh, gak apa! aku juga bisa." Arya membukakan pintu untuk Fatma.


"Ada pak Dudin,"


"Pak Harlan kemana Mam?" tanya Rania yang duduk di belakang bersama Dewi


"Sakit, pak Harlan nya sakit." Dewi memberi jawaban yang Rania tanyakan. Fatma cuma mengangguk.


Beberapa menit kemudian pak Dudin datang. Lalu duduk di belakang kemudi. "Mau kemana ini Nyonya?"


"Ke jalan xx," sahut Fatma singkat. Dia sibuk membalas chat di ponselnya.


"Iih, Mama main ponsel mulu. Sakit lho matanya, lihat mata Rania bening lho gak main ponsel." Protes Rania ketika melihat mamanya main handphone.


"Iya, kan kalau orang dewasa tidak apa-apa Nona manis. Sebab kebutuhan lain lagi kalau anak gak boleh, belum kebutuhan dan akan mengganggu syaraf otak." Jelas Dewi sambil mengusap punggung Rania.


"Tapi kawan Rania punya handphone, ada yang punya tablet juga--"


"Kan Rania juga punya tablet sayang," Fatma memotong perkataan Rania.


"Tapi, Rania di awasi orang tau nontonnya. Kalau teman aku nggak." Anak itu menggeleng.


"Sayang, dengar Papa ya? kenapa Rania banyak di awasi oleh kami? sebab kami takut Rania nonton sesuatu yang tidak pantas dan menakutkan, begitu sayang," ucap Arya seraya menoleh ke arah Rania.


Dewi pun mengangguk melihat Rania yang sedang mendengarkan omongan orang tuanya.


Ketika di setengah perjalanan. Rania minta dibelikan eskrim dan chicken wings. Mobil pun berhenti memesan yang Rania pinta.


Setelah itu. Mobil pun melaju dengan cepat dengan tujuan ke lokasi yang Fatma pinta.


Sekitar 30 menit kemudian, tibalah di lokasi yang menjadi tujuan. Dan di sana sudah banyak orang, para donatur dan terutama para penerima bantuan.


Mereka segera turun dan memasuki gedung tersebut.


Para donatur mengadakan meeting sebentar. Dan Fatma berharap kalau mengadakan acara seperti ini, jangan suruh penerima untuk datang. Lebih baik para donatur sendiri yang mengantarkan ke rumahnya masing-masing.


Jangan membiarkan masyarakat untuk berdesak-desakan atau bahkan berebutan. Tempat dan juga bagian, kasihan apalagi mereka yang sudah jompo atau juga orang disabilitas.


Namun untuk saat ini karena sudah tanggung. Ya dibagikan saja, yang terbagi dari sembako dan beberapa amplop dari beberapa donatur yang menyumbang lebih besar termasuk Fatma dan Arya.


Si kecil pun tidak luput memberikan santunan buat anak yatim-piatu. Dengan amplop yang lumayan tebal.


"Berapa sih isinya?" manik matanya Rania yang bening mengintip isi amplop yang berada di tangannya lalu ia angkat ke atas.


"Settt ... jangan begitu pamali." Dewi menurunkan tangan Rania ke bawah.


"He he he ..." anak itu nyengir kemudian melanjutkan bagi-bagi amplopnya.


"Aunty, kasihan ya? yu lihat orang itu jalan begitu ya!" mata bening Rania menatap haru ke arah seorang anak perempuan yang cara jalannya tidak normal.


Dewi menoleh. "Iya, makanya kita harus banyak bersyukur kalau Non. Sehat dan masih punya orang tua lengkap, banyak yang menyayangi juga. Mereka anak yatim-piatu adalah anak yang sudah tidak punya orang tua, sebab mereka orang tua nya sudah pada meninggal."


Rania sesaat bengong. Dan merasa kasihan pada mereka semua. Apalagi matanya tertuju ke arah Anak yang tadi ia tunjuk.


"Papa dan mama di mana?" tanya Rania mencari Arya dan Fatma.


"Mama, papa di sebelah sana. Masih membagikan sembako," tangan Dewi memegangi tangan Rania takut menghilang, mana banyak orang lagi. Berabe kalau sampai lepas.


"Mau ke mama dan papa!" rajuk Rania. Berwajah sedih.

__ADS_1


"Nanti juga ketemu kok tunggu di dalam yu?" Dewi memangku Rania dan membawanya ke dalam, keluar dari banyaknya orang-orang.


Fatma dan Arya juga banyak donatur lain masih membagikan sembako dan uangnya, pada yang membutuhkan. Dan pada akhirnya selesai juga.


"Semoga semua kebagian dan tak ada orang yang tidak merasakan kebahagian di hari ini." Gumamnya Fatma dan yang lain.


"Mohon, yang teratur ya jangan berdesak-desakan yang santai aja jalannya. Demi menghindari sesuatu yang tidak kita inginkan." Suara Arya dengan pengarah suara menghimbau agar masyarakat lebih teratur dalam meninggalkan tempat tersebut.


Beberapa menit kemudian. Tempat pun yang barusan di penuhi orang-orang berangsur kosong, mereka pulang membawa sembako dan sejumlah uang.


Suasana menjadi hening tidak riuh ataupun ribut seperti tadi tak jelas apa yang di dengar. Tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras dari tempat yang tidak jauh dari gedung tersebut.


Duarrrrrt! ....


Duarrrrt! ....


Duaarrrt! ....


Terdengar begitu kuat, suara ledakan yang membuat semua yang berada di tempat sekitar terkejut bukan main.


Dan ada juga yang dengan refleks berjongkok menutupi kedua telinganya. Banyak juga yang berteriak ada apa ini?


"Apa itu?" teriak yang lainnya.


Arya memegangi tangan Fatma dengan erat berusaha menenangkan. "Tenang-tenang. Jangan panik."


Dewi yang memangku Rania sangat terkesiap. Shock, ketakutan. Lalu dengan cepat membawa Rania ke Fatma yang langsung Fatma ambil dan di peluknya.


"Apa itu, Mam? suara apa?" tanya Rania dengan wajah cemas, ketakutan lantas menyembunyikan wajahnya ke leher sang bunda.


"Entah, Mama juga gak tahu." Fatma memeluk erat dan membelai rambut Rania.


Beberapa orang mau mengecek ke lokasi begitupun Arya.


"Aa mau lihat ke sana dulu ya sebentar? jangan kemana-mana ya? diam di sini." Tangan Arya mengusap bahu Fatma. Belum juga langkah Arya mencapai lima langkah.


"Kebakaran, kebakaran ... di sana ada mobil kebakaran." Teriak seseorang.


"Mobil siapa Kak?" tanya Dewi melirik ke arah Fatma.


Arya dan yang lain semakin mempercepat langkahnya menuju tempat kejadian. alangkah terkejutnya Arya ketika melihat yang terbakar itu adalah mobil Fatma.


"Pak Dudin? Pak Dudin dimana?" Arya teringat pada supir yang membawa mobil tersebut?


"Panggil pemadam kebakaran. Buruan?" kata petugas kebersihan dan scurity di sana.


Arya terus mencari keberadaan pak Dudin, hati Arya menjadi kwatir pada sang supir. Gak mungkin dia berada dalam mobil yang sedang terbakar dan apinya sangat berkobar.


Langkah Arya terus mencari keberadaan sang supir yang sampai akhirnya ada kumpulan orang-orang yang mengurumungi seorang pria yang duduk berjongkok menunduk dalam dan memeluk kepalanya, dia tampak shock dengan kejadian tersebut.


Arya menghampiri dan mengusap bahu pak Dudin. Memberikan air aqua padanya. "Pak, minum dulu."


Pak Dudin mendongak wajahnya tampak ketakutan dan scohk. Namun segera ia ambil mineral tersebut tanpa basa-basi meneguk air mineral tersebut.


"Kenapa terjadi seperti ini, Pak?" tanya Arya dengan lirih. Dan langsung mendapat gelengan dari pak Dudin.


Kecemasan dan kekuatiran yang besar tergambar jelas dari wajahnya pak Dudin yang sudah tidak muda lagi tersebut.


Matanya menatap ke arah api yang masih berkobar dan kini sedang berusaha di padamkan oleh pemadam kebakaran.


Bibirnya masih bungkam seribu kata, tidak keluar sepatah katapun. Hanya pandangan kosong melihat ke depan.


Arya mengusap punggungnya pak Dudin. Dia mengerti kalau orang ini belum bisa di tanya-tanya. Arya biarkan sampai pak Dudin merasa tenang.


Arya mengajak pak Dudin ke dalam gedung menemui Fatma digandeng juga oleh scurity di sana.


"Ayo, Pak. Kita istirahat di dalam sebelum menunggu mobil yang menjemput." Ajak Arya menarik pelan tangan pak Dudin.


Setibanya di dalam, Fatma langsung membrondongi Arya dengan beberapa pertanyaan.


"Apa yang terbakar Aa? mobil, mobil siapa yang meledak atau terbakar? sekarang gimana? Pak Dudin kenapa terlihat shock seperti itu! bukan mobil kita kan yang ke napa-napa?" Rentetan pertanyaan yang Fatma ajukan terhadap Arya dan melihat ke arah pak Dudin yang tampak masih shock itu.


Arya menoleh ke arah sang istri. "Em ... mobil kamu yang meledak dan terbakar."


"Apa?" giliran Fatma yang kini merasa shock dan tidak percaya dengan yang ia dengar.


Mulut Fatma menganga. Rasa tidak percaya kalau itu terjadi, lagian apa sebabnya sehingga bisa terjadi seperti itu?


Fatma menatap ke arah pak Dudin yang persis orang kebingungan, masih belum percaya dengan yang menimpanya ....

__ADS_1


****


Mohon dukungannya pada reader ku semua.


__ADS_2